Profil instastories

Bunga Meminta Hujan

       Bunga Meminta Hujan

        Oleh: Cicci Ayata

 

       "Horee ... Bapak pulang!" Bunga bersorak. Gembira.

       Anak kecil itu berlari, menyambut Ali, bapaknya yang baru pulang dari  melaut. Tak dihiraukan hujan yang menghantam deras kulit lembutnya, juga langit yang menghitam di atas sana tak membuat gadis kecil berusia lima tahun itu takut ke luar rumah. 

       Serta merta rona lelah di wajah lelaki bermata sayu itu hilang, melihat kedatangannya disambut oleh putri yang lucu dan cantik dengan gembira meski ia tak membawa hadiah.

       "Kamu udah pulang, Li?" tanya Mbok Mina. Wanita berusia senja yang tinggal bersebelahan dengan rumah Ali.

       "Iya Mbok, Bunga tidak nakal, kan?" sahut Ali  meletakkan ember yang berisi ikan dan alat pancingnya. 

       "Ya, ndak lah, Li. Bunga anak yang pintar," kata Mbok Mina melirik sekilas Bunga yang masih asik mandi hujan, lalu melanjutkan kalimatnya, "tadi anginnya kenceng sekali, Li."

       "Iya Mbok, tapi tidak lama karena hujan langsung turun."

       "Oalah ... pantes, Bunga terus berdoa meminta hujan." Wanita tua yang kepalanya dipenuhi rambut putih itu terkekeh memperlihatkan deretan gigi yang tak lagi utuh.

       Kaca-kaca bening langsung memenuhi bola mata bapak muda itu. Bangga sekaligus terharu, putri kecilnya harus menghadapi rasa takut sendiri, tanpa sosok seorang ibu di sampingnya dan sosok bapak yang menjaganya. 

       Ali membuang napas, berat. Ada beban di sudut hatinya, saat ia harus meninggalkan Bunga sendirian demi untuk mencari nafkah.

       "Bunga,  ambilin Bapak sarung ya, Nak." suara Ali sedikit bergetar menahan bulir air mata yang berusaha jatuh.

       "Iya, Pak." Gadis kecil berambut hitam itu berlari masuk rumah, kemudian kembali  membawa sarung dan menyerahkan kepada Ali. 

***

       Di depan pintu, Bunga duduk menopang dagu menikmati semilir angin, manik matanya tampak takjub memuja laut lepas yang ada di depan sana, tenang. Hanya ombak-ombak kecil datang silih berganti menyapu bibir pantai. 

       "Mbok, saya nitip Bunga ya," sahut Ali sambil meletakkan bekal ke dalam ember pancingnya.

       Mbok Mina yang tengah menjemur pakaian balas menyahut, "Iya, Li, suruh Bunga ke sini saja."

       Ali mendekati anak semata wayangnya itu lalu duduk di sampingnya. Menatap lekat, seolah berat untuk pergi.

       "Bunga sama si Mbok ya. Jangan bikin susah si Mbok, jangan rewel, jangan cengeng ya, Nak."

       "Iya. Bapak jangan lama-lama perginya," kata Bunga, memeluk Bapaknya erat.

       "Ya sudah. Bapak, pergi dulu."

       Ali beranjak, menoleh sekilas ke Bunga lalu kembali melanjutkan langkahnya.

***

       Sudah pukul 05.00 sore, Ali belum juga pulang, cerah langit pelan-pelan memudar, menghitam seolah membangunkan angin yang semula sepoi-sepoi jadi kasar. Pepohonan yang sudah lama mengakar kuat di tanah bergoyang hebat.

       Beberapa atap seng terbang terbawa angin, lalu jatuh menghantam tanah menimbulkan bunyi yang tiba-tiba mencekam jiwa warga pesisir.

       Air laut bergemuruh, hebat.  Gulungan ombaknya besar menghantam keras.

       Satu per satu perahu-perahu nelayan merapat ke bibir pantai. 

      Mbok Mina terlihat cemas. Wanita yang sudah lama ditinggal suami dan hidup sendiri itu mengajak Bunga masuk ke dalam rumah, lalu mengunci pintu. 

       Gadis kecil itu memilih duduk di depan jendela menatap laut yang ombaknya semakin mengganas. 

       Tidak terlihat ketakutan di wajah polos itu. Bibir mungilnya berkali, merapal do'a  "Ya Allah ... turunkan hujan, Ya Allah."

***

       Sepekan berlalu, Ali belum juga ditemukan setelah badai angin memporak-porandakan kampung itu. Semua penduduk dan tim SAR sudah berusaha mencari, tapi hasilnya nihil. Hanya serpihan-serpihan perahu Ali yang berhasil ditemukan. 

       Orang-orang menatap Bunga, iba. Gadis kecil itu bukan lagi hanya piatu, tapi ia pun kini yatim. Benar-benar sendiri. Sudut mata bening itu basah, setiap hari merapal doa meminta hujan berharap bapaknya pulang. 

 

***

 

Bumi, 2 Februari 2019

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani