Profil instastories

Another Heart

Senin:

Lo bisa liat langit kalau lagi sedih.

Surat pertama ketika Jessi merasa jatuh cinta dan patah yang kesekian.

Sabtu: 

Meski nggak abadi, nyatanya bintang nggak pernah ngeluh untuk selalu ada.

Surat kedua yang diterimanya ketika tengah mengejar gebetannya sekarang. Sekarang, tidak ada lagi surat yang diterimanya-memperkuat dugaan kalau Dio pelakunya. Lalu, lokernya tadi menyembulkan sesuatu. Tapi ada yang berbeda. Dadanya langsung panas.

Untuk melampiaskan itu, Jessi mencoret-coret bagian belakang paket kimianya. Tinta pulpennya sampai abis karena melakukan itu satu jam pelajaran ini. Penyebabnya? Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hidupnya. Dia populer, semua tercukupi, dan baru saja ditembak Dio-ketua futsal yang mana sang pujaan hati. Ah, ada satu hal yang terlupa. Sahabatnya menjauhinya.

Jessi kembali melempar gumpalan kertas ke seberang meja.

Goctha!

Si empunya menoleh. Sebisa mungkin memberikan senyuman manis, cowok berambut cepat itu mendengkus. 

"Sssttt, Alvin!" panggilnya pelan. Tidak ingin Pak Juno yang tengah menulis rumus menegurnya untuk ke sekian.

Jengah dengan panggilan Jessi, cowok bernama Alvin itu menoleh. "Apa?" ujarnya malas-malasan.

Jessi cemberut. Sedetik kemudian tersenyum lebar. "Nanti boncengan," pintanya seperti biasa.

Alvin, sahabat Jessi. Rumah mereka cuma sebatas tembok saja. Bahkan, Jessi meminta kamarnya berhadapan dengan kamar Alvin supaya mudah kalau minta kuota. Tapi, belakangan cowok itu mulai menjauhinya. Tanpa sebab. Jessi jadi gelisah.

Terlihat enggan, cowok itu mengangguk juga. Kesal sendiri karena tidak bisa menolak permintaan Jessi, apa pun itu. "Ngghhh! Sial!" 

Sebanyak apa pun dia melangkah, Jessi selalu mengejarnya. Sebanyak apa pun dia mencoba, Jessi mempunyai sesuatu yang membuatnya tidak tega. Ini, nih resenya punya sahabat dari lahir bareng.

Bel berbunyi. Jessi buru-buru mendekati Alvin.

"Gue dapet surat lagi," bisiknya pelan.

Alvin mengorek telinganya. "Oh, ya?"

"Ih, kok nggak seneng gitu, sih?" tanyanya kesal.

"Terus gue mesti apa?" tanya Alvin lalu mengeluarkan bola basket dari tasnya.

"Apa kek. Nggak peka benget jadi cowok!" gerutunya tanpa berpikir panjang. 

Alvin tersenyum kecil. "Udah baca?"

Jessi menggeleng. "Ini surat yang sama," cetusnya yakin seratus persen." Cewek itu mengetuk-ngetuk dagu dengan mata memutar. Langsung aja disentil Avin tanpa permisi. Alih-alih kesal, Jessi melanjutkan ceritanya. "Kenapa ya masih dikirimin?"

"Mungkin ada sesuatu," ujarnya ngawur.

"Tapi, kita kan udah jadian."

Alvin berdiri. "Udah, ya. Kalau mau cerita cowok lo sama Nina aja."

Selalu saja begitu. Susahnya punya sahabat cowok itu gitu. Diajak Fangirl nggak bisa, diajak curhat masalah hati nggak bisa.

"Aneh, kan, Vin. Masa Dio nggak —"

"Gue latihan dulu."

"Alvin!"

Rese banget! Jessi mengurut dadanya. "Sabar, Jess. Itu tengik nanti juga balik lagi."

Alvin mendengarkannya seperti tadi saja sudah termasuk luar biasa. Hampir satu pekan sejak jadian dengan Dio, cowok itu mulai menjauh. Kelamaan jomblo, sih, jadinya nggak bisa liat orang jatuh cinta.

FYI, Jessi sudah mempromosikan Alvin. Tidak butuh banyak tenaga, sebab Alvin dasarnya udah populer. Sakira kayaknya minta nomernya Alvin kemarin. Si tengik itu pasti nggak mau cerita. 

Jessi berdiri. Dia udah punya janji sama Dio buat makan bareng.

"Dio, i'm coming!"

Di tengah lapangan, Alvin berkali-kali kehilangan konsentrasi. Bolanya tidak pernah masuk satu kali pun. 

"Kenapa kantin Deket sama lapangan, sih?"

***

Sabtu:

Sekalipun bakal redup, bintang nggak pernah absen ngasih senyumnya tiap hari

Siklus itu terlewatkan satu. Si pengirim selalu memberikan surat setiap Senin atau Sabtu. Senin kemarin tidak ada surat.

Kali ini surat itu membuat Jessi mengernyitkan dahi. Dia memutuskan membacanya walau Alvin tidak ada. Si tengik itu malah pulang duluan. 

Kepala Jessi pernah pecah memikirkan Dio yang masih ngirim surat-meski sudah jadian- dan Alvin yang kelamaan menjomblo.

Sebagai sahabat yang baik, Jessi menjadwalkan kencan untuk Sakira dan Alvin. Alvin tidak akan bisa nolak permintaannya. Jessi gitu, lho. Dan, untuk si pengirim surat sepertinya dia harus menunggu hari senin mendatang. Atau tidak, dia bisa mulai aksinya sekarang.

"Kamu yakin mau di sini?" Pertanyaan dari Dio langsung dijawab Jessi tanpa ragu.

"Iya, ada kelompok belajar mendadak," suaranya dengan wajah memelas.

Dio menggeleng. "Nina udah pulang."

Jessi gelagapan. "Iya, dia ngambil materi di rumah. Nanti balik lagi, kok."

Perdebatan kecil pun terjadi. Meski akhirnya, Jessi tersenyum puas melihat Dio pasrah. "Oke, hati-hati," ujarnya. Ada kegelisahan dalam ucapannya.

"Di," panggil Jessi pelan. Ragu mengatakannya.

Dio menoleh untuk memberikan senyuman terbaiknya. 

"Lo suka gue sejak kapan?" tanyanya dengan wajah memerah.

Dio terkekeh. "Sejak Lo putus sama yang terakhir," jawabnya jujur.

Nah, tidak salah lagi. Bertepatan sekali dengan surat yang diterimanya. Setelah mengusir Dio dengan susah payah. Dan, segala tetek bengek yang harus Jessi hadapi. Cewek itu berhasil terlepas dari jangkauan Dio. 

Berjalan mengendap-endap menuju loker siswa. Memilih tempat persembunyian yang paling strategis. Huh! Bahkan, satu jam berlalu tanpa ada yang mencurigakan. Kakinya sampai pegal terlalu banyak berdiri.

Suara langkah kaki. Ada yang datang!

Bahu Jessi melorot untuk kesekian melihat cowok yang dikenalnya tampak gusar seraya menghampiri lokernya- yang mana sebelahan sama Jessi. 

"Ngapain Lo di sini?"

Eh, ketahuan. Jessi keluar dari persembunyiannya. Tersenyum bodoh. "Eh, Alvin," sapanya kikuk.

"Gue ambil bola yang ketinggalan," ucap Alvin tanpa diminta. Lantas, meninggalkan Jessi yang merenggut di belakangnya.

Jessi tersenyum ceria kembali. 

"Mau pulang bareng?" tanya Alvin tanpa basa-basi. Alih-alih tanya 'Di mana Dio' atau 'lo sendirian?'.

Jessi mengangguk semangat. Langit hampir petang. Dan, Alvin menawarkan bantuan seperti biasanya. 

***

Menunggu Senin seperti menunggu hujan yang nggak reda-reda. Jessi sudah berencana masuk pagi. Mengalahkan satpam yang biasanya datang jam set enam. Udah WA Dio juga kalau mereka nggak bisa barengan. Maka, setelah sampai di loker Jessi bersembunyi di tempat strategisnya. 

Hampir tiga puluh menit menunggu, barulah muncul anak-anak lain yang meletakkan tas atau buku paket di lokernya. Tidak ada yang menyelipkan sesuatu di lokernya. 

Dio muncul, Jessi menajamkan matanya. Kecewa karena Dio bahkan tidak berkunjung ke loker sedikit pun. Lima menit kemudian, Alvin datang dengan muka suntuk. Lama banget dia di depan loker seperti mencari sesuatu. Lalu, dia pergi. Sepertinya pencarian kali ini sia-sia saja.

"Aku lagi sedih," ucap Jessi ketika memaksa Alvin mendengar curhatannya. Istirahat kedua ini, Dio bilang akan pergi ke luar kota untuk pertandingan. Hadia jadi patah hati.

Alvin mendesah. "Ditinggal tiga hari doang, Jess."

"Ya, tapi. Rasanya tuh hampa tau."

Alvin mendengkus. "Bintang aja sendirian nggak pernah ngeluh, tuh."

Jessi terpaku dengan kata-kata itu. Ada, ya seangkatan mereka namanya bintang? Padahal, dia nggak kudet-kudet amat untuk tahu info itu.

Alvin pergi lagi. Senjatanya pasti keluar kalau Jessi udah mulai cerita soal hubungannya. "Gue mau latihan dulu."

Sejak kapan futsal lebih menarik dari Jessi? Si tengik itu emang tambah ngeselin aja.

Waktu berlalu hingga bel pulang berbunyi lebih cepat dari dugaan Jessi. Nina mengajaknya pulang bersama.

"Tunggu, kayaknya dompet gue ketinggalan," ujar Nina. Segera saja dia menarik Jessi ke arah loker. 

Jessi memilih berdasar di sisi lain. Beberapa kali melirik jam tangannya untuk memastikan kalau sopirnya masih menunggu.

"Eh, Lo belum pulang?"

Yang ditanya makalah gelagapan. 

"Lo juga belum pulang," ujar Alvin terkejut dengan kehadiran Jessi yang bersandar di tembok. 

Tidak biasanya Alvin terburu-buru seperti itu. Dia emang udah lupa sama Jessi. Nggak nawarin bonceng bareng lagi. Oke, Jessi bisa kok sendiri. 

"Kalian musuhan, ya?" Pertanyaan itu datang dari Nina. Dia memasukkan dompetnya ke dalam tas. 

Jessi menggendikkan bahu. "Tau. Lagi pms kali tuh orang."

"Oh pantes."

Jessi menatap Nina bingung.

"Gue lihat Alvin nyelipin sesuatu di loker lo. Mau minta maaf kali," ujar Nina.

Langsung saja Jessi berlari ke lokernya. Ketika membukanya, benar saja ada sesuatu yang bertambah. Sebuah surat yang selalu diterimanya. Sama persis!

Jessi menyobek ujung surat dengan buru-buru.

Senin:

Gue pikir bintang itu nggak pernah ngeluh. Gue salah. Adakalanya, bersinar tapi nggak pernah terlihat itu sama aja mati.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani