Profil instastories

Bukan penulis, hanya senang menyalurkan keresahan hati melalui tulisan 💫

Anak yang Malang

        Tepat di pagi hari, seorang gadis remaja dengan mata yang sembab hendak bersiap diri untuk pergi ke sekolah. Dia menangis semalaman memikirkan apa yang sedang terjadi di keluarganya. Namanya Defa Andriani. Ketika dia beranjak dari kamarnya menuju ruang tamu, dilihatnya kedua orang tua yang selama ini sangat dia sayang. Melanjutkan perkelahian semalam yang entah kapan berakhirnya. Dia berusaha untuk tidak peduli, tapi tetap saja lagi-lagi dia meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Anak yang malang. Begitulah mungkin sebutan yang pantas untuk dirinya saat ini.

Seketika itu, Ibunya tidak sengaja melihat ke arah anak kesayangannya.

“Kamu kenapa Nak?” tanya ibu Andri.

“Tidak apa-apa Bu, aku mandi dulu.” kata Andri sambil mengusap air matanya.

Andri langsung menuju ke kamar mandi. Sempat dia pergi ke kamar orang tuanya untuk melihat adik kecilnya yang masih tidur nyenyak. Namanya Adinda Riani. Umurnya yang masih begitu kecil sekitaran 5 tahun, rasanya tidak pantas jika Andri mengatakan perihal orang tuanya kepada Dinda.

Beberapa menit setelah mandi, Andri sudah selesai menyiapkan semuanya dan dia hendak berangkat bersama ayahnya menggunakan mobil.

“Andri, ayo nanti ayah terlambat,” kata Ayah Andri.

“Iya Yah,” ucap Andri.

Selama diperjalanan Andri hanya diam tanpa berkata sedikit pun begitu juga dengan ayahnya. Akhirnya, dia sampai di sekolahnya. Walaupun Andri sempat mendiamkan ayahnya, tapi dia masih bersalaman untuk pamitan dengan ayahnya.

“Aku pergi ke kelas, Yah.” kata Andri tapi matanya tidak melihat kearah ayahnya.

Mungkin, kita tahu ada perasaan kecewa yang disimpan oleh Andri. Tapi, Andri merasa heran dengan sikap ayahnya yang sangat tergesa-gesa untuk pergi bekerja. Iya, dikarenakan ini masih sangat pagi sekitar pukul setengah tujuh pagi. Dikarenakan rasa penasarannya, Andri pun diam-diam membuntuti ayahnya. Kebetulan ada mobil taksi yang lewat, jadi Andri pergi dengan menggunakan taksi. Selama di perjalanan, Andri sangat gelisah karena dia takut ayahnya bakalan tahu dan bagaimana dengan sekolahnya. Tapi, kegelisahan tersebut tiba-tiba hilang ketika dia melihat ayahnya berhenti di depan rumah. Tapi, andri tidak tahu itu rumah siapa. 

Tiba-tiba, ada seorang wanita yang keluar dari rumah tersebut dan memasuki mobil ayahnya membuat Andri sangat terkejut. Andri menangis dengan sejadi-jadinya.

“Kenapa Adik menangis?”tanya bapak taksi. 

        Andri masih saja menangis tanpa memperdulikan bapak taksi tersebut.

“Ini kita kemana, Dik? Mau lanjutin ngikutinnya atau adik ke sekolah lagi?”tanya bapak taksi untuk kedua kali.

“Ikutin saja Pak.” Andri berkata sambil menangis tersedu-sedu.

        Akhirnya, mobil Ayah Andri berhenti sebuah restoran. Andri pun turun dari mobil taksi untuk menghampiri ayahnya.

“Kamu kenapa disini?” tanya Ayah Andri dengan wajah kebingungan.

“Wanita ini siapa Yah!” sungut Andri sambil menunjuk ke arah wanita yang tadi.

“Ini teman kerja ayah Nak.” Ungkap Ayah Andri dengan sedikit ragu.

“Saya pacar Ayah kamu.” Kata wanita itu dengan beraninya.

“Bukan Nak.” Kata Ayah Andri sambil menatap wajah wanita itu dan andri secara bergantian.

“Kamu kenapa sih!” hardik wanita itu.

“Oh, jadi Ayah selingkuh? Ayah tega menyakiti ibu. Ayah jahat.. Ayah bukan Ayah yang baik, andri benci Ayah. Lebih baik Ayah pergi dari rumah dan jangan pernah lagi kembali ke rumah. Andri tidak mau Ibu sakit hati karena melihat Ayah seperti ini!” Bentak Andri, air matanya pun semakin deras mengalir. Karena tidak tahan melihat wajah ayahnya, lalu Andri pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

“Andri dengarin ayah dulu.” Kata ayah andri agak sedikit teriak karena andri sudah jauh dan sudah memasuki mobil taksi.

“Pak anterin saya ke jalan kenari, nomor 1897.” Ujar andri dengan suara yang serak.

“Iya Dik,” kata bapak taksi.

        Selama di perjalanan, andri masih saja tetap menangis. Andri sangat merasa kecewa. Sekarang dia tahu penyebab ayah dan ibunya sering bertengkar. Akhirnya, andri pun sampai di rumahnya. Ia juga tidak lupa untuk membayar uang kepada bapak taksi. Ia berlari menuju rumahnya dan mencari keberadaan ibunya sambil menangis memanggil ibunya.

“Ibu... Ibu...” panggil andri.

“Kenapa Nak? Kamu menangis? Kenapa tidak sekolah?” tanya ibu andri.

“Ayah bu, ternyata Ayah selingkuh. Ayah jahat, andri benci sama Ayah.” Ucap andri sambil menangis dipelukan ibunya.

Ibunya berkata, “Iya nak, ibu tahu. Maafin ibu yang tidak pernah menceritakan ini sebelumnya sama kamu.” (sambil meneteskan air mata)

        Selama berjam-jam andri dan ibunya menangis. Akhirnya, ibunya menceritakan semuanya kepada andri. Andri juga tidak menyangka ternyata ayahnya selingkuh sudah satu tahun lebih. Ibunya selama ini selalu diam dan sabar karena ibunya merasa kasian dengan andri dan adiknya jika orangtuanya berpisah. Tapi, pada akhirnya andri pun tahu. Andri meminta ibunya untuk berpisah dengan ayahnya. Atas permintaan andri tersebut, akhirnya ibu andri mengajukan gugatan penceraian ke pengadilan. Dalam proses selama beberapa bulan ibu andri mengurus dan sampai melakukan sidang. Akhirnya, ibu dan ayah andri resmi berpisah.

        Sekarang kebahagiaan yang pernah ada di keluarga andri hilang begitu saja. Dikarenakan adanya keegoisan sosok ayah yang lebih mementingkan kepentingannya dibandingkan keluarga. Anak yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan dari kedua orangtuanya. Tapi, sekarang hanya bisa mendapatkan kebahagiaan dari sosok ibu saja. 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.