Profil instastories

Nama saya Umar Ramadani. Lahir tanggal 03 Desember 2001

Bulan Purnama


Aku benci bulan purnama. Namun mulutku berkata 'indah' saat melihatnya.

Sinarnya mengingatkanku akan sesuatu, sesuatu yang berdarah. Malam itu ayah dan ibu, semuanya, tidak ada yang tersisa kecuali kami berdua.

Berdua? Tidak, tidak akan ada yang tersisa setalah pedang itu menusuk tubuh kami. Soalnya mustahil aku bisa mengalahkan mereka semua. Setidaknya berakhir di bawah bulan purnama yang penuh bintang ini sehingga aku tidak akan menyesalinya. Selain berlari, tubuhku menolak untuk bergerak. Nah, apa gunanya seorang knight yang tidak bisa lagi memegang pedangnya? Terus berlari dengan kaki berlumuran darah teman-temannya sendiri.

Kekuatan tempur musuh memang tidak seberapa tapi jumlahnya yang bikin melongo. Dan lagi aku tidak terbiasa dengan pertarungan yang seperti ini. Jika satu lawan satu meskipun jumlah mereka ada seribu masih ada harapan untukku menang. Sebab aku adalah Queen of Knight, Aqilla Airen. Namun, sepertinya aku harus melepaskan gelarku itu. Sebuah gelar yang sangat sulit untukku pertahankan. Tidak pernah kalah dalam pertarungan, yang benar saja.

Akan aku beritahu satu fakta. Kami, Airen, sangat membenci bulan purnama. Tidak ada hal yang pantas dibenci selain sinarnya itu. Saat bulan purnama bersinar terang kekuatan sihir kami seketika menghilang. Meskipun berlindung ke tempat yang gelap yang tidak terkena sinarnya, perbuatan itu sia-sia saja. Tapi, aku tidak benci bulan purnama. Karena aku sama sekali tidak pandai dalam ilmu sihir.

Aku dan knight muda Olivia Airen sampai dibuat terpojok. Sekarang tidak ada tempat untuk lari lagi. Di depan kami lautan luas sejauh mata memandang dan di belakang pasukan musuh terus mengejar kami. Aku benci mengakuinya.

Olivia Airen, di usianya empat belas tahun ini dia diberi gelar sebagai Young Knight, kesatria termuda. Aku akui, dia memiliki bakat yang luar biasa. Caranya bertarungnya sangatlah unik dimataku. Dia bagaikan menari dengan pedang-pedangnya. Terkadang aku juga mempelajarinya tapi aku tidak pernah bisa menari dengan jumlah pedang seperti dia. Delapan pedang terlalu banyak untukku.

Aku mengepalkan tangan kanan lalu meletakkannya ke dada kiri, merasakan detak jantungku berdegup kencang. Sementara itu nafasku masih saja terburu-buru.

Hanya perlu waktu beberapa menit sebelum pasukan besar itu sampai ke tempat ini. Di atas tebing seperti ini pilihan terbaik adalah melompat. Tapi sayangnya di bawah bukanlah air melainkan bebatuan. Kalau melompat sama saja dengan bunuh diri. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain lagi selain bertarung. Dua orang melawan puluhan ribuan prajurit. Heh, tenang saja itu cuma perbandingan angka.

"Olivia, berikan aku satu pedangmu."

Olivia tidak menjawab. Dia memegangi kedua pedangnya yang berada di kiri dan di kanan pinggangnya. Nafasnya terus saja terengah-engah dengan mata kirinya tertutup sebelah. Tangannya sama sekali tidak berniat mau menarik pedangnya. Rasanya ingin aku ambil paksa pedang itu. Tapi, tidak akan aku lakukan.

Melihatnya yang tidak langsung mengikuti perintahku. Membuatku berpikir, apa dia masih memiliki rencana yang lain. Puluhan rencana yang berhasil membawaku melihat kondisi seperti ini. Tapi, Jika saja rencananya sama seperti sebelumnya. Terus berlari sampai matahari terbit maka aku lebih baik melawan orang-orang brengsek itu.

Aku berbalik kebelakang, cahaya kelap-kelip bagaikan bintang beterbangan ke langit malam dengan jumlah yang tidak dapatku hitung. Cahaya itu sempat membuatku terpana saat melihatnya. Namun, saat cahaya itu hampir jatuh aku menyadari sesuatu. Itu bukanlah bintang melainkan panah api.

Olivia menarik kedua pedangnya dan menepis semua panah yang mengarah pada kami dan sesaat hujan panah berhenti, Olivia mengatakan sesuatu padaku untuk kesekian kalinya.

"Aku punya rencana," ucapnya lesu.

Dia menancapkan kedua pedangnya ke tanah dengan posisi agak condong ke depan lalu berjalan mendekatiku. Satu pendangnya tidak menancap dengan baik dan terjetuh tergeletak di atas tanah. Lalu tangan kirinya menepuk pundak kananku. Setidaknya itu cukup untuk membuat rambut panjangku ikut bergoyang. Cayaha bulan purnama yang mengarah langsung ke wajahnya semakin mempercantik senyum tipis yang dia tunjukan padaku. Menghela nafas lalu berkata padaku.

"Queen of Knight Aqilla Airen. Dengarkan aku." Mataku menatap ke arahnya memperhatikan wajahnya yang sedikit berbeda daripada siang tadi. Hanya dalam satu malam, rambut pendek lurusnya menjadi meratakan dan wajahnya terlihat kusam.

"Aku pernah bilang bahwa keluargaku bukan penduduk asli di sini. Kami tinggal jauh di Timur sana. Dan aku pernah bilang padamu, Aqilla. Aku pernah tinggal tiga tahun di sana. Jadi..." Dia menundukkan kepalanya sejenak kemudian mengangkatnya kembali dengan senyum baru diwajahnya.

"...aku mohon tinggallah di sana. Tenang saja, aku pasti akan merebut kembali telur yang mereka curi. Lalu... setelah itu... aku akan menemuimu di sana dan mungkin menjadi seorang knight di sana. Aku janji." Dia mengeluarkan jari kelingkingnya dihadapanku, aku pun melakukan hal yang sama dan jari kelingking kami saling menggenggam erat satu sama lain.

"Janji?" Aku mengulangi ucapannya untuk menyakinkannya lagi dan Olivia menjawabnya dengan penuh senyum di wajahnya.

"Ya, aku janji."

Setelah itu, tangan kanannya juga menyentuh pundakku. Aku sempat merasa aneh saat melihat Olivia mengigit bibirnya sendiri lalu menundukkan kepalanya sekali lagi.

"Maaf." Suaranya terdengar berat di telingaku. Dia mendorongku dengan sangat kuat dan aku pun terjatuh. Tapi, yang lebih membuatku kaget lagi adalah seekor naga berwarna coklat mencengkram erat tubuhku dengan kaki kirinya dan membawaku terbang menjauh.

Sekarang aku ingat. Seharusnya aku cepat mengetahuinya, Olivia berbohong padaku. Setiap dia berbohong dia selalu mengigit bibirnya sendiri. Dan itu artinya, Olivia tidak bisa merebut telur itu dari mereka--manusia.

 

***

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani