Profil instastories

Antologi Kenangan

Hidup bukan selalu tentang kebahagiaan. Ada kalanya, kita harus merasakan yang namanya kesedihan. Takkan selalu ada canda tawa disetiap hari, pasti akan ada tangis dan air mata yang menyertai.

Seperti hari ini, ketika langit menampakan wajah muram dan gelap yang mengelilingi seluruh penjuru bumi. Pertanda, hujan akan turun sebentar lagi. Partikel yang memiliki kandungan air 1% dan kenangan 99%. Menyisakan luka disanubari terdalam.

Mungkin, hujan memang anugerah tuhan yang harus kita syukuri kehadirannya. Kadang kala, bahkan ia akan ditunggu jika tak kunjung hadir. Karena ia merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk dimuka bumi ini.  Ia juga merupakan hal sederhana, yang mampu menjadi saksi disetiap kejadian yang tercipta. Entah suka maupun duka. Memori terhebat yang tak mempunyai batas kapasitas untuk menampung segalanya.

Ribuan kejadian bisa saja ia tampung disetiap harinya. Menebar senyum dan tawa bagi setiap insan yang tengah membuat sebuah kenangan indah. Dan menimbulkan tangis bagi insan yang tengah mengingat kejadian dimasa lalu, yang pernah ia anggap indah itu.

Karena ternyata memang benar, seindah apapun kenangan dimasa lalu, akan menjadi sangat pahit jika dikenang nantinya. Karena itu hanyalah kejadian dimasa lalu, yang tak mungkin terjadi lagi. Menyisakan rindu yang bahkan tak mampu terpuaskan dengan temu.

Pertemuan indah yang membayang dalam khayalan. Melukis senyum dan mengurai tawa lewat canda yang terucap. Hangatnya suasana bertabur kasih sayang yang tercurah disetiap detiknya. Indah, bahkan sangat. Dan hanya mampu membayang dalam khayal.

Rindu itu nyata. Kenangan itu hadir dan menuai luka didalam hati. Dan kemudian, bayangan itu semakin jelas teringat. Ya, kenangan dimasa lalu.

“Aku ingin seperti hujan, yang tau rasanya jatuh berkali-kali. Dan selalu mau kembali” Ucapku, meraih air yang jatuh dari cericikan warung kecil tempatku berteduh.

“Kalo kamu jadi hujan, aku jadi bumi. Yang selalu menanti kamu kalo kamu ngga kunjung hadir untuk menemuiku”

“Bumi mah pasangannya sama Langit atuh Zen, bukan Hujan. Ah kamu gimana sih”

“Ih dengerin dulu makanya, aku kan belum selesai ngomong Puti sayang” Zen mengacak rambutku gemas, membuatku mengerucutkan bibir dengan kesal. “Hujan itu sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup dibumi ini. Karena banyak makhluk dibumi ini yang butuh air dari hujan itu sendiri, jadi bumi bakalan setia nungguin sampe si hujan datang dan memberi kehidupan buat semuanya. Intinya, hujan itu segalanya buat bumi. Dan bumi bakalan setia sama si hujan dan ngga bakal nyari penggantinya apalagi pindah kelain hati”

“Apaansi Zen, teorinya aneh gitu, ngga nyambung lagi haha”

“Aku kan lagi ngegombal Put, kamu hargain kek sedikit mah” Zen menampilkan ekspresi kesal yang membuat wajahnya jadi lucu, dan memang ekspresi itu yang paling kusuka darinya. Bahkan, seringkali aku sengaja membuatnya kesal hanya karena ingin melihat ekspresi kesal darinya itu.

“Haha, utuk-utuk sayang aku ngambek” Kuraih kedua pipinya dan memperhatikan wajahnya lebih dekat. “Jangan ngambek-ngambek gitu ah, jelek tau” Dan dia masih memperlihatkan ekspresi kesalnya itu “Yaudah, biarin aja, orang aku suka kok sama muka kamu yang cemberut kaya gitu. Lucu tau, kaya ikan sapu-sapu haha”

“Putiya Malika Azhaarr” Dan ya, aku kembali terkena serangan gelitik darinya. Dia memang suka melakukan aksi gelitik kepadaku, jika dia kesal dengan sikapku yang kelewat konyol ini.

“Hahaha, aku juga sayang kamu Zendy Raihan Assegaf”

Sore itu, hujan masih terus mengguyur bumi dengan derasnya. Mungkin, sebagai bukti rindunya kepada bumi. Dan aku, menulis kenangan indah disini, diwarung sederhana yang terasa istimewa bersamanya. Laki-laki yang mengaku sebagai perumpamaan bumi jika aku menjadi hujannya hehe.

Dan ya, luka itu kembali ku buka. Luka yang sempat menganga lebar dan mulai sembuh seiring berjalannya waktu. Dan sekarang aku rasakan lagi, akibat sikap cerobohku yang dengan bodohnya, kembali mengingat kenangan dimasa lalu yang hanya menyisakan rindu direlung terdalam. Rindu yang semakin membuat sesak karena tak kunjung terpuaskan dengan temu.

Jika rindu diciptakan untuk terpuaskan dengan temu bersama sosok yang ditujunya, mengapa rinduku berbeda? Mengapa hanya luka yang kudapat, ketika aku merindukannya? Aku pun tak memungkiri, jika ada sepercik harap yang muncul dilubuk ini. Harapan akan pertemuan dengan sosok yang kurindu.

Berbagai pertanyaan terbesit dalam benakku. Akankah ia merindukanku, seperti aku yang tengah merindukannya? Atau mungkin, ia bahkan sudah melupakanku? Masih adakah perasaannya terhadapku? Atau, ia benar-benar sudah melupakanku? Pernahkah ia memikirkanku walau sedetik saja? Atau lagi-lagi, aku bahkan sudah terhapus dalam ingatannya?

Orang bilang, kenangan bukan untuk dilupakan. Namun, untuk dijadikan pelajaran dihari berikutnya. Namun, mengapa aku selalu melukai diriku sendiri, dengan terus hidup dalam bayangan semu tentangnya? Mengapa rindu dan kenangan hadir jika untuk memberi luka? Untuk apa semua hal indah terjadi, jika hanya untuk menjadi kenangan, yang akhirnya menimbulkan rindu yang tidak seharusnya dan dapat menyakiti  diri sendiri? Untuk apa?

“Agar kita belajar, karena kita ngga bakalan tau apa itu bahagia tanpa adanya kesedihan. Sama halnya kita ngga bakal tau apa itu tawa tanpa adanya luka yang hadir dari rindu. Rindu itu ngga pernah salah, yang salah itu insannya dalam mengartikan rindu itu sendiri.”

“Zendy?”

Laki-laki itu tersenyum amat manis dan mengangguk “Hai Put, apa kabar?”

Dia, apakah?

“Heyy...” Zendy mengibaskan tangannya tepat dihadapan wajahku.

“I ii iyaa, baik ko, kamu sendiri?”

“Ya seperti kelihatannya put, Alhamdulillah aku baik-baik aja ko. Oiya, alamat rumah kamu masih yang lama kan?”

Apa? Buat apa dia menanyakan alamat rumahku? Oh, yaampun kuasai dirimu Put. “Iya” Great! Singkat, padat, dan jelas.

“Kamu masih suka main hujan?”

“Hah?”

“Iya, aku tanya apa kamu masih suka main hujan? Dulukan waktu kita masih sama-sama, kamu selalu ngajak aku jalan-jalan, meski cuaca hujan dan akhirnya kita main hujan berdua deh”

Waktu kita masih sama-sama_- mengapa kata itu terlalu mengusikku? Bukankah memang itu benar? “Iya”

“Kamu mau pulang sekarang ga? Biar aku antar, sekalian aku mau ketemu bunda, kan udah lama aku ngga main kerumah kamu dan ketemu bunda”

“Ngga usah zen, ngerepotin”

“Sejak kapan kamu ngerasa ngerepotin aku? Ngga usah sungkan, udah kaya sama siapa aja kamu put”

Mantan Zen mantan, kamu ngerti kosakata mantan ngga sih?_-

Dan akhirnya? Ya, aku diantar pulang oleh Zendy dengan selamat sampai tujuan. Namun ironisnya, hatiku kembali menuai harap yang timbul akibat imajinasinya sendiri, tanpa setujuku. Terkadang aku juga bingung, mengapa hati dan logikaku jarang sekali mempunyai pendapat yang sama?

Tempat itu, warung kecil sederhana yang mempunyai banyak kenangan antara aku dan Zendy. Warung yang mempertemukan kita untuk pertama kalinya. Warung andalan untuk berteduh kala hujan turun dengan derasnya. Dan warung itu pula, yang kini kembali mempertemukan aku dan Zendy. Bedanya, waktu itu hujan deras, dan kini langit baru terlihat gelap dan belum turun hujan.

Namun, perlahan tapi pasti, rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Membuat lukaku semakin terasa perih.

“Mau neduh dulu, apa terobos aja Put?” Ucapnya.

“Terserah kamu aja Zen”

Dan ya, kita menerobos hujan dan main hujan-hujanan sampai rumahku. Sepanjang perjalanan aku menguatkan tekad untuk tidak memeluknya dari belakang. Karena biasanya, aku selalu memeluknya jika sedang  kedinginan. Aku tak mau Zen berpikir macam-macam dan hanya menyakiti diriku sendiri nantinya.

Namun tiba-tiba Zen meraih tanganku, dan menaruhnya disekeliling pinggangnya “Hujan, dingin” Katanya.

Aku mengeratkan pelukanku padanya, dan menaruh kepalaku di belakang punggungnya. Ya, aku sudah tak mampu menahan semuanya. Aku rindu, rindu semua tentangmu Zen. Meski ku tau, dengan begini aku hanya menyakiti diriku sendiri, namun aku sudah tak perduli. Rinduku bahkan jauh lebih hebat daripada logikaku.

Rinduku bertemu dengan sosok yang ditujunya. Semua kenangan serta merta datang membayang dalam semu. Perih, namun harus tetap ku nikmati kehadirannya. Aku bahagia, bisa memilikinya untuk beberapa saat. Meski, ada perempuan lain yang sudah menggantikan posisiku dihatinya.

-TAMAT-

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani