Profil instastories
Ai
Ai

Masih muda

Bicara bersamaku

Pagi hari

 

Pagi ini dimulai kembali suara suara yang memekakan telinga, suara yang membentak, suara yang mendumel, suara ayam yang berkokok pun membuat pagi ini seperti pagi seperti biasanya. Aku bangun dari kasur lepekku dan langsung keluar tanpa membersihkan dahulu kamarku kulihat diruang tamu ada adik laki lakiku yang sedang duduk selonjoran dengan seragam SD yang semrawutnya dan bapak yang sedang diteras rumah dengan motor bebek kesayangannya itu, didapur yang hanya disekat oleh lemari butut dari ruang tamu ibu sedang mengomel entah pada siapa, mungkin pada abang ku yang belum berangkat kerja atau pada adikku yang belum rapih atau pada bapak yang masa bodo dengan omelan ibu atau... mungkin pada ku yang sekarang sedang duduk dikarpet bersama adikku dan menjahilinya bukan merapihkan seragamanya, aku masa bodo ini, sarapan pagiku dirumah yang hanya memiliki tiga kamar yang sempit satu kamar mandi dan ruang tamu yang sebenarnya menyatu dengan dapur dan berada diwilayah perkampungan diibu kota ini membuatku setidaknya masih bersyukur  punya rumah walaupun berpetak petak daripada sama sekali.

"Naya, adeknya atuh itu dirapihin kamu kuliah nya siang ini"

Titah sang ibu ratu yang sedang membalikan masakannya dan tetap dengan mulut yang terus mengoceh tanpa ada jeda walaupun dengan suara yang lembutnya suara yang tidak rombeng seperti tetangga sebelah dan abangku cepat cepat keluar dari dapur setelah mengambil tempe goreng tak lupa mengacak rambut ku dan adikku yang memang belum rapih dan pamit kepada bapak yang kini masuk kedalam rumah dan duduk dipinggirku sambil menikmati kopi hitam pahitnya

"Nay, kuliah siang?"

Bapak bertanya padaku yang aku angguki dan fokus kembali dengan Bima nama adikku yang kini sudah rapih dan sedang menunggu ibu selesai memasak untuk sarapan pagi

Kami duduk lesehan diruang tamu dengan sarapan pagi nasi tahu dan tempe, dirumahku tidak ada namanya meja makan maklum masih untung punya rumah juga

"Bima udah bu, berangkat dulu bu, pak, teh"
Pamit Bima setelah selesai sarapannya dan menyalami tangan orang dewasa dirumah ini, dan pergi dengan teman temannya

Sarapan kembali hening hanya ada aku Ibu dan Bapak kini "Nay, gimana ospek terakhir kemarin bapak belum sempet tanya kemarin kamu pulangnya malam?"

Aku ambil minum dulu sebelum menjawab pertanyaan Bapak "iya, soalnya hari terakhir ospek ada acara gitu seru sih cape juga dan untungnya hari pertama dapet kelas siang" ujarku dan berlalu pergi kekamar mandi untuk cuci tangan ku setelah makan

Memang aku baru masuk kuliah hari ini kuliah pertama ku setelah tiga hari ospek yang cukup melelahkan bagiku, sebenarnya mau ku setelah lulus SMA ya kerja kaya bang Arif nama abangku, tapi Ayah dan Ibu bilang masih bisa membiayayaiku kuliah dan jujur aku malu soalnya aku bukan anak yang pintar pintar yang bisa dapat beasiswa aku hanyalah anak dengan otak biasa biasa aja tapi saat aku tanya ke Bapak kenapa bang Arif gak kuliah dan jawabannya dia pengen kuliah dengan uangnya sendiri dan terbukti kini bang Arif sedang melakoni semester 6 dan aku pun mau tapi Ibu bilang gak usah gak adil dong tapi dengan bujuk rayuku akhirnya mereka luluh walaupun aku hanya kerja menjadi pelayan di salah satu kafe tapi biaya masih ibu dan bapak yang tanggung setifaknya aku meringankan bukan?

Bapak berangkat pergi dengan motor bebeknya untuk kerja dibengkel milik bapak ya walaupun kecil tapi masih bisa menghidupi kami berlima dengan bapak

Aku lihat ibu sedang menyapu saat aku keluar dari kamar mandi setelah mandi untuk berangkat kuliah, aku pergi kekamar dan bersiap siap merapihkan penampilanku

"Bu" panggilku

"Iya, nay?" Jawab ibu dan duduk disampingku dengan merapihkan rambut kuncir satuku yang tidak panjang ini

"Kalau nanti Nay ketemu sama dia, apa dia bakal kaya Oma dan Opa?"

Kurasakan tangan ibu dirambutku berhenti mungkin kaget dengan pertanyanku, dibelai kembali rambutku oleh ibu

"Walaupun dia kaya Oma dan Opa mu gak papa kamu berlaku baik aja dia saudara kamu juga kan" jawab ibu dan pergi kekamranya dan balik lagi saat aku akan beragkat dan menyerahkan uang berwarana biru

"Buat jajan sama ongkos cukupkan?"

Pengen nolak tapi ibu dengan mata peringatannya agar aku ambil, dengan berat hati aku ambil uang itu dan pamitan dengan ibu

*****

Sampai juga dikampus negeri yang tersohor di ibu kota ini, aku keluar dari angkot yang aku naiki dan masuk kedalam kampus ini dan mencari ruangan fakultaslu sampai disana ada Arinda teman satu kelompok ku saat ospek, aku duduk disebelahnya dikursi yang kosong kelihatannya

"Pagi nay" sapa Arinda

Kubalas dengan ucapan 'selamat pagi juga' tak lupa senyuman manis ku yang kata bapak mirip ibu waktu muda

Tak berselang lama dosen pun datang dan aku siap untuk pembahasan materi pertama ku diperkuliahan pertamaku ini

Mata kuliah pertama pun usai cukup memusingkan dengan pembahasan awal ini, tapi mau gimana ini keinginanku untuk masuk kefakultas ini.

"Nay, kekantin dulu mau ikut?"

Suara Arinda yang mengajaku untuk kekantin itu membuatku berhenti dahulu memasukan barangku pada tas dan mendongak melihat Arinda yang berdiri sedangkan aku duduk

"Nggak rin, aku mau langsung ke kafe aja makan disana" ujarku sersya berdiri dan kami pun beriringan keluar dari ruangan dengan tujuan masing masing

"Sayang gue kebagian malam nanti, jadi gak bisa kerja bareng lo"

Mendengar keluhan Arinda dengan nada lesunya itu membuat aku hanya mengelus bahunya saja, sabar. Aku dan Arinda memang memutuskan bekerja di satu kafe yang sama suatu jeberuntungan ada lowongan kerja dan bisa menampung untuk 2 atau 3 orang tanpa disangka Arinda pun ikut bekerja dari sana juga kedekatan kita dimulai. Arinda anak rantau dari Bandung sama seperti Ibu itu ingin bekerja dengan alasan sama sepertiku, ingin meringankan beban orang tua.

Kami berpisan dilorong kampus dengan Arinda pergi kekanyin dan aku pergi keluar dari area kampus mencari angkot untuk bisa sampa ke tempat kerjaku.

*****

Sampai juga aku di kafe HAPPY SWEET, kafe yang hanya menyajikan makanan penutup saja atau disebut dessert, dan berbagai kopi dan minuman lainnya, kafe yang bernuasa modern dan keren untuk para kaum zaman now ini sangat pas untuk kaum semua kaum dengan menu bervarian yang unik dan tentu saja manis dan membuat kita bahagia.

Aku keluar dari ruang ganti dan kini pakaianku berubah dengan seragam khusus kafe ini

"Nay anterin ini ke meja no. 5" titah Mbak Joan selaku chef di kafe ini

Ku ambil pesanan itu dan melihat kearah meja no. 5 yang diduduki oleh beberapa remaja yang mungkin sedang bergosip ria

"Selamat menikmati hidangan dari happy sweet " ujarku setelah menyimpan pesanan dimeja mereka dan tak lupa juga senyuman manisku yang dibalas oleh mereka

Aku kembali kebelakang untuk melihat apa ada pesanan yang harus aku antar atau tidak, dipertengahan jalan aku dicegat oleh sang bos sang pemilik dari kafe ini, sesosok cowok yang seumuran dengan Bang Arif namun sudah lulus kuliah berkat beasiswanya dan sosok yang rupawan yang selalu membuat jantungku berdetak cepat dan senyuman manisnya yang mendesir halus pada hatiku apalagi dengan mata teduhnya itu dan tak lupa sebentar lagi suara berat yang terdengar sexy akan bersuara

"Nay, kamu bawa pesnan saya di Joan dan antarkan dimeja no. 9, ya"

Behhh, suara nya melemahkan syaraf sampai rasa rasanya mau pingsan aja, lebay rutuku dalam hati. Dengan kaku aku anggukan kepalaku dan pergi kebelakang setelah dia Bang Matt, nama aslinya Matteo entah apa aku lupa berlalu dari hadapanku

Kutagih pada mbak joan pesanan bang Matt,
Dan ternyata sebagian sudah dibawa oleh pekerja yang lain, dengan cepat kuambil nampan itu dan mekihat meja no. 9 cukup penuh dengan 4 orang cowok dan 1 orang cewek yang aku seperti ingat dia siapa

Kuletakan nampan berisi minuman itu dan mendongak untuk memberi ucapan selamat makan dan senyuman manisku

Deg

Entahlah dua orang disana membuat tubuhku tegang dan melenyapkan ucapanku yang akan terlontar ini, disana merekapun sama sepertiku terkejut mungkin, namun dengan cepat mereka mengalihkan tatapannya dariku membuatku cukup tahu diri bahwa aku bukanlah siapa siapa mereka aku hanyalah orang asing, mungkin

Lambaian tangan bang Matt, membuatku meringis malu karena sempat terpaku sejenak dengan cepat aku tundukan badanku sebagian tanpa sepatah kata dan pergi kebelakang dengan berjalan cepat yang kuarasa seperti berlari, karena sakit hati ini seperti semakin menyengat saja maumu apa nay, disapa mereka dalam mimpimu saja!

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani