Profil instastories

Ana

Siapa orang yang dengan senang hati dipermalukan. Mendapat julukan yang bahkan hewan pun tak ingin untuk mendengarnya. Siapa pula orang yang dengan ikhlas menerima semua perlakuan hina dari masyarakat di sekitarnya. Bukankah semuanya terkesan mengerikan?

 
Namanya, Safana gadis 17 tahun dengan latar yang berbeda. Wajahnya sayu seakan layu adalah kebiasaannya. Lalu kulitnya yang putih pucat membuatnya terkesan misterius. Hidung mancung dan perawakan tubuh yang tinggi langsing. Terlihat sempurna jika saja poni rambut yang menutupi bagian kanan matanya tertutup. Namun, saat poni itu terbuka semua orang pasti akan lari terbirit-birit dengan umpatan yang kasar. Kata mereka ia terlalu buruk.
 
Kalian tahu Psikopat? Ya, impiannya adalah membunuh. Dan mungkin targetnya adalah kamu.
 
"Ana! Jangan lari atau ku bunuh kau!" Ujar seseorang dengan lantangnya.
 
Ana terus saja berlari. Dengan tas ransel yang ia gedong di punggungnya. Keringat dingin bahkan sudah turun dari dahi hingga pelipisnya. Napasnya menghentak keluar dengan kasar. Ia terengah-engah dengan kaki yang terus berjalan menjauh. Ia takut teramat sangat takut.
 
Setiap hari ia harus merasakan pukulan di tubuhnya. Ia tidak kuat. Bahkan hanya untuk mendengarkan omongan kasar dari Ayahnya. Dulu saat ia masih memiliki Ibu. Ana tak akan pernah susah untuk menahan rasa sakit. Ia akan mendapat kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Namun malang nasibnya, saat Ibunya meregang nyawa hanya untuk menolong anak kesayangannya. Kini Ana harus merasakan kesakitan yang lebih parah. Rasa sakit karena memar bahkan rasa sakit karena perkataan kasar dari ayahnya. Ia muak benar-benar muak.
 
"Aku tidak tahan hidup dengan Ayah..." Lirihnya pilu bersama tangis yang menderai.
 
Kaki mungilnya berjalan pelan. Ia lelah setelah acara kejar-kejaran dengan Ayahnya. Bahkan untuk kabur saja ia mengeluarkan semua tenaga dan tabungan yang sudah ia persiapkan untuk melakukan rencananya tersebut. Bayangkan saja, siapa yang tahan hidup bak dineraka? Jika boleh pilih hidup itu layaknya disyurga. Nyaman dengan semua keinginan yang mungkin dapat dikabulkan. Tapi sayang, di dunia ini semuanya tabu. Hanya kepalsuan yang menjadi latar di sini. 
 
Gadis itu sudah mempersiapkan semuanya. Menyewa kost bahkan perpindahan sekolahnya. Ia hanya ingin sendiri. Bukan karena ia benci kepada sang Ayah. Hanya saja ia kecewa. Kenapa Ayahnya berlaku kasar padanya? Kenapa di saat sang Ibu telah meninggalkan mereka, Ayahnya tidak memberikan kasih sayang yang sama terhadapnya? Ana hanya berharap Ayahnya berubah. Dan memperlakukan Ana selayaknya manusia bukan hewan.
 
"Ini kunci kamarmu." 
 
"Terima kasih, Bu." Jawab Ana dengan senyum yang tertahan.
 
Pemilik kost itu hanya melirik sekilas. Tubuhnya merinding kala Ana mengetok pintu tepat pukul 12 malam. Dipikirannya hanya ada pemikiran buruk. Apalagi melihat Ana dengan pakaian kacau dan acak-acakan. Bahkan wajahnya yang mengerikan itu terlihat karena keringat yang mengucur begitu deras hingga menyingkapkan poni bagian kanannya. Pemilik kost itu tentu saja terkejut. Wajah buruk itu terlihat seperti hantu di film horor. Namun, melihat Ana yang menangis sesenggukan mampu meluluhkan hatinya.
 
"Nak. Jika boleh tanya..." Ucapan Ibu itu tergantung di tengah-tengah. Ia ragu untuk menanyakannya. Namun ia juga penasaran. "Ada apa dengan mata kananmu?" Tanyanya pelan.
 
Ana hanya melirik sekilas. Pasti cepat atau lambat pemilik kost itu akan bertanya. Ana bukanya malu. Hanya saja ia takut. Takut sang Ibu akan lari terbirit-birit seperti yang orang-orang lakukan padanya.
 
"Sebenarnya..." Ucapannya pelan dengan menggantung kalimatnya. Ana melanjutkan dengan menarik napas panjang. "Ini adalah mata setan." Jawabnya sambil menunjukkan mata kanannya yang mengerikan.
 
Sang pemilik kost itu terkejut. Ia tidak menyangka akan semengerikan itu jika terlihat semuanya. Rasa takut mengerayapi tubuhnya bahkan bulu kuduknya sudah terangkat semua. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia menolong gadis setan sepertinya.
 
°°°
 
Pagi itu semua menatap heran padanya. Memandangnya dengan rasa penasaran yang kentara. Semua menatap dengan mata mereka yang mengejek. Ana tahu ia memang berbeda dari teman-temannya. Tapi entah bagaimana ia merasa akan ada hal baik yang akan menimpanya kali ini. 
 
Saat guru itu memperkenalkan Ana pada murid lain. Semua mendengarkan dengan teliti siapa tahu ada informasi penting tentang gadis itu. Mungkin itulah yang dipikirkan semua orang tentang asal usul gadis aneh tersebut.
 
"Ana. Kamu boleh duduk dengan Ashar ya."
 
"Terima kasih , Bu." Ucap Ana.
 
Ana berjalan menuju kursi yang kosong itu. Di sampingnya ada seorang murid laki-laki yang tengah tersenyum kepadanya. Mungkin lelaki itu belum melihat wajahnya yang mengerikan sehingga memberikan senyuman itu kepadanya. Ana tersenyum lalu duduk di bangkunya. 
 
Ashar tak banyak bicara kepadanya. Lelaki itu hanya memperkenalkan diri lalu berbincang sedikit kepada Ana. Sebenarnya Ana lebih suka keadaan hening seperti ini. Ia lebih menikmati kesendiriannya dari pada berbincang omong kosong terhadap orang lain. 
 
"Ana. Mau melakukan tour sekolah bersamaku? Kamu pasti belum hafal setiap jalan di sini." Ucap Ashar dengan senyum hangatnya.
 
"Terima kasih. Tapi aku lebih baik mengejar ketertinggalanku."
 
"Tenang saja. Nanti aku pinjamkan bukuku padamu, oke."
 
Ana bingung. Ia dengan senang hati mengikuti tour yang Ashar ajak untuknya. Namun, itu akan terasa sangat canggung jika hanya ada mereka berdua. Ana takut jika Ashar mengetahui wajahnya yang menyeramkan itu. Bahkan bukan hanya wajahnya yang menyeramkan semua yang ada pada diri Ana adalah hal yang menyarankan.
 
"Baiklah." Ucap Ana tak tega melihat wajah memelas Ashar. Rasanya Ana ingin menarik kata-kata itu lagi. Ia tak ingin hanya berdua saja dengan Ashar. Tapi ia juga belum memiliki teman di sini. Dan mungkin tak akan ada teman untuknya. 
 
"Oke. Saat istirahat temui aku dikantin." Ucapnya dengan senyum kepuasan. 
 
Ana memandang papan tulis itu. Banyak angka berderet dengan rapi di sana. Tapi tak satupun yang mampu Ana serap menuju otaknya. Ia hanya terlalu camas akan wajahnya yang buruk itu. Ia takut jika Ashar akan pergi darinya. Ia takut benar-benar takut.
 
Saat bel istirahat berdering. Ashar sudah tak ada di bangkunya. 25 menit lalu Ashar izin kepada guru tersebut untuk ketoilet namun, hingga kini lelaki itu belum muncul juga. Dan Ana tahu mungkin itu adalah trik konyol untuk memperpanjang waktu istirahat.
 
Ana berjalan dengan wajah menunduk. Ia takut dengan tatapan penasaran yang di tujukan padanya. Namun, saat suara yang ia kenal memanggilnya entah mengapa hatinya menjadi lega. Ashar melambaikan tangannya untuk mengarahkan Ana agar duduk bersamanya.
 
"Makan dulu ya. Perutku sudah berbunyi sedari tadi. Kamu juga pasti lapar kan?" Tanyanya.
 
Ana hanya memasang wajah datar dengan rasa takut yang lagi-lagi datang ke hatinya. Ia memandang Ashar yang menatapnya dengan senyum hangatnya. Entah mengapa hatinya menjadi lebih damai, ia merasa senyum itu seperti pahlawan yang akan melindunginya. Tapi ada sedikit hatinya yang memberontak karena ketakutan yang tak berdasarkan itu. Ana tidak sedang jatuh cinta bukan? 
 
 
 
 
 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani