Profil instastories

Always You

“Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menghadirkan dia dalam hidupku. Karena Engkau mengizinkan dia selalu menemaniku, menghiburku, dan mendengarkan curahan hatiku. Tuhan, aku bersyukur karena Engkau menciptakanku dari tulang rusuknya, aku bersyukur telah menjadi salah satu  bagian terpenting dari hidupnya. Terima kasih karena telah menjadikan ia penjagaku di dunia, dan menjadikan ia penuntunku untuk pulang ke SyurgaMu.”

Sejak semalam, hujan membasahi bumi dengan deras tak kunjung henti, bahkan sampai pukul tiga dini haripun hujan masih mengalir deras. Disaat seperti itu kebanyakan orang masih terjaga dengan mimpi indahnya, belum lagi ditemani dengan selimut yang menghangatkan tubuh karena suhu udara yang dingin sampai menusuk ke tulang. Membuat setiap orang pasti malas untuk bangkit dari ranjangnya. Namun berbeda dengan Syahila dan keluarga kecilnya, disaat seperti itu mereka malah sedang menunaikan ibadah sholat sunnah tahajjud berjama’ah yang tentu saja dengan diimami oleh suami Syahila. Sedangkan dirinya menjadi makmum bersama dua buah hatinya yang kembar itu. Kedua putrinya itu sekarang baru menginjak usia lima tahun. Memang Syahila dan suaminya sengaja mengajarkan ajaran agama islam sejak dini kepada anak – anaknya, tentu saja dengan tujuan pembiasaan diri agar kelak kedua putrinya menjadi anak yang sholehah tentunya. Dan nampaknya usaha mereka tidak sia – sia karena kedua putrinya sudah mulai terbiasa menunaikan ibadah sholat lima waktu dan sholat sunnah seperti sholat tahajjud yang sedang dilakukan sekarang. Bahkan saat bulan suci Ramadhan tiba, kedua putrinya berpuasa sampai maghrib sebulan penuh sejak usia empat tahun. Padahal Syahila atau suaminya tidak pernah memaksakan kedua putrinya itu untuk langsung bepuasa sampai maghrib, itu murni keinginan kedua putrinya yang ingin mencontoh kedua orang tuanya. Ditambah lagi kedua putrinya itu adalah penghafal Al-Qur’an. Keisha sisulung telah menghafal Al-Qur’an sebanyak lima belas juz, sedangkan Kenisha sebanyak tiga belas juz. Walau berbeda dua juz, Syahila dan suaminya sangat bersyukur dan bangga kepada dua putrinya. Diusia yang masih sangat muda mereka sudah menjadi penghafal Al-Qur’an. Dan walaupun suami Syahila yang tak lain adalah CEO dari salah satu perusahaan ternama di Indonesia, namun Syahila tetap mengajarkan kepada anak – anaknya makna kesederhanaan. Yang mana Syahila dapatkan dari pengalaman hidupnya, dan ilmu yang ia dapatkan ketika ia masih kuliah dulu di sebuah Universitas Pesantren yang berada di Jawa Timur, yaitu kesederhanaan bukan berarti kita harus hidup susah, namun kesederhanaan adalah memakai atau menggunakan sesuatu sesuai kebutuhan. Sekarang, ia berprofesi sebagai motivator para pemuda pemudi bangsa agar memanfaatkan masa muda dengan sebaik – baiknya. Syahila sekarang berusia dua puluh enam tahun, usianya sama dengan usia suaminya hanya beda beberapa bulan saja. Syahila menikah setelah menyelesaikan S1-nya, kemudian ia melanjutkan pendidikannya S2 dengan mengambil program studi yang sama yaitu aqidah dan filsafat islam. Setelah selesai melaksanakan tahajud dan sholat shubuh berjama’ah, pagi harinya seperti biasa setelah sarapan Syahila dan suaminya mengantar kedua putri kecilnya ke sekolah TK tempat Keisha dan Kenisha bersekolah.

“Keisha, Kenisha, salim dulu nak sama ayah” Ucap Syahila. Yang kemudian langsung dituruti oleh kedua putri kecilnya untuk mencium punggung tangan suaminya dan dirinya. Setelah memastikan kedua putrinya telah masuk ke dalam kelas dengan diantar oleh Lala pengasuh kedua putrinya itu, mobil yang ditumpangi Syahila dan suaminya pun langsung melesat menuju kantor tempat suaminya bekerja.

“Kak, aku hari ini mengisi acara di dua tempat yaa. Tapi aku usahakan untuk jemput anak – anak, karena acara yang satunya siang. Aku izin ya kak.” Ucap Syahila hati – hati pada sang suami.

“Ohh ya sudah, hati – hati saja, dan jangan terlalu memaksakan untuk menjemput anak – anak. Kan sudah ada Lala yang menjaganya, jangan terlalu kecapean, selesai acara langsung pulang yaa.” Ucap suaminya menanggapi. Syahila tersenyum, lalu ia mencium punggung tangan suaminya itu. Sedangkan setelah itu Syahila langsung meluncur ke acara yang berada dipusat kota ditemani Pak Maman, supir pribadi mereka.

Sesampainya di tempat acara, Syahilapun langsung di sambut oleh pihak penyelenggara. Setelah di briefing sebentar,ia langsung dipersilahkan untuk menempati tempat duduk yang telah disediakan oleh panitia di atas panggung. Terdengar tepuk tangan yang sangat meriah dari para mahasiswa yang hadir kala itu.  Syahila tersenyum sebagai mereka semua, tak lama acarapun dimulai. Acara pagi itu berjalan dengan lancar, para mahasiswa yang hadir mendengarkan secara seksama dan sesekali mereka mengambil gambar Syahila yang sedang menyampaikan materi. Dan tiba saatnya sesi tanya jawab, para mahasiswa yang mempunyai pertanyaan langsung mengacungkan tangannya. Pertanyaan demi pertanyaanpun telah berhasil dijawab oleh Shahila. Dan sampailah pada pertanyaan yang terakhir.

“Assalamu’alaikum mbak Syahila, saya ingin bertanya tips menjaga hati dan tips memilih pasangan serta menjaga keluarga agar samawa, sebelumnya terima kasih mbak.” Penanya itupun tersenyum kepada Syahila dan dibalas olehnya.

“Tundukkan pandangan, istikharah, dan menjalankan syari’at islam dalam kehidupan sehari – hari.” Jawab Syahila cepat.

Dan jawaban Syahila menjadi penutup acara pada pagi menjelang siang itu. Hadirin yang datangpun bertepuk tangan dengan meriah disertai senyum puas yang terpancar di wajah mereka. Setelah itu Syahila langsung pergi menuju ke acara selanjutnya, dalam perjalanan Syahila sempat menghubungi Lala untuk membawa pulang Keisha dan Kenisha pulang menggunakan Grab-Car saja. Karena Pak Maman masih mengantarkannya menghadiri acara, sedangkan Wawan pergi menyusul suaminya ke kantor karena ada berkas yang tertinggal.

Sore harinya Syahila baru sampai ke rumah, ia langsung disambut oleh kedua buah hatinya Keisha dan Kenisha.

“Assalamu’alaikum.... bunda pulang.” Kata Syahila.

“Wa’alaikumussalam bunda.....” Jawab Keisha dan Kenisha kompak, mereka berlari ke arah Syahila dan memeluknya.

“Maaf ya, bunda tidak bisa menjemput kalian.” Ucap Syahila mencium anaknya satu persatu.

“Tidak apa – apa bunda, kita ngerti kok.” Jawab mereka tersenyum, hal itulah yang membuat rasa lelah Syahila hilang seketika. Tak lama kemudian Lala dari arah dapur datang membawakan minum untuk Syahila.

“Ini bu minumnya, air lemon hangatkan?” Tanya Lala, ia membawa gelas berisi perasan lemon hangat dengan nampan.

“Terima kasih ya La, kamu memang paling tahu apa yang aku suka. Anak – anak udah makan?” Tanya Syahila pada Lala.

“Alhamdulillah bu, Keisha dan Kenisha sudah makan. Mereka juga sudah mengerjakan PR-nya sebelum tidur siang. Dan tadi mereka baru selesai mandi dan sholat ashar bu.” Jawab Lala, melaporkan semua kegiatan kedua putrinya pada Syahila. Sementara itu Syahila hanya mengangguk – anggukan kepala.

“Kamu sendiri sudah makan?” Tanya Syahila lagi pada Lala.

“Alhamdulillah sudah bu, ibu sendiri sudah makan?” Jawab Lala cepat, Syahila hanya tersenyum mengiyakan. Ia kemudian kembali bermain dengan Keisha dan Kenisha, namun melihat mereka bermain tiba – tiba ia teringat kejadian siang tadi saat ada salah satu peserta talk show yang bertanya padanya bahwa bagaimana rasanya menempuh yang lurus – lurus saja karena semenjak SMP sampai S1 di pondok pesantren dan pada akhirnya dipersunting oleh pengusaha muda yang sukses. Mendengar hal itu Syahila hanya tersenyum dan menjawab seadanya, dalam hati Syahila berkata bahwa itu menurut pandangan orang hidupnya lurus – lurus saja. Namun sebenarnya, untuk mencapai ke titik ini pun Syahila harus mengalami masa – masa sulit terlebih dahulu.

***

“Serahkan semua kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena sebaik – baiknya rencana adalah rencana-Nya. Yang harus kita lakukan hanya ikhlas dengan segala keputusanNya.”

Dua puluh empat tahun yang lalu, lebih tepatnya saat Syahila baru berusia dua tahun. Ia mengalami kecelakaan berupa kepalanya tertimpa buah kelapa langsung dari pohonnya yang mempunyai tinggi lebih kurang dua meter. Akibatnya, Syahila mengalami koma selama dua bulan. Karena Syahila tidak juga sadar dari komanya, dan dokter telah melakukan segala macam cara untuk membuatnya sadar namun tetap gagal. Dokter spesialis bedah syaraf yang menangani Syahila memanggil kedua orang tua Syahila. Dokter Andre menjelaskan bahwa sudah tidak ada harapan untuk Syahila hidup, maka dokter mengusulkan untuk menyuntik mati Syahila untuk kebaikannya, daripada harus melihat Syahila yang koma berbulan – bulan yang akan menyakiti diri Syahila sendiri, disamping itu juga biaya rumah sakit yang memang tidak terjangkau  membuat dokter menawarkan penawaran itu kepada orang tua Syahila.

“Ya tidak bisa begitulah dok, banyak juga kok kasus orang yang koma lebih lama dari Syahila yang akhirnya sadar. Kalau saya menyetujui hal itu sama saja saya membunuh darah daging saya sendiri, dalam agama saya hal itu di larang.” Jawab Pak Agus dengan nada yang sedikit meninggi.

“Saya ibunya, saya yang telah mengandungnya selama 9 bulan, yang telah melahirkannya dengan taruhan nyawa, yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Dan sekarang dokter bilang dengan mudahnya agar saya menyetujui untuk menyuntik matinya? Dokter sehat?” Ucap Bu Nur yang sudah tidak dapat mengontrol emosinya. Sedangkan dokter berusaha memahami reaksi dari kedua orang tua Syahila.

“Itu demi kebaikan Syahila juga pak, bu. Jika terlalu lama dibiarkan seperti itu, kasihan anaknya juga.” Ucap dokter Andre berusaha menenangkan sepasang suami istri tersebut.

“Saya ibunya, saya yakin Syahila suatu saat  nanti pasti sadar.” Ucap Bu Nur sambil menunduk dan mulai menangis. Pak Agus langsung merangkul dan menyandarkan kepala istrinya dipundaknya.

“Lagipula bukannya di Indonesia hal itu dilarang yaa dok?” Tanya Pak Agus.

Tiba – tiba ada perawat yang masuk ke ruangan dokter Andre memberitahukan bahwa dokter harus segera datang ke ruangan Syahila. Dokter langsung berjalan cepat menuju ruangan tempat Syahila dirawat. Di perjalanan menuju kesana Dokter Andre menanyakan kondisi Syahila. Orang tua Syahilapun mengikuti langkah kaki dokter dan perawat dengan perasaan khawatir karena memang beberapa hari ini Syahila mengalami kejang – kejang yang sangat dahsyat. Setibanya disana, Pak Agus dan Bu Nur hanya dapat menunggu diluar, mereka hanya dapat berdoa yang terbaik untuk Syahila. Walaupun itu berarti harus kehilangan Syahila untuk selama – lamanya mereka sudah ikhlas, daripada melihat anaknya yang mungil itu menderita.

Sudah hampir 30 menit berlalu dokter Andre belum keluar juga, Pak Agus dan Bu Nur tentu sangat cemas. Bu Nur yang hanya bisa terduduk sambil menangis dan doa tak pernah terputus darinya. Serta Pak Agus yang dari tadi mondar mandir di depan ruangan Syahila. Saat dokter keluar, Pak Agus dan Bu Nur langsung menanyakan keadaan Syahila.

“Alhamdulillah, Syahila sudah sadar. Namun kondisinya masih sangat lemah, bapak dan ibu bisa menemuinya setelah kondisi Syahila sudah cukup stabil.” Ucap Dokter Andre tersenyum.

Mendengar kabar bahagia itu Pak Agus langsung sujud syukur atas keajaiban yang telah diberikan Allah SWT kepada Syahila. Sedangkan Bu Nur masih menangis, bahkan tangisannya kini semakin deras. Namun, kali ini bukanlah tangisan kesedihan, melainkan tangisan kebahagiaan. Pak Agus langsung mengabarkan kepada keluarga besarnya atas sadarnya Syahila. Setelah keadaan Syahila stabil, Pak Agus dan Bu Nur diperbolehkan untuk melihat Syahila dengan ditemani oleh dokter.

“Sya, ini mamah nak.” Ucap Bu Nur, mengusap rambut Syahila perlahan.

Sedangkan Pak Agus hanya menatapnya penuh haru, beliau tak percaya akan melihat Syahila kembali membuka mata melihat dunia. Pak Agus meraih tangan kanan anaknya itu dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Namun Syahila menatap orang tuanya itu seperti tatapan bertanya – tanya, dokter menyatakan bahwa hal seperti itu wajar dialami orang yang baru tersadar dari koma. Tak lama kemudian, keluarga besar tiba di rumah sakit untuk melihat keadaan Syahila. Tetapi dokter melarangnya, karena untuk saat ini Syahila belum dapat dijumpai oleh banyak orang. Maka keluarga besarnya hanya dapat melihat Syahila dari balik jendela, hampir diseluruh tubuhnya terdapat alat bantu agar ia tetap hidup. Keluarga besarnya hanya dapat berharap bahwa Syahila akan kembali menjadi anak yang ceria seperti dulu.

Hari – hari berlalu, kedua orang tua Syahila tidak pernah berhenti untuk terus merawat dan menjaga anaknya. Walaupun seminggu ini usaha mereka hanya mendapat tangisan yang tak bersuara, tapi mereka tetap sabar menghadapi Syahila yang memang baru tersadar dari koma. Namun lama kelamaan Pak Agus mulai memperhatikan Syahila lebih cermat. Syahila tidak memberi respon selain dengan isyarat tangan kirinya dan menangis tanpa suara. Pak Agus membicarakan hal itu dengan dokter Andre, yang akhirnya ada pemeriksaan lebih lanjut kepada Syahila. Dokter Andre bersama dua perawat memeriksa Syahila kembali, dan dokter Andre pun menemukan kejanggalan pada selang yang mengeluarkan darah kotor yang ada dikepala Syahila.

“Sepertinya selang ini baru? Apakah sudah ada yang menggantinya?” Tanya dokter Andre ke dua perawat yang menemaninya, namun tidak ada yang menjawab.

“Kemarin selangnya memang di ganti dok.” Jawab Bu Nur pada akhirnya.

“Loh siapa yang mengganti bu?” Tanya dokter Andre lagi.

“Sama salah satu perawat, tapi saya tidak tahu namanya. Perawat tersebut yang menggantikan selangnya Sya.” Jawab Bu Nur.

“Siapa yang berani – berani mengganti selang Sya tanpa perintah saya?” Tanya dokter Andre kepada dua perawat yang menemaninya. Kedua perawat itu hanya bisa menundukan kepala karena takut kena dampak atas kemarahan dokter Andre, yang tak lain adalah pemilik rumah sakit ternama di kota Cirebon. Ketika kemarahan dokter Andre sudah menandakan akan segera meledak, tiba – tiba ada yang mengetuk kamar rawat Syahila.

“Permisi dok, ini data terakhir penanganan pasien atas nama Syahila Afsheen Myesha.” Ucap perawat yang baru datang itu.

“Nah, suster ini yang kemarin menganggantikan selang Syahila dok.” Kata Bu Nur memberitahu dokter Andre. Perawat itu sedikit terkejut, karena dokter Andre langsung menatapnya tajam.

“Benar begitu?” Tanya Dokter Andre tenang, namun cukup mengintimidasi. Perawat tersebut mengangguk kemudian menundukan kepalanya tidak berani menatap dokter.

“Atas perintah siapa kamu melakukan itu?” Tanya dokter Andre lagi.

“Dokter Dinda dok, dokter jaga kemarin. Sebelumnya saya sudah memperingatkan kepada beliau untuk tidak mengganti selangnya, karena dokter melarangnya.” Jawab perawat itu dengan perasaan takut.

“Lalu mengapa kamu mengganti selangnya? Saya sudah bilang, masalah Syahila jangan sembarangan bertindak, salah sedikit akibatnya sangat fatal. Kamu mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatuyang buruk padanya?” Kata dokter Andre yang mulai emosi namun beliau masih berusaha menahannya demi etika. Perawat tersebut hanya dapat menunduk dan meminta maaf kepada dokter Andre dan Bu Nur.

“Kamu, ikut ke ruangan saya sekarang!” perintah dokter Andre kepada perawat yang menggantikan selang Syahila.

“Dan kalian berdua, panggil dokter Dinda untuk keruangan saya segera. Serta periksa keadaan Syahila lebih lanjut untuk kesiapan operasi kepalanya.” Kata dokter Andre lagi memberi intruksi kepada dua perawat yang tadi menemaninya. Dua perawat mengangguk tanda mengerti. Setelah itu dokter Andre keluar dengan diikuti oleh perawat yang tadi dimarahinya.

Melihat kejadian itu Bu Nur hanya menatapnya tak percaya, karena selama ini yang ia ketahui Dokter Andre adalah sosok yang sangat ramah dan lemah lembut, kini Bu Nur melihat Dokter Andre yang terlihat sangat marah. Sehingga Bu Nur mempunyai pikiran apakah akan terjadi sesuatu yang sangat fatal yang terjadi pada anak semata wayangnya. Kedua perawat yang masih memeriksa keadaan Syahilapun melihat ke arah Bu Nur seakan tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya.

“Tenang saja bu, Syahila akan baik – baik saja. Dokter Andre selalu optimal kepada setiap pasiennya, karena prinsip semua dokter pasti begitu. Apalagi kepada anaknya sendiri.” Jawab salah satu perawat tersenyum. Bu Nur mengernyit tanda tak mengerti.

“Maksudnya?” Tanya Bu Nur, kedua perawat itu terkejut dan menyadari bahwa merreka telah lancang.

“Maaf Bu Sya ini anaknya dokter Andrekan?” Tanya dua perawat itu.

“Loh? Kalian mengapa bisa punya pemikiran seperti itu?”

“Karena dokter Andre selalu berkata bahwa Sya itu adalah anak beliau, jadi kami mengira Sya itu benar – benar anak dokter Andre.”

“Lah? Dokter Andrekan sudah punya istri, saya juga sudah punya suami.”

“Itu masalahnya Bu, sebelumnya maaf ya bu. Pertama, kami mengira bahwa Bu Nur itu istri keduanya dokter Andre.” Ucap salah satu perawat, ia sedang mengatur infus Syahila.

“Kedua, kami kira Pak Agus itu kakak dari Bu Nur.” Sahut perawat yang satunya lagi, ia sedang merapikan alat – alat medis yang dibawanya. Mendengar jawaban dari dua perawat tersebut, Bu Nur tertawa.

“Kalian ini ada – ada saja.” Ucap Bu Nur yang tak menyangka para perawat mempunyai pemikiran seperti itu. Setelah menyelesaikan tugasnya dua perawat itupun pamit untuk menjalankan tugas baru yang tadi diberikan dokter Andre.

Sementara itu diruangan dokter Andre suasananya sangat menegangkan, setidaknya seperti itulah yang kini dirasakan oleh dokter Dinda dan suster Indah. Dokter Andre menjelaskan situasi yang akan terjadi kesalahan sedikit saja nyawa Syahila akan lenyap. Dikarenakan selain ada gumpalan darah kotor di dekat otaknya, posisi tulang kepala sebelah kiri Syahila menusuk ke otak. Maka dari itu, dokter Andre juga harus benar – benar mempertimbangkan jika akan melakukan operasi terhadap Syahila. Saat dokter Andre sedang berbicara dengan dokter Dinda dan juga suster Indah, ada suara ketukan pintu yang kemudian masuk memberi kabar perihal kesiapan Syahila untuk menjalani operasi pasang batok kepala.

Keesokan harinya, dokter Andre memanggil orang tua Syahila untuk membicarakan operasi Syahila. Yang mana untuk saat ini Syahila belum bisa melakukan operasi pasang batok dikarenakan jantung Syahila yang masih sangat lemah disebabkan usia Syahila yang masih sangat belia dan Syahila baru saja sadar dari koma. Dokter juga menjelaskan bahwa untuk saat ini Syahila mengalami lumpuh pada tubuh bagian kanannya, selain itu Syahila juga untuk sementara ini tidak dapat berjalan maupun berbicara. Melihat keadaan Syahila yang seperti itu, dokter Andre mencoba bernegosiasi dengan kedua orang tua Syahila untuk kesembuhannya.

“Bapak dan Ibu pasti sangat menginginkan Sya dapat hidup normal kembali bukan?”

“Kalau itu tidak usah di tanya dok, orang tua mana yang tidak mau anaknya kembali normal?” Ucap Pak Agus.

“Saya mempunyai tawaran untuk bapak dan ibu agar Sya bisa kembali normal seperti dulu lagi.”

“Caranya?” Tanya Bu Nur.

“Sya akan saya bawa ke Amerika untuk mendapatkan pengobatan yang lebih optimal daripada di Indonesia.” Kata dokter Andre, Pak Agus dan Bu Nur langsung termenung, kemudian mereka saling pandang.

“hhmm.... kalau untuk menjalani pengobatan di Amerika jujur saya belum sanggup dok, saya bekerja sebagai karyawan swasta, untuk hidup saja pas – pasan.” Kata Pak Agus.

“Masalah biaya tidak usah khawatir, biar saya saja yang menanggung semuanya.” Ucap Dokter Andre.

“Ya tidak bisa begitu dok, Sya inikan anak kami. Jadi sudah sepatutnya kami yang menanggung semua biaya pengobatannya.” Ucap Pak Agus kemudian.

“Begini, jika bapak dan ibu setuju Sya saya bawa ke Amerika, Sya akan mendapatkan pengobatan sampai benar – benar kembali normal seperti dulu sebelum dia kecelakaan. Saya juga berniat akan menyekolahkan Sya di Amerika. Masalah biaya biar saya yang menanggungnya.” Jelas Dokter Andre.

“Berarti Sya akan tinggal di Amerika cukup lama dok?” Tanya Bu Nur.

“Bisa jadi begitu.” Jawab Dokter Andre.

“Tapi kalau saya ingin bertemu Sya bagaimana dok?” Tanya Bu Nur lagi.

“Jika bapak dan ibu setuju, Sya akan kembali lagi ke Indonesia tepat di usianya 17 tahun, nanti saya akan mempertemukan lagi Sya dengan kalian. Tapi dengan satu syarat.” Jawab Dokter Andre.

“Itu berarti aku tidak akan bertemu dengan anakku selama belasan tahun, apakah nanti akan mengenali bahwa kami ini adalah orang tua kandungnya?” Kata Bu Nur dalam hati kecilnya.

“Syarat?” Tanya Pak Agus penasaran.

“Jika nanti bapak dan ibu saya pertemukan dengan Sya, bapak dan ibu jangan menganggap Sya sebagai anak.”

“Kalau begitu saya tidak akan menyetujuinya, tidak apa – apa Syahila hanya mendapatkan pengobatan yang seadanya yang penting Syahila hidup bersama orang tua kandungnya.” Jawab Pak Agus cepat, kemudian ia menggandeng istrinya dan permisi meninggalkan ruangan.

Setelah mendengar jawaban dokter Andre, hati kedua orang tua Syahila bagaikan disambar petir bertubi – tubi. Mereka tak menyangka orang yang beberapa minggu kemarin ingin menyuntik mati Syahila, setelah Syahila sadar dari komanya dia juga orang yang ingin mengambil Syahila. Jika saja ada dokter yang lebih berpengalaman dari dokter Andre, kedua orang tua Syahila pastilah akan langsung mengganti dokter yang akan menangani Syahila. Tapi sayang, saat itu tidak ada dokter yang berani untuk menangani Syahila selain dokter Andre. Bahkan para dokter merekomendasikannya, karena beliau sudah sangat terkenal keahliannya dalam hal bedah syaraf.

Setelah kondisi Syahila dirasa sudah cukup baik, dokter memperbolehkannya pulang. Dengan syarat kepala Syahila jangan sampai terbentur karena belum melakukan operasi pasang batok pada kepalanya, sehingga orang tua Syahila harus menjaganya dengan extra. Sesampainya dirumah, keluarga besarnya telah menunggu kedatangan Syahila. Namun Syahila seakan hilang ingatan akibat benturan yang dialaminya, sehingga saat sampai di rumah, Syahila hanya memandang semua keluarga besarnya dengan tatapan kosong seakan tidak mengenali mereka sama sekali. Ditambah lagi Syahila yang mengalami lumpuh sehingga ia tidak dapat berjalan maupun berbicara, hal itulah yang membuat keluarga besarnya menatap Syahila miris. Syahila yang dulunya adalah anak yang sangat aktif dan ceria, kini ia harus berbaring sepanjang waktu di tempat tidur. Jika ingin sesuatu, ia hanya dapat meneteskan air matanya tanpa adanya suara. Terkadang ia juga hanya menunjuknya dengan tangan kirinya yang normal.

“Sya mau apa sayang?” Tanya Bu Nur saat Syahila terus menerus mengeluarkan air matanya dengan deras.

Bu Nur kebingungan saat Syahila seperti itu, karena memang Syahila tidak dapat berbicara dan berjalan, akhirnya Bu Nur menggendong Syahila dengan tujuan Syahila dapat menunjukan apa yang dia inginkan dengan menunjuk menggunakan tangan kirinya yang normal. Walaupun begitu, orang tua Syahila serta kerabat terkadang tidak mengerti maksud Syahila.

“Sya mau melihat teletubies?” Tanya Bu Nur, karena sejak kecil Syahila sangat menyukai hal – hal yang berbau teletubies.

Namun air mata Syahila masih juga mengalir deras dari kedua matanya, padahal Bu Nur telah menyalakan kaset teletubies. Akhirnya Bu Nur membuatkan Syahila susu dan dimiumkannya kepada Syahila, ia pun masih menolak. Bu Nur mengajaknya jalan – jalan keluar, air matanya masih belum berhenti. Setiap harinya, Bu Nur menjalani hari – harinya seperti itu. Berusaha mengerti maksud Syahila yang memang hanya bisa meneteskan air mata tersebut. Karena telah merasa sangat frustasi, Bu Nur menyebrang tatapan kosong. Dalam dekapannya terdapat Syahila yang masih saja meneteskan air matanya. Karena pikirannya kosong itulah Bu Nur sampai tidak sadar bahwa bis dari arah selatan melaju dengan kecepatan tinggi. Orang – orang yang melihat Bu Nur yang hanya berdiri di tengah jalanpun berteriak memerintahkannya untuk segera menyingkir. Tapi Bu Nur hanya melihat orang – orang yang meneriakinya dengan tatapan kosong, seakan ia tak mendengar suara teriakan orang – orang yang meneriakinya. Padahal beberapa klakson mobil maupun motor telah dibunyikan oleh para pengemudinya agar Bu Nur menyingkir. Bahkan klakson bus yang telah dibunyikan beberapa kali oleh sopirnya tidak dihiraukannya. Namun, tiba – tiba Bu Nur merasakan seakan ada yang mendorongnya sampai ia hampir terjatuh mengenai trotoar jalan, dan disaat itulah kesadaran Bu Nur kembali.

***

Saat menunggu panggilan dari dokter untuk melakukan operasi pasang batok, Syahila menjalani hari – harinya dengan menjalani terapi. Dengan harapan Syahila dapat berbicara dan berjalan kembali, terapi demi terapi pun telah Syahila jalani. Bahkan sampai memakai metode strum pun Syahila jalani, tapi sayang, bukannya sembuh terapi itu malah berdampak pada jantungnya karena efek kejut akibat terapi setrum itu. Sampai pada akhirnya, ada teman ayahnya yang memberitahu terapi dengan metode urut. Alhasil, Syahila dibawa oleh kedua orang tuanya untuk mencoba terapi tersebut. Sempat terlintas rasa keputus asaan dalam hati kedua orang tua Syahila karena sudah mencoba berbagai macam terapi tetapi tetap saja tidak berdampak kepada Syahila. Saat sudah berada di tempat terapi tersebut, orang tua Syahila meragukan alamat yang telah diberikan temannya. Bagaimana tidak? Melihat halaman rumahnya yang begitu luas dengan taman kecil yang terlihat sangat indah. Ditaman itu pula terdapat kandang – kandang hewan peliharaan sang pemilik rumah. Berbagai jenis kucingpun ada di sana, ada kucing anggora, persia dan jenis kucing mahal lainnya. Selain kucing, berbagai burung hiaspun ada disana, salah satunya adalah burung kakak tua.

“Assalamu’alaikum, assalamu’alaikum.”

Bu Nur dan Pak Agus mencari asal suara tersebut, namun sejauh mata memandang mereka tidak melihat orang berada disekitarnya. Setelah suara itu terdengar berkali – kali, barulah Pak Agus menyadari bahwa suara tersebut berasal dari burung kakak tua berwarna putih tersebut. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat beberapa kandang kuda yang berjejer rapi. Dilihatnya ada orang disana, sehingga Pak Agus menghampirinya, sementara Bu Nur menunggu di dekat sangkar burung kakak tua tadi sambil menggendong Syahila.

“Assalamu’alaikum.” Ucap Pak Agus kepada orang yang sedang memberi makan kuda – kuda Australi tersebut.

“Wa’alaikumussalam.” Jawabnya dan tersenyum ramah.

“Maaf kang, Abah Budinya ada?” Tanya Pak Agus to the point.

“Ohh, ada. Masuk saja kang, abah ada didalam.”

“Nuhun kang.”

“Sami – sami.”

Pak Agus menghampiri istrinya dan mengajaknya kedalam, setelah menjelaskan apa yang telah Syahila alami. Orang tua Syahilapun menjelaskan bahwa keadaan kepala Syahila yang memang batok kepala sebelah kirinya rusak dan belum menjalani operasi. Abah Budi langsung mencoba memijat Syahila perlahan, sesekali Syahila meringis namun Abah Budi tetap memijatnya ke seluruh bagian tubuh Syahila terutama pada bagian tangan dan kaki Syahila. Setelah selesai terapi, kedua orang tua Syahila mengobrol dengan Abah Budi.

“Pak, Bu, mau Syahila bisa berbicara dulu atau jalan dulu? Karena ini tidak bisa sekaligus.” Tanya Abah Budi.

“Bicara saja dulu bah, biar kami mengerti jika Sya mau apa – apa.” Jawab Pak Agus.

“Tapi proses pemulihannya sedikit lama, kalian harus sabar. Diperkirakan 2 tahun lagi Sya baru bisa berbicara dan 2 tahun setelahnya barulah Sya bisa berjalan. Jadi totalnya itu bisa sampai 4 tahunan.” Jelas Abah Budi.

“Tidak apa – apa abah, yang penting Sya normal lagi.” Jawab Bu Nur.

Sejak saat itu Syahila mulai menjalani terapi dengan metode urut tersebut, dengan menaiki sepeda motor orang tua Syahila semangat untuk mengantarkan anaknya terapi. Meski mereka harus terkena teriknya sinar mentari atau kedinginan karena diguyur hujan. Namun, Pak Agus dan Bu Nur tetap datang setiap minggunya ke rumah Abah Budi mengantarkan Syahila menjalani terapi. Dan akhirnya mereka memetik buah yang manis, bahkan sangat manis. Karena Syahila hanya membutuhkan waktu 4 bulan untuk akhirnya ia dapat berbicara dan berjalan kembali. Padahal sebelumnya, untuk kembali normal, Syahila membutuhkan waktu 4 tahun lamanya. Namun itulah prediksi manusia, terkadang benar terkadang juga salah. Yang pasti inilah anugerah dari Allah SWT yang memang Allah berikan kepada umatnya yang senantiasa berusaha dan sabar. Melihat banyak kemajuan yang di tunjukan Syahila beberapa bulan terakhir, orang tua Syahila semakin semangat untuk mengantarkan dia terapi. Karena tinggal tangan kanan Syahila yang masih belum pulih, masih lumpuh tidak bisa dipakai untuk melakukan sesuatu. Saat mereka sampai dirumah Abah Budi, beliau malah menyuruh Syahila bermain dengan salah satu kuda Australinya.

“Bah, kenapa gak langsung ngurut saja?” Tanya Bu Nur.

“Abahnya lagi puasa.” Jawab Abah Budi sambil tersenyum.

“Owh... kalau lagi puasa gak mijit ya Bah?” Tanya Pak Agus. Belum sempat menjawab, istri Abah Budi yang lebih akrab dipanggil ummi menghampiri suaminya itu dengan membawa semangkuk mie.

“Katanya Abah lagi puasa? Kok makan mie?” Tanya Bu Nur heran. Ummi pun menjadi kebingungan karena setahunya suaminya itu sedang tidak berpuasa sunnah, lagi pula hari ini adalah hari minggu. Karena biasanya Abah Budi berpuasa dihari senin atau kamis. Sedangkan Abah Budi hanya tersenyum, dan pandangannya beralih kepada Syahila yang sedang bermain dengan kuda – kuda peliharaannya dengan ditemani penjaganya.

“Abah itu puasa mijit Sya.” Jawab Abah Budi pada akhirnya. Pak Agus dan Bu Nur saling pandang.

“Maksudnya Bah?” Tanya Pak Agus.

“Abah sudah tidak membuka praktek pijit lagi, karena mesjid yang Abah bangun sudah selesai."

“Jadi Abah sudah tidak praktek lagi bah? Terus Sya gimana bah? Tinggal sedikit lagi, tinggal tangan kanannya saja yang belum pulih bah.” Ucap Bu Nur berusaha membujuk Abah Budi.

“Sebelumnya Abah minta maaf, tapi Abah buka praktek pijat itu karena Abah kekurangan dana untuk pembangunan masjid. Berhubung masjidnya sudah selesai, abah sudah tidak buka praktek lagi.

Pak Agus dan Bu Nur pun mau tidak mau harus berlapang dada, mungkin Allah ingin mereka lebih bersabar terhadap kesembuhan Syahila. Mereka yakin, suatu saat nanti pasti mereka akan melihat Syahila kembali normal walau entah kapan waktunya. Yang perlu dilakukan adalah tawakal berdoa berusaha, tiga hal itu akan menjadi satu kekuatan yang sangat dahsyat karena selalu melibatkan Allah di dalamnya.

***

Usia Syahila kini telah menginjak enam tahun, Syahila melihat para sepupunya yang sudah bersekolah, ia pun mempunyai keinginan untuk sekolah. Awalnya, ia tidak di izinkan oleh kedua orang tuanya, karena ditakutkan akan terjadi hal yang fatal kepadanya, terlebih lagi ia belum melakukan operasi pasang batok. Namun, saat Syahila terus membujuk kedua orang tuanya, terlebih ia selalu membujuk ibunya, akhirnya ia di masukan ke taman kanak – kanak Al – Qur’an. Setiap pergi ke sekolah, Syahila diantar langsung oleh ibunya. Orang tuanya pun sangat bersyukur karena walaupun Syahila berbeda dengan anak – anak yang lainnya, Syahila termasuk murid yang pintar di sekolahnya. Terbukti saat bagi raport semester satu Syahila mendapat peringkat keempat di kelasnya. Walaupun hanya peringkat empat, namun orang tua Syahila tidak menyangka bahwa anaknya dapat memasuki peringkat lima besar dikelasnya. Padahal, dahulu dokter sempat memvonis Syahila tidak akan terselamatkan, tapi itu hanyalah perkiraan manusia. Karena Allah tahu yang sebenarnya akan terjadi.

“Baik anak – anak. ibu akan membacakan anak yang telah berhasil memasuki 5 besar. Nama yang dipanggil diharapkan untuk maju ke depan mengambil raportnya sendiri.” Ucap Bu Eli, wali kelas Syahila.

“Peringkat 5 diraih oleh Yudha Aditama, peringkat 4 Syahila Afsheen Myesha, peringkat 3 Nurmala, peringkat 2 Vina Callista, dan peringkat 1 Muhammad Satria Syaifullah. Untuk nama – nama yang dipanggil diharapkan untuk segera maju ke depan.” Kata Bu Eli.

Anak – anak yang dipanggil namanya satu persatu maju ke depan menerima raport dari Bu Eli, di mulai dari anak yang meraih peringkat kelima sampai anak yang meraih peringkat pertama. Dan sampailah pada anak yang terakhir, Satria sang juara kelas menerima raport kemudian ia berjalan ke arah tempat duduknya yang tepat dibelakan Syahila. namun saat berada di tempat Syahila, Satria berhenti tepat disamping Syahila yang sedang duduk di tempatnya memegang raport yang akan di tunjukan kepada ayahnya. Tiba – tiba Satria mencium Syahila tepat dipipi kanannya, setelah itu Satria langsung duduk ditempat duduknya pura – pura tidak terjadi apa – apa. Syahila yang merasa syok saat itu langsung menangis memanggil ibunya yang berada di luar kelas. Bu Eli pun langsung mempersilahkan Bu Nur memasuki kelas untuk menenangkan Syahila. Bu Nur yang panik karena mendengar tangisan Syahila langsung memasuki kelas setelah dipersilahkan, Bu Nur mencoba menenangkan Syahila dengan memeluknya sambil menepuk – nepuk punggungnya perlahan.

“Anak  mamah kenapa menangis? Nanti cantiknya berkurang loh.” Ucap Bu Nur.

“Ada apa? bilang sama mamah sayang” Ucap Bu Nur lagi.

“Itu mah, hiks... hiks.... Satria cium pipi Sya hiks...” Jawab Syahila yang masih terisak.

Mendengar jawaban Syahila Bu Nur hanya tersenyum, kemudian beliau melirik Satria yang duduk tepat dibelakang Syahila. Satria bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Syahila yang masih menangis di hadapan ibunya. Ia melangkahkan kakinya dengan takut – takut, kemudian Satria menyodorkan tangannya di hadapan Syahila.

“Sya, maafin Satria yaa, Satria gak bermaksud buat Sya sedih.” Ucap Satria tulus kepada Syahila.

Sedangkan Syahila hanya melihatnya sekilas, lalu ia kembali menangis kepada ibunya. Satria merasa permintaan maafnya itu tidak diterima langsung menundukan kepalanya, pandangannya menatap lantai. Di satu sisi ia takut terkena marah oleh Bu Nur karena telah membuat Syahila menangis. Namun disisi lain, Satria memang tidak sengaja untuk membuat Syahila menangis. Melihat itu Bu Nur tersenyum dan berusaha memahami situasi yang sebenarnya sedang terjadi.

“Sya anak baik, kalau ada yang minta maaf sikapnya harus baik sayang, gak boleh dicuekin gitu. Allah aja maha pemaaf, masa kita  umatnya enggak? Memangnya Sya mau kalau Sya berdoa sama Allah minta ampun atas dosa – dosa yang Sya perbuat terus sama Allah di cuekin? Sya mau Allah cuekin Sya?” Kata Bu Nur memberikan pengertian kepada Syahila.

Syahila hanya menggelengkan kepalanya, ia melirik kearah Satria yang sedang menundukan kepalanya. Merasa diperhatikan Satria mengangkat kepalanya dan mengulurkan kembali tangannya kepada Syahila dan tersenyum tulus kepadanya. Syahila melirik ibunya yang mengangguk memberikan isyarat, setelah itu Syahila menjabat tangan Satria tanda bahwa ia sudah memaafkannya. Mata Satria seketika berbinar, ia merasa senang Syahila telah memaafkannya. Melihat itu Bu Nur tersenyum karena kepolosan mereka, dimana merukunkan anak seusia mereka lebih mudah daripada merukunkan anak remaja atau orang dewasa yang bertengkar. Karena di seusia mereka hati dan pikiran masih bersih dari segala penyakit, rasa ego yang dimiliki akan kalah dengan kepolosan yang dimilikinya. Sedangkan jika orang dewasa cenderung banyak yang mementingkan egonya sendiri tanpa memikirkan akibat yang akan berdampak kepada orang lain

***

Syahila memasuki semester dua, sekolahnya mengadakan praktek sholat wajib. Satu persatu teman – teman kelas Syahila telah dipanggil. Tak lama kemudian akhirnya Syahila dipanggil untuk melaksanakan praktek sholat wajib.  Syahila melaksanakan praktek sholatnya dengan lancar, ibunya melihat dari luar melalui jendela karena selama praktek sholat tidak ada yang boleh memasuki kelas kecuali penguji dan yang diuji. Tiba – tiba ponsel ibunya Syahila berdering.

“Assalamu’alaikum, hallo.” Ucap Bu Nur, ibunda Syahila menjawab panggilan di ponselnya.

“Selamat pagi bu, dengan orang tua Syahila Afsheen Meysha?” Tanya suara dari sebrang.

“Iya saya ibunya, ada apa?” Tanya Bu Nur kembali.

“Maaf bu, kami dari rumah sakit Mitra Sejahtera. Ingin memberitahukan bahwa Dr. Andre sudah berada di Indonesia dan meminta ibu untuk membawa Syahila segera ke rumah sakit Mitra Sejahtera untuk dilaksanakannya operasi pasang batok pada kepalanya.” Ucap seseorang dari sebrang menjelaskan.

Setelah Syahila selesai melaksanakan praktek sholat, Bu Nur langsung memboyong Syahila ke rumah sakit. Namun, sebelum itu Bu Nur menghubungi suaminya terlebih dahulu agar ketemuan dirumah sakit di karenakan ayahnya Syahila sedang bekerja. Setibanya Syahila dan ibunya di rumah sakit, tak lama kemudian ayahnya Syahilapun tiba di sana. Akhirnya, orang tua Syahila menghadap Dokter Andre yang mana beliau adalah dokter spesialisnya Syahila dari Syahila pertama kali mengalami kecelakaan. Dokter Andre menjelaskan bahwa beliau telah mendapatkan batok kepala buatan yang dibawanya dari Amerika. Dokter Andre juga menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi selama atau sesudah pelaksanaan operasi pasang batok. Kemungkinannya yaitu fifty fifty, yang tentunya adalah antara operasi itu berasil dan tidak berhasil. Jika operasi itu gagal, berarti  Syahila tidak akan terselamatkan. Dan apabila operasi itu berhasil sekalipun, besar kemungkinannya Syahila akan mengalami gangguan mental alias idiot. Orang tua Syahila sangat terkejut mendengar hal itu, tetapi mereka tidak mempunyai pilihan lain selain melakukan operasi itu. Walaupun dengan biaya yang tidak sedikit dan bisa saja kemungkinan terburuk terjadi. Namun, kedua orang tuanya Syahila tetap menyetujui persyaratan operasi, karena menurut mereka setidaknya sudah berikhtiar, apapun hasilnya pasrahkan saja kepada Allah Ta’ala, yang terpenting doa tidak pernah putus untuk kesembuhan Syahila.

Pada saat Syahila hendak memasuki ruang operasi, Bu Nur sudah tidak kuasa lagi menahan air matanya. Iapun menangis karena memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi kepada putrinya. Syahila yang melihat ibunya menangis merasa bingung, ia menganggap ibunya tidak senang jika ia di operasi. Padahal menurutnya, jika ia melakukan operasi, ia akan segera pulih dan normal seperti anak yang lainnya.

“Mamah kenapa menangis? Apa mamah tidak ingin Sya di operasi? Tapi Syahila ingin sembuh Mah. Doakan Sya ya Mah, mamah jangan nangis lagi, nanti kalau Sya udah di operasi Sya sembuh Mah, Sya tidak akan membuat mamah khawatir lagi. Ucap Sya kepada ibunya. Mendengar ucapan Syahila, Bu Nur memaksakan dirinya untuk tersenyum, namun air matanya malah mengalir semakin deras. Semua orang yang berada disana pun ikut meneteskan air mata mendengar perkataan Syahila yang masih sangat polos itu.

“Mamah tidak nangis sayang, Sya kuat ya, Sya janji harus sembuh yaa. Mamah menunggu Sya disini. Ingat Sya, mamah menunggu Sya disini. Sya jangan pergi kemana – mana yaa.” Kata Bu Nur, ia memaksakan senyum diwajahnya namun terus mengeluarkan air mata.

“Sya tidak akan kemana – mana Mah, Sya akan disini saja. Sya janji.” Ucap Syahila kepada ibunya. Ia mengacungkan jari kelingking kirinya di hadapan ibunya. Bu Nur mengaitkan kelingking kirinya ke kelingking mungil Syahila.

“Janji ya?” Tanya ibunya sekali lagi, Syahila tersenyum dan mengangguk penuh keyakinan kepada ibunya. Lalu Syahilapun memasuki ruang operasi dengan dokter dan para perawat, sedangkan orang tua dan kerabat Syahila menunggu di luar.

Keplosan seorang anak memang salah satu anugerah bagi orang tuanya yang di limpahkan Allah SWT kepada setiap hambaNya. Karena dengan kepolosannya anak menjadi penghibur orang tuanya. Karena kepolosannya juga seorang anak akan tetap bahagia di tengah - tengah kesedihan yang sedang melanda. Kepolosan seorang anak juga menjadi kekuatan terbesar para orang tua yang ada di dunia. Itulah yang di rasakan oleh Bu Nur saat ia menangis tersedu – sedu karena Syahila akan memasuki ruang operasi. Namun dengan kepolosan Syahila, Bu Nur termotivasi untuk terus berfikir positif karena Syahila yakin akan kesembuhannya. Bu Nur juga bersyukur karena Syahila tersenyum saat memasuki ruang operasi, dan itu membuat hatinya sedikit tenang.

Di ruang operasi, Syahila masih saja tersenyum karena ia mengira setelah operasi  ia akan segera sembuh. Dokter dan para perawatpun merasa tersentuh karena rasa optimis Syahila. Dan hal itu pula yang menjadikan dokter menjadi lebih semangat untuk melakukan yang terbaik pada operasi ini. Terlebih lagi, Sya telah dianggap seperti anak sendiri oleh dokter tersebut.

“Sya, rambutnya di potong dulu yaa. Biar dokter mengoperasinya mudah, dan Sya bisa cepet sembuh.” Kata salah satu perawat yang sedang mencukur rambut Syahila, sementara perawat lainnya ada yang sedang menyuntikan obat bius kepada Syahila agar Syahila tidak sadarkan diri.

“Iya, tidak apa – apa suster. Potong saja rambut Sya, biar dokter pasang batoknya mudah. Kalau rambut nanti bisa tumbuh lagi, tapi kalau sekarang tidak di operasi aku tidak akan sembuh” Ucap Syahila polos. Semua orang yang ada di ruang operasi merasa tersentuh dengan ketabahan anak berusia enam tahun itu.

Sudah hampir enam jam lebih dokter masih berada di ruang operasi, semua orang yang menunggu di luar terus memanjatkan doa agar operasi berjalan lancar dan tidak ada kendala. Sementara itu, keadaan di luar sedang terjadi hujan yang sangat deras dan angin kencang disertai petir yang menggelegar. Dan setelah menunggu lebih lama lagi akhirnya dokter keluar, dan menjelaskan bahwa operasi berjalan lancar namun pasien belum sadar. Orang tua dan kerabat Syahila mengucap rasa syukur yang tak terkira kepada Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT.

Saat Syahila telah di pindahkan ke kamar pasien, Syahila belum juga sadar. Padahal sudah dua jam saat Syahila dipindahkan dari ruang operasi ke kamar rawat. Sementara semua orang sedang berada di luar ruangan, di dalam hanya ada neneknya Syahila yang sedang mengaji selesai sholat isya. Tiba – tiba beliau dikagetkan dengan kaki kiri Syahila teracung ke atas dan ia tampak histeris karena melihat sesuatu yang turun dari langit – langit kamar rumah sakit yang terus mendekatinya. Syahila melihat sebuah cahaya putih yang datang dari atas, semakin lama cahaya itu semakin mendekat ke arahnya.

“Nek, itu apa nek putih – putih terbang?” Tanya Syahila dengan posisi kaki kiri yang teracung ke atas. Neneknya mengucap rasa syukur berkali – kali karena akhirnya Syahila sudah sadar. Neneknya menoleh ke atas, namun beliau tidak melihat apa – apa.

“Itu AC Sya, bukan apa – apa.” jawab sang nenek, beliau menurunkan kaki kiri Syahila yang teracung ke atas perlahan – lahan.

“Bukan AC nek, itu cahaya putih yang terbang, tambah deket itu nek sama Sya.” Kata Syahila. Namun neneknya memang tidak dapat melihat apa – apa, akhirnya beliau hanya memperbanyak dzikir kepada Allah SWT dan bershalawat nabi. Sedangkan Syahila terus memperhatikan arah gerak cahanya itu kemana, cahaya itu lama kelamaan semakin dekat dengan dirinya. Namun, ternyata cahaya itu ke pasien sebelah Syahila berupa bapak – bapak. Cahaya itu seakan merasuk ke dalam tubuh bapak itu, Syahila terus memperhatikannya dengan seksama.

“Nek, cahayanya masuk ke bapak itu.” Kata Syahila sambil menunjuk pasien yang berada disebelahnya.

Tak lama kemudian, dokter dan para perawat berlarian ke arah pasien yang berada di sebelah Syahila. Ternyata bapak itu telah meninggal dunia, dan Syahilapun dipindahkan ke kamar yang lain oleh dokter.  Dalam benaknya Syahila mengira bahwa yang tadi dilihatnya itu adalah malaikat Izrail yang bertugas mencabut nyawa manusia. Namun, itu hanya perkiraan Syahila kecil. Tentang benar atau tidaknya, Wallahu’alam.

***

“Cukup berikan senyuman kepada orang yang mencaci maki, balaslah mereka dengan prestasi. Yang akan membuatnya sadar diri, bahwa kita berhak mempunyai mimpi yang tinggi.”

Sebulan kemudian, Syahila sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Dengan penuh  rasa percaya diri, Syahila berjalan dengan kepala di balut perban sepenuhnya membentuk seperti turban. Maka masyarakat sekitar sering menyebutnya Bu Haji karena perban yang dikepalanya seperti turban. Setiap harinya, Syