Profil instastories

AN-NISA Part 3

Nada

(Kenapa Begini?)

Nada terdiam cukup lama. Otaknya masih berfikir dengan keras. Sembari melirik-lirik lelaki di depannya Nada memegangi kepalanya yang pusing setengah mati.

"Gimana? Apa jawaban Kamu?" Tanya lelaki itu.

Nada mendongak, sulit dan sangat sulit sekali dirinya memutuskan hal ini. Sungguh, ini sangat tiba-tiba buatnya.

"Boleh beri saya waktu Pak?" Tanyanya ragu.

"Tolong jangan panggil saya Pak, bukankah saya sudah pernah mengatakannya padamu. Jika di luar lingkungan kerja seperti ini, terserah kamu mau memanggil saya dengan sebutan nama atau ditambahi embel-embel lain asal bukan Pak."

"Maaf Pa... eh Tama." Nada menepuk-nepuk mulutnya. Hampir saja ia keceplosan lagi.

"Jadi, bisa kamu kasih alasan kenapa saya harus menunggu? Apa kamu tidak menyukai saya?" Ucap lelaki itu menatap Nada dengan intens. Membuat Nada semakin jengah. Ah dia benci ditatap sedemikian rupa oleh lelaki di depannya saat ini.

"Tidak, saya suka kok eh." Nada menutup mulutnya dan memejamkan mata. Astaga, mau ditaruh dimana mukanya saat ini? Masa, dengan gamblang dia bisa mengucapkan hal itu. 

Jika boleh jujur, Nada suka bahkan sangat menyukai lelaki di hadapannya ini. Wajahnya yang tampan dan sikapnya yang baik menambah nilai plus di mata Nada. Hanya saja, dia tahu diri. Lelaki di hadapannya saat ini adalah bos di tempatnya bekerja. Atas keberanian dari mana Nada berani menerima lamaran yang lelaki itu ajukan tiga puluh menit yang lalu.

Lagipula siapa dirinya saat ini? Sehingga sang bos bisa-bisanya mengungkapkan perasaan pada pegawai biasa seperti dirinya.

"Saya dengar loh, dan kamu tidak punya alasan lagi."

"Tapi saya hanya tidak enak hati. Tiba-tiba Bap.. maksudnya saya kamu melamar saya tiba-tiba seperti ini," ucap Nada hati-hati.

"Siapa bilang tiba-tiba."

"Maksudnya?" Ujar Nada tidak mengerti.

"Kamu tahu kenapa saya menerima kamu sebagai pegawai padahal saat itu kamu bahkan tidak mau menjelaskan asal-usul secara jelas?" Nada menggeleng, jujur saat itu dia tidak tahu menahu. Yang ada di dalam fikirannya bosnya itu orang baik. Dan Nada membutuhkan pekerjaan.

"Saya suka kamu Nada, dari pertama kita bertemu. Kamu mengingatkan saya pada seseorang. Dan itu yang membuat saya jatuh cinta."

Nada terdiam hatinya berbunga. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tapi Nada penasaran dengan 'seseorang' yang dimaksud Tama, bosnya itu.

"Jadi, bagaimana?" Tanya Tama kemudian.

"Beri saya waktu tiga hari Tama, saya yakin akan menjawabnya setelah itu."

"Wah, saya pikir kamu akan berubah pikiran. Tapi baiklah, saya akan menunggu. Tiga hari ataupun seminggu asal kamu menjawabnya dengan huruf hijaiyah yang terakhir. Maka saya bersedia."

Nada menatap Tama, sejenak ia berfikir. Huruf hijaiyah yang terakhir, apa itu? Saat sesuatu terlintas di kepalanya Nada bisa melihat Tama tersenyum menatapnya sembari menaik turunkan kedua alisnya. 

***

Melangkah dengan semangat Nada memasuki gerbang panti. Ada rasa yang aneh menjalar ke seluruh tubuhnya saat ini. Apalagi saat dirinya mengingat-ingat ucapan bosnya, eh maksudnya Tama. Tidak terasa senyumnya terbit seketika.

"Ibu jangan pergi!"

Langkah Nada terhenti, demi mendengar suara seseorang yang dikenalnya, ia berlari masuk ke dalam panti. Dilihatnya Bu Rani dan beberapa orang adiknya sedang bersiteru.

"Ada apa?" Lirihnya pelan.

"Kak Nada, tolong bujuk Ibu Rani. Beliau mau pergi dari sini," ucap seorang anak perempuan kecil yang tiba-tiba berlari ke bawah kaki Nada.

"Benar Bu?" Tanya Nada sembari melirik ke belakang tubuh Bu Rani. Ada dua tas yang cukup besar berada di sana.

Bu Rani tidak menjawab, dirinya hanya menunduk. Merasa terintimidasi oleh Nada yang sedang menatapnya lekat.

"Kenapa? Maksudnya tiba-tiba Ibu memutuskan untuk pergi. Apa kami berbuat salah? Atau kami menyakiti hati Ibu?" Bu Rani menggeleng masih enggan untuk menjawab.

"Lantas kenapa Bu?"

"Para donatur telah mencabut bantuan mereka Nada. Panti asuhan tanpa donatur itu mustahil."

"Hanya karena itu? Hanya karena itu Ibu memutuskan untuk pergi? Kalau masalah donatur, Nada bisa carikan Bu, atau Nada akan bekerja keras untuk panti. Itu bukan masalah."

"Bukan masalah? Justru itu masalah Nada, karena semua donatur tidak akan ada yang mau menyumbangkan dananya untuk seorang pembunuh," lirih Bu Rani pelan dan tegas tepat di depan wajah Nada sehingga hanya Nada yang bisa  mendengar semua ucapan Bu Rani.

Pembunuh? Nadia tertegun sejenak. Sebenarnya ada apa dibalik semua ini?

"Tapi, bukankah rumah ini milik Ibu. Kenapa Ibu harus pergi?" Tanya Nada kembali. Mengabaikan rasa aneh dihatinya saat Bu Rani mengucapkan kata pembunuh.

"Rumah ini sudah Ibu jual. Pembelinya memberikan waktu seminggu untuk meninggalkan rumah ini. Segeralah berkemas dan bawa adik-adikmu pergi. Assalammu'alaikum." 

Bu Rani pergi menenteng dua tas besarnya dengan kesusahan. Anak-anak panti yang lain berusaha mencegah Bu Rani pergi. Hanya Nada yang masih berdiri terpaku di tempatnya semula. Membiarkan Bu Rani pergi dengan berbagai spekulasi yang berseliweran di kepalanya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Bu Rani hilang di balik pagar. Anak-anak panti tidak bisa mencegah. Mereka kini berbalik dan menyerang Nada.

"Kenapa kakak membiarkan Bu Rani pergi?"

"Kakak tidak sayang Bu Rani?"

"Kenapa kakak diam saja?"

Diam, dan hanya diam sampai semua adiknya lelah bertanya ini itu. Anak-anak panti memilih untuk memasuki kamar mereka masing-masing. Nada terduduk enggan membuka suara. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran.

Drrt drrt

Gawai Nada bergetar, ia segera mengambilnya dari balik saku. Nomor tidak dikenal menghubunginya. Tanpa ragu Nada mengangkatnya. Hal yang aneh, karena Nada jarang mengangkat telpon jika nomor yang menghubunginya tidak terdaftar di gawai miliknya.

"Halo Nada," ucap suara di sebrang telepon dengan riang. Nada menautkan kedua alisnya. Masih merasa asing, siapa orang yang berbicara dengannya saat ini. Kenapa tahu namanya.

"Siapa?" 

"Astaga keponakanku tersayang, kenapa kamu bisa lupa pada pamanmu yang baik hati ini?"

Mata Nada sontak membesar serta memerah. Sang paman, berani sekali orang itu menelponnya.

"Kenapa tiba-tiba kau menelponku?" Ucapnya kasar. Sopan santun? bodo amat dengan kedua kata itu. Pamannya tidak pantas untuk mendapatkan sopan santun darinya.

"Astaga kasar sekali Nada, tapi tidak apa-apa. Itu pantas untuk dirimu. Jadi bagaimana rasanya?" Ucap sang paman memberi jeda. "Kehilangan sosok Ibu panti dan para donatur yang menunjang hidupmu?"

"Paman yang ada dibalik semua ini?"

"Bingo, benar sekali. Ternyata Nada yang sekarang lebih pintar dari Nada kecil dulu."

"Kenapa paman melakukan hal ini?"

"Tentu saja untuk menyulitkan hidupmu. Dulu, saat aku memutuskan untuk membiarkanmu hidup kau pikir aku serius. Oh tentu tidak, ada harga yang harus kau bayar dengan mahal Nada atas apa yang telah kau perbuat. Dan aku ingin kau menebusnya saat ini. Bagaimana, menyenangkan bukan? Pembunuh."

"DIAAM," teriak Nada dengan kencang dan mematikan gawainya. Nafasnya naik turun tidak teratur, wajahnya memerah menahan emosi. 

Semua anak panti yang sedari tadi berada di dalam kamar kini keluar karena mendengar teriakan Nada. Mereka mengintip dari balik pintu. Tidak ada yang berani menghampiri Nada saat ini. 

Sementara Nada dengan segala kegundahannya menelungkupkan wajah di kedua lutut. Baru saja kebahagiaan menghampiri dirinya. Masih terbayang wajah Tama yang melamarnya tadi. Lalu sekarang, dengan tiba-tiba Allah menimpakannya musibah yang sangat-sangat tidak dia duga.

Ya Allah, kenapa begini?

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.