Profil instastories

wattpad: nisaananda

Bunuh Diri

Dug!

 

Tawa para kelima pemuda bertampang nakal di ujung koridor pagi ini menggema begitu keras layaknya memekik di dekat telinga. 

 

Beruntungnya lorong koridor saat ini masih terlalu sepi, sehingga aksinya tadi tak perlu jadi tontonan menyenangkan seluruh siswa-siswi lagi.

 

Kemudian remaja itu bangkit dari tempatnya memasrahkan diri, menjadi sasaran kejahilan lagi oleh beberapa murid di sekolah. 

 

Jatuh karena tersandung tali yang tiba-tiba saja ada di depannya ketika dia melangkah menuju kelasnya. Seharusnya dia paham, dia memaklumi semua keadaan. Dimana pun dia berada meskipun remaja itu sudah berhati-hati akhirnya pasti akan seperti ini. Dia selalu menjadi sasaran kejahilan seluruh manusia di sekolahnya.

 

Tapi dia selalu pasrah. Dia menerima karena itu sudah menjadi takdirnya yang bermain. Tidak ada gunanya bersedih dan marah karena semua tidak ada yang berubah. Selamanya.

 

Tidak sampai situ, sesampai di kelas dia terkejut melihat seisi kelasnya yang terlihat seperti kapal pecah. Kursi dan meja saling berserakan tak berarah yang diantaranya bahkan berjatuhan ke lantai. 

 

Kaca jendela yang penuh coretan spidol hitam, kapur putih, dan beberapa cat yang terlihat seperti warna kuteks. Sangat kotor.

 

Dia tersenyum, berat. Rasanya senyuman itu sangat berat untuk diangkat. Sampai dia harus menangis ketika bibirnya terangkat dengan sempurna di wajahnya. 

 

Isakan tangis sudah menjadi lagu favoritnya. Setiap hari. Dia tak malu lagi setelah bertahun-tahun di sekolah menyenandungkan isakan tangisnya. Karena sekencang apapun lagu itu bersuara, tidak ada yang menarik perhatian siapapun, tidak ada yang tersentuh mendengar suara itu. 

 

Meskipun kehadirannya selalu tidak pernah dianggap seperti; tidak ada namanya yang tertera dalam jadwal piket kelas seperti teman-teman yang lainnya. Dia tetap bertanggung jawab untuk membersihkan kelas, karena menurutnya tidak ada nama dijadwal piket itu berarti jadwalnya adalah setiap hari.

 

Duduk di pojok kelas seorang diri bukanlah suatu pilihan. Karena yang tersisa untuknya hanyalah tempat itu. Bermodalkan penglihatan yang minim rabun, karena kacamatanya baru saja pecah yang sengaja diinjak oleh seseorang, dia tetap gigih untuk membaca. 

 

"BACA!" sentakkan dari guru di depan sana membuatnya menelan saliva cepat-cepat. Dia bergemetar hebat tatkala mendapat teriakan seperti itu. Kepalanya seketika terasa berkunang-kunang.

 

Dia menggeleng pasrah sebagai jawaban, bibirnya tak mampu berkata. Maka matanya mulai meneteskan cairan berasin itu. Dia tidak bisa membaca dengan jarak jauh. Tetapi wanita paruh baya yang dijuluki gelar sebagai seorang guru tetap memaksa muridnya itu untuk membaca. Meskipun guru itu mengetahui bahwa dia tidak bisa membaca tanpa kacamata.

 

"Keluar kamu!" 

 

Dengan menundukkan kepala dia segera meninggalkan ruangan kelas. Seluruh murid di dalam memandangnya penuh kebencian. Tangisnya makin tersedu-sedu, langkah kaki yang terseok-seok terus memaksa untuk segera menuju ke tempat persembunyiannya, meluapkan segala amarahnya di sana. 

 

Brugh!

 

Belum sempat dia meminta maaf atas kelalaiannya berjalan tanpa melihat arah pandangnya, seseorang yang tanpa sengaja ditabrak olehnya pun kini menarik lengannya secara gusar menuju gudang sekolah yang tak jauh beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

 

Didorong tubuh yang sempat menangis tadi dengan kasar. Punggungnya menubruk perabotan lapuk yang tersimpan usang di gudang sekolah. Yang didorong meringis menahan sakit.

 

Plak!

 

Satu tamparan di pipi kanannya.

 

Plak!

 

Dua kali tamparan kembali mendarat kini di pipi kirinya. 

 

"Berani lo nabrak-nabrak gue?"

 

Dia menggeleng hendak menjawab tapi--

 

"Jangan ngomong! Gue bahkan seluruh orang di dunia ini benci suara lo!" sang empu mendorong kasar kepala remaja yang lemah.

 

Dagunya diambil kasar oleh sang lawan digenggamannya yang erat. Kuku-kukunya yang panjang nan lancip itu mencengkram kuat hingga menusuk kulit-kulitnya yang sudah basah oleh air mata.

 

Merasakan sakit di area wajah memberinya efek begitu biasa jika yang dilakukan adalah seorang diri. Tapi kali ini rasa sakit itu dia dapatkan dari tangan pedas orang lain.

 

Sampai serangan lain pun diberikan, banyak helaian rambutnya ditarik hingga kepalanya membawa ke belakang hampir menyentuh punggung belakang. Matanya terbuka tutup menahan rasa sakit luar biasa menggerogoti ubun-ubun kepala. Orang itu menarik rambutnya seperti mencabut rumput liar yang keras sampai akar itu akan keluar dari tanahnya.

 

Kalau suara-suara yang sering dia dengarkan itu bersemayam di kepalanya, kini semua lontaran kasar terdengar nyata di hadapannya. 

 

"Lo itu gak guna! Ngapain lo masih hidup terus berkeliaran di sekitar sini, hah?" 

 

"Lo pikir yang ngeliat lo itu seneng?"

 

"Lo tuh sampah, keberadaan lo itu gak diinginkan. Lo tuh cuma maksa hidup padahal tau kalo lo sendiri tuh gak bakal dapat apa-apa di sini!"

 

"Mati aja lo!"

 

"Jijik ngeliat lo!"

 

Kedua tangan yang tadi mencengkram dagu dan menarik rambutnya kini berpindah menguasai leher panjangnya. Mencekik dengan begitu erat. Sangat erat. 

 

Leher itu layaknya guling kecil yang baru diangkat dari cucian basah kemudian diperas kuat-kuat agar semua airnya turun.

 

Sampai dia mulai merasa napasnya yang terputus-putus.

 

Tapi tangan itu terus melilit dengan kuku panjang terasa menikam tajam bagian cengkuknya.

 

Meraup udara dengan rakus disisa-sisa kehidupan yang dia punya, tapi yang didapatkan hanyalah sesak yang menguasai dada.

 

Dia berpikir hari ini adalah hari terakhirnya dia hidup di dunia menjadi kenyataan.

 

Selama ini dia selalu menanti kematian itu datang pada dirinya. Melakukan berbagai percobaan melukai diri sendiri adalah penenangnya sementara kemudian kembali melanjutkan rintangan kehidupannya yang begitu suram. Jika hari yang dilewatinya begitu lelah--bahkan setiap hari--dia melakukannya kembali.

 

Dia ingin sekali melakukan satu hal ini, bunuh diri. Tapi entah malaikat mana yang selalu meyakinkannya berbisik untuk menunggu hari esok, sekali lagi bertahan hidup. Menunggu kabar baik apa yang menanti. Tapi yang terjadi esok hari hanyalah kesengsaraan. 

 

Terus begitu, berulang-ulang hingga dia gagal meregang nyawanya sendiri. Menggantinya dengan selalu melukai bagian-bagian tubuh mana yang dia inginkan. Melihat sayatan-sayatan dengan bercak merah di tubuh adalah candu baginya. Melihat lebam di sekitar pergelangannya adalah penenangnya, dia sudah melakukan yang terbaik. 

 

Maka dari itu, jika hari ini adalah hari yang tepat untuk menyambut kematiannya. Dia rela. Karena remaja lemah itulah yang diinginkan selama ini, kematian.

 

Kesendirian adalah teman hidupnya. Menggeluti dosa-dosanya yang terus menghantui.

 

Maka terlelap menurutnya menyenangkan. Rasa tenang selain melukai dirinya sendiri yaitu dengan beristirahat. Dengan memejamkan mata dia bisa melakukan apa yang dia inginkan dalam bayangan imajinasinya. Tanpa cemooh, tanpa tatapan mata yang memandangnya dengan kebencian, dan tanpa melihat dirinya yang begitu pasrah lagi.

 

Dia bisa hidup bebas di alam itu. Meski sendiri, tapi sendirian dengan kegelapan itu ternyata lebih menyenangkan.

 

End

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.