Profil instastories

BimaMeda


Ceklek.

”yes, berhasil!” spontan ku berteriak. Segera kuangkat kedua telapak tanganku untuk membungkam mulutku.

“Romeda. Keep silent please” gadis disebelahku ini mulai geram akan aksi bodohku.

“iya Keisha bawel”

Ini cerita bimbang membosankanku, namun tenang bosan disini tak seburuk kalimat panjang lebar guru BK yang berputar putar.
Namaku Romeda, dan aku suka antariksa. Tapi bukan berarti nama lengkapku Andromeda.

Dan disebelahku, teman satu perjuangan keminoritasan. Keisha namanya, tapi lebih akrab disapa Key. Seperti keahliannya dalam membuka pintu tadi, kukira dia adalah kunci di kehidupan sebelumnya. Dia bukan keturunan orang putih, kebiasaan saja omongannya selalu menyelipkan bahasa Inggris karena dia percaya nilai bahasa nya akan naik jika dipergunakan sehari hari.
Disamping semua itu, kita hanyalah siswa kelas 2 SMA dengan nilai rapor tertulis tercapai dan ter cap murid suka bolos.
Seperti sekarang ini, bus yang kami naiki sekarang tertuju pada toko korean edition cukup besar di pusat kota. Diskon memang sarapan bak seorang ratu bagi setiap wanita. Karena itulah kita di sini, demi menambah koleksiku dan Key sebagai fans oppa oppa negeri ginseng.

Awal kami berteman cukup unik, yaitu karena wallpaper ponsel kami sama sama konsep album You Never Walk Alone milik BTS. Itulah mengapa diriku menyebut Key sebagai teman seperjuangan keminoritasan, yaitu sebagai K-POPers.

Selain sama sama ARMY, kita berdua adalah pecinta kakak kelas cogan. Entah karena apa aku dan Key berprinsip masa SMA itu harus dikemas dengan manis, bukan malah manambah bumbu memusingkan dengan sejuta rumus matematika yang kadang bercampur teori newton, redoks berlapis proton dan neutron, serta keluarga besar animalia mulai dari kakek vertebrata dan nenek avertebrata sampai cucu mereka yang muncul di film kartun anak anak yaitu porifera dan asteridea. Itu semua kami tak peduli. Yang menjadi perhatian kami hanyalah duduk di tribun lapangan basket sepulang sekolah seraya meminum secangkir caramel machiato. Dan hal itu menjadi rutinitas, tak terkecuali hari ini. selepas bolos dan membeli accesoris di korean adition, sekarang disinilah kami dengan pendangan memuja satu orang yang sama dan dalam waktu yang lama.

“Ro, lihat deh. Kak Bima itu bener bener ya, so cool. Apalagi kalo lagi keringetan gitu” dengan mata berbinar Key mengutarakan isi pikirannya itu.

“biasa aja” jawabku sarkastik.

“heran deh gue. Lo tuh ya, bener bener gak kesengsem gitu sama kak Bima?” mata  Key beralih melihat kearahku yang kini masih saja memandang lurus ke depan.

Bohong kalo aku gak suka sama kapten basket itu.

Batinku bersuara.

“trus dari lo liatin siapa?” mata selidik Key mengikuti arah pandangan ku.

“oh, kak Reza”

Kak Reza. Ketua club OSN yang kini tengah duduk manis di sebelah kak Bima. Yang semua orang tahu dan Key tahu, aku suka kak Reza. Rumornya alasan diriku masuk OSN Astronomi adalah kak Reza. Faktanya, aku memang suka Astronomi bukannya kak Reza. Tapi demi Key, scenario ini adalah manipulasi dramaku. Aku bohong pada Key, dan kuharap ketidaktahuan itu bisa menjadi kebahagiaan hingga sandiwaraku tamat nanti.

Ketua club OSN dan kapten basket itu adalah friendship goal seantero SMA G. Tak heran jika kini mereka duduk bersebelahan, dan aku bersyukur akan itu. Karena aku bisa memandang kak Bima dengan alasan melihat kak Reza.

“Ro, kak Reza kesini tuh.” Bisik Key membuyarkan lamunanku.

“gue pulang duluan ya. Good luck” tangan Key dengan gelang pink melingkar di sana menarik tas berwarna senada dengan gelang miliknya.

“Key!” panggilku dihiraukannya. Mata ku masih setia menatap langkah kepergian Key berharap dia berubah pikiran dan berbalik.

“lo disuruh tunggu di sini sama Bima” suara serak itu mengagetkan ku. Mendengarnya membuatku beku. Tubuhku kaku hanya bisa meremas tali tas biru toska yang tengah ku gendong. Alasannya bukan yang ngomong itu kak Reza, tapi karena perintah itu bersumber dari seseorang yang membuatku jatuh cinta hanya karena flashdisk.

“ini flashdisk siapa?” teriaku bertanya pada teman sekelasku, 1-A.

“yang jelas bukan punya ku.” Saut Key dari balik laptopnya seraya terkekeh.

Hari itu aku dan Key adalah musuh gara gara aku gak mau ngasih contekan UH matematika. Tingkah Key itu kaya anak kecil. Sautannya tadi malah menambah kekesalanku.

Kembali ku letakan flashdisk itu di tempat semula. Niat baik malah buat naik darah. Rasa lapar selalu menghampiriku saat diriku marah. Kulangkahkan kaki ke kantin dengan hentakkan kesal. Ini pertama kalinya aku ke kantin sendirian. Biasanya siapa lagi kalau bukan Key.

“Ro!” terdengar namaku dipanggil dari arah belakang. Suaranya perempuan, mungkin Key.

“oh, Zahra” ucapku setelah berbalik.

“kamu tadi nemuin flashdisk?” tanyanya buru buru

“itu punyamu?”

“dimana sekarang?”

Ku ajak Zahra kembali ke kelasku. Saat tiba di belokan koridor kelas 1, kutunjuk bangku keramik di depan pintu kelas.

“loh! Kok ilang” kuterkejut bukan main. Harusnya tadi kubawa saja. Kenapa aku taruh di situ, kalau ada yang ambil bagaimana?

“flashdisk yang tadi dimana?” dengan panik ku tanya pada teman teman sekelasku dari depan pintu.

“tadi dibawa kak Bima. Kapten basket itu loh.” Jawab Dila yang tengah menghapus papan tulis.

Mendengar kata kak Bima, mataku menyapu isi kelas. Key tidak ada di kelas. Dimana dia?

“Ro. Aku mesti ke ruang guru sekarang” mendengar ucapan Zahra, ku berbalik ke arahnya.

“oh iya. Nanti aku yang minta ke kak Bima” ucapku yakin.

Tunggu.

Aku barusan ngomong apa? Yakin mau minta langsung ke kak Bima?

“kelas ini ada yang kehilangan flashdisk?” untuk kesekian kalinya diriku terkejut. Saat ku hadapkan tubuhku ke sumber suara, aku lebih terkejut lagi. Untung saja tangan kak Bima menahanku agar tidak terjatuh.

Deg!

“kamu gak apa apa?” tanyanya seraya membantu ku menyeimbangkan diri.
Tangannya masih mencekal tangan kanan ku yang kini basah akan keringat dingin. Kulihat flashdisk yang kucari ada di tangannya itu. Tanpa ba bi bu lagi, kuraih flashdisk milik Zahra.

“terimakasih” satu kata ku sebelum akhirnya masuk ke kelas meninggalkan kak Bima membeku disana.

“flashdisk” suara itu membawa ku ke realita setelah mengingat kejadian satu tahun lalu.

Wajahku mendongak terperangkap pada bola mata indah kak Bima. Tubuhnya yang bermandikan keringat mendekatiku. Direndahkannya badannya itu hingga wajahnya sejajar denganku. Dengan jarak sedekat ini apa yang akan dia lakukan?

Kulirik lewat ekor mataku, tangannya mengambil botol minumanku tanpa dosa. Diteguknya air dalam botol minumanku sampai habis tak tersisa.

“nama lo siapa?”tanyanya seraya melemparkan botol tadi ke pangkuanku.

“Ro..”jawabku masih terpaku pada kapten basket SMA G ini yang kini duduk di sebelah kiriku.   “Meda” lanjutku berucap lirih.

“anak Astro ya” pandangan kak Bima tepat jatuh di manikku.

“hah?” ucapku kikuk. Kugaruk tengkukku yang tak gatal.

“OSN Astronomi. Gue tahu dari Reza” kata kak Bima mengalihkan pandangannya ke temannya yang duduk di sebelahnya tadi.

“iya” jawabku singkat.

“berarti lo pernah denger tentang BimaMeda” mata kak Bima berbinar kembali menatapku.

“galaksi Bima Sakti dan Andromeda saling mendekat dengan kecepatan 100 sampai 140 km/detik. Diprediksi mereka akan bersatu.”jelasku serasa mengingat catatan private Astronomiku.

“bingo!” seru kak Bima sambil menepuk telapak tangannya.

Saat itu juga kami saling tersenyum. Dan beberapa detik setelahnya suasana tenang menyelimuti dengan mata kami bertemu dalam kesunyian.

“gue suka astro karena itu” ucap kak Bima membuatku semakin jatuh padanya.

“saya gak suka gagasan itu” balasku dengan raut muka datar, berbeda dari sebelumnya.

“karena dalam hal in, persatuan akan memperburuk keadaan” lanjutku.

“oh ya?”ucap kak Bima sarkastik.

“BimaMeda. Bisa jadi penggabungan dua galaksi besar itu menimbulkan efek. Paling parahnya, dunia berakhir” jawabku seraya menunduk di dua kata terakhir.

“gue suka anak cerdas. Dan gue suka lo” suara manis kak Bima terdengar seperti petir di telingaku.

“saya berharap saya gak suka” sulit ku mengatakannya. Terasa mataku mulai memanas.

“berharap?” suara kak Bima menusuk. Semakin menjadi air mata ini ingin keluar.

“karena kak Reza..”
“karena Key?”

Ucap kami hampir bersamaan.

Aku dan kak Bima saling diam. Sampai kak Bima membuka suara.

“jadi itu mau lo” selepasnya dia pergi meninggalkan ku sendiri di kegelapan ini.

Apakah aku benar? Atau yang kulakukan itu salah?

Memikirkannya saja buat aku begadang semalaman. Dan beberapa hari berikutnya aku tak pernah  bertemu dia lagi. Sampai saat dimana yang disebut luka itu datang.

“Ro. Usaha emang gak pernah mengkhianati hasil. Penantian lama gue akhirnya...” Key menghampiriku dengan tas yang masih digendongannya. Raut wajahnya berseri seakan tadi malam baru saja bermimpi menikah dengan Jeon Jungkook.

“tarik nafas dulu” tuntunku agar dia menetralkan nafas. Karena kesannya dia datang ke sekolah pagi ini kekurangan pasokan oksigen saja.

“ada apa?” tanyaku penasaran kenapa Key sampai bahagia seperti itu.

“Bima is mine” tiga kata itu sukses membuatku mengatupkan mulukku. Aku terdiam memandanginya yang masih senyam senyum sendiri.

“kok lo sedih gitu sih? Smile yu don’t cry” mendengar ucapan Key aku hanya bisa tersenyum simpul.

Sakit inginku. Tapi harusku bahagia.

Dari pada luka jika Key meninggalkan dua orang, lukaku yang hanya ditinggalkan satu orang. Itu lebih baik.

“kalo lo tekun kaya gue, yakin deh kak Reza bakal luluh. Trust me, it work” kata Key mampu sedikit membalikan mood ku.

“ngaco lo” kupukul bahu Key ringan sambil terkekeh.

“seru kan kalo kita bisa double date” terserah kata bujuk manis Key. Aku tidak peduli.

“gini deh, lo kan udah sama kak Bima. Jadi Jungkook oppa buat gue” mendengar bisikku mata Key langsung melotot. Tanpa menunggu aba aba tangannya melayangkan pukulan gemas ke tubuhku yang kini sibuk tertawa.

Endingnya aku bimbang antara percaya dan tidak mengenai BimaMeda. Apakah itu takdir? Bisa saja.

Yang jelas, atasi apa yang ada di depanmu lalu tunggulah Allah akan mengurus segalanya.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani