Profil instastories

Sepotong Cermin Senja

Sepotong Cermin Senja

Oleh: Anggun Gerardini

Cerita senja menyelinap kedalam ruas-ruas jiwa.

Cerita senja yang mengisi ruh didalam jiwa pada labirin setiap kisah. Melalui hangatnya tabir sepotong cermin senja di batas tepian jingga.

Cerita senja yang menyapa bersahaja, merapal bait nama yang disirami pelita aura cipta kekasih hati. Duhai engkau, yang bersembunyi didalam sebuah persinggahan penyampaian alam mimpi, hatiku nian renyuh kala mengingatmu di batas labuhan seberang senja yang belum mampu ku rengkuh dengan jemari. Riuh bait namamu kian hadir di sepertiga malam-malam ku terperanjat tak terpejamkan.

Renyuh itu nyata. Rasa tenggelam itu tiba dengan memaksa, menghantam penjuru bumi mendegupkan kencang nurani. Berbisik ia, pada sebait nama yang tak tersentuh namun nyata letaknya didalam netra hati yang bergeming merdu. Berujar rindu namun belum mampu tuk kita bertemu. Inisial sabda berkat kasih semesta yang mesra mengguyur nuansa sunyi dengan warna-warni yang menari memikat hati yang sedang dirundung selaksa-selaksa kekasih hati yang tak ambigu, tetapi renyuh sejadi renyuh yang bertudung pada selendang rindu yang merdu.

Sepotong cermin senja hati, oh sungguh aku tak ingin percikan itu merundung lubuk hati. Bukan senja jika tak membekas hangat frasa merindu. Ku jaga hati, rupanya kau enggan memahami. Ku tarik paksa menenggelamkan rasa yang terpatri, rupanya begitu sangat nyeri kurasakan seorang diri. Ku ikhlaskan dirimu dengan bismillah.. semoga dirimu senantiasa melangkah dengan penuh suka cita di labuhan seberang senja tempat dirimu berada. Rasanya nyaris tenggelam dalam mimpi buruk tak bertepi. Kala aku harus menerbangkan rasa ini, bak sayap-sayap patah yang tertatih. 

Bukan sepotong senja namanya, jika tak merundung rindu yang merayap. Sepotong cermin senja diakhir jingga bersama sendu yang menjangkiti hati yang mendung. Terapung angan dalam titik rindu, pada hati yang tak bertuan. Bukan senja namanya jika tak meninggalkan setetes air rindu yang menggebu. Dan bukan senja namanya jika tak mampu menarik jiwa, pada teduhnya semilir sayup-sayup hangat dalam setia janji suci yang dinanti namun belum terdekap dalam tali ikatan ikrar yang erat.

Senja itu renyuh dan indah memikat hati dan jiwa. Tetapi aku tak ingin hadirmu kali ini yang merengkuh jiwa dan hatiku berlalu beranjak pergi, dan hanya sekedar singgah meninggalkan sunyinya hati. Menyapa dalam cita kasih lalu perlahan terbenam juga menghilang seraya senja, pergi dan terbenam dis awan jingga yang memenuhi langit meninggalkan rindangnya ranting rindu yang melekat.

Aku ingin kau disisi menemani disetiap langkah ini dengan syafaat doa yang senantiasa menjaga keutuhan rasa dan hati kita bersama. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan setulus abadinya hati hingga menutup usia kita. 

Rupanya raut tatapmu sudah tak asing didalam netraku, kita sering bersua, dan kau berkunjung kearah ku namun hanya didalam lukisan cermin alam sebuah kembang mimpi yang sedang terjaga. Laksana fatamorgana, hati pun kian pupus melanda kala aku melihatmu berpaling arah mulai menjaga jarak lalu singgah kearah dia, sosok rahasia yang kau puja.

Proses perjalanan kita di bumi ini memberi makna dua arti. Menyisakan antara sendu dan tangis atau melukiskan seutas tawa nan sumringah. Ijinkan aku menemanimu, Ijinkan aku membasuh sedihmu, Ijinkan aku menjadi belahan jiwa setiamu dalam suka dan duka. Dalam serpihan rangka rasa yang mengalir sesuai cipta fitrahnya. Dalam payung teduh kala hujan mengguyur dengan tiba-tiba. Dalam kecintaan iman tuk menggapai ridho Nya Allah Ta'ala. Dalam tatap senja yang menentramkan jiwa, bersama hingga menutup usia.

Sepotong cermin senja dalam angan dan tiada. Hembusan angin menarik tubuhku dengan kencang. Hanya sang senja yang mengerti dalam hangat sapa yang melayang mengendap kantung doa serta harapan. Hanya sang senja yang mengerti bagaimana caranya ia pergi dengan harapan didalam doa. Senja hendak pergi, namun ia mengerti arti permisi tanpa luka dihati. Ia berjanji kepada bumi, esok hari akan tiba menyapa kasih setianya kembali. Melenyapkan sendu, membasuh pilu, menenangkan jiwa yang dirundung rindu, menyaksikan jingga menari disamping senja yang renyuh.

Proses perjalanan kita meniti langkah di bumi tersimpul dalam waktu yang kian melaju dan bergulir tanpa berkompromi kepada hati. Waktu terus melaju mengikuti denyut-denyut nafas yang tiada henti. Mencoba tuk tegar hadapi semuanya yang datang silih berganti. Ada sebuah proses didalam menemukan. Ada sebuah proses didalam menapaki kilometer perjalanan pada detik seri kehidupan. Ada hati yang kerap mencoba berkompromi kepada kenyataan dan ada sebuah alur perjalanan panjang menuju tujuan batas akhir yang menjadi letaknya sebuah jejak akhir dari persinggahan.

Muhasabah diri terletak dan terjaga pada lingkaran butiran tasbih. Seraya bumi yang kian berputar, mengalun detik melaju bersama hari yang berganti. Duhai penguasa ruh dan juga hati, begitu sangat teduh dan luar biasa syahdu ku kecup sabda kasihmu.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.