Profil instastories

AmNesya

“gila ya tuh kakak kelas” gadis berseragam pramuka itu berucap kesal seraya menghampiriku yang tengah  membaca novel di teras rumah.

“bayangin deh, baru penerimaan tamu ambalan aja udah suruh push up” omelannya berlanjut dengan semangat menceritakan kegiatannya tadi malam. “untung kak Pradananya ganteng” rautnya berubah senang dengan mata berbinar dan senyum tercetak jelas di wajahnya.

Gadis itu melepas hasduknya kemudian duduk di sebelahku. “enak ya yang gak berangkat” nada ketusnya menyindirku.

“namanya juga lupa” jawabku santai tak menghiraukan nya.

“dasar amNesya” gadis menyebalkan tadi melemparkan name tag bertuliskan ‘Kirana’ yang sebelumnya terpasang di baju coklatnya itu. Langkah temanku itu pun membawanya pulang ke rumahnya yang tepat berada di samping rumahku.

Namaku Nesya, dan aku pelupa.
Lupanya diriku gak pandang bulu. Bahkan acara wajib sekolah seperti penerimaan tamu ambalan saja aku tak mengingatnya.
Sebutan ‘amNesya’ dari Kirana bukannya mendatangkan karma buruk malahan sebaliknya. Pernah ku berfikir, lupa ku adalah diamnya orang lain untuk menghindari masalah. Sempat pula muncul pemikiran, lupa ini adalah keberuntungan bagiku. Kata lupa setiap hariku, setiap hari itu juga dewi fortuna datang padaku.

“lupa itu bukan alasan” diriku hanya diam saat kakak kelas yang menyebut dirinya Pradana itu mengintrogasiku.

“buat laporan kegiatan penerimaan tamu ambalan di kertas folio kumpulkan besok jam istirahat di sanggar” ucapnya kesal tanpa jeda disetiap katanya. Setelahnya dirinya pergi bahkan tak berniat mendengar jawabanku.

Aku kesal. Bukan karena di perlakukan ketus, tapi sejak kembali ke kelas dan selama itu juga aku mengingat-ingat tugas yang diberikan kak Pradana tadi. Aku lupa. Entah keberapa kalinya sampai diriku tak sadar akan syndrom lupa ini yang semakin parah.

“karena lupa, lo juga bisa ngobrol sama kak Pradana?! amNesya lo karma baik ya” kalimat iri kirana keluar dari mulutnya saat aku selesai menceritakan kejadian di sanggar tadi.

“masalahnya, gue gak inget hukumannya apa. Lo tau kak Pradana kelas berapa?” tanya ku dengan polosnya.

“dan sekarang lo mau ketemu kak pradana lagi untuk kedua kalinya?!” mata kirana memandangku tak percaya.

“namanya juga lupa” jawabku apa adanya.

Dan sejak itu, kata lupa dalam kamusku punya banyak rasa. Sampai aku pun tak tahu akhirnya akan kembali dalam karma baik atau sebaliknya.

“kamu kira aku bodoh?” wajah itu menyeringai.

“bu..bu..bukan kak...”gagap ku berucap terpotong akan aksi kak pradana itu. Didekatkannya pandangan kami berdua. Semakin dekat, terlihat jelas paras tampannya. Merinding ku serasa ada hantu numpang lewat tadi. Nafasku tercekat seakan kadar oksigen menipis disini.

“atau kau yang bodoh?” bisiknya tepat ditelingaku buat ku bisu kaku tak mampu menjalankan saraf ku seperti normalnya.
Ku remas ujung rok abu abu ku dengan telapak tangan yang kini basah akan keringat dingin.

“namanya juga lupa” lirihku menjawab tanpa berani memandang wajahnya.

“lupa? Atau cari sensasi?” ucap kak pradana itu sarkastik.

Jelas ku marah akan ucapannya. Memang diriku yang berani menghampiri kakak kelas ini, mengundang banyak orang juga yang memperhatikan seraya berbisik saling berbagi gosip yang ku jamin mengarahkan kejelekan padaku.

“sorry, gue gak minat sama sensasi. Hidup gue emang datar, gak kaya lo berasa sok hits” balas ku bicara lirih di dekat telinganya yang tingginya sama dengan ujung kepalaku.

Salahku apa?

Aku berniat baik untuk bertanya dari pada salah nantinya.

Dia pikir lupa ku lelucon?

Ya kebanyakan orang normal memang berkata begitu. Perlu orang gila menyebalkan seperti Kirana yang percaya pada syndrom lupaku. Itulah mengapa aku hanya punya satu teman, Kirana.

Baru saja satu hari setelah kejadian itu, hidupku terusik dengan lirikan sinis kaum hawa setiap kali ku memnampakkan diri. Karena itu, Kirana menyuruhku berdiam diri di kelas. Namun tetap saja dikelas pun sama saja. Segera ku berlalu menuju tempat di mana nyaman bagiku dan memberikan ketenangan tanpa harus memikirkan hari ini aku sudah lupa beberapa hal.

Ceklek

Pintu rooftop itu terbuka. Biasanya aku adalah satu satunya siswa yang pada jam istirahat berkunjung kesini. Tapi kali ini ada seorang siswa tak asing bagiku dengan seragam atasannya yang dikeluarkan. Dengan rokok yang dihisapnya itu dirinya berbalik menyadari kehadiranku.

“seorang pradana yang merokok di rooftop sekolah. Bakal jadi trending topic hari ini”sindirku seraya berjalan ke sisi nya. Benar saja siswa laki laki di sampingku ini adalah kak pradana yang sok hits itu.

“selain lupa, jadi penguntit juga?” kalimat kak pradana itu jelas tertuju padaku. Karena hanya kita berdua di sini. Maksudku, aku dan kak pradana itu yang ada di rooftop ini. Tak sudi kusebut diriku dan dia dengan kata kita.

“daripada lo, munafik” jawabku tak memandang wajahnya. Sebenarnya inginku pergi dari sini. Tak tahan dengan dirinya dan rokoknya itu. Tapi mau bagaimana lagi, ini satu satunya tempat yang nyaman untukku. Bukankah lebih baik membuat kak pradana itu yang angkat kaki dari sini. Karena itu, kuangkat telapak tangan untuk menutup hidungku sebagai masker. Ku lirik kak pradana itu dengan ekor mataku. Benarkan, langsung rokok itu dijatuhkannya lalu diinjak untuk mematikan apinya.

“gue emang munafik, jadi jangan ganggu hidup gue” setelah mengucapkan itu dirinya pergi.

Apa maksudnya? Mungkinkah kak pradana ada masalah?

Biarlah. Siapa yang peduli.

Tapi tetap saja aku penasaran.

Keesokan harinya, seperti biasa diriku memilih untuk pergi ke rooftop. Entah mengapa aku berharap kak pradana ada disana. Niatku akan bertanya tentang maksudnya yang kemarin.

Namun di rooftop tidak ada siapa siapa.

Ceklek

Sampai terdengar pintu terbuka, kubalikkan tubuhku. Benar saja, kak pradana. Dia hanya berdiri mematung saat melihatku. Ku lemparkan senyum padanya untuk mencairkan suasana. Untunglah kak pradana berjalan menghampiriku dengan mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya.

“gue lupa jangan ganggu hidup lo” sambutku masih dengan senyuman yang tercetak diwajahku.

Kuraih tangan kanannya yang tengah menggenggam rokok. Kuambil rokok itu dan sebagai gantinya kuberikan permen lolipop untuknya. Dirinya yang masih diam membeku kuhiraukan. Selepasnya aku turun ke bawah kembali ke kelas dengan perasaan senang dan lega entah karena apa. Yang jelas dalam perjalanan aku senyam senyum sendiri sudah mirip dengan orang gila.

Pagi harinya, trending topic itu terjadi. Ada yang melaporkan aksi melanggar aturan dari seorang pradana itu. Dan yang lebih parah, si pelapor itu adalah teman kak pradana itu sendiri yang katanya sangat dekat dengan kak pradana. Gosip dengan tokoh utama kak pradana itu menjadi perbincangan semua warga sekolah. Fatalnya, ada kabar bahwa kak pradana akan diskors. Tapi simpang siyur juga kak pradana memang akan pindah sekolah. Mirisnya, teman dekat kak pradana yang melaporkannya kini menjadi pengganti sebagai pradana yang baru. Potongan puzzle seakan berputar di kepala ku. Aku berusaha tidak peduli akannya. Yang kupikirkan hanyalah ingin bertemu dengan kak mantan pradana itu.

Ceklek

Di rooftop. Aku menemukannya. Tak seperti kemarin dengan senyuman ku menyambutnya, kini ku tak sanggup membendung tangisan yang ku tak tau mengapa. Kak pradana menyadari kehadiranku. Dia yang kini tersenyum menghampiriku.

“jangan sampai lupa ya” diberikannya sepucuk kertas untukku. Dia mengode untuk membukanya setelah dia pergi.
Dan dia pergi. Bukan pergi yang mungkin besok kita akan bertemu lagi di rooftop ini. tapi pergi yang mungkin tak akan kembali ke rooftop ini.

Satu bulan telah berlalu. Dan selama itu aku masih mengingat kak pradana. Disetiap pertemuan kita dulu tak ada yang aku lupa. Ajaibnya itu sudah satu bulan. Bahkan menu sarapan tadi saja aku lupa. Tapi semua tentang nya aku ingat, kecuali satu.

Namanya.

“kak tunggu” pintaku menghentikan langkahnya.

“lupa ya kalo biasanya manggil gue gak pake kak?” dia berbalik dengan senyum tulus disana.

Aku memang banyak memiliki pertanyaan. Tapi ku tak tahu mengungkapkannya bagaimana. Dan yang paling memuatku penasaran adalah satu.

“nama kakak siapa?”

“...”

Disitulah aku lupa. Sesuatu yang sangat ingin aku tahu, namun lupa ku tak mengizinkannya. Sampai sekarang aku hanya memanggilnya kak pradana. Karena itu juga dia tak pernah datang.

Aku tak tahu akhir dari lupa ku ini karma baik seperti biasanya, atau sebaliknya. Yang jelas, sesuatu yang indah dan aku tak pernah lupa adalah pertama kali ku melihat pelangi di langit biru sehabis hujan lebat. Sesuatu itu juga adalah kak pradana yang layaknya pelangi nan indah namun datang dengan singkatnya hanya untuk singgah.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani