Profil instastories

Berbeda Tapi Menginginkan

Lantunan mazmur yang ku dengar dari radio maria, membuat hati begitu tenang dan damai. Selalu menyempatkan diri untuk mendengar radio maria, sekedar menenangkan diri setelah begitu banyaknya pergumulan yang dihadapi. 

 “Angel…Kau tidak pergi latihan sore nanti?” 

 “Iya. Bu, nanti Angel latihan kok.” 

 Sepanjang hari aku mengisi dengan berbagai kegiatan, agar tidak merasa penat di rumah dan menguatkan imanku, agar tidak terpengaruh dengan zaman sekarang yang begitu kacau.

 Langkah demi langkah ku menyusuri jalan raya. Menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Dalam perjalanku menuju ke gereja tiba-tiba terhenti, ketika melihat sosok yang setiap sore kulihat di dekat masjid yang terdapat di pinggir jalan. Hati seakan- akan ingin menetap terus di jalan, mataku juga seperti tidak ingin berpaling melihatnya. pandangannya begitu membuat hati damai.

“Angel…” teriak Grace, hingga aku tersadar dari lamunanku.

“Kamu ini. Buat terkejut saja.” 

“Makanya, jangan melamun di pinggir jalan. Kamu liatin apa?” 

“Tidak. Ayo kita lanjut jalan lagi, nanti terlambat latihannya.” 

 Lamunanku berakhir, karena Grace mengacaukan semuanya. Padahal aku ingin berlama-lama saja menatapnya 

 Berat rasanya memberi tahu, kali ini cukup simpan saja rasa kagum ini. Cukup aku dulu yang merasahkan ke kaguman yang berbeda. Semoga ini hanyalah rasa kagum semata, tidak lebih dari itu. Hari demi hari berlalu, rasanya semakin bertambah rasa penasaranku pada sosok pria yang selalu kulihat di masjid itu. Parasnya yang rupawan itu membuat mata dan hati melemah, tapi tidak akan mungkin kami dapat menjalin sebuah kisah. Banyak perbedaan pastinya.

 “Angel… Ayo pulang.” 

 “Iya, kamu ini Grace buat kaget saja.” 

 “Makanya jangan melamun kau, kan jadi kaget gitu. Melamunin apaan ?”  

 Setelah berdebat tidak jelas dengan Grace, kami pun segera pulang dari tempat latihan dengan berjalan kaki, di perjalanan sempat terlintas dipikiran berharap berjumpa lagi denganya, tiba-tiba setelah beberapa menit kami berjalan kaki, dengan kagetnya melihat sosok yang kuharapkan untuk berjumpa lagi pun, 

berada pada pandanganku.

 “Angel, Angel liat tu pujaan hatimu di situ.” kata Grace meledekku.

 “Apaan sih, kau ini, entah dari mana dia pujaan hatiku.” 

 “Iya kan? kau kan menyukainya, bukan begitu?” 

 Semakin hari hati mulai merasakan gejolak yang tak biasa ku rasakan. Mata dan bibir pun tak bisa menahankan rasa yang dirasahkan hati. Semua bagai mimpi seperti di dogeng, entah apa yang membuat semua berubah, dari rasa kagum kini menjadi sebuah rasah sayang. 

 “Hei…” teriak pria itu.

 “Angel, dengar itu kamu dipanggil pria yang kau kagumi.”  

 Jantung berdegup kencang, seketika mendengar teriakan yang keluar dari mulut pria itu. Apa aku salah dengar? ah tidak mungkin. Betapa bahagianya, waulaupun mendengar suara teriakkannya. Perkenalan pun dimulia, awalnya di sore hari menuju senja, langit indah dan pohon dipinggir jalan menjadi saksi butanya, dan temanku Grace yang jadi saksi yang melihat perkenalan itu 

 “Hari ini kamu mau ke mana?” tanya pria yang ku kagumi.

 “Seperti biasa, hari ini mau latihan sore.” 

 “Ya sudah, nanti sore aku yang anterin ya, soalnya ada yang mau aku bilang sama kamu.” 

 Cerita singkat ketika tidak sengaja berjumpa di pinggir jalan sepulang dari kuliah, kebetulan dia juga baru pulang dari masjid yang sering aku lewati setiap pulang kuliah. Tidak lama menunggu, Aku pun di jemput oleh dia. 

 “Angel…” panggilnya sambil mengetuk pintu rumah.

 “Iya, iya bentar ya Danni. Lagi sisiran ini.” teriakku dari dalam rumah. 

 “Iya Angel.” 

 Rasa senang itu tidak bisa ku sembunyikan dari dunia ini, senyumku yang merekah tak bisa dicegah. Jantung selalu berdetak tidak sempurna, hingga tidak melihat kiri dan kanan seperti jalanan itu hanya milik kami berdua. Waktu pun seperti cepat berlalu, ingin ku cengah tapi itu tidak bisa. Rasanya ini seperti mimpi, dulunya hanya mengaguminya dengan diam. Namun sekarang kami bisa sedekat ini, tapi ada penghalang yang susah untuk dipecahkan seperti batu besar menjadi penghalang.  

“Danni, sudah dari tadi nunggu?” tanyaku dengan senyuman.

“Tidak, baru saja kok. Ayo kita pulang.”

 “Ayo.” 

 Selama perjalanan seperti tidak biasanya, kami hanya terdiam satu sama lainnya, ada rasa canggung kami rasakan, sejenak semua tampak hening hanya tiupan angin terdengar dan sentuhannya menerbangkan rambutku. Tiba-tiba motor yang dikemudikan oleh Danni pun berhenti, hati mulai tidak karuan angin yang tadi pun seakan akan tidak ku rasakan lagi.

 “Grace, maaf sebelumnya aku tidak melanjutkan perjalanan pulang. Kita berhenti sebentar ya, kan aku sudah janji akan mengatakan sesuatu padamu. Boleh kan?” 

 “Iya boleh. Katakan saja.” 

 “Begini Grace, sebenarnya selama kita menjalani pertemanan ini aku merasa ada rasa lain yang bergejolak. Maaf baru bisa berkata jujur padamu, sebenarnya aku suka denganmu, mungkin kamu berat juga mendengarnya, jadi aku mau hubungan kita lebih dari teman. Apa kamu mau?”  

 “Hem…Aku juga merasakan hal itu, bahkan sebelum kita sedekat ini Danni. 

 Semua terjadi begitu saja, semua tampak terjadi tiba-tiba. Apa yang harus kami perbuat? Menolak rasa ini?.

 Danni memberikan waktu padaku untuk memikirkan apa jawabanku tentang pertanyaanya itu, aku pun mulai berfikir dengan benar-benar, agar keputusan yang terjadi tidak akan menyesalinya di lain waktu nanti, mungkin jika ada keseriusan di waktu kedepannya ada hal yang harus dipertarukan, 

 “Danni, nanti sore kita bertemu ya. Aku ingin memberi jawaban kemarin.” kataku lewat chattingan di whatshapp.

 “Iya Grace.” balasnya. 

 Tak butuh waktu lama, jam pun berlalu begitu cepat waktu saja sudah tidak sabar menantikan jawabanku, kami pun bertemu dengan semua rasa yang begitu tidak karuan. Raut wajah Danni juga tidak seperti biasannya, senyumnya pun tidak terlihat sempurna, begitu juga dengan raut wajahku, ada rasa takut yang bercampur aduk di dalam hati. Waktu pun sudah menunjukan saatnya semua ku ungkapan.

 “Danni, Aku ingin menjawab. Maaf kamu harus menunggu lama.” 

 “Iya, Grace aku juga tidak mau semua terburu-buru.” 

 “Iya, Danni Aku mau menerima kamu menjadi kekasihku, semoga ini belum terlambat menjawabnya.” kataku dengan senyum tipis.

 “Sungguh? kamu tidak terpaksakan?” 

 “Iya Dani, ini semua tulus dan sudah aku pikirkan dengan baik-baik. Walaupun semua akan berat di hari kedepannya.” 

 “ Iya Grace, aku juga tau itu. Terimakasih telah menerimaku dan menerima perbedaan kita, mari kita bangun rasa ini dengan baik, walau tak baik di mata orang.” 

 Rasa hati ini sekarang cukup legah, walaupun tidak seutuhnya karena harus banyak lika-liku yang harus kami hadapi. Namun semua sudah ku ceritakan ke orang tuaku, mereka hanya menggatakan itu terserah, tapi mereka juga menggatakan itu pilihanmu jangan pernah menyesali segala keputusanmu kami hanya mendoakanmu, Sedangkan kedua orang tua Danni cukup menentang hubungan kami ini, bagaimana tidak Ayah Danni seorang ulama yang di pandang dan disegani di masyarakat. 

 Namun Danni tetap kokoh dengan pilihannya, dia tetap memilihku menjadi kekasihnya dan waktu begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah hampir tiga tahun lamanya kami menjalin kasih, dan kami mulai berfikir untuk menuju jenjang kehidupan yang lebih serius, semakin banyak lika-liku yang kami rasahkan, mulai dari menyakinkan kedua orang tua kami masing-masing kalau kami serius untuk memilih untuk menikah dan akhirnya Danni harus mengikutiku dia rela untuk pindah ke Agamaku, sebenarnya kedua orang tuanya sungguh tidak mendukungnya, tapi entah apa yang membuat dia begitu berani terus mempertahankan keinginannya untuk mengikuti. Bahkan sampai membuat kedua orang tua menyetujui, setelah permasalahan persetujuan selesai, ada masalah lainnya.

  Masalah yang cukup menguras tenaga dan materi, tapi kami tetap yakin bisa, masalah pengurusan untuk menikah, karena latar belakang agama kami yang berbeda itu menyulitkan kami untuk menikah, tapi semua akan terbayarkan. Benar terbayarkan masalah pernikahan mulai dari surat-surat dan semuanya itu bisa terselesaikan, pemberkataan pernikahan kami pun sudah ditentukan, kedua orang tuaku dann begitu juga kedua orang tua Danni juga datang. 

 Sudah hampir setahun kami menjalankan pernikahan kini sudah kami rasahkan sakitnya pernikahan yang begitu susah, karena banyak saudara Danni yang membenciku, bahkan saat pemberkatan pernikahan mereka tidak hadir, kini Ibu dan Ayah mertuaku banyak di hujat oleh orang-orang karena kami, sungguh ini adalah bumbu pernikahan yang begitu sakit. Cukup membuat keluarga kami terpukul, Ayah Danni pun kini sudah kurang di segani oleh masyarakat, tapi kedua orang tua Danni terus mengabaikan semua, tapi mengabaikan itu cukup sulit, jatuh bangun Ayah mertuaku mempertahankan perkataan itu. Namun kini kami tetap percaya pada Tuhan, pasti ada waktu yang sudah disiapkan bagi keluarga kami untuk membaik, kami semakin mendekat diri pada Tuhan, dengan medaraskan doa dengan berdoa dan beribadah kami semakin kuat. 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani