Profil instastories

AN-NISA Part 2

NADIA

(Ingatan Yang Kembali)

Nadia bersenandung ria sembari berjalan masuk menuju kantor tempat dirinya bekerja. Kala ditemuinya seseorang yang kira-kira dikenalnya. Maka Nadia tersenyum dan menyapa orang tersebut. Juga, saat ada seseorang yang tidak dikenalnya ia tetap tersenyum.

Nadia memang ramah pada semua orang. Karena ia tahu senyum adalah ibadah. Dan Nadia tidak ingin melewatkan hal itu. Wong hal mudah saja bisa jadi ibadah kenapa tidak dilakukan.

Langkah kakinya terhenti di depan sebuah loker bernomor 15. Ia merogoh-rogoh kantong tasnya.

"Ketemu." Lirihnya pelan kemudian mengambil benda yang sering disebut orang dengan kunci. Nadia membuka pintu loker di depannya. Mengambil satu seragam berwarna biru yang di selimuti plastik. Lalu membawanya ke toilet.

"Shift pagi Nadia?" Nadia mendongak, seseorang di sampingnya tersenyum manis sedang menatapnya dari balik kaca.

"Iya mbak Tia, minggu kemarin kan siang. Ini gantian sama Dani," ucapnya sambil tersenyum juga. Membenahi kancing bajunya yang ternyata keselip. Merapikan hijabnya yang sedikit  kusut.

"Mbak duluan ya ." 

"Iya mbak."

Mengemasi baju-baju serta barangnya. Nadia menatap ke sekeliling toilet. Takut-takut kalau ada barangnya yang tertinggal. 

Setelah meyakinkan diri tidak ada barangnya yang ketinggalan. Nadia beranjak meninggalkan toilet. Berjalan menuju loker, meletakkan barangnya di sana. Dan mulai mengambil alat tempurnya.

Sapu, pel, pembersih lantai, tempat sampah, pembersih kaca. Dan semua hal tentang kebersihan lainnya yang dia jalani setiap hari. Rutinitas, tidak ada yang berubah dan pekerjaannya itu selalu sama.

Sebenarnya Nadia sangat malas masuk shift pagi. Selain karena dirinya yang selalu mengantuk, shift pagi itu sangat melelahkan. Para direktur dan bos kebanyakan mengadakan rapat penting pada pagi hari. Nadia harus kerja ekstra cepat dan rapi jika tiba-tiba saja mereka akan mengadakan rapat.

Seperti, harus membersihkan seluruh ruangan. Menyediakan air serta snack untuk para staf yang hadir. Kalau boleh jujur itu sangat melelahkan. Jika bisa, Nadia hanya ingin bekerja di shift siang saja.

Tapi apa daya, peraturan tetap peraturan. Para office gir dan office boy diwajibkan bertukar shift selama satu minggu. Nadia mau tidak mau harus menerima itu. Yah, meski itu juga terbayar dengan gajinya yang lumayan besar walau perkerjaannya dibagi dua shift.

"Nadia." 

Menghentikan pekerjaannya Nadia menoleh.

"Pak Haris, ada apa?" 

"Selesai pekerjaanmu, tolong buatkan kopi ya! Dan antar ke ruangan saya," ucap pria tampan itu kemudian.

"Baik Pak," balas Nadia tersenyum ramah. Menyiapkan pekerjaannya yang memang tinggal sedikit. Menyimpan alat tempurnya dan berlalu ke pantry.

Meski Nadia selalu membenci shift pagi. Ada satu hal yang dia syukuri. Yaitu pekerjaannya saat ini. Yap, membuat kopi untuk Haris. Karyawan paling tampan di kantornya. 

Haris selalu dan selalu meminta dibuatkan kopi di waktu yang sama. Yaitu pada pagi hari. Yang Nadia tahu, laki-laki itu tidak akan bisa bekerja jika tidak meminum kopi barang satu tetes. 

"Kalau menurutmu siapa?"

Masuk ke pantry Nadia menemukan dua orang karyawan perempuan yang sedang mengobrol. Setelah mengangguk sungkan, Nadia mengambil gelas. Memasukkan gula, kopi serta susu ke dalamnya. Dan menunggu air panas.

"Suaminya sih, di berita juga diberitahu kalau sang istri mengalami KDRT. Mungkin ia melakukan itu untuk membela diri."

"Mungkin saja, tapi ada yang aneh. Menurut kesaksian tetangga. Ada yang melihat Istri korban kabur, nah setelah itu ada seseorang yang mencoba masuk dan jeritan nyaring terdengar. Setelah itu para tetangga datang dan melihat korban sudah penuh tusukan."

Sembari menyiapkan kopi Nadia mendengarkan dengan seksama. Maklumlah ia tidak punyaj tv atau gawai yang bisa digunakan untuk menjelajah dunia internet. Nadia hanya punya gawai jadul yang hanya bisa digunakan untuk telpon dan sms. Jadi untuk mengetahui berita-berita update terbaru. Nadia harus memasang telinga lebar-lebar.

"Seseorang itu, bisa jadi hanyalah saksi."

