Profil instastories

AN-NISA Part 4

Indah

(Tidak Seindah Namaku)

Gendut, jelek, berjerawat, monster, obesitas, beruang, bab*, truk tanki. Dan semua kata-kata yang menyakitkan hati. Indah menelannya habis-habisan. Ia tidak pernah marah, jika semua orang mengatakannya begitu. Karena itu memang kenyataan. Hanya saja, Indah merasa kesal jika itu sudah menjalar ke fisik.

Apa salahnya? Dia tidak minta dilahirkan dengan wajah dan bentuk tubuh seperti ini. Lantas kenapa orang-orang terlalu sibuk dengan hidupnya. Indah memang tidak dilahirkan seindah namanya. Hanya saja, andai dulu dia bisa meminta pada tuhan. Dia ingin terlahir kurus dan langsing serta cantik seperti Sarah.

Sarah gadis pintar dan cantik di sekolah. Sarah berbeda kelas dengan Indah. Jika Indah ada di IPS maka Sarah ada di kelas IPA. Semua yang ada di dalam diri Sarah di irikan oleh Indah. Setidaknya Sarah tidak punya kekurangan. Dan satu lagi, Sarah itu tidak pernah merasakan body shaming atau bahkan pembulyan.

"Heh bab* melamun aja lo, nih beliin gue roti di kantin. Jalan-jalan sekali-kali lo biar kurus jangan dekam aja di kursi. Entar patah lagi ha ha ha ha."

Indah hanya tersenyum, dia tidak menjawab hinaan yang menjadi makanannya sehari-hari. Jika mereka menganggapnya bercanda dan itu hal yang lucu biarlah. Tapi Indah punya hati, sekuat apa pun dirinya menerima. Satu bagian dari hatinya tentu saja sakit.

"Eh lo pada mau pesen gak? Sekalian itu biar kurus."

"Gue deh, roti kacangnya lima." 

"Gue juga yang isi coklat empat sama es jeruknya tiga."

Indah mengangguk-angguk, setelah berusaha mengingat-ingat ia menyodorkan tangannya.

"Apaan?" Tanya salah satu dari tiga orang yang menyuruhnya itu.

"Uang," ucap Indah pelan.

"Ya pake uang lo dulu lah, takut banget gak di ganti."

Indah menurunkan tangannya. Ini bukan kejadian sekali dua kali, tapi setiap hari. Dan seperti yang sudah-sudah, dengan pasrah Indah berjalan menuju kantin sekolah. 

Brukk

Indah terjatuh dengan berbagai roti dan es jeruk yang jatuh ke tanah. Ia menatap nanar makanan serta minuman itu dan melihat siapa yang telah menabraknya.

"Sarah?" Ucap Indah pelan.

"Maaf-maaf, aku gak sengaja." Perempuan bernama Sarah itu membungkuk membantu Indah bersiri serta membereskan segala roti yang berserakan.

"Tidak apa-apa," lirih Indah seraya menepuk-nepuk roknya.

"Maaf, tapi es jeruknya sepertinya sudah tidak dapat di konsumsi. Aku ganti ya."

"Tidak usah, itu salahku. Tubuhku menutup jalan sampai kamu terjatuh."

"Hei jangan ngomong begitu, memang aku tadi yang buru-buru sampai tidak melihat jalan." Sarah memeriksa kantung baju serta kantung roknya. Begitu menemukan uang satu lembar sepuluh ribuan, Sarah segera menuju gerai es jeruk. Membeli satu gelas es jeruk dan memberikannya pada Indah.

"Maaf ya, ini aku ganti. Oh iya, nama kamu siapa?"

"Terima kasih, aku Indah."

"Indah sekali lagi aku minta maaf, tapi sekarang aku sedang buru-buru. Kalau boleh tahu kamu kelas 22? Kalau-kalau kamu tidak puas sama ganti rugiku aku bisa mendatangimu kesana."

"Aku di kelas XI IPS, tapi tenang saja. Ini lebih dari cukup kok. Terima kasih ya."

"Kalau begitu aku pergi dulu ya, maaf buru-buru soalnya. Sampai jumpa lagi Indah." Sarah melambaikan tangannya pada Indah dan berlalu. Indah tidak menyangka akan dipertemukan dengan orang yang sudah ia kagumi sejak lama. Sarah memang baik hati, persis seperti dugaannya.

"Ini." Indah meletakkan satu kantung plastik besar di atas meja yang dikelilingi oleh para siswi teman satu kelas yang tadi memerintahnya. 

"Loh kok agak lempeng gini sih rotinya? Lo beli di tempat biasa kan?" 

"Iya, tempat biasa kok cuma tadi aku jatuh. Mungkin.. mungkin rotinya sedikit ke tekan pas aku jatuh."

"Ah gimana sih lo? Roti rusak kayak begini lo kasih ke gue. Gak ada gunanya banget sih. Terus ini kayak gimana dong?" Ucap salah satu siswi sembari melemparkan rotinya ke dalam plastik dengan kasar.

"Masih bagus kok dalamnya, kan tertutup bungkusnya."

"Lo jangan cari pembelaan deh, udah pergi sana!" Usir siswi itu dengan mengibaskan satu tangannya. Tapi Indah bergeming, ia enggan beranjak barang selangkah pun.

 

"Lo kok masih di sini?" Tanya salah satu dari ketiga siswi tersebut saat melihat Indah masih berdiri dan menatap mereka.

"Uangku belum diganti," lirih Indah bahkan hampir tak terdengar.

"Diganti? Hello lo itu kan orang kaya. Uang segini mah kecil buat lo. Ngapain minta ganti segala sih? Lagian ni roti udah rusak, udah gak pantas dapat uang ganti kali. Mikir dong! Otak lo dimana sih?" Salah satu dari mereka menoyor kepala Indah kasar.

"Tapi aku belum jajan, uangku udah habis buat beli roti kalian," ucapnya dengan suara yang sangat pelan.

"Apa? Apa? Buat jajan?" Perempuan itu memdekatkan telinganya ke mulut Indah. "Ha ha ha ha sorry, sorry mungkin gue salah dengar. Lo jajan? Gak usahlah, timbunan lemak di perut lo itu perlu di kurangi. Sebagai teman yang baik, gue berusaha nolong lo. Jadi pergi deh sekarang! Sebelum es jeruk ini nyiram muka lo. Hus.. hus..."

Indah menatap ketiga siswi yang sekaligus menjadi teman satu kelas di hadapannya. Matanya melirik sekilas ke roti yang berhamburan di atas meja. Menelan ludah dengan susah payah, Indah berlalu meninggalkan ketiga perempuan itu. 

Hah, apa tadi kata mereka? Rotinya rusak. Lantas kenapa sekarang mereka makan dengan sangat rakus. Sampai-sampai Indah bisa melihat dengan jelas. Plastik pembungkus roti itu masuk ke dalam mulut beserta roti-rotinya. 

Ah tiba-tiba Indah merasa lapar. Dibukanya dompet yang sedari tadi berada di kantongnya. Kosong, hanya satu lembar uang berwarna abu-abu yang mendiami dompetnya saat ini. Nasib-nasib, membelikan orang makanan sekarang malah dirinya sendiri yang tidak makan.

Indah memandang gawai yang ia letakkan di atas meja. Jika saja ia mau meminta lagi pada orang tuanya sudah pasti diberi. Tapi Indah tidak mau, rasanya jatah uang jajan yang diberikan orang tuanya seminggu sekali lebih dari cukup asal tidak ada yang merampas.

Apalagi Indah punya banyak kakak. Meski kaya raya, orang tuanya tentu tidak memikirkan dirinya seorang. Dua kakak perempuannya membutuhkan biaya sekolah yang cukup besar. Apalagi salah satunya kuliah di universitas kedokteran swasta yang biayanya sangat fantastis.

Kadang kala Indah ingin sekali melawan orang-orang yang menindasnya. Tapi dia tidak punya keberanian semacam itu. Indah pendiam dan tidak pandai menarik lawan bicaranya. Itu kelemahan Indah. Karena hal itu pula, dua tahun hidupnya di SMA ia jalani dengan penuh sepi. Tanpa seorang teman sekalipun.

Terkadang Indah berdoa, jika tidak dikabulkan menjadi seperti Sarah yang cantik dan pintar. Indah ingin diberi satu teman yang mengerti dirinya. Tidak memandangnya secara fisik dan mau berteman dengan tulus padanya.

Ah andai ada keajaiban semacam itu terjadi dalam hidupnya. Indah akan sangat bersyukur sekali.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.