Profil instastories

Bitter Sweet Feeling

 

Aku tahu, seharusnya aku bahagia. Semua orang pasti akan gembira menyambut hari kelahiran mereka, atau bahkan mereka akan menanti tibanya hari itu dengan berbagai rencana yang disusun jauh-jauh hari. Tetapi, tidak denganku. Semua terjadi seperti hari-hari biasa. Tak ada ucapan apalagi perayaan. Terlahir di tengah keluarga yang menjunjung tinggi ajaran agama sangat menyiksaku. Aku, terkekang. 

"Izza, bangun! Kita tahajud." Panggilan Ibu menginterupsiku. Aku bahkan selalu bangun lebih awal sebelum Ibu membangunkan. Itu, sudah menjadi kebiasaanku. Aku jengah. Ingin seperti mereka, teman-temanku. Hidup bebas, pergi kemanapun, dan yang paling penting, tidak terikat dengan peraturan yang kuno dan kolot. Aku ingin berontak, sudah cukup. Tapi, apakah bisa? Rasa sayangku pada Ayah dan Ibu, membuatku mengesampingkan apa yang kumau. Tapi, aku sudah cukup dewasa. Ini, tak adil bagiku.

"Apakah kamu akan menyia-nyiakan sepertiga malam yang indah ini hanya untuk melamun?!"  Pintu kamarku terbuka, menampilkan wanita dengan balutan mukenah putih memandangku dengan pandangan memperingatkan. Aku turun dari ranjang tempat tidurku untuk wudhu. Aku melupakan satu hal, ini hari Jum'at akhir bulan, waktu untuk setor hafalanku. Tapi aku ..., "Cepat  Izza!" Kulihat Ayah dan Ibu memandangku dengan pandangan yang tak kumengerti. "I-iya, Yah."

"Ayo," ucap Ayah yang duduk bersila menghadapku setelah menyelesaikan dzikir paginya. Jantungku berpacu, aku sudah mempersiapkan sebuah alasan. Tapi aku tidak mungkin berbohong. Sebab, sekali berbohong, akan ada kebohongan selanjutnya.

"Anu, Yah... Muraja'ah surah Al-Kahfi." Kulihat Ayah mengernyitkan dahi, "Kenapa?"

"Gak apa-apa, Yah. Sekarang kan hari Jum'at, sunnah, banyak fadhilahnya."

"Tumben?" Tak ada kemarahan di setiap kalimatnya, tapi justru membuatku merasa sangat bersalah. 

"Belum hafal, Yah." Aku mendengar helaan nafas  dari Ayah.

"Kenapa? Biasanya kamu mudah menghafal."

"Ada ayat yang sulit dihafal. Kata Ayah, kalau kita sulit menghafal di salah satu ayat, tandanya ayat itu sedang rindu. Mungkin karena itu aku sulit menghafal. Ayatnya ingin berlama-lama sama aku, Yah." Baiklah, kebohongan ini akan bertambah jika Ayah terus bertanya.

Kumandang adzan terdengar saat Ayah akan membuka mulutnya. Hari ini, aku beruntung.  "Ya sudah, perbanyak istighfar. Ayah harus segera ke masjid," ucapnya yang kubalas anggukan.

 

**

"Psssst...."  Aku menoleh ke belakang saat mendengar desisan dan colekan pada punggungku. 

"Pulang sekolah main lagi, yuk. Gak akan ketahuan lagi kayak kemaren, deh. Anggap aja buat ngerayain ulang tahun kamu." Mataku berbinar mendengar ucapan Key, temanku. Aku merasa tergiur. Merayakan ulang tahun? 

"Jika masih ingin melanjutkan pembicaraan kalian, silahkan keluar!" Aku berjengit kaget mendengar gebrakan papan tulis. Aku mematung, was-was.  Satu ... Dua ...

Aku menghela nafas lega saat Pak Bambang melanjutkan aktivitasnya menulis di papan tulis. Aku berfikir, apakah setiap guru mempunyai mata di belakang kepala mereka? Bahkan, tanpa melihat pun, mereka tau apa yang sedang terjadi di belakang. 

Aku menoleh ke belakang, "Ok!" Kataku pelan yang dibalas 2 jempol oleh Key. Aku akan mencobanya, sekali lagi mungkin tak apa. Lagipula, ini akan menjadi pengalamanku. Wajar jika aku nekat melakukannya, sebab ini akan menjadi perayaan ulang tahun pertamaku di SMA setelah kepindahanku dari pondok. Asal aku setor hafalan, mungkin Ayah tak akan marah. 

"Loh, Key, mereka siapa?" Tanyaku saat melihat dua laki-laki duduk di atas motor Key.  

"Ini kakakku, Reza. Dan ini, Bima, pacarku," jawab Key santai tapi sedikit berbisik saat mengatakan kata terakhirnya. 

"Katanya, mau makan-makan buat ngerayain ulang tahunku. Jadi?" 

"Ya ampun, iya Izza. Tapi gak seru dong kalau cuma berdua. Jadi, aku ngajak mereka. Udah ayo berangkat, kamu boncengan sama Kak Reza, ya?"

"Hah?" 

"Udah, ayo keburu sore." Aku merasa linglung saat Key mendorongku untuk segera naik ke motor Kak Reza. Aku tau ini salah. Tapi, kurasa kali ini saja tak apa. Lagipula, aku akan menempatkan tasku di tengah-tengah kami. Bukan hal yang buruk.

"Aduh!!" Aku hampir saja jatuh saat Kak Reza mengerem mendadak. Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah Ayah. Ayah yang menghentikan kami. Kenapa Ayah di sini? Mampus aku. 

Aku bergegas turun saat motor yang kami naiki tepat berhenti di depan Ayah. "Kenapa, Om?" Tanya Kak Reza. Cari mati! 

"Kamu bonceng anak saya, memang sudah siap?" Ayah bertanya dengan tatapan mengintimidasi tanpa mau menjawab pertanyaan yang diajukan Kak Reza.

Kulihat Kak Reza seperti kebingungan, "Siap apa, Om?" Baiklah, ini namanya pertanyaan dijawab pertanyaan. 

"Ayo pulang, Za!" 

"Iya, Yah. Kak, maaf. Sampaikan juga sama Key," ucapku dan bergegas menghampiri Ayah yang sudah menunggu.

"Sudah shalat ashar?" Tanya Ayah saat kami sudah berada di dalam rumah. 

"Belum, Yah."

"Shalat lah dulu," aku mengangguk dan berlalu menuju kamarku. 

Aku baru menyelesaikan shalatku saat Ayah dan Ibu masuk ke dalam kamarku. "Siapa dia?" Tanya Ayah yang membuatku urung melepas mukenah yang masih kukenakan.

"Dia kakaknya Key, Yah." 

"Kenapa kamu bisa dibonceng sama dia?" Aku bungkam. "Kamu seorang muslimah, Za. Kamu punya hafalan yang harus kamu jaga. Tidak bisakah kamu menundukkan pandanganmu terhadap seseorang yang bukan mahrammu? Jaga kehormatanmu sebagai seorang muslimah. Kamu masih tanggung jawab Ayah, nak. Apa yang akan Ayah jawab nanti di akhirat saat Allah bertanya pada Ayah?" 

Aku sudah tak kuat menahan sesak ini. Aku mendongak saat mendengar isakan tangis Ibu. Ya Allah, kenapa ini? "Ada yang ingin kamu sampaikan pada Ayah?" 

"Izza capek, Yah. Pengen kayak temen-temen." 

"Jangan seperti anak kecil, Izza! Ulang tahun tidak perlu dirayakan jika itu yang menjadi masalahmu! Bertambahnya umur, tidak membuat kita lebih lama tinggal di dunia, nak."

Dan, aku melupakan satu hal lagi. Kita di dunia ini hidup untuk apa? Setan telah berhasil menghasutku.

Air mataku menetes. Menggigit bibir bawahku untuk meredam isakan. Aku bangkit untuk memeluk mereka. Ya Allah, mereka orangtuaku. Orang yang merawatku dengan kasih sayang di setiap hembusan nafas mereka. Semua mereka berikan padaku. Tapi, apa yang sudah aku berikan? Tidak ada! Aku hanya memperhatikan diriku sendiri. Tanpa disadari, kebersamaan kami semakin menipis. Keriput di wajah mereka, rambut yang dulu hitam kini didominasi warna putih. Entah siapa yang akan Engkau panggil lebih dulu, Ya Rabb. 

Kurasakan usapan lembut di punggungku. "Tidak inginkah kamu berkumpul bersama di surga-Nya? Apakah kamu melupakan yang menjadi cita-citamu? Memberikan jubah kemuliaan untuk Ayah dan Ibu di surga? Bertemu Rasulullah. Buatlah Allah senang, agar yang menjadi cita-citamu terwujud. Carilah Ayah dan Ibu, saat kamu tidak menemukan kami."

Kudengar suara Ayah yang sedikit bergetar. Ya Allah, anak macam apa aku ini? Bagaimana jika aku tak dapat menjadi penolong bagi mereka? Di dunia menyusahkan, di akhirat pun menyusahkan? Tidak!! 

Aku menangis tergugu di bahu keduanya. "Maaf Yah, Bu. Maafin Izza. Ridhoi setiap langkah Izza."

"Tentu, nak. Ridho kami selalu menyertaimu. Kita mulai semua dari awal. Sungguh Allah menegur keluarga kita dengan sangat baik. Kita saling instrospeksi, bermuhasabah. Semoga Allah memberkahi keluarga kecil kita." 

"Mulailah berpikir lebih dewasa, Za. Berpikirlah dulu sebelum bertindak. Jaga kehormatanmu sebagai seorang muslimah." Aku mengangguk. Perkara dunia memang selalu saja berhasil membuat orang lupa akan perkara akhirat.

Jember, 24 November 2018

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani