Profil instastories

Arti Pertemuan

Mereka bilang kita serasi--saling melengkapi, bagai bulan dan bintang yang menghiasi gelap malam. Aku penulis dan kau pengamat sastra, kita sama-sama mempelajari arti kata. Aku masih ingat saat kita bertemu, mengulurkan tangan, menyebutkan sebuah kata, lalu mengeryitkan dahi sebelum beberapa detik kemudian tertawa bersama hingga akhirnya menyebutkan nama belakang yang berbeda. Tentu takkan sama, karena aku perempuan dan kau laki-laki. Restu-Restu, sebagian orang beranggapan bahwa kita ialah rahmat Sang Kuasa, dipertemukan untuk bersama. Dulu, aku sedikit mempercayai anggapan tersebut, hingga kini kau dan aku berdiri bersama dalam sebuah pelaminan, kau sebagai mempelai pria dan aku sebagai tamu undangan.

Ribuan hari telah kita lewati, menyerap

tatapan iri mereka ketika melihat keakraban

kita. Seperti Yin dan Yang, kita

saling melengkapi. Aku agak pendiam dan

lebih suka menuliskan apapun dalam

bentuk cerita atau puisi, kau sering bicara,

mengekspresikan segala hal dengan

gerakan.

"Sudikah dirimu menjadi plasentaku?"

pintamu suatu hari sambil berlutut

menawarkan sekuntum mawar merah

padaku. Aku tersentak, lalu tersenyum dan

mengangguk. Aku tak bisa menggambarkan

betapa bahagianya aku saat itu, menjadi

kekasih dari seorang senior semester akhir

yang digandrungi banyak wanita di kampus.

"Semoga kita memang seperti bulan dan

bintang yang selalu bersinar menerangi

sisi-sisi gelap diri masing-masing," ucapmu

menatapku, lalu menggenggam tanganku.

"Tapi terkadang bintang ada tanpa sang

bulan, begitu pun sebaliknya."

Kau melepaskan tanganku, sorot matamu

mulai berubah. "Ya iyalah, kecuali kita

kembar siam, baru sama-sama terus." Kau tertawa kecil, membuatku sedikit kesal.

Kuraih topi yang menghiasi kepalamu, kemudian berlari menjauh.

"Topiku...," serumu sambil mengejarku

yang berlari ke tengah taman.

Kau menangkapku dengan napas tersengal,

memegangi lenganku dan menyuruhku

memakaikan topi yang kugenggam. Aku menurutinya, seraya berkata: "Ini topinya, Raja Hatiku." Kau pun tertawa.

Wisudamu pun tiba, mungkin banyak mahasiswi yang iri padaku saat menemani mahasiswa yang lulus 'cum

laude' sepertimu di acara wisuda.

Namun kebahagiaan tak selalu abadi adanya. Kau berubah setelah tenggelam dalam kesibukan dunia kerja atau aku yang sejak awal salah memahamimu? Entahlah ... aku bukan dirimu yang dapat mengamati dengan hebat. Kau jadi begitu dingin setelah aku menanyakan kebenaran kabar burung yang hinggap di telingaku. Tiba-tiba sebuah undangan berwarna putih berlapis motif kuning emas dengan inisial namamu dan nama perempuan yang mereka bicarakan kau hadiahkan padaku sebagai kado ulang tahun tanpa penjelasan sedikit pun.

"Aku meminta penjelasan untuk ini!"

kataku.

"Datang saja," jawabmu sambil berlalu

pergi.

Hujan deras mengalir membasahi wajah. Aku terpuruk, tapi kucoba untuk

mengikhlaskan semuanya dan tetap

tersenyum. Hari itu pun tiba, kau datang padaku dengan segala gundah

di dada, kau ceritakan semuanya

padaku dan kumencoba memahaminya.

'Kadangkala kita harus singgah pada orang

yang salah sebelum bertemu dengan orang

yang tepat.' Seperti halnya istilah tersebut,

kita tak diciptakan untuk bersama, hanya

sekadar bertemu dan mempelajari

beberapa hal dari sebuah pertemuan. Restu menikah dengan wanita yang dihamili kakaknya karena kakaknya meninggal akibat meminum miras oplosan satu jam setelah merenggut harta paling berharga wanita itu. Dia tak bisa mengelak perjodohan yang telah diatur sedemikian rupa oleh orangtuanya.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Cicinarulika - Apr 3, 2020, 1:02 PM - Add Reply

Sedih

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani