Profil instastories

Lelaki penyuka hujan, kebun, buku, dan kopi.

Ternyata Dibutuhkan Secangkir Keberanian Meracik Kopi

"Bukan keajaiban, hanya keberanian secukupnya sehingga seseorang yang tidak tahu apa-apa bisa mempengaruhi orang-orang agar melakukan apa yang dia inginkan." Saya lupa siapa gerangan tokoh jaman dahulu yang punya quote itu. Jangan-jangan ucapan dari salah seorang sepuh atau bahkan kakek saya sendiri. Entahlah. 

Saya mulai percaya kalimat tersebut ketika saya untuk pertama kali meracik kopi di kedai kopi yang saya bangun bersama istri. Medio Februari, republik kita saat itu belum segempar hari-hari ini akibat pandemik covid-19.

Saya sebelumnya tidak punya pengalaman sama sekali meracik kopi untuk penikmat kopi sekelas kedai kopi atau warkop. Kalau menyeduh kopi tubruk untuk diminum sendiri sih sering. Tapi yang ini jelas beda. Mulai dari takaran, cara memasak, menyaring, menyeduh, hingga menyajikannya kepada para pengunjung yang punya selera beragam. Alat yang digunakan pun macam-macam. Mulai alat tradisional hingga kekinian.

Awalnya saya juga sempat "tersesat di jalan" karena malu bertanya. Maka bertanyalah saya kepada berbagai literatur. Saya bertanya kepada Mbah Google. Saya menjelajahi YouTube. Bahkan saya ikhlas men-subscribe banyak channel 'perkopian' meskipun mereka tidak balik men-subscribe channel saya sendiri. Oh ya, saya juga punya tiga channel YouTube. Tidak terlalu update tapi cukup rutin secara berkala, ada "AN Channel" yang berkonten literasi, "Dihyah PROject" yang juga literasi plus "gado-gado", dan "Ahmad Dihyah Alfian" yang memuat konten keseharian dan aktivitas putra saya. 

Pada akhirnya, tidak ada yang memuaskan saya. Saya lalu berkenalan dengan para barista senior. Saya kemudian menyerap ilmu mereka. 

Pekerjaan barista dalam meracik dan menyajikan kopi sungguh tidak sesederhana seperti yang umumnya kita saksikan di kafe atau kedai kopi. 

Sebagaimana halnya tidak sesederhana mencari dan menemukan nama bagi kedai kopi yang saya bangun. Apalagi harus menemukan konsep yang tepat bagi kedai kopi saya. 

Saya mencoba mencari konsep kedai kopi mulai dari diri saya sendiri. Apa saja hal-hal yang saya gemari dan geluti. Saya dan istri saya sejak tahun 2017 mengelola dua rumah baca di dua kecamatan yang berbeda.  Maka dari titik itulah kami beranjak. Saya memutuskan kedai kopi kami harus memiliki konsep literasi. Sebuah kedai kopi yang menyediakan koleksi buku yang bisa dibaca gratis oleh pengunjung. Sebuah kedai kopi yang membuka ruang nyaman bagi diskusi-diskusi literasi, secara formil maupun non-formil. 

Dari literasi pula saya menemukan nama "Litera." Kedai Kopi Litera. Ya, itu namanya. 

Kata "Litera" tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Selama ini KBBI hanya mengakrabkan kita dengan kata "literal", "literatur", "literasi", dan seterusnya. 

Kedai Kopi Litera mengadopsi kata "littera" dari Bahasa Latin yang artinya "huruf" yang melibatkan tulisan-tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya. Sedangkan dalam Bahasa Rumania,  kata "littera" memiliki pengertian "spiritualitas dan intelektualitas."

Bagi saya, kata "litera" juga memiliki arti: "serasa sekopi." Barista harus menyajikan kopi sesuai selera para pelanggan yang tentunya berbeda satu sama lain.  Setipis apapun perbedaannya. 

Perjuangan terberat seorang barista setiap kali meracik kopi adalah menghindari under-extraction, yakni sari-sari kopi terlalu sedikit yang berhasil diekstraksi. Sebaliknya, barista pun berjuang keras menghindari over-extraction karena terlalu banyak sari kopi yang terekstrak, termasuk komponen yang membuat rasa kopi menjadi terlalu pahit dan tidak nikmat. 

Perjuangan barista belum berakhir. Dia harus mencari lagi balance; ekstraksinya tidak terlalu rendah dan tidak juga terlalu tinggi. Dan ternyata tidak sampai di situ. Sebagai contoh,  pada sepuluh cangkir kopi yang harus disajikan dalam waktu yang nyaris bersamaan tentunya akan diminum oleh sepuluh orang yang berbeda selera. Pernahkah Anda pikirkan tentang perbedaan tipis kualitas kopi dari cangkir pertama,  kedua,  ketiga, dan seterusnya? Apakah itu tantangan terakhir?  Belum. Barista butuh waktu lama untuk mengenali selera setiap pelanggan dan lebih ngeri lagi jika harus mengenali selera pengunjung yang baru pertama kali berkunjung. 

Anda bisa membantu perjuangan barista di kedai kopi manapun dengan cara: ketika memesan kopi Anda sebaiknya menambahkan ucapan, "saya suka yang soft" atau "saya mau kopi yang kencang" atau "kopinya yang sedang-sedang saja ya, bang."

Catatan-catatan berikutnya tentang seputar kopi dan Kedai Kopi Litera akan saya coba "racik" dan "seduh" nanti. Yuk, ngopi dulu, sob. (*)

Kedai Kopi Litera-Dihyah PROject, 14 April 2020

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jun 27, 2020, 3:05 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jun 25, 2020, 3:02 PM - Lilis Puji Astuti
Jun 25, 2020, 2:09 PM - Erbin Simanjuntak
Jun 24, 2020, 1:54 PM - Lilis Puji Astuti