Profil instastories

Perempuan yang ingin menjadi penulis dan seniman yang karyanya bermanfaat dan memotivasi banyak orang.

BERJALAN DI BAWAH REMBULAN

BERJALAN DI BAWAH REMBULAN

oleh Meliani

 

Angin malam tak mampu menghentikan langkahku menapaki jalan panjang yang tersentuh cahaya rembulan. Keheningan membuat mata ini berkeliaran curiga. Sial, aku lupa jika temanku berada di belakang. Menyembunyikan wajah dinginnya dengan tudung dari jaket hitamnya. Menghangatkan tangannya di saku.

"Kenapa kau?" Aku menoleh sebentar.

"Dingin," jawabnya sambil tersenyum.

"Iya dingin, kan malam." Aku terkekeh pelan, mencairkan suasana yang begitu hening.

Angin menyeleksi dedaunan rapuh di pepohonan. Mengusirnya pada jalanan sepi yang menunggu jejak-jejak makhluk bumi di pagi hari. Aku menatap rembulan yang begitu anggun menyinari. Mengingat alasanku berada di sini.

"Ren, kau jemput adikmu sana!" Ibu menghampiriku yang tengah duduk di teras.

"Lah, dia kemping Bu," timpalku sambil memainkan gitar.

"Sakit katanya, temannya mau antar dia sampai halte bus. Cepat, kasihan dia!"

"Udah jam 11 malem Bu, masa iya dia pulang? Lagipula temannya bisa antarkan dia sampai rumah kan?"

Ibu marah dan mengomeliku. Hingga pada akhirnya aku menuruti perintahnya dan berada di sini bersama Sandi, teman gadangku. Aku menghela napas dan melirik kanan-kiri. Mengerikan.

Beberapa langkah lagi aku akan melewati lampu yang siap mati alias kelap-kelip. Pantas saja teman adikku tak mau mengantarkan sampai rumah, mungkin dia takut melewati jalan ini. Jarak rumah menuju halte cukup jauh. Banyak rumor yang bertebaran tentang jalan ini pada malam hari. Mulai dari anak-anak kecil yang berlarian, sosok hitam besar bermata merah, ranting pohon bergerak padahal tidak ada angin, dan yang paling populer adalah hantu perempuan centil yang rusak wajahnya. Mengingat hal itu tentu saja membuatku merinding.

"Lampunya mau mati kali ya? Makin horor aja nih jalan," ujarku. "Iya kan San?"

Hening. Tidak ada jawaban. Aku menoleh dan mendapati Sandi sedang menatap tajam lampu itu. "Mati aja tuh lampu, ganti yang baru," aku terkekeh mendengar ucapannya.

TEK....TEK....TEK....

Mendengar suara itu, sontak aku terkejut dan menoleh ke depan. Terlihat bola kecil terpantul di jalanan. Siapa yang bermain bola di tengah malam?

Tubuhku merinding seketika. Ada apa ini? Pikiran negatif menggerogotiku. Sial, makin horor saja.

Aku terus melangkah, mencoba mengabaikan bola tadi. Akan tetapi, beberapa bola kecil lainnya menyusul dan salah satunya mengenai kakiku. Aku berhenti sejenak, mencoba menarik napas pelan. Jantungku berdetak tak karuan, bulu kudukku berdiri. Betapa dinginnya telapak kakiku meski dibalut sepatu. Pepohonan menari seolah-olah mengejekku yang ketakutan. Sial, aku harus berani. Aku tidak mau dianggap pengecut dan penakut oleh temanku, Sandi.

Semakin aku melangkah, detak jantungku semakin terdengar. Ada yang tidak beres dengan semua ini.

"San, gue mau lari. Lo siap-siap lari juga, gak beres nih." Aku sedikit menoleh dan berbicara hati-hati.

Satu, dua, ......

"Lari....!" Sekuat tenaga aku berlari. Mengabaikan lampu-lampu yang menjadi redup. Getaran di saku memperlambat langkah kakiku. Aku melihat Sandi yang masih jauh dan berusaha mengimbangi kecepatan lariku. Wajar, aku atlet lari.

Aku berhenti sejenak untuk menghela napas, mengambil handphone yang sedari tadi bergetar.

"Buruan San!" Teriakku sambil menoleh lagi.

Aku mengangkat telepon masuk sambil terengah-engah, mengusap keringat dingin di dahi.

"Sudah sampai belum?" Suara Ibu terdengar samar dari speaker handphone.

"Sebentar lagi Bu, hah..."

"Kenapa kau?" Tanya Ibu menyadari suara napasku yang begitu jelas.

"E-enggak apa-apa. Ibu tenang aja, kita sebentar lagi sampai halte kok!"

"Kamu sama siapa Ren?"

"Sandi," jawabku.

"Oh, Sandi. Ya udah hati-hati ya Nak," sahut Ibu membuatku mengiyakan.

"Sudah dulu ya Bu!"

"Eh tunggu," kata Ibu membuat aku menghentikan jari yang siap menekan tombol merah.

"Kamu bohong ya? Sandi ada di sini Nak. Habis buang air katanya. Kamu ninggalin dia? Kamu sama...."

Aku menjatuhkan ponselku. Melirik ke arah Sandi yang telah tiba di sampingku. Bau anyir membuatku lupa pada suara Ibu yang memanggil-manggil.

Angin kencang membuka tudung yang dipakainya. Memperlihatkan separuh wajah rusak yang membuatku melotot dan bergetar hebat. Perlahan aku mundur, hingga tak sadar menginjak bola kecil yang datang entah darimana. Mataku berkaca-kaca, bukan karena terjatuh dan sakit, melainkan karena takut pada sesuatu yang kian mendekat.

Makhluk di hadapanku itu mulai berubah menjadi sosok wanita. Bibirnya yang sobek menyeringai menghiasi wajahnya yang rusak. Darahnya terus menetes menyentuh jalanan, menimbulkan bau anyir yang membuatku sedikit mual. Semilir angin tak membuat rambutnya yang menjuntai bergerak sedikitpun. Aku terdiam. Mataku semakin jelas menangkap objek dihadapanku. Bibirku hanya mampu bergetar karena tak sanggup berteriak.

Dia semakin dekat. Semakin dekat.

"Hihihihi..." Suaranya melengking memasuki alam sadarku.

"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!"

-END-

 

sumber gambar : Pinterest

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Septi Endah Cahyani - Apr 20, 2020, 11:27 AM - Add Reply

Seruu.

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani