Profil instastories

Beethoven

Langkah kami terhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang kecoklatan, terdengar suara khas musik piano klasik dari dalam. Aku menatap guru les musikku, Ibu Miranda.

"Ayo masuk," ia membuka lebar-lebar pintu itu. Tampaklah sebuah piano klasik yang hitam mengkilat sedang di mainkan oleh seorang laki-laki berbuat keperakan. Tubuhnya yang tegap membelakangi kami, namun aku tahu ada banyak kepercayaan diri di balik punggung tegap itu.

Ibu Miranda menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mendengar lamat-lamat lagu yang tengah di mainkan. Awalnya aku merasa lagu ini agak asing, namun harmonisasi yang indah membuatku teringat lagu ini.

"John Legend 'All of Me'," bisikku pada angin yang perlahan menerpa tubuhku.

"Benar," aku menatap Ibu Miranda yang ternyata mendengarkan bisikanku, namun matanya begitu fokus menatap laki-laki berkaus putih itu.

Cukup lama kami menikmati lagu ini, hingga tanpa sadari ia telah berakhir di bar terakhir lagunya. Tepuk tangan Ibu Miranda membuat laki-laki itu menoleh ke arah kami. Mata kami bertemu beberapa saat, hingga akhirnya ia mengalihkan pandangannya menuju Ibu Miranda.

"Hebat, Mark, you so amazing," Ibu Miranda mengacungkan jempol padanya.

"Sudah berapa lama Ibu di sini?"

"Cukup lama," Ibu Miranda berjalan mendekatinya, tanpa aba-aba aku pun mengekor padanya. "Perkenalkan murid baru Ibu, namanya Alice. Alice ini Mark, murid yang akan berlayar piano bersamamu," Aku mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan dan ia membalasnya dengan senyuman yang menurutku manis. Namun, aku baru menyadari betapa putihnya tangan Mark. Selain itu, alis dan bulu matanya pun berwarna keperakan, matanya yang biru terlihat seperti batu safir.

"Ehm, aku tau aku tampan," dr teman itu berhasil membuatku tersadar kembali. Ya ampun aku baru saja kepergok mengagumi wajah orang lain, aku membuang pandanganku ke arah lain.

"Nah, bagaimana jika hari ini kita mulai latihan?" Ibu Miranda berhasil mencairkan suasana yang agak canggung.

Sejak saat itu, setiap akhir pekan kami selalu berlatih piano, terkadang saat Ibu Miranda tak bisa hadir Mark tanpa sungkan mengajarkan piano padaku. Mark selalu mulai dengan latihan menggerakan jari, seperti menekan tuts piano dari tuts do menuju tuts Si.

"Gini," ini kedua kalinya kami latihan tanpa Ibu Miranda. "Do, re, mi, fa, sol, la, si, do. Terus mundur jadi do, si, la, sol, fa, mi, re, dan kembali lagi ke do."

"Aku tau, aku sudah berkali-kali latihan seperti ini," Mark menunjukkan ekspresi tak yakin yang begitu jelas. "Oke akan aku praktekkan." Aku mulai dengan satu tangan, kemudian menggunakan kedua tangan. "Bisa kan?"

"Oke, aku anggap kamu biasa. Kita coba yang baru, tekan tuts do dua kali lalu si terus balik ke do. Jadi do, do, re, do."

"Mudah," aku menekan tuts sesuai arahannya.

"Oke, gimana kalo do, do, re, do, do, re, mi, re, do?" Aku mencobanya beberapa kali, hingga akhirnya aku bisa. Namun, aku kewalahan ketika harus melakukan itu berulang-ulang.

"Hah! Kau mengerjai aku ya," aku mulai kesal.

"Tak, emang ini dasarnya."

"Apa harus sesulit ini?" aku melipat tanganku di depan dada.

"Tentu saja, namun ini akan menjadi mudah ketika kamu tau tujuan kamu belajar bermain piano," aku melirik Mark yang terfokus pada jari-jarinya yang ada di atas tuts piano.

"Aku hanya ingin menghabiskan akhir pekan," jawabku.

"Oh."

"Dan kamu. Apa tujuan kamu bermain piano?"

"Menjadi Beethoven mungkin," ia terlihat tersenyum pada piano itu. Mengerikan.

"Hanya itu?"

"Hanya itu?" ia menatapku lamat-lamat. "Apa maksudmu 'hanya itu'?" nada suaranya meninggi.

"Emang masalahnya dimana?"

"Hei! Kau tau Beethoven? Meski ia tak bisa mendengar ia tetap menjadi komposer musik! Sementara kau? Kau hanya orang yang hanya mengeluh ketika di ajari dasar bermusik! Berani sekali merendahkan seorang Beethoven dengan kalimat 'hanya itu'?"

