Profil instastories

Aves di Kepulauan Sumatera

Aves di Kepulauan Sumatera

By : Widia Purnamasari

 

    Indonesia sebagai negara yang berada di wilayah tropis termasuk negara yang mempunyai keanekaragaman fauna. Salah satu jenis fauna yang sangat beranekaragam tersebut adalah burung. Di Indonesia terdapat sekitar 1.500 jenis burung (Yulianto, 2009: 1). Burung adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya (Dewi, 2005:8). Burung merupakan hewan vertebratayang memiliki bulu, berkembangbiak dengan cara bertelur dan berperan sebagai polinator, pemakan hama dan penyangga ekosistem.

       Sebanyak 9.040 jenis burung tercatat di dunia, 1.531 jenis diantaranya terdapat di Indonesia dengan 397 jenis (26%) endemik (Sulistyadi, 2010: 238). Di Sumatera terdapat 583 jenis burung dengan 438 jenis (75%) merupakan jenis yang berbiak di Sumatera. Jumlah ini meningkat menjadi 626 dan 450 jika digabungkan dengan jenis-jenis lain yang mendiami pulau-pulau kecil di sepanjang pantai Sumatera. Dua belas jenis dari jenis burung di atas merupakan jenis burung yang endemik di dataran Sumatera.Diantara pulau-pulau lainnya di Indonesia, pulau Sumatera merupakan pulau dengan tingkat keanekaragaman burung paling rendah di antara pulau-pulau di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan sejarah geologis pemisahannya dari dataran Asia (Ayat, 2011: 1).

    Banyaknya peminat burung dikarenakan burung memiliki warna yang indah, suara merdu, dan dikagumi oleh banyak orang (Peterson, 1980: 9). Banyak burung tropis mempunyai warna bulu yang cerah dan indah. Hal ini disebabkan karena mereka harus menonjolkan diri dari keadaan sekelilingnya agar dapat menarik perhatian pasangannya (Ardley, 1974: 33).Tingginya keanekaragaman jenis burung di suatu wilayah didukung oleh tingginya keanekaragaman habitat karena habitat bagi satwa liar secara umum berfungsi sebagai tempat untuk mencari makan, minum, istirahat, dan berkembang biak (Hadinoto, Mulyadi dan Siregar, 2012: 26). Salah satu habitat burung yang sering dijumpai adalah persawahan. Sawah merupakan lahan pertanian yang berpetak- petak dan dibatasi oleh pematang, saluran untuk menahan atau menyalurkan air, yang biasanya ditanami padi sawah tanpa memandang dari mana diperolehnya atau status tanah tersebut (Noviati dkk., 2011: 3).

   Burung merupakan komponen ekosistem yang memiliki peranan penting dalam mendukung berlangsungnya suatu siklus kehidupan organisme. Keadaan ini dapat dilihat dari rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan yang membentuk sistem kehidupannya dengan komponen ekosistem lainnya seperti tumbuhan dan serangga. Manfaat burung antara lain adalah peran ekologisnya yang secara jelas dapat dilihat dan dirasakan langsung. Peran tersebut adalah seperti membantu penyerbukan bunga (burung sesap madu), pemakan hama (burung pemakan serangga atau tikus) dan penyangga ekosistem (terutama jenis burung pemangsa). Fungsi utama burung disuatu lingkungan adalah pengontrol serangga sebagai hama. Burung juga memiliki nilai ekonomis tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan (daging, telur, sarang), diperdagangkan dan dipelihara oleh masyarakat, bulu burung yang indah banyak dimanfaatkan oleh perancang model untuk desain pakaian atau aksesori lainnya (Darmawan, 2012:4).

      Burung-burung yang tinggal di area tersebut dapat diamati secara langsung dan tidak langsung. Pengamatan pertama dilakukan menggunakan teropong (binokuler) dengan mengamati burung yang berada di areal persawahan dan melakukan identifikasi secara langsung dengan melakukan dokumentasi jika memungkinkan, jika kesulitan melakukan dokumentasi maka yang dilakukan hanya mencatat ciri yang menonjol pada burung tersebut dan mencocokkan dengan buku identifikasi. Teropong juga digunakan untuk mengamati lokasi penyebaran burung. Jika sudah diketahui lokasi burung maka langkah selanjutnya adalah pemasangan jala kabut (mist net), jala kabut (mist net) yang digunakan berukuran 9 x 4 meter dengan teknik pengambilan sampel secara randomsampling pada 3 stasiun, dan pada setiap 1 stasiun terdapat 3 titik pengamatan dengan 2 kali pengulangan. Pemasangan jala kabut (mist net) dilakukan pada pagi hari, dan pengamatan dilakukan pada pukul 07.00-10.00 WIB dan dilanjutkan pada sore hari pukul 15.00-18.00 WIB yang merupakan waktu puncak aktivitas bagi burung untuk mencari makan (Sari, Dahelmi dan Novarino, 2012:117). Setelah jala kabut dipasang burung akan dipancing menggunakan rekaman suara burung dengan menggunakan spiker yang sudah ada rekaman suara burungnya. Pengumpulan data dan identifikasi jenis-jenis burung dengan memperhatikan beberapa ciri penting diantaranya, ukuran tubuh, warna bulu, bentuk paruh dan bentuk kaki. Untuk burung yang tertangkap dengan menggunakan jala kabut (mist net) selanjutnya didokumentasikan sebelum dilepaskan kembali. Sampel yang telah didapatkan berupa dokumentasi burung tersebut, kemudian dilakukan identifikasi lebih lanjut dengan menggunakan buku acuan burung-burung Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan (MacKinnon, Phillipps dan Balen, 2010) dan Panduan Lapangan Burung-burung Agroforest di Sumatera (Ayat, 2011).

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.