Profil instastories

AN-NISA Part 1

AYANA

(Takdir Tidak Sesuai Harapan)

Menurut satu hal yang pernah Ayana pelajari pada guru ngajinya dahulu. Perempuan yang baik untuk lelaki yang baik. Perempuan yang buruk untuk lelaki yang buruk pula. Guru ngajinya itu mengutip sebuah ayat di dalam Al-qur'an. Entah surat apa dan ayat keberapa Aya tidak tahu. Ia lupa, itu sudah lama sekali.

Berbekal pengetahuan itu, Aya berusaha memperbaiki diri untuk menjadi perempuan yang baik agar kelak jodohnya juga orang yang baik. Tidak henti-hentinya ia berdoa pada tuhan agar mengabulkan doanya. Tidak muluk-muluk padahal. Hanya meminta jodoh yang baik untuknya.

Tapi Tuhan berkata lain.

Lebam, sakit dan perih di tubuhnya saat ini tidak menunjukkan bahwa ia sedang baik-baik saja. Laki-laki yang dianggapnya sebagai pelindung, laki-laki yang dianggapnya sebagai orang baik, laki-laki yang ia kira akan menjadi imamnya. 

Pembimbingnya menuju surga. Meraih jannah Allah bersama-sama. Kini telah melukainya, bukan hanya fisik tetapi juga batin.

Aya tidak pernah tahu apa salahnya. Padahal, Aya sudah berusaha menjadi yang terbaik buat suaminya itu. Perjalanan menuju jenjang pernikahan sangat indah menurutnya. 

Namun semua godaan dan terpaan ujian pernikahan tidak mampu dia hadapi. Apalah daya dirinya sekarang. Aya hanya bisa menangisi takdirnya saat ini.

"Mbak?" 

Aya mendongak kala satu suara menerpa gendang telinganya. Seorang lelaki yang sepertinya berumur sekitar tiga puluhan berdiri di hadapannya mengenakan jaket ojek daring sedang menatapnya penuh tanya. Wajahnya yang teduh sedang menatapnya khawatir.

Pandangan Aya mengabur, dia sangat malu. Rasanya ingin sekali menangis. Kenapa orang asing  ini berdiri di hadapannya dan melihat keadaannya yang seperti ini. 

Aya berusaha bangkit dari duduknya. Aya berusaha pergi dari bangku taman yang dia duduki tiga jam yang lalu. 

Ya, sudah tiga jam lamanya dia berada di sini untuk menangisi takdirnya. Bahkan matahari sudah kembali ke peraduannya tanda senja telah tiba.

"Aww," ringisnya sembari memegangi betis kaki. Aya terkejut kala dilihat tangannya tidak sengaja menyentuh ke betisnya yang penuh luka. Ada darah yang mengalir disana. Tidak banyak, namun cukup membuatnya bergidik ngeri.

"Mbak, tidak apa-apa kah? Mau saya bawa kerumah sakit?" 

Aya bergeming, dia tidak mau menjawab pertanyaan maupun pernyataan laki-laki itu. Namun saat dirinya tidak sanggup lagi menopang tubuh yang sudah terlihat sangat lemah. Aya oleng dan dengan sigap, lelaki yang mengenakan jaket ojek daring itu menangkapnya.

"Mbak bangun! Mbak, astaghfirullah..."

Aya tidak dapat mendengar apa pun. Bahkan saat dia merasa mulai banyak orang-orang berkerumun di sekitarnya. Telinganya berdenging nyaring saat kerumunan orang itu berteriak-teriak memanggilnya. 

Sampai Aya menutup matanya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Ia hanya bisa pasrah pada kehendak Tuhan. Yang Aya yakini, tidak akan pernah salah memilihkan takdir hidupnya.

***

"Banyak luka lebam dan memar di tubuhnya. Kalau boleh tahu Bapak ini siapanya? Suaminya kah?" Tanya seorang laki-laki berjas putih pada laki-laki dengan jaket ojek daring yang melekat di tubuhnya.

"Oh tidak Pak Dokter," ucapnya sembari melambaikan kedua tangan. "Saya cuma orang yang kebetulan lewat."

"Baiklah Pak, kalau bisa Bapak hubungi keluarga Ibu ini agar administrasinya segera diurus."

"Terima kasih dokter."

"Sama-sama."

Laki-laki berjas putih yang dipanggil dokter itu berlalu meninggalkan Ayana dan laki-laki yang mengenakan jaket ojek daring itu di satu ruangan.

Laki-laki yang mengenakan jaket ojek daring itu berjalan dengan gelisah. Ia berulang kali melihat ke arah perempuan berhijab yang terbaring di tempat tidur ruangan serba putih ini. Entah apa yang dirinya fikirkan. Sampai akhirnya, laki-laki itu keluar dari ruangan tempat dimana Ayana dirawat.

"Euh." Lenguh Ayana begitu dirinya membuka mata. Dilihatnya seluruh ruangan tempat saat ini dirinya berbaring. Ayana sangat yakin ini bukan dirumahnya, karena dirinya tahu kalau saat ini di rumah, dirinya pasti tidak akan bisa berbaring dengan tenang.

Sepi, itulah yang dirasakan Aya kala ia melihat sekeliling ruangan. Hah...apa yang sebenarnya dirinya harapkan. Laki-laki itu ada di sini? Tidak mungkin, bahkan melihat wajahnya saja dia sudah muak.

Tapi Ayana tidak memungkiri. Saat ini dia butuh seorang teman. Tapi siapa yang mau menjadi temannya? Sudah pasti tidak ada. Lalu saudara? Satu pun Aya tidak punya di dunia ini. Sejak lahir hidupnya sudah sebatang kara. Sampai laki-laki yang mengambilnya menjadi istri berjanji untuk menjaganya, lalu dia pulalah yang menyakiti. 

Ceklek

Pintu ruangan terbuka, Aya buru-buru mengusap sudut matanya. Namun saat dilihatnya siapa yang datang Ayana tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Mas yang tadi nolongin saya? kenapa masih di sini?" Tanyanya pada laki-laki yang memakai jaket ojek daring di hadapan. "Ehm maaf, saya tidak bermaksud untuk mengusir. Terima kasih sudah menolong saya." Ucapnya kemudian saat tiba-tiba dirinya diliputi rasa bersalah akibat ucapannya tadi.

Laki-laki dengan jaket ojek daring yang melekat di tubuhnya tersenyum samar. "Nama saya Jaka Mbak, sama-sama. Saya cuma sekedar lewat dan menolong. Selain saya, juga ada beberapa warga yang ikut menolong juga."

Ayana terdiam, ia menunduk. Jaka yang diketahui sebagai orang yang menolong Aya itu membuka suara lagi.

"Mbak, ada nomor keluarganya kah? Boleh saya hubungi?"

Ayana terlonjak, ia berfikir kemudian. Keluarga? Apa masih pantas orang itu disebutnya sebagai keluarga?

"Mbak?" 

"Saya tidak punya keluarga Mas."

Jaka menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

"Kalau suami mbaknya?" Tanyanya hati-hati.

"Dia sudah mati."

"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."

 Ayana menoleh sekilas pada laki-laki di sampingnya. Tidak lama senyumannya terbit. Maksudnya berkata begitu sebagai harapan terpendam, hanya saja laki-laki bernama Jaka disampingnya beranggapan serius.

Sebenarnya suaminya sehat, sangat sehat malah. Sampai bisa memukulinya dengan babak belur seperti ini. Dirinya yang berharap sangat suaminya mati saat ini juga.

"Kenapa mbak?" Tanya Jaka cemas kala dilihatnya Ayana tersenyum secara tiba-tiba. 

"Tidak apa-apa."

"Oh iya, ini mbak ada makanan. Silahkan dimakan! Mbak belum makan kan?" Ucap Jaka menyerahkan kantung plastik yang sedari tadi ia pegang.

"Tidak usah mas terima kasih. Untuk masnya saja, nanti saya..."

Kruyuk

Jaka tersenyum, Aya tertunduk malu. Perutnya berbunyi di saat yang tidak tepat. Padahal dirinya sudah sangat malu. Kini ditambah organ tubuhnya yang tidak sejalan dengan fikirannya membuatnya semakin malu.

"Makan saja mbak, silahkan!" Jaka menyodorkan kantung palstik putih itu di hadapan Aya. Ragu-ragu Ayana menerimanya.

"Masnya tidak makan?" Tanya Ayana saat dilihatnya Jaka hendak keluar dari ruangan.

"Saya sudah, mbak silahkan makan saja. Saya keluar sebentar, takut kalau mbak sungkan makan karena keberadaan saya."

"Terima kasih," lirih Aya pelan dibalas dengan anggukkan singkat oleh Jaka. 

Ayana membuka kantung plastik di pangkuannya setelah Jaka keluar dari ruangannya. Mie ayam, makanan kesukaannya.

Ayana makan dengan lahap karena sedari tadi pagi dirinya belum makan. Mengingat hal itu memorinya berputar. Sekelibatan kejadian tadi pagi berputar di memorinya selayaknya siaran ulang, hal yang membuatnya lari dari rumah.

***

Empat jam sebelum Ayana babak belur

"Bagi duit!" Ayana menoleh, gerakannya memotong bawang terhenti kala ia melihat suaminya mengulurkan tangan dengan angkuh.

Aya menghela nafas mencoba berbicara dengan lemah lembut, "aku belum gajian mas. Uangku juga sudah habis untuk keperluan rumah. Bayar listrik, gas, air, bahan dapur, sama sewa rumah. Mas kan gak kerja, jadi semua uangku yang mendalangi kebutuhan di rumah ini." Aya menunduk, takut-takut dia melihat suaminya.

"Oh, udah mulai perhitungan lu ya? Berani lu ngungkit-ngungkit semua uang yang lu hasilkan. Heh.."

"Aww sakit mas." Aya memegangi rambutnya, berusaha melepaskannya dari tangan sang suami.

"Lu harusnya bersyukur, gue udah baik ngambil lu jadi istri. Lu harusnya balas kebaikan gue, jadi istri yang baik. Nurut sama gue, gak usah ngelunjak lu. Kalau mau, dulu gue bakal telantarin lu di jalanan."

Aya menangis, selain tarikan di rambutnya bertambah kuat. Aya menyadari satu hal. Dia berhutang budi pada orang yang sedang memperlakukannya dengan kasar ini. Kalau bukan karena suaminya, Aya pasti sudah mati.

Tapi, apa dirinya tidak boleh berharap banyak. Dulu fikirnya, suaminya ini akan menyayanginya dan memperlakukannya seperti ratu karena dengan berani mengambil resiko untuk menolongnya dari orang-orang jahat yang ingin menjual dirinya.

Ibarat keluar dari mulut singa masuk ke mulut harimau. Aya tidak mendapatkan apa pun yang ia harapkan. Nyatanya, suaminya itu memanfaatkan dirinya untuk menjadi ladang uang.

Tenaga Aya di peras habis-habisan untuk memenuhi keinginan suaminya. Sementara suaminya, hanya ongkang-ongkang kaki di rumah menunggu uang yang dihasilkan Ayana dari kerja kerasnya.

"Kok diem lu? Mana duitnya? Siniin!" Guntur menarik lebih kuat rambut Ayana. 

"Gak ada Mas, habis tidak bersisa. Semalam aku bayar uang sewa rumah. Nunggak dua bulan, uang yang kuberikan pada mas untuk bayar uang sewa kenapa tidak mas berikan pada Ibu pemilik kontrakan. Aku...."

"Ah banyak bacot lu, tinggal kasih duit aja ribetnya minta ampun."

"Ya allah..."

Ayana terjatuh membentur dinding setelah Guntur yang menarik rambutnya melepaskannya dengan keras. Tanpa ba bi bu, Guntur memukuli Ayana. Tidak peduli dimana pun asal di dapatnya tubuh Ayana, maka dia akan memukuli dengan habis-habisan. 

Tunjangan, makian, tendangan, pukulan. Semua dirasakan Ayana. Berkali-kali dia mencoba menghindar bahkan menutupi tubuh dengan sesuatu. Tapi emosi guntur semakin menjadi-jadi. Dia memukuli Ayana tanpa ampun. Bahkan Ayana merasakan sesuatu yang amis dan kental menetes dari dahi dan keluar dari mulutnya.

Meski ini pukulan entah keberapa kali yang dirinya terima karena alasan yang sama. Rasa sakitnya lebih parah dia hadapi. Jujur, Ayana merasa nyawanya diambang batas. Tapi, ia tidak mau mati sekarang. Apalagi ditangan laki-laki laknat yang bahkan tidak pantas dia sebut sebagai suami.

Sekuat tenaga Ayana berontak. Kala Guntur hendak menendangnya lagi. Dengan sisa-sisa kekuatannya Aya menarik kaki Guntur hingga laki-laki itu terjerembab dan jatuh seketika. 

Aya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan langkah terseok dia berlari menuju pintu. Sedikit lagi, hanya lima langkah lagi dia bisa keluar dari rumah ini.

 

"Aww..." Ayana meringis, langkahnya terlalu lambat untuk Guntur. Suaminya itu menarik baju belakangnya hingga dia terjatuh dengan kepala membentur lantai.

"Mau kemana lu? Udah berani lu ngelawan gue? Mau gue bunuh lu sekalian?" Guntur menarik kemudian mencekik Ayana hingga perempuan itu berdiri menyandar dinding sampai berjinjit.

"To...long." 

Plakk

Ayana terlempar ke samping, Guntur menamparnya dengan sangat keras. Bahkan dia merasa giginya ada yang patah. Bibirnya juga robek dan menyisakan rasa perih yang amat dalam.

Dengan mata dan wajah yang sudah membengkak, samar Aya melihat satu vas bunga dari kaca yang berada di atas meja tidak jauh dari tempat dirinya terjatuh. Melihat kesempatan, meski sempit Aya mengambil resiko.

"Heh... gue itu udah baik sama lu. Kalau kayak begini lu udah gak berguna lagi buat gue. Jadi mending lo aja yang...."

Prangg

"Ma...ti." Guntur berdiri dengan limbung kemudian terjatuh dengan kepala berdarah. Di depannya Ayana berdiri dengan tangan gemetar. Ia terduduk seketika dan menutup wajah serta mengangis.

"Aku mem...bunuhnya?" Aya bergerak mendekati Guntur. Diperiksanya, Guntur masih bernafas. Ayana lega, namun kelegaannya tidak berlangsung lama saat dilihatnya Guntur kemudian bergerak dan sadar dari pingsannya.

Ayana tidak ingin membuang waktu. Sebelum Guntur membuka kedua matanya. Dengan langkah limbung dan terseok-seok Aya berhasil sampai ke pintu. Disambarnya hijab yang memang sengaja digantungnya di dekat pintu. Buru-buru Aya membuka pintu. Syukurnya, saat ini pintu tidak sedang dikunci.

Ayana berlari keluar dan terus berlari. Mengabaikan orang-orang yang berlalu lalang memandanginya dengan tatapan tanya. Entah kemana langkahnya membawa pergi. Yang ada di pikirannya, dia harus terbebas dari laki-laki durjana itu. Meski ke ujung dunia sekalipun.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani