Profil instastories

Hanya seorang gadis pecinta sastra.

Aphrodite

Aphrodite

 Oleh: Delina Anggraeini Wijaya

 

            Dalam hidupnya, impian Esmeralda hanya ingin menjadi manusia biasa, memiliki cinta dan kisah hidup yang akan berakhir bahagia bersama keluarga. Ya, Happy ending seperti yang selalu tersaji dalam dongeng. Bagaimana pun ia sadar tidak ada yang abadi di dunia ini. Namun, ternyata apa yang diimpikan jauh dari harapan. Dua puluh tahun lamanya Esmeralda hidup sebagai perempuan yang hidup dalam kebencian. Dulu, ia hidup dengan harapan dari seorang perempuan normal, menjalin kasih sayang dengan adiknya. Adik yang amat dicintainya yang kini ia tak bisa menemuinya di dunia—Esperanza Aphrodita—hingga ia sadar, rasa yang selalu bergejolak di dadanya dengan penuh rasa hampa dan kosong kala berada di samping wanita pembunuh saudaranya. Pembunuh yang melahirkan seorang Esmeralda dan Esperanza. Ya, ibu mereka.

Seperti hari-hari yang telah berlalu, bulir demi bulir air mata masih setia jatuh di pipi lembutnya. Tiada hari tanpa menangis. Tak peduli pasokan air matanya habis. Tak peduli linangan air mata nembanjiri kamarnya. Hatinya sesak menyadari keadaan keluarganya yang begitu miris. Seorang ayah yang asyik mendua dengan selingkuhannya yang kini tak diketahui keberadaannya. Seorang adik tercinta yang tega dibunuh oleh ibu kandungnya. Kini, ibu yang ia juluki "Medusa" itu hidup di rumah mewah berlantai dua bersamanya.

            Kriet!

            Pintu kamar Esmeralda terbuka. Ia masih setia menangis tanpa suara enggan menanggapi seseorang masuk ke kamarnya.

            "Alda, sebelum kuliah, makan dulu, yuk! Lihat tubuhmu, semakin lama semakin kurus. Nanti kamu sakit lho! Nih, Mama buatin sup jagung kesukaanmu," pinta seorang wanita berumur 37 tahun.

            Pyarr!

   Sebuah tangan dengan sengaja menepis piring yang dipenuhi sup jagung itu. Piring pecah beserta isinya hingga jatuh membasahi lantai kamar.

            "Kan gue udah bilang, gue enggak mau makan makanan pembunuh! Mending gue mati daripada makan makanan lo!" bentak Esmeralda. Udara terasa kosong di kamarnya. Sesak. Wanita yang ia bentak hanya terdiam dan tak terasa air mata telah jatuh di pipinya.

            "Pergi! Pergi dari kamar gue!" bentak Esmeralda sekali lagi. Si Ibu melangkah gontai meninggalkan kamar dengan linangan air mata.

   Sebenarnya Esmeralda tidak tega melihat ibunya menangis, tetapi apa buat, sakit hati telah menjalar.

 

***

 

            "Mas, aku enggak mau kamu pergi! Aku cinta kamu! Kenapa Mas lebih milih dia daripada aku? Aku kurang apa? Cantik? Mas bisa lihat, kan, kalo aku lebih cantik dari dia!" teriak seorang wanita kepada suaminya disertai tangisan.

            "Kurang apa lagi? Kaya? Liat rumah aku! Besar, kan? Kurang puas? Aku bisa membuat rumah ini lebih besar kok! Kurang apa, hah? Kurang apa? Pokoknya aku enggak mau kamu pergi! Nggak!" sambung wanita itu sambil memegangi lengan suaminyamenahannya agar tidak pergi.

            "Lepasin tangan kamu! Dari awal aku hanya menyetujui perjodohan orang tua kita. Umur empat belas tahun aku dijodohkan dengan remaja dua belas tahun seperti kamu. Harusnya kita masih asyik-asyiknya sekolah, kan? Mereka ingin menjodohkan kita hanya demi harta. Mereka mengorbakan kita hanya untuk kepentingan perusahaan! Tapi, aku bisa apa? Pikir! Aku bisa buat apa selain berkata 'iya', hah?!  Jawab, Estevania!" balas Sang Suami dengan nada tingginya.

            "Tapi aku cinta sama kamu, Mas!"

            "Sayangnya aku enggak cinta sama kamu!" balas Sang Lelaki tajam, membuat hati Estevania bagai teriris sembilu.

            "Aku akan pergi ke Singapura supaya enggak mengganggu hidup kalian. Sebelumnya aku titip salam ke Esmeralda dan Esperanza., jaga mereka!" sambung lelaki itu dan langsung meninggalkan rumah istrinya.

            "Mas! Jangan pergi, Mas! Mas William!" teriak istrinya. Suaranya tercekat. Air mata tak henti mengalir di pipinya. Namun, apa daya, Sang Suami telah meninggalkannya. 

   Setelah kepergian suaminya, si Ibu dua anak itu tampak murung. Wajah cantik penuh bedak itu kini terlihat pucat. Tubuh mulus dan langsing itu pun sekarang tak lagi bertenaga. Bibir berpoles lipstik merah itu kini terlihat mengering, biru, dan pecah-pecah. Ya, begitulah. Ia frustrasi, kekasih hatinya telah pergi. Bujukan anak-anaknya untuk tidak bersedih pun selalu ia abaikan.

   Sampai terlintas sebuah pemikiran untuk mengakhiri penderitaan hidupnya. Sang Ibu tersebut menuju dapur dan matanya berpencar mencari sesuatu. Pisau. Setelah lama mencari, ia menemukan sebilah pisau di sebelah bak cuci piring. Ia memungutnya dan mengelus pinggirannya yang tajam.

            "Lihatlah, William! Dengan pisau ini aku akan mengakhiri penderitaan yang kamu ciptakan. Aku cinta kamu, Liam! Tapi kamu berkata tidak mencintaiku. Sakit, perih hatiku, Liam! Dua puluh tahun kita berkeluarga, tapi kamu tidak pernah memberiku cinta. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain i–"

            "Mama, jangan lakukan itu!" Seorang anak berlari menghampiri ibunya yang mencoba bunuh diri. Ia langsung merebut pisau dari tangannya.

            "Lepaskan, Anza! Lepas! Mama itu cuma mau ma–"

            Jleb!

   Pisau tajam itu menusuk perut anaknya. Si Ibu berteriak. Namun, apa daya, si Anak telah tergeletak tak bernyawa dengan darah yang keluar dari perut dan menetes ke lantai. Si Ibu lalu menatap pisau penuh darah tersebut.

            "Mamaaa!" Esmeralda terkejut melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Ia melangkah dengan wajah penuh amarah.

            "Apa yang Mama lakuin sama Esperanza? Anza! Bangun, Anza! Bangun!" Esmeralda mengguncang tubuh Esperanza yang sudah tak bernyawa.

            "Mama pembunuh! Mama tega! Apa ini cara melampiaskan kekesalan Mama pada Papa? Apa dengan membunuh Esperanza Mama puas?"

            Ibunya tetap membisu. Mulutnya terasa sulit untuk dibuka. Hatinya bergejolak. Matanya menatap tubuh tak bernyawa anaknya dengan linangan air mata. Tatapan Sang Ibu tak dapat diartikan.

            "Mama puas?" tanya Esmeralda sekali lagi.

            "Mama tidak membunuh adikmu, Al. Mama cuma–"

            "Cuma apa? Ingat, Ma, ini terakhir kali aku bilang Mama sama lo!"

            Dan karena peristiwa itulah kebencian itu dimulai.

 

***

 

            Pikiran Esmeralda sedang tidak fokus pada penuturan dosen di kelasnya. Walaupun hidup dalam kesuraman, kuliah tidak pernah ia lupakan. Sejak meninggalnya Esperanza tiga tahun lalu, Esmeralda menjadi pendiam dan tidak memiliki teman. Ocehan para mahasiswa tiap hari tentang dirinya hanya dia anggap angin lewat.

            Disela- sela penjelasan dosennya ia kembali teringat masa-masa indahnya dengan Esperanza sepuluh tahun lalu.

            "Mama pilih kasih, deh! Esperanza terus yang diperhatiin, aku nggak," rengek seorang remaja sambil mengerucutkan bibirnya.

            "Esperanza, kan, masih kecil, Alda. Kamu udah kelas sembilan seharusnya tahu dong!" papar ibunya.

            "Esperanza sama Mama sayang Kakak kok! Kakak jangan cemberut gitu, mukanya nanti tambah jelek" ucap anak kecil berusia tujuh tahun.

            Esmeralda kembali teringat Esperanza yang sangat menyayanginya. Mata Esmeralda berkaca-kaca dan tak terasa satu tetes air mata membasahi pipinya. Tanpa sadar dosen mengamatinya.

            "Esmeralda! Kenapa itu? Kamu dari tadi tidak mendengerkan saya?" tanya dosen berumur 27 tahun yang bernama Antonio.

            "I-ini, Pak, saya, emm …. Ini-ini, emmm, kelilipan tadi, Pak," ucap Esmeralda gelagapan.

 

            "Baiklah, nanti temui saya di perpustakaan setelah kelas selesai," ujar Antonio.

            Esmeralda menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu mengangguk canggung. Para mahasiswa lainnya menatapnya sinis. Namun, Esmeralda tak menggubrisnya.

 

***

 

   Seperti pesan Antonio, Esmeralda bergegas ke perpustakaan. Setelah sampai matanya berpencar mencari dosen mudanya itu. Ia lalu melihat Antonio sudah duduk di kursi di sudut ruangan.

            "Oh, Esmeralda. Sini, silakan duduk," pinta Antonio setelah melihat Esmeralda.

            "Saya sebenarnya tahu masalah kamu. Kamu masih belum bisa memaafkan ibumu, kan?" tanya Antonio setelah Esmeralda mendudukkan dirinya di kursi.

            "Itu masalah saya dan ibu saya. Bapak enggak berhak mencampuri urusan saya," balas Esmeralda ketus.

            "Ya, saya tahu. Ibumu telah cerita banyak kepada saya tentang kamu. Saya hanya tidak ingin kamu menghabiskan waktu hanya untuk menangis dan murung terus tanpa fokus ke lingkup sekitarmu. Ingatlah, saat sesuatu telah terjadi, segalanya tidak akan pernah kembali. Sekalipun kembali, segalanya tidak akan pernah sama lagi. Kamu harus belajar memaafkan orang lain, lagi pula dia ibu kamu, orang yang melahirkan kamu," jelas Antonio.

            "Sebentar, Bapak ada hubungan apa dengan ibu saya?" tanya Esmeralda sambil mengernyitkan dahinya.

            "Untuk penjelasan lebih jelas, mari ikut saya!" ajak Antonio.

            "Ke mana?"

            "Ikutlah, maka kamu akan tahu."

 

***

 

 

            Seperti yang dikatakan dosen mudanya tadi, Esmeralda dengan Antonio mengendarai mobil untuk menuju tempat yang dituju.

            "Lho, ini kan jalan ke rumah saya?" tanya Esmeralda tiba-tiba.

            "Ssst, diamlah," ujar Antonio.

            Ya, mobil itu ternyata mengarah ke rumah Esmeralda.

            "Kenapa Anda ma–" Ucapan Esmeralda terhenti karena Antonio justru melangkah meninggalkannya untuk mengetuk pintu rumah mewah itu.

            Tok! Tok!

            Hanya dengan dua kali ketukan pintu terbuka dan tampak pemilik rumah tersenyum bahagia atas kedatangan dosen muda itu. Mereka berdua pun langsung berpelukan tanpa menyadari ada sepasang mata yang melihatnya.

            "Apa-apaan ini? Ada hubungan apa Bapak dengan Mama saya?" Melihat Esmeralda mendekat, keduanya langsung melepaskan pelukan.

            "Saya dengan mamamu sudah saling mencintai sejak setahun lalu. Saya bertemu dia saat mencoba bunuh diri dengan loncat ke sungai dari tebing yang tinggi. Saya lalu mencegah hal tersebut dan menasehati mama kamu bahwa bunuh diri merupakan tindakan dosa dan merugikan dirinya. Semenjak itu, saya jadi teman curhat mama kamu dan lama-lama beginilah," jelas Antonio. Ia lalu meraih tangan Estevania dan menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari wanita itu.

            "Selisih usia kami memang sepuluh tahun, tapi buat apa malu? Saya mencintai mama kamu bukan karena hartanya yang melimpah. Namun, saya mulai mencintainya karena curhatannya tentang kamu dan saya rasa ia butuh pendamping hidup untuk menjadi ayah kamu dan juga untuk merukunkan kalian," sambung Antonio.

            "Masa bodoh dengan kalian!" Esmeralda dengan wajah bengal bergegas untuk masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu rapat-rapat dan langsung loncat ke kasur empuknya. Ia menangis sejadi-jadinya, perasaannya campur aduk. Kenapa ibunya justru menceritakan kehidupannya kepada orang lain?

            Selang beberapa menit, suara ketukan pintu terdengar.

            "Alda, ini Mama. Buka pintunya, Nak!" Teriakan Estevania terdengar dari luar.

 

            Ceklek!

            "Puas lo? Lo enak-enakan berduaan sama dosen gue tanpa mikirin dosa lo sama Anza. Seharusnya lo gue masukin penjara aja. Oh, atau gue biarin aja lo bunuh diri. Mama, Esmeralda sebenarnya capek gini terus, Ma, hiks .... "

            Ini pertama kali Esmeralda menyebut ibunya dengan sebutan 'Mama' setelah tiga tahun lalu. Namun, setelah mendengar apa yang dikatakan anaknya, dada Estevania semakin sesak. Ia sudah tidak tahan dengan perlakuan anaknya.

            "Ke mana sekarang dosen itu? Jawab!" bentak Esmeralda lagi dengan suara tercekat.

            "Sudah kembali ke kampus, Al," ujar Estevania lirih.

            Esmeralda lalu mengusap kasar pipi basahnya dengan tangan. Ia bergegas keluar untuk mencegat taksi menuju kampusnya. Beberapa menit mengendarai taksi akhirnya ia sampai di kampus. Ia lalu berlari menaiki tangga untuk menemui Antonio. Sesekali napasnya sesak karena lelah.

            Setelah lama berkeliling akhirnya ia mendapati dosen itu di ruangannya. Tanpa basa-basi Esmeralda langsung mendekatinya. "Pak, saya minta Anda jangan ganggu hidup saya dan Mama!" ucapnya ketus.

            "Heh, siapa yang ganggu ibu kamu? Justru kamu yang menyakiti hatinya. Karena Esperanza kamu melakukan itu, hah? Aku yakin Esperanza di alam sana pasti sudah memaafkan kesalahan ibunya. Tidak seperti kamu, dengan alasan Esperanza kamu membentaknya. Tidakkah kamu tahu itu dosa? Kamu menuduh ibumu telah membunuh adikmu. Tidakkah kamu melihat rentetan kejadian yang sebenarnya, hah?"

            Esmeralda hanya mematung tak menanggapi pertanyaan Antonio.

            "Ibumu mencoba bunuh diri karena ditinggalkan mantan suaminya. Esperanza mencoba mencegahnya. Namun, Esperanza justru tertusuk karena mencoba merebut pisau itu dari ibumu lalu tiba-tiba kamu datang tanpa mengetahui apa yang terjadi dan langsung menuduh ibumu membunuh adikmu," sambung Antonio.

            "Lalu Bapak mempercayainya?" timpal Esmeralda.

            "Saya lihat dari kesungguhannya berbicara. Apa kamu sebagai anak tidak memercayai sendiri ucapan ibumu?" ucap Antonio marah.

 

            "Buat apa mempercayai pembunuh!"

            "Pembunuh kamu bilang? Lebih dosa mana pembunuh seperti dia daripada kamu? Lebih dosa mana pembunuh sama yang durhaka pada ibunya? Bayangkan jika ibu yang merawatmu dari kecil tiba-tiba menjauh, menghilang, dan tidak akan bisa menemui dan menyayangi kamu lagi. Dia telah mengandung dan menyusui kamu dan Esperanza. Apa kamu tega membiarkan air mata jatuh ke pipinya karena ulahmu? Kamu tega, Alda? Apa kamu akan tumbuh sebesar ini tanpa kasih sayang ibu kamu? Dia itu ibu kamu, yang melahirkan kamu. Surga di telapak kakinya. Siapa saja yang membuat sakit hatinya, apa dia dapat surga? Jawab! Apa dia bisa mendapat surga?"

            "Tidak, hiks, hiks ...." Air mata Esmeralda tak dapat dibendung lagi. Hatinya berkata bahwa ucapan Antonio tadi memang benar.

            "Mama ...," ucap Esmeralda lirih.

            "Yang kamu bisa cuma nangis, nangis, dan nangis. Ya, memang benar menangis bukan karena seseorang itu lemah, tapi kelewat lelah dengan segalanya. Namun, apa itu bisa mengubah keadaan? Esmeralda, apa kamu bisa meminta maaf pada ibu kamu kalau menangis terus?"

            "Aku harus gimana, Pak? Hiks, hiks ...,"

            "Temui ibu kamu, minta maaf sama dia. Jangan buat dia sakit hati lagi," pinta Antonio.

            Esmeralda pun langsung memeluknya lalu berbisik di telinganya. "Terima kasih, Papa!" Ia melepas pelukannya dan langsung bergegas pulang. Antonio tersenyum tulus.

 

***

 

            "Mama! Mama! Mama di mana?" Esmeralda berteriak. Matanya berpencar mencari ibunya ke seluruh sudut ruangan. Ia mencari ke kamar ibunya, tetapi tak ada di sana. Setelah mencari ke dapur, ia terkejut. Ibunya terkapar di sana. Pisau tertancap di perutnya, penuh darah. Esmeralda menatap mayat ibunya ngeri. Ia meninggal persis di tempat Esperanza meninggal. Esmeralda lalu mencabut pisau tajam itu dari perut ibunya. Darah mengalir deras. Di samping tangan ibunya ia mendapati kertas lalu membacanya.

 

            Dear Esmeralda Aphrodita

 

            Esmeralda Sayang, anakku yang paling baik, gimana? Baik-baik sajakah? Sehat-sehat? Semoga sehat, ya! Alda, saat kamu membaca surat dari Mama ini, mungkin Mama sudah tak ada lagi di dunia, tak ada lagi di samping kamu, tak bisa menemani kamu lagi. Maafkan Mama, ya, Esmeralda Sayang! Mama bersalah telah mengecewakan kamu. Mama melakukan ini karena tak ingin mengganggu hidup kamu. Mama sudah banyak menyusahkan kamu. Mama selalu membuat Alda menangis, ya? Mama minta maaf, ya? Mama minta maaf! Mungkin maaf saja enggak mungkin meredakan kebencian kamu kepada Mama, tapi, Mama sayaaaang banget sama kamu dan Esperanza. Mama juga enggak bermaksud membunuh Esperanza, Alda. Tapi ini semua takdir Tuhan. Pisau itu malah menusuk perut Esperanza. Tapi, sebagai gantinya Mama juga akan menusuk perut Mama sendiri. Seperti pepatah, 'NYAWA DIBALAS NYAWA'.

Alda sayang, meskipun Mama telah pergi dari sisi kamu, pokoknya rasa sayang Mama ke kamu tak akan pernah berubah, deh! Kamu dan Esperanza adalah Aphrodite Mama. Kalian tempat mengenal apa itu cinta sebenarnya. Adanya kalian membuat Mama mencintai Papa untuk pertama kalinya. Tapi apa? Dia malah pergi meninggalkan kita.

Pokoknya jaga kesehatan, jangan lupa makan. Mama enggak ingin kamu mogok makan. Mama maafin semua kesalahan kamu, tapi Alda juga harus maafin Mama, ya!

Segitu dulu, Al. Terima kasih karena sudah mau hidup dengan pembunuh seperti Mama. Untuk Antonio, bilang sama dia kalau Mama sayaaang juga sama dia. Suruh dia untuk cari pendamping yang pantas buatnya, ya! Kiss and big hug my princess, my Aphrodite in my life. Muaaachh!

 

            Mata Esmeralda sudah tak bisa lagi mengeluarkan air mata. Sulit rasanya untuk menangis. Hatinya semakin sesak. Ingin sekali ia berteriak, tetapi tenggorokannya terasa kering. Mulutnya sukar dibuka. Esmeralda telah gagal meminta maaf secara langsung pada ibunya. Ia lalu memandangi pisau penuh darah tersebut. Menatap lekat-lekat darah yang mengalir dari pisau itu ke tangannya.

            "Esmeralda! Apa yang kamu lakukan pada mamamu?" teriak Antonio membuyarkan Esmeralda. Ia merasa telah membunuh ibunya. Persis seperti ibunya yang telah ia tuduh membunuh adik kandungnya.

            "Kamu membunuhnya?" tanya Antonio dengan tatapan bengis.

            Esmeralda lalu menyerahkan surat yang Estevania tulis padanya. Setelah membaca surat tersebut, tatapannya berubah. Air mata tak henti mengalir ke pipi pria itu.

            "Estevania …."

            Esmeralda pun langsung memeluk Antonio. Antonio menangis. Esmeralda hanya diam menyenderkan kepalanya ke bahu Antonio.

            "Papa, jangan tinggalin Alda," pinta Esmeralda lirih. Antonio lalu membalas pelukan Esmeralda.

            "Tidak akan, Alda. Tidak akan ...."

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Kilasan Jingga - Okt 6, 2020, 10:34 PM - Add Reply

.

You must be logged in to post a comment.
Kilasan Jingga - Okt 6, 2020, 10:35 PM - Add Reply

.

You must be logged in to post a comment.
Rzk2570 - Okt 6, 2020, 11:21 PM - Add Reply

💕💕💕

You must be logged in to post a comment.
Kilasan Jingga - Okt 10, 2020, 8:47 PM - Add Reply

<3

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.