Profil instastories

Bukan Milikku

 

 

"Permisii!" teriakku penuh keceriaan karena saking rindunya pada rumah ini, pada teman dekatku, Deva.

"Yaa, tunggu sebentar!" itu suara bibi Vega, ibunya Devan, mungkin sedang asyik menonton tv di ruang tengah.

Cklek...

"Eh, Akasa?" sambut bibi Vega lalu menghambur memelukku. "Kapan kamu datang? Ayo, masuk dulu. Duduk, Bibi bikinin teh sebentar ya," belum juga menjawab, bibi sudah pergi begitu saja. 

Kuamati rumah ini. Tidak banyak berubah sejak 4 tahun yang lalu saat aku pergi, untuk bekerja di luar kota. Bahkan, susunannya sama sekali tidak berubah. Cuma mungkin warna catnya saja yang terlihat lebih segar. 

Sebenarnya aku cukup sedih, karena ternyata kawan yang begitu kuharapkan kehadirannya pada saat wisudaku sebulan yang lalu tidak datang. Padahal aku ingin berbagi kebahagiaanku bersamanya. Namun, aku tetap berusaha berpikir positif, mungkin Devan memang sedang sangat sibuk.

'Omong-omong, Devan dimana?' tanyaku pada diriku sendiri, dan saat itu pula bibi datang dengan membawa dua gelas teh panas.

"Ayo ... diminum dulu tehnya, keburu dingin nanti," canda bibi.

"Ah, Bibi mah sukanya bercanda aja dari dulu. Tehnya masih panas juga," tawa pun tercipta di suasana sore itu. 

"Omong-omong, dimana Devan, Bi?" tanyaku, penasaran.

"Devan belum pulang. Ya, memang sepekan ini dia lembur terus. Pulangnya mesti jam sepuluh malam. Gak tau deh ngapain aja di tempat kerjanya sana," 

"Loh. Jadi Bibi sering sendirian dong di rumah?" tanyaku lagi, mengingat Devan adalah anaknya satu-satunya, dan suaminya sudah meninggal saat Devan masih kelas satu SMA.

"Ya, Bibi kerja juga, daripada gak ngapa-ngapain di rumah. Ini tadi Bibi baru pulang istirahat pas kamu datang," terus terang bibi menjelaskan. "Kamu kapan datang? Kok gak bilang-bilang?"

"Baru kemarin sih, Bi. Sebenarnya mau kesini, eh taunya dijemput sama keluarga. Jadi ya, pulang ke rumah dulu. Hehe." bibi manggut-manggut.

"Udah lulus kuliahnya?" tanya bibi lagi.

"Sudah, Bi, bulan lalu. Emang Devan gak bilang?" tanyaku keheranan, bahkan bibi Vega tidak tahu tentang kelulusanku. 

"Enggak tuh. Devan gak bilang apa-apa sama Bibi," tukasnya, "Eh, itu tehnya diminum, keburu dingin loh," 

"Eh, iya, aku minum nih tehnya, biar gak nangis. Hahaha," tawa ria mengisi sore kami waktu itu, tapi tak tahu bagaimana dengan besok.

Kami masih terus bercakap-cakap hingga cakrawala hendak bersembunyi dibalik kegelapan malam.

"Yah, udah mau Maghrib aja nih. Akasa pulang dulu, Bi, ya! Besok pagi Akasa ke sini lagi. Salam buat Devan. Assalamu'alaikum," senyum ceria tak lepas dari bibirku meski aku tidak menemukan sosok tujuanku disini.

"Iya, Wa'alaikumussalaam. Hati-hati, awas ada semut lewat nanti loh!" 

"Hahaha, iya, Bi. Bahkan nanti kalau ada dinosaurus Akasa tetap minggir kok, Bi," 

Bibi ada-ada saja jika bercanda, selera humornya receh. 

Aku tak langsung pulang. Aku masih ingin berjalan-jalan, tetapi mana mungkin aku berjalan-jalan sendirian. Lagipula sudah hampir petang. Kuputuskan untuk mampir sebentar ke toko pakaian guna mencari oleh-oleh untuk Devan dan ibunya.

Mungkin karena aku terlalu antusias dan bersemangat untuk bertemu dengan kawan lamaku itu hingga lupa membawa barang bawaan tadi saat ke rumahnya.

"Hahaha, dasar konyol." tertawa sendiri seperti orang gila? Ya, aku tertawa sendiri, juga menertawakan diri sendiri. Untung jalanan sepi, langit juga sudah hampir gelap, jadi tidak ada yang memperhatikan.

Kulajukan motorku ke toko baju, lalu kuparkirkan dan segera masuk. Kupilih kira-kira baju apa yang cocok untuk digunakan Devan besok, rencananya aku ingin jalan-jalan dengannya. 

Baju untuk Devan sudah terpilih, untuk bibi Vega juga sudah. 

Lalu dengan segera aku menghidupkan mesin motor, membawanya pulang ke rumahku.

***

Hari ini hari Minggu, Devan pasti punya banyak waktu untuk kami habiskan bersama. Hari ini, pagi ini, aku akan ke rumahnya lagi. Mengajaknya jalan-jalan dan menghabiskan waktu seharian untuk melepas rindu. Tak lupa kubawa baju yang sudah kubeli kemarin. Devan pasti akan sangat tampan memakai baju itu.

Astaga, aku tak mau berkhayal terus. Aku harus bergegas. Huh, sudah tak sabar rasanya.

"Bu, Akasa mau jalan-jalan sama teman. Assalamu'alaikum!" teriakku saat hendak keluar.

"Iya, hati-hati!" jawab beliau.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku menyenandungkan lagu. Senyum tersungging selalu, tak mau melepaskan diri. Sepanjang perjalanan itu pula aku membayangkan, berharap Devan mengatakan hal yang sama seperti yang ingin kukatakan. Aah, mana mungkin. 

"Assalamu'alaikum bibi Vega, Devan!" salamku penuh keceriaan begitu sampai di rumah Devan.

Namun, keceriaanku itu berubah dengan wajah kebingungan. Bagaimana tidak, dalam kondisi pintu rumah sudah terbuka, bibi Vega keluar dan langsung memegang erat lenganku dengan wajah panik. Bahkan hendak berbicara pun sulit.

"Bibi kenapa?" tanyaku begitu melihat ekspresi bibi Vega tersebut.

Bibi tak menjawab. Hanya menunjuk-nunjuk kamar yang pintunya sudah terbuka, kamar Devan. Lalu bibi bergegas menarik tanganku, mengajak untuk melihat sendiri apa yang terjadi.

"Oh astaga. Ya Allah Devan!" aku terduduk, semua barang bawaanku jatuh. Air mataku tanpa disuruh sudah mengalir begitu saja. Betapa terkejutnya aku melihat kondisinya.

Devan terkapar lunglai dengan tangan kirinya mengalir darah, sedang tangan kanannya memegang sebilah pisau yang juga dipenuhi bercak darah. Kamarnya acak-acakan, bantal tak ditempatnya, bungkus makanan dimana-mana, ponsel sudah remuk rupanya, semua barang tak tersusun di tempatnya. Bibi di belakangku hanya bisa menangis dan mengelus pelan bahuku. Niatnya menguatkan hatiku, tetapi tak sadar kalau beliau sendiri juga perlu untuk dikuatkan hatinya. 

Aku bangkit. Berlari ke tempat dimana Devan terkapar tak berdaya, berharap masih ada detak nadinya. Di dadanya aku menangis, tak kusangka masih ada keajaiban. Seketika mataku membulat.

Kurasakan masih ada detak jantung, Devan masih hidup. Devan masih hidup. Kuhapus air mata yang membasahi pipi, segera kupeluk bibi Vega dan kusampaikan kalau Devan masih hidup. 

"Bi, Devan masih hidup, Bi. Devan masih hidup. Masih ada harapan. Devan pasti bisa selamat. Akasa yakin, Bi. Bibi tolong bantu doa. Akasa akan bawa Devan ke rumah sakit sekarang juga. Ayo, Bi, bantu." 

Kami merangkul tubuh lunglai Devan keluar. Sementara aku menghidupkan mesin motor, bibi Vega merangkul Devan agar tidak jatuh.

Ya, kami pergi ke rumah sakit menaiki motor. Tak ada waktu lagi, kami harus bergegas. Berbonceng tiga tanpa helm? Aku tak peduli. Masalahnya ini keadaan darurat. 

Begitu Devan dan bibi sudah sempurna naik, segera kugaskan motorku melewati ramainya jalanan. Bel motor senantiasa kubunyikan. Wajah ceria saat berangkat tadi kini berubah dengan wajah cemas penuh air mata yang tak dapat kubendung. Devan, kau kenapa. Tolong jangan pergi terlebih dahulu, aku disini berharap bisa hidup bersamamu. 

Sedikit cerita, aku dan Devan berteman sejak kelas satu SMA. Kami saling mengenal pada saat kegiatan MOS. Awalnya kulihat memang biasa saja, aku tak peduli. Karena pada dasarnya aku memang sangat jarang berteman dengan anak laki-laki.

Namun alam berbicara lain. Karena kami memiliki banyak hobi yang sama, akhirnya kami sering bertemu dan menjadi teman dekat. Disitu aku masih biasa saja, Devan hanya kuanggap sebagai sahabat. Namun, pada penerimaan raport kenaikan kelas, dia memberiku kejutan yang menjadi titik awal komitmenku padanya hingga saat ini. Dia memberikanku kado boneka teddy besar, dan besoknya dia mengajakku jalan-jalan. 

Kukira cuma sampai disitu kejutannya, tapi ternyata tidak. Dia membawaku ke taman asri yang sudah dipenuhi dengan hiasan. Lalu apa spesialnya? Hiasan tersebut terdiri atas bunga-bunga yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk tulisan "HAPPY ANNIVERSARY".

"Haha. Kamu apaan sih? Orang gak pernah jadian juga. Dasar," kataku waktu itu.

"Yee ... kamunya aja yang kepedean. Itu tuh, maksud aku, happy anniv yang pertama buat persahabatan kita. Biarin aja tuh mereka yang pacaran iri karena gak pernah diginiin sama pacarnya. Hahaha," 

Sejak saat itulah perasaanku timbul. Perasaan dijadikan orang istimewa. Sejak saat itu pula aku berkomitmen pada diriku untuk tidak mencintai orang lain selain Devan. Haha, konyol memang. Tapi itulah yang terjadi. Kenangan itu selalu bisa membuatku tersenyum saat sedang bersedih.

"Dok, tolong segera tangani teman saya, Dok. Tolong berikan penanganan terbaik," kataku begitu melihat dokter membawa Devan ke UGD. 

Aku tak boleh menangis lagi. Ada bibi Vega disini yang harus kukuatkan, aku tak boleh membuat keadaan makin kacau dengan terus bersedih. 

Setelah menunggu sekian puluh menit, akhirnya dokter keluar dari ruang tersebut.

"Bu, Mbak. Alhamdulillah pasien masih bisa selamat. Untung pasiennya dibawa tepat waktu, kalau terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi, dan untuk administrasi Ibu bisa urus di sana, Bu," kata dokter tampan itu seraya menunjuk meja recepcionis. "Semoga ke depannya kondisi pasien bisa membaik. Ibu berdoa saja," lanjutnya.

"Baik, Dok." 

Napas lega dan beribu ucapan syukur tak lepas dari kami. Terima kasih Ya Allah.

"Apa kami bisa menjenguknya sekarang, Dok?" tanyaku.

"Maaf, belum bisa. Kami masih harus melakukan pemeriksaan lagi untuk pendataan, mungkin besok pagi kalian bisa datang kemari dan menjenguk pasien. Semoga pasien segera membaik, dan jangan lupa untuk membuat pasien selalu bahagia," kata dokter itu seraya pergi ke ruangannya.

Kami tengok sebentar kondisi Devan melalui jendela. Dia seperti sedang tertidur pulas. Manis. 

Kami pulang. Kutemani dulu bibi Vega di rumah sebelum pulang ke rumahku sendiri. Kusuruh bibi Vega untuk beristirahat, sementara itu kurapikan kamar Devan yang sudah seperti kapal pecah. 

Kucoba mengecek ponselnya yang tergeletak, layarnya pecah, tetapi masih bisa dihidupkan. Astaga, layarnya dikunci. Hanya bisa kulihat wallpapernya berupa animasi kartun. Entahlah.

Beres. Kamarnya sudah rapi dan bersih. Tak ada lagi sampah berserakan. Aku berpamitan pulang pada bibi Vega, menyuruhnya untuk tetap istirahat. Namun, tiba-tiba bibi memegang erat lenganku, menyuruh duduk sebentar. 

Beliau bangun dari tidurnya, lalu memandangku dalam.

"Akasa," panggil bibi. "Bibi ingin mengatakan sesuatu." aku hanya diam, menanti 'sesuatu' apakah yang akan dikatakan bibi.

"Kondisi Devan memang sudah sangat buruk, Nak. Awalnya, 7 hari sebelum acara wisudamu. Devan yang memang jarang keluar rumah tiba-tiba mengisosali diri di kamarnya. Sama sekali tak keluar selama tiga hari berturut-turut. Bibi panggil dia tak menjawab. Bibi berikan makanan, dia tak mau memakannya. Sampai akhirnya bibi nekad membobol kamarnya itu, dan ... dan-" bibi mulai terisak. "dan ibu temukan Devan sedang memasang tali, Nak. Dia mau bunuh diri. Untungnya Bibi masih memergokinya. Yang kedua, tepat saat hari wisudamu dilaksanakan, lagi-lagi Bibi memergokinya hendak bunuh diri. Tergenggam sebotol racun di tangannya, tanpa ba-bi-bu bibi langsung berlari menjatuhkan racun itu. Menampar pipi Devan dengan berurai air mata, serta memarahinya penuh emosi. Sampai sekarang Bibi tak tahu masalah apa yang menimpa Devan, dan hari ini, Bibi terlambat mengecek kamar Devan. Dia terlanjur mengiris tangannya." tangis pun mulai pecah. Aku yang juga masih mencerna apa yang bibi katakan berusaha menenangkan. 

Seminggu sebelum wisuda, berarti sudah satu bulan lebih dia merasa terpuruk. Devan depresi, dia merasa tak berguna lagi hidup. Dia merasa kalau dirinyalah manusia paling sedih di dunia ini. Dia juga merasa sudah tak memiliki siapa-siapa lagi untuk bersandar. Astaga Devan, semoga kamu tidak mengulanginya lagi. 

Keesokan harinya, sesuai kata dokter kami mengunjungi Devan pagi hari. Saat kami datang, Devan sedang melamun, makanan dibiarkannya saja di meja samping ranjangnya. Bahkan tak sadar akan kedatanganku dan ibunya.

"Devan?" panggilku. 

Namun Devan tak juga menoleh, ia masih melamun memandangi langit-langit kamar.

"Nak," barulah ketika bibi Vega menyentuh lembut tangannya, Devan menoleh.

"Ibu?" Devan memandang bibi terkejut dan menyesal. "Tolong maafin Devan, Bu. Devan cuma berpikir pendek tanpa memikirkan dua kali, Bu. Bu, maaf kalau Devan cuma nyusahin Ibu, cuma bisa bikin Ibu cemas. Tolong maafin Devan, Bu, dan Devan janji gak bakal bikin Ibu sedih lagi. Selamanya. Tolong maafin Devan, Bu," kata Devan yang langsung memeluk bibi. 

"Iya, iya. Ibu maafin Devan kok. Asal Devan janji gak bakal ngulanginya lagi." Devan megangguk seraya tersenyum. 

Aku yang menyaksikan kejadian itu menangis terharu. Senang bisa melihat sahabatku bangkit dari keterpurukannya. Terlihat bibi Vega juga meneteskan air mata.

Posisi kami berseberangan, jadi Devan masih belum melihatku.

"Devan, coba lihat siapa disitu," kata bibi melepas pelukan dan mengarahkan dagunya ke arahku.

Devan mengerjap-ngerjap. Memfokuskan pandangan. 

"Dia siapa, Bu?" 

Eh? Devan sudah tidak mengenalku lagi? Padahal kami masih sering telepon.

"Masa kamu lupa sih? Itu Akasa, teman kamu sejak SMA." seketika matanya membulat.

"Akasa? Kamu Akasa?" aku mengangguk tersenyum, "Kenapa wajahmu berubah? Astaga, aku hampir tak mengenalimu. Bahkan, tak mengenalmu."

Aku hanya tertawa renyuh, ternyata Devan masih sama saja. Sikapnya seperti anak kecil.

"Lupakan. Kau sudah melupakanku. Bagaimana kondisimu sekarang?" tanyaku dengan nada ketus.

"Yah. Aku tidak suka Akasa yang ini. Galak. Lebih suka Akasa yang dulu, yang selalu mau membalas candaanku."

"Iiih, Devaan." dengan gemas kucubit lengannya, lupa kalau dia masih sakit.

"Aww ... sakit, Sa."

Kami hanya tertawa sepanjang pagi, hingga saat siang tiba dokter datang, menyuruh kami pergi. Sudah saatnya Devan beristirahat.

Kami menurut saja. Kami juga pulang ke rumah. Biar saja Devan tak ada yang menemani, secara kondisinya juga sudah jauh lebih baik.

Sorenya kami bekunjung lagi ke rumah sakit. 

"Devan, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu nekad mengiris tanganmu sendiri?" tanyaku memecah keheningan.

Devan hanya memandangku lama, beralih memandang ibunya, lantas mengembuskan napas berat.

"Aku sakit hati, Akasa. Aku sakit hati. Dia berkhianat."

"Si-siapa yang berkhianat?" tanyaku terkejut.

"Fani. Orang yang sudah kucintai selama tiga tahun terakhir. Orang yang telah berikrar mau hidup dengaku. Namun, pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi karena alasan yang tak logis."

Deg! 

Aku tak dapat berkata-kata lagi. Ternyata selama aku menjaga hati untuk seseorang, orang itu justru sedang menjaga hatinya untuk orang lain. Aku tetap berusaha tenang.

"Memangnya apa yang sudah dia lakukan?" tanyaku.

"Haha. Pertanyaanmu ambigu, Sa. Yang jelas dong. Apa yang sudah dia lakukan hingga aku bisa jatuh cinta atau apa yang sudah dia lakukan hingga aku patah hati?" 

Eh? Aku bingung.

"Um, dua-duanya," jawabku singkat.

"Tak perlu lah kau tahu bagaimana kisahku dengannya. Aku benci kalau harus mengingat semua itu. Kau sendiri bagaimana?"

"Aku? Bagaimana gimana maksudnya. Pertanyaan kamu itu ambigu, Devan." ingin rasanya kujungkir balik si Devan itu. Tadi dia sendiri yang bilang jangan membuat pertanyaan yang ambigu, eh sekarang malah dia sendiri yang begitu.

"Bagaimana? Sudah ada calon?"

"Ooh, sudah. Bahkan aku sudah berkomitmen padanya sejak SMA," tukasku.

"SMA? Dia satu sekolah dengan kita?"

"Iya. Satu kelas malah,"

"Ciyee Akasa. Siapa? Roni? Beto? Atau ...." Devan menghentikan sejenak perkiraannya.

"Atau siapa?" tanyaku menelisik.

"Atau jangan-jangan Pak Muis. Hahahaha,"

Seketika mukaku datar, enggan berbicara. Devan sama saja, suka menjodoh-jodohkanku dengan pak security.

"Bodo amat. Aku gak dengar."

"Ututu tayang. Kok mukanya langsung datar gitu? Jangan ngambek dong, nanti cantiknya ilang loh. Hahaha."

Iiiih Devan ....

Banyak sudah pembicaraan yang kami lakukan. Bibi Vega sempat pulang sebelum Maghrib, dan kembali setelaah Isya' dengan membawa makanan. 

Sebenarnya bibi menyuruhku pulang, tetapi aku tak mau. Aku ingin menjaga Devan hingga sembuh. Meski sudah tak ada harapan lagi untuk Devan menjadi pendamping hidupku, tapi aku tak ingin kisahku berakhir tragis. 

Pukul sepuluh malam bibi pulang, dan aku yang akan menjaga Devan di sini.

***

Pukul dua belas malam

"Ya, Akasa" Suara bibi terdengar parau ditelepon, khas bangun tidur.

"Bibi ...." Suara ku tercekat ditenggorokan. Rasanya tak sanggup untuk mengatakan hal ini. Tangis tak berhenti mengalir.

"Ada apa, nak? Semuanya baik-baik saja kan?" Suara bibi terdengar khawatir.

"Devan, Bi...-" Tangisku pecah,  sesenggukan. "De-Devan tidak ada ditempat tidurnya. Tadi,  Akasa pergi keluar sebentar. Sa-saat kembali,  Devan sudah tidak ada ditempat tidurnya. Akasa sudah mencari kemana-mana, ta-tapi, Devan tak ada. Hanya ada sepucuk kertas di atas nakas,  Bi."

Hening,  tak ada jawaban.

"Bi? Bibi!" aku mulai berteriak. Tetap saja tak ada jawaban. 

Sambungan telepon terputus sepihak.

Segera kuhapus air mataku. Berdehem sebentar untuk menetralisir suasana hatiku yang berubah. Aku tersenyum, sinis. 

Jika Devan tidak bisa menjadi milikku. Maka, orang lain tidak boleh memilikinya.

 

Selesai

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Arnila Trisna Putri - Mei 14, 2020, 4:44 AM - Add Reply

339

You must be logged in to post a comment.
Arnila Trisna Putri - Mei 16, 2020, 12:45 PM - Add Reply

339

You must be logged in to post a comment.
Nur Annisa - Mei 16, 2020, 12:48 PM - Add Reply

Niss

You must be logged in to post a comment.
Nur - Mei 16, 2020, 4:04 PM - Add Reply

408

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani