Cerpen sosial

30 Hits - Jul 28, 2020, 11:22 AM - Maria Ulfa
Apapun yang telah kita lakukan hendaknya kita hargai apapun itu sebagai apresiasi atas keberhasilan diri kita, dan tetap berharap semoga ke depannya dapat lebih berhasil lagi. Segalanya bukanlah persoalan angka nomina uang yang dijadikan sebagai targetan sebuah misi kehidupan yang bahagia. Melainkan jika kita mengguanakan hati kita dengan bijak, suatu saat nanti kebahagiaan itu tak akan sirna meski nomina uang tak mau bersanding bersama kita. So ladies... nikmati hidupmu jangan gunakan waktu terbuang dengan sia-sia. Tetap enjoy and keep spirit, yess!
Read More
34 Hits - Jul 10, 2020, 5:07 PM - Uswatun hasanah
Daftar penjahat terbodoh sejagad raya.
Read More
48 Hits - Jun 18, 2020, 5:09 PM - S.rofiqoh
Selama beberapa bulan di bumi Lee Jeung merasa hidupnya lebih baik dari pada di kerajaan langit, sebab beban fikirannya tak...
Read More
266 Hits - Jun 8, 2020, 12:28 PM - Ugie's
Di usia senja ini aku sering renungkan kembali kilas balik kisah hidupku
Read More
314 Hits - Jun 7, 2020, 3:29 PM - Hanifah khairunnisa
Raden Ajeng Kartini, sesosok pahlawan yang selalu terkenang dalam sejarah, namanya tak lekang oleh zaman, tak lapuk oleh waktu dan...
Read More
71 Hits - Jun 7, 2020, 6:43 AM - Krisna
Ketika Sajadah Bersawang Karya: Krisna Prolog Cak Met masih terkesiap. Ia masih berdiri mematung di depan pintu kamar. Matanya terbelalak seakan dia tak percaya menyaksikan segala hal yang ada di depan matanya. Semua barang-barang berserakan dan berantakan di depan matanya. Mulai dari asbak, puntung rokok, pipa rokok, kertas linting, sampai tembakau gewol. Lengkap sudah. Semua hal yang berhubungan dengan rokok ada di depan matanya. Belum lagi di sudut kamar terdapat botol minuman haram. Tiba-tiba muka Cak Met berubah menjadi merah padam. Sudut matanya tiba-tiba dipenuhi air. Jim, Jim, adikku yang manis dan ganteng, kenapa kamu belum berubah? Kenapa kamu masih tetap seperti ini. Cak Met mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar Jim yang cukup luas. Poster-poster penyanyi rock dengan penampilan yang membius dan cukup menggoda berjajar memenuhi dinding kamar. Belum lagi koran, majalah, dan buku pelajaran yang kusut dan lusuh bertebaran di atas kasur karena sering ditiduri dari pada dibaca. T-shit warna hitam kebanggaannya dan celana yang kotor masih tersampir di kursi kamar. Sebuah gitar kebanggaannya menghiasi ranjang tidur yang jarang sekali dirapikan. Sajadah yang telah disiapkan Cak Met untuk alas Salat tetap ada di atas meja, tak berubah tempat, dan kini tampak berdebu dipenuhi rajutan dan pintalan sawang. Bukti Jim tak pernah mempergunakannya. Kamar yang seharusnya segar dan nyaman ini berubah menjadi sumpek dan pengap. Berapa lama Jim tinggal di rumah ini? Hampir satu tahun ia di sini. Tapi selama waktu itu belum banyak perubahan yang berarti. Padahal mertuanya menitipkan Jim di sini agar dia berubah. Cak Met menghela nafas, seperti ada rasa bersalah membalut jiwanya. Selama di sini Cak Met selalu mengajarinya salat dan belajar mengaji mulai dari iqro. Tapi sekarang yang terjadi di depan mata sungguh bagai sembilu menyayat hati Cak Met. *** “Kenapa kak? Kakak apa-apaan di kamarku?” sebuah suara melengking tinggi seperti merontokkan jantung cak Met. Jim berdiri di ambang pintu dengan wajah kusut dan menatap Cak Met dengan tatap curiga. “Siapa yang mengizinkan Kakak mengobrak abrik kamarku?” tanya Jim yang dipenuhi bau rokok. “Kamarmu tadi berantakan Jim. Dari pada Kakak nganggur, Kakak benahi. Kebetulan hari ini Kakak punya waktu. Kakak minta maaf ya Jim, jika menurutmu Kakak salah.” Cak Met menjawab halus semua kemarahan Jim. “Nggak perlu, Kak. Aku sudah nyaman dengan semua ini.”Cak Met menyesalkan semua sikap Jim yang tak mau menerima nasihat. “Jim, apa kamu lupa dengan Kakak?” “Kakak? Selama ini aku nggak punya kakak. Aku sendiri di neraka ini. Surgaku Cuma di kamar ini.” Kata-kata Jim begitu menusuk hati Cak Met. Ya Allah, aku tidak punya kakak, bilang Jim. Jika Jim benar, aku belum tahu di mana letak salahku. Aku dan istriku semampu mungkin berusaha menggantikan sosok ibu dan ayah buat Jim. Memang kami tak mungkin sempurna sebagai manusia, tapi kami sudah berusaha yang terbaik buat Jim. Ya, aku tak boleh putus asa menghadapi Jim. Bu Mawar, wali kelas Jim. Aku ingat, menurut cerita temannya Jim punya kedekatan dengan bu Mawar. Di sekolah Jim hanya mau nurut sama bu Mawar. Bu Mawar. Aku sudah cukup lama kenal perempuan itu. Jauh sebelum Jim tinggal di rumah. Cak Met masih berdialog dengan dirinya sendiri tentang Jim dan Mawar. Mawar adalah sosok tangguh milik SMA Subulul Huda. Selain sebagai guru mata pelajaran, Mawar tak pernah lepas dari jabatan wali kelas, kepala perpustakaan, juga pernah untuk beberapa periode memegang tampuk jabatan waka kesiswaan. Mawar yang selalu menghandel acara apapun setiap kali SMA Subulul Huda mengadakan kegiatan. Bukan hanya itu. Mawar satu-satunya mc karismatik yang dimiliki SMA Subulul Huda. Sosok tomboinya begitu sempurna karena Mawar juga jago beladiri. “Ya, siapa lagi kalau bukan bu Mawar,” ucap Cak Met pada dirinya sendiri.
Read More
171 Hits - Jun 6, 2020, 3:02 PM - YUNIWATI
Cerpen ini berkisah tentang seorang perempuan yang terpaksa harus menghidupi anak dan mertuanya dengan menjadi seorang pelacur akibat susahnya...
Read More
41 Hits - Jun 5, 2020, 4:26 AM - Tari Abdullah
Mimpi Yang Terkoyak
Read More
59 Hits - Jun 3, 2020, 2:26 PM - Arnila Trisna Putri
Joni tahu impiannya untuk menjadi robot tidak akan terwujud. Namun, entah kenapa ia selalu berharap jika suatu pagi ia terbangun menjadi...
Read More
21 Hits - Jun 3, 2020, 1:35 PM - Nurhuda mas'ud tanjung
Istri
Read More
Stori terpopuler
Jul 28, 2020, 11:22 AM - Maria Ulfa