Aku marah, tentu saja aku marah. Aku manusia normal yang akan marah ketika seseorang yang baru di kenal, begitu berani menaikkan nada suaranya padaku. Tanpa basa-basi aku langsung berdiri meninggalkannya di ruangan itu dan sejak saat itu aku tak kembali.

Beberapa minggu setelah kejadian itu Ibu Miranda mengunjungi rumahku, hanya sekedar mengobrol basa-basi dan tentunya menanyakan alasanku tak datang saat akhir pekan.

"Aku ingin bertanya padamu, seingatku kamu menyukai BTS?" aku mengernyitkan dahi. "Bagaimana jika seseorang berkata, 'Hanya itu?' Ketika kamu berkata, 'Aku ingin sehebat BTS!'?"

"Aku akan marah," jawabku.

"Itu yang Mark rasakan."

"Maksudnya?"

"Mark menganggap Beethoven adalah idolanya. Dulu sekali saat ia terpuruk begitu dalam, karena ia berbeda. Orang tua Mark mengajaknya menonton orkestra, di sana ia mendengar permainan seorang pemain pianis yang memainkan lagu Beethoven berjudul 'Für Elice'. Sejak saat itu, ia mulai tekun bermain piano. Awalnya ia memaksa untuk memainkan lagu yang ia dengar di orkestra, namun aku menolak. Ia masih terlalu muda untuk memainkan lagu itu."

"Muda?"

"Iya, usianya sekitar tujuh tahun saat itu," Ibu Miranda meminum teh yang tadi di suguhkan untuknya. "Hmm, teh yang enak. Sayangnya ibu tak akan berlama-lama di sini, terima kasih untuk tehnya."

"Ibu, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Silahkan."

"Apa mimpi Mark sebenarnya?"

"Menjadi seperti Beethoven, ia ingin di kenal dunia melalui piano dan sepertinya ia akan mewujudkan mimpinya."

"Maksudnya?"

"Akhir pekan ini, akan ada utusan dari Juilliard School untuk memberikan beasiswa kepada siswa berbakat," Ibu Miranda tersenyum. "Dan Mark adalah salah satu kandidatnya."

Apa Mark? Akan kuliah di Juilliard? Itu  universitas terbaik di dunia dalan bidang seni? "Kenapa?" tanpa aku sadari aku berbisik pada diriku.

"Karena tahun ini dia lulus sekolah menengah otomatis dia harus kuliah kan?"

"Bukan itu, maksudku Juilliard?"

"Tanyakan pada Mark, kamu belum minta maaf kan?"

Obrolan sore itu berakhir dengan sebuah jelmaan nafas, Mark akan ke Juilliard? Lalu bagaimana denganku? Pertanyaan itu berputar dalam otakku, hingga akhir pekan tiba tanpa aku sadari.

Tanpa basa-basi aku memilih kembali ke ruangan itu. Di sana, duduk Mark dengan stelan jas lengkap. Tangannya dengan lincah menari di atas tuts-tuts piano, menghasilkan harmoni yang indah dan sempurna.

"Mark," sepertinya aku mengejutkannya.

"Sejak kapan kamu di sana?"

"Sejak tadi. Aku hanya ingin minta maaf dan aku ingin mengucapkan selamat."

"Untuk?"

"Kamu akan ke Juilliard bukan? Itu mengesankan," aku berjalan ke arahnya dan ia mendekat berdiri dari tempatnya.

"Ah itu, ini masih tahap seleksi." Oh jantungku! Jantungku berdetak dengan cepat saat bertabrakan dengan mata biru sedalam samudra itu. Belum lagi, setelan jas yang rapih membuatnya semakin terlihat elegan. "Aku pun minta maaf dan sebenarnya," ia membuang pandangannya. "Aku menyukai kamu," aku sedikit menelan ludah saat mendengar pernyataan itu.

Canggung!

"Mark, giliranmu sebentar lagi. Bersiaplah," seseorang memanggil nama Mark.

"Aku harus pergi, bisakah kamu menunggu? Ada hal lain yang ingin aku ucapkan," anggukan kepala cukup menjadi jawaban. Tanpa aku sadari, pipiku memanas.

Tunggu, apakah aku jatuh cinta?
.
.
.
.
.
.
.

'Beethoven' berakhir....

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Slamet ariyadi - Apr 22, 2020, 11:55 PM - Add Reply

Ini novel bab keberapa???atau hax sekedar cerpen?

You must be logged in to post a comment.
Noviantika Fadillah - Apr 24, 2020, 11:40 PM - Add Reply

Cerpen tapi emang masih berantakan sih.

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani