Profil instastories

Best Friend

Happy Reading 💕
________________________________________________________


Radit memandangi Vita yang sedang asyik membaca buku di kamarnya. Apa yang sedang dipakai wanita cantik itu hari ini? Kenapa dia berusaha menggoda Radit, padahal mereka berdua sama-sama tau tidak akan ada hubungan romansa apapun di antara mereka. Tapi seperti itulah Vita. Terkadang dia memang suka menggoyahkan prinsip Radit.

"Pakai ini saat keluar nanti," kata Radit seraya melempar cardigan miliknya ke pangkuan Vita.

Vita mendelik, mengalihkan pandangannya sejenak dari buku namun tidak lama. la hanya menatap Radit selama beberapa detik untuk kemudian kembali membaca majalah di tangannya.

"Untuk apa kau bersikap protektif begitu?" sindir Vita dengan sarkas.

Rahang Radit mengeras. Ingin rasanya dia mengumpat keadaan ini. Keadaan di mana dirinya ingin menjadikan Vita miliknya dan punya hak untuk bersikap protektif pada wanita cantik itu, namun ia tidak bisa. Berapa kali rasanya Radit ingin menonjok mata para lelaki yang memandangi lekuk tubuh Vita, apalagi bokong sintal Vita yang mengundang singa yang lapar. Tapi dia sadar dia tidak punya hak apapun untuk melakukan itu semua.

"Aku tidak suka kau pakai baju seperti itu," kata Radit dingin.

Vita menutup buku di tangannya lalu meletakkannya ke atas meja di depannya.

"Semua wanita yang dijodohkan kepadamu jauh lebih seksi dariku, Radit," protes Vita. "Kadang aku curiga apa kau punya minat pada perempuan."

Radit mendengus. Merasa tidak suka dengan topik pembicaraan ini. "Aku bukan pria yang mudah tergiur pada paha dan dada putih," bela Radit ke dirinya sendiri.

Vita menyeringai. "Lalu pada apa?"

Ingin sekali Radit menjawab bahwa dirinya hanya tertarik pada wanita yang sekarang sedang berbicara dengannya ini. Namun dia merasa tidak punya kuasa atas lidahnya sendiri. "Sudahlah! Aku tidak ingin membahas ini lagi"

Vita menghela nafas. "Kau tau, kau harus menerima wanita ini sebagai calon istrimu. lbumu terus mendesakku untuk membujukmu. Apa kau tidak bisa membuat pekerjaanku menjadi lebih mudah?"

"Pekerjaanmu adalah sebagai sekretarisku, bukan mencarikan istri untukku!" koreksi Radit.

Vita memijit pelan pelipisnya. "Aku cukup beruntung mengenalmu sejak SMA. Aku rasa tidak akan ada yang betah menjadi sekretarismu selain aku."

"Oh, kau ingin bilang sudah bosan menjadi sekretarisku?" selidik Radit.

Vita tertawa sekarang. Sesuatu yang sangat Radit sukai. Melihat tawanya seperti memandangi sinar matahari pagi. Apapun masalah yang dihadapi rasanya seperti lenyap begitu saja tanpa ada bekas.

Vita menghampiri Radit dan merapikan dasinya yang sedikit berantakan. Demi Tuhan, Radit sedang mati-matian menahan diri untuk tidak menarik pinggang ramping itu lalu memeluknya kalau saja dia tidak ingat mereka sedang berada di rumahnya.

"Do not take it personally Dear. Aku hanya tidak ingin istrimu nanti cemburu melihatku yang lebih sering bersamamu ketimbang dirinya. Kau bahkan bisa menghabiskan waktu selama 18 jam di kantor. Kau akan pergi saat istrimu masih tidur dan pulang setelah dia terlelap," jelas Vita. Ia kemudian mundur beberapa langkah untuk melihat penampilan Radit.

"Sempurna!" pujinya.

"Berhenti memuji sebagai sebuah bujukan!" protes Radit.

Vita mengedikkan bahunya. Dia hanya melakukan tugasnya. Apa yang salah?

"Calon istrimu akan datang ke kafe dalam 15 menit. Sebaiknya kau pergi sekarang. Dan tolong berikan aku kabar baik," Vita memberi tau.

Radit tidak tahan lagi. la menghampiri Vita lalu meletakkan satu tangannya di belakang kepala wanita itu lalu menciumnya. Bibirnya menyapu bibir tipis Vita. Seperti biasa, Vita tidak menolak. Namun tak lama, ia mendorong pelan tubuh Radit dengan kedua tangannya.

"Ini yang terakhir," kata Vita memberi ultimatum. Ia kemudian berniat keluar saat Radit menghentikan langkahnya.

"Terimalah tawaranku. Kita bisa pergi kemana pun yang kita mau. Hanya kau dan aku."

Vita memejamkan mata, mencoba menahan gejolak emosi yang sudah lama tertahan di dalam dadanya. la mencintai Radit. Tapi keadaan tidak memungkinkan bagi mereka berdua untuk bersatu. la memaksakan sebuah senyum sebelum berbalik menghadap Radit. "Jangan bodoh! Memangnya kau bisa hidup tanpa harta kekayaan keluargamu?" tanya Vita.

Radit terdiam. Inilah awal mula permasalahannya. Radit mengenal Vita sejak SMA dan langsung menyukai wanita itu saat pertama kali melihatnya. Mereka kemudian berteman dengan Radit yang memendam perasaannya. la sudah hidup berlimpah harta sejak lahir, sedangkan Vita hanyalah seorang anak yatim dengan ibu yang berpenghasilan pas-pasan.

Radit memperkenalkan Vita pada orang tuanya sebagai teman. Sebagai teman tidak menjadi masalah. Itu sebabnya Radit tidak pernah menyatakan perasaan apapun kepada Jongin agar ia terus bisa di dekat wanita itu tanpa larangan dari orang tuanya. Sampai setelah mereka tamat kuliah dan Radit bekerja di perusahaan milik ayahnya, ia meminta Vita untuk menjadi sekretarisnya.

Namun perasaan tetap tak bisa dibohongi. Semakin mereka bersama, semakin banyak hal yang dilalui berdua. Radit bahkan tidak ingat sudah berapa kali meniduri teman baiknya itu. Dan dengan cerdasnya, keduanya tetap tak mengakui perasaan masing-masing.

"Setelah aku menikah, lalu apa?" tanya Radit.

"Aku akan mengundurkan diri" jawab Vita tegas.

"Berhentilah membuatku marah!" suara Radit meninggi, namun Vita tetap tenang.

"Jumpailah calon istrimu. Kita bicara lain kali." Vita kemudian benar-benar keluar dari kamar Radit tanpa berbalik lagi.

Radit menggeram pelan dengan frustasi. Rasa cintanya pada Vita sudah terlalu besar untuk dikesampingkan. Dan dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengatasi hal tersebut. Menikahi Vita hanya akan memunculkan problema baru. Mereka tidak akan bisa hidup tenang sampai kapanpun. Orang tua Vita pasti akan terus memburu mereka meski mereka berlari ke ujung dunia sekalipun.

Dengan malas, Radit menuruti bujukan Vita untuk menemui calon istrinya. Wanita yang ke-23 yang diperkenalkan oleh ibunya. Yang Radit dengar, ia tidak bisa lagi menolak seperti sebelum-sebelumnya. Tanggal pertunangan bahkan sudah ditentukan. Kali iní Radit harus menerima nasibnya, dan itu bukan dengan Vita.

Seperti kata Vita, ciuman itu benar-benar yang terakhir. Karena setelah meninggalkan rumah Radit, ia terlibat dalam kecelakaan dan tewas di tempat.

Radit yang tidak bisa menerima berita tersebut, Radit bunuh diri tak lama setelah Vita dimakamkan.

 

END

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.