"Tapi bisa juga sebagai pembunuh. Kamu tahukan kasus KDRT yang sedang marak terjadi ini kebanyakan faktor penyebabnya adalah perselingkuhan."

Kedua karyawan perempuan itu mengangguk-angguk. Merasa mendapatkan sebuah clue.

Air panas mendidih, Nadia tersadar dari kegiatannya menguping pembicaraan dua karyawan itu. Dirinya bergegas menyeduh kopi yang sudah dipersiapkannya. Menaruhnya di atas nampan setelah itu keluar dari pantry.

Sekilas sebelum keluar dari pantry Nadia melirik ke dua karyawan itu. Mereka masih membahas dengan seru dan berspekulasi yang membuat Nadia tertarik. Sungguh, Nadia merasa penasaran tentang berita yang dibicarakan dua karyawan itu. Tapi dia harus bergegas, jika tidak ingin kopi di tangannya dingin.

"Permisi Pak," ucap Nadia dari balik pintu.

"Masuk!"

Nadia masuk keruangan Haris, dilihatnya pria itu sedang menyusuni berkas-berkas di atas meja. Dengan hati-hati, Nadia meletakkan kopi di atas meja. Berjauhan dengan berkas-berkas yang sedang disusun Haris.

"Terima kasih." 

"Sama-sama Pak."

"Oh iya Nadia." Nadia berbalik saat dirinya sudah hampir hilang di balik pintu. 

"Perlu apa lagi pak?" 

"Ah tidak, saya hanya mau minta tolong. Bisa kamu hidupkan tv itu," ucap Haris menunjuk tv yang ada berada cukup jauh di sampingnya. "Remotnya ada di atas sofa."

Mengambil remote yang ada di atas sofa. Nadia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Tekan apa ya Pak?"

 Haris menoleh, dilihatnya Nadia menatapnya dengan tanya.

"Paling atas sebelah kanan, yang warna merah bentuk bulat."

"Yang ini?" Tunjuknya.

"Iya, yang itu." Nadia mengangguk paham dengan bibir membentuk huruf 'o', sementara Haris tersenyum melihatnya.

Berita pagi ini

Korban bernama Guntur yang ditemui tewas di rumahnya. Telah diidentifikasi polisi. Di duga korban ditusuk oleh pisau tajam dengan dua belas tusukan di perut serta di dada. Terduga pelaku, istri korban 'Ayana Yasmine' kabur setelah menghabisi nyawa suaminya tersebut. Polisi masih menduga, motif pembunuhan ini terjadi karena faktor perselingkuhan.....

"Ayana Yasmine?" Gumam Nadia. Haris yang melihat Nadia masih berada di ruangannya menatap wanita itu dengan heran.

"Kamu mengenalnya?" 

Nadia mendongak dan menurunkan tangan yang semula berada di dagunya.

"Ti..dak," ucapnya ragu. Karena sepertinya, Nadia pernah mengenali perempuan itu dan dan namanya terdengar familier. Tapi bukankah nama Ayana banyak di dunia ini.

"Nadia, kamu tidak apa-apa?" 

Nadia terlonjak, tanpa sadar dia menggeleng cukup kencang. "Tidak Pak, saya baik-baik saja. Permisi." Ucapnya keluar dari ruangan Haris dengan nampan di dada.

Ayana.

Ayana.

Ayana Yasmine.

Kenapa nama itu sangat familier, seolah Nadia pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki nama tersebut.

"Akh," ringisnya sembari memegangi kepala. "Kenapa tiba-tiba sakit begini?"

Lari.... lari 

Pergi...cepat pergi dari sini

"Akkkhh," jeritnya. Sekelibatan seorang gadis kecil muncul dan mendorong-dorong tubuhnya. 

Lari...cepat lari jangan pedulikan aku. 

Lariiii.... aku mohon

Nampan yang semula di dekap Nadia terjatuh ke lantai. Menimbulkan bunyi berisik yang menarik perhatian semua orang. Orang-orang yang berlalu lalang segera berkerumun mendatanginya.

"Mbak..mbak kenapa?" Tanya seorang wanita. 

"Akhh sa..kiit, sakit sekali." Teriak Nadia, sekelibatan serorang gadis muda cantik muncul di kepalanya.

"Mbak anda baik-baik saja?" Seorang wanita berada tepat di depan wajah Nadia. Namun samar-samar wajah wanita itu berubah-ubah. Menjadi seorang gadis kecil dan tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis muda bergaun merah.

Larii.. lari Nadia. Keluar dari siniiii

"Mbak?"

Cepat...cepat... jangan pedulikan aku.

"Mbak?"

Brukk

Tubuh Nadia luruh di atas lantai. Orang-orang berkerumun membantunya. Dia tidak mengingat apa-apa. Yang ada di kepalanya hanyalah gambaran anak kecil yang terus mendorongnya dan seorang gadis muda bergaun merah yang terus meneriakkan kata 'lari'.

"Cepat! Telpon ambulans." Ucap wanita yang berada di dekat Nadia.

Bahkan saat orang-orang membantu Nadia, membawanya masuk ke dalam mobil berwarna putih. Dirinya sudah tidak ingat apa-apa lagi.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.