Profil instastories

I love coffee, good books and good people

Carte Blanche

"Malapetaka! Ini adalah malapetaka! Aksara, Aksaradewa sudah mati!"

***

Indonesia, 1970

"Ini bukan lagi Weltevreden Aksa. Sudah lewat puluhan tahun lalu, jari-jari tangan dan kakimu bahkan sudah tidak cukup untuk menghitungnya."

"Tapi aku masih belum merasa bebas, aku masih ingin bebas seperti merpati atau kumpulan serigala."

"Tidak ada yang benar-benar bebas di dunia ini Aksara, tidak ada. Larangan dan pengetahuan selalu ikut campur."

***

Indonesia, 1975

"Kau tahu aku tidak akan pernah mendengarkanmu. Kau hanya membuang waktumu, kembalilah ke rumahmu hari ini."

Suaranya tegas, tidak terdengar ragu dan begitu jelas. Tidak membuat merdunya hilang, hanya saja suara merdu ini membuat hati sosok pemuda di hadapannya teriris. Tatapan matanya tampak mati, meredup, seperti dipaksakan untuk terbuka dan menatap.

Tidak ada yang tidak tahu kenapa gadis cantik dengan helai rambut hitam ini meredup.

"Itu tidak akan mengubah kenyataan. Aksara sudah mati, Aksara lebih memilih kematiannya dibanding kau." Suaranya berat, ditekan hingga tidak berteriak. Pemuda ini sudah menahan kata-katanya sejak tadi, ia tahu gadis ini tidak akan menoleh padanya. Tidak ada yang ia harapkan, tapi tidak dipedulikan itu lebih menyakitkan daripada mati.

"Aksaradewa sudah mati, calon suamiku sudah mati. Tapi pikirannya belum, kata-katanya belum, aku masih mengingatnya. Aku mengingatnya jelas, hal yang lebih buruk dari kematian adalah dilupakan."

"Bagaimana kau bisa bertingkah seperti ini? Bagaimana kau bisa ... " kata-kata pemuda ini terhenti. Ia tidak melanjutkan, menelan ludah dan mencoba menenangkan diri. "Aku pulang."

Pemuda dengan warna rambut malam tersebut beranjak dari tempatnya, bola matanya memandang nanar pada sosok gadis yang jadi teman bicaranya itu. Namanya Drupadi, gadis cantik yang pandai dan memiliki senyum manis. Dirinya dan Drupadi sudah lama saling mengenal, sama seperti dirinya dan pemuda bernama Aksaradewa.

Angkara bukannya tidak tahu bagaimana Drupadi menyukai Aksa, tapi ia tidak sedang berada dalam posisi untuk menolak keinginan orangtua mereka. Ya, orangtua mereka, Angkara dan Aksa adalah saudara.

***


Indonesia, 1972

"Omong kosong! Bagaimana mungkin kalian bisa lakukan hal seperti ini!? Makam Aksa bahkan belum rata!"

"Setangkai bunga tidak akan bertahan lama, bahkan sebelum tanah makam itu rata, bunga yang cantik bisa segera mati dan layu."

Angkara berdiri marah di tengah orangtuanya, ia menatap sosok ibu dan ayahnya. Orang-orang yang paling suka membanggakan Aksara, merekalah yang paling suka menyombongkan kepintaran dan kecakapan Aksara. Angkara begitu marah, api berkobar dalam tubuhnya.

Angkara begitu membenci orangtuanya sebagaimana mereka membenci dirinya sendiri.

"Ini untuk kebaikannya juga, kebaikan kita bersama. Tidak ada yang tidak bersedih karena kepergian Aksara, tapi bukankah kita tetap harus melanjutkan hidup?" Wanita paruh baya yang sedari tadi duduk diam nampak buka suara, nadanya lembut namun tersirat mendesak.

"Apakah aku, apakah kami hanya perlu menjalankan kewajiban tanpa tahu menahu tentang hak!? Apakah aku sedang dijajah oleh keluargaku sendiri!? Batavia sudah merdeka! Sudah puluhan tahun lamanya! Apanya? Apanya yang merdeka? Apanya yang bebas? Penjajah dimana-mana, di hadapanku!"

"Angkaradewa! Cukup! Ayah hanya akan menganggapmu anak yang tidak waras, bukan tidak berbakti. Renungkan kesalahanmu dan beritahu apa jawabanmu untuk perjodohanmu dengan Drupadi."

Oh, Angkara begitu membenci orangtuanya. Sebagaimana Aksara membenci kungkungan.

***

Indonesia, 1969

"Aku harus minum susu setelah minum obat."

"Bagaimana?"

"Aku tidak sakit, tapi pikiranku berkehendak. Aku tidak cukup kuat melawannya."

"Ya Tuhan."

"Jangan, jangan bawa Tuhan padaku. Aku sudah memilih jalanku sendiri, Dia sudah teramat baik masih memberiku kesempatan. Aku tidak punya muka untuk menyebut nama-Nya lagi."

"Aksara, kau adalah pemuda pandai yang dikagumi banyak orang."

"Benarkah? Tapi aku tidak merasa jika itu adalah milikku sendiri. Hal-hal yang aku pelajari, hal-hal yang aku ketahui, haruslah kubagikan dengan orang lain. Dengan kata lain, hal itu bukanlah milikku."

"Aku tidak paham."

"Drupadi, menurutmu, bebas itu apa?"

"Kebebasan? Kebebasan itu mengerikan, adalah hal yang tidak aku sukai."

***

Indonesia, 1970

Senja mulai muncul, menenggelamkan matahari tanpa ampun. Penguasa malam akan datang katanya, sementara hal-hal yang berhubungan dengan sinar hangat haruslah bersembunyi.

Ini kali pertama mata Angkara bertemu dengan sosok Drupadi, calon istri saudaranya yang begitu sempurna. Menurut orang-orang, tidak untuk Angkara, tidak sempurna untuknya. Ia yakin betul ada yang aneh pada sosok gadis ini, entah itu karena gadis ini sangat pandai atau karena ia sangat independen.

Drupadi berdiri bersanding bersama Aksara, pemuda pandai yang benar-benar sukses pada usianya yang masih sangat muda. Beberapa orang menyebutnya guru, beberapa lagi menyebutnya sosok pemimpin.

Oh, Angkara tidak pernah iri. Ia bahkan merasa kasihan pada saudaranya yang bahkan tidak bisa memilih ingin tersenyum atau ingin menangis. Aksara terlalu sakit untuk membuatnya iri.

"Angkara? Angkaradewa."

Angkara tersentak, segera menoleh pada sumber suara. Sejak kapan Aksa sudah berdiri di sebelahnya?

"Kenapa kau di sini? Drupadi menunggu hari ini untuk bersamamu."

"Kau tahu aku tidak pernah menyukai Drupadi."

"Kau tidak mengatakannya pada ayah dan ibu, aku memilih untuk tidak mengetahui apapun."

"Aku tidak bisa."

"Kau tidak mau."

"Aku tidak mampu.

Aksara tersenyum, senyum yang selalu ia tunjukan. Senyum yang akan membutakanmu, hingga tidak bisa membedakan, hingga tidak bisa tahu jika saat itu Aksara tidak pernah benar-benar tersenyum.

Angkara memilih memejamkan mata, seperti yang sudah-sudah. Bukan tidak mau membantu sesama saudara, tapi ia sendiri, ia sendiri pun masih terjajah.

***

Indonesia, 1971

Gerimis masih turun, membasahi tanah dan atap rumah.

Angkara menatap cemas.
Drupadi beruraian air mata.
Aksara berteriak hampa.

Aksara sudah bulat, sudah benar-benar berniat katanya. Ia akan meninggalkan Drupadi dan rumah, pergi menuju tempat yang tidak pernah ia ketahui. Bebas seperti serigala katanya, katanya.

Tapi nyatanya.

"Malapetaka! Ini adalah malapetaka! Aksara! Aksaradewa sudah mati!"

Teriakan itu terus menggema. Tidak berhenti, para pengikut Aksara kacau balau. Tidak terima jika junjungannya mati bunuh diri.

Angkara masih berdiri, di depan jendela. Menatap gerimis dengan tatapan menerawang, air matanya tidak turun. Jarinya yang gemetaran tidak lagi terasa panas saat teh yang ia genggam tumpah perlahan.

"Apanya yang bebas?"

Aksara sama bajingannya dengan orang-orang yang Angkara benci. Meninggalkannya tanpa ampun.

***

Indonesia, 1975

"Sudah empat tahun setelah kematian Aksara. Setelah kematiannya, setelah kematian yang ia pilih, apa dia benar-benar merdeka?"

"Kebebasan itu mengerikan Angkara, jangan pernah menginginkannya. Aksara selalu menatapku tinggi hanya karena jabatan ayah, ia selalu berkata andai saja dia sebebas aku. Aksara tidak pernah tahu betapa mengerikannya kebebasan itu sendiri." Drupadi meraih cangkirnya, menatap isi cairan merah oranye yang nampak mengepul.

"Perjodohan ini tidak akan berlanjut baik, kita tidak saling menyukai."

"Benar adanya aku tidak menyukaimu, tetapi, tidak ada pemuda lain yang bisa aku terima selain kau."

Angkara diam menatap gadis di hadapannya, ia diam karena kenyataan jika wajahnya dan wajah Aksara memang sangat mirip.

"Jangan katakan jika kau juga mau bebas seperti Aksara, sudah cukup aku mendengarnya." Nadanya mengingatkan, suaranya masih merdu dan tatapannya tajam. Drupadi sungguh sudah cukup muak mendengar kata kebebasan.

Cukup Aksara saja, cukup calon suami pertamanya saja yang seperti itu. Tergila-gila akan kebebasan, akan hal yang bahkan tidak ia sendiri tidak ketahui.

Cukup Aksara saja yang ia bunuh, cukup pemuda yang tidak pernah menganggapnya itu saja yang ia ambil nyawanya dengan sesukanya.

Kalau saja Aksaradewa tahu bagaimana mengerikannya kebebasan, kalau saja ia tahu, Aksara tidak akan mati malam itu.

"Drupadi, aku juga, ingin tahu apa itu kebebasan."

Drupadi menghela napasnya.
Drupadi benci sekali dengan kebebasan, juga dengan kenyataan dimana ia tidak akan dihukum ataupun disiksa hanya karena menghabisi satu atau dua orang pemuda bodoh dalam hidupnya.




End

Palembang, 23-01-2020

Rezt Elliot.
Love Coffee, good books and good people.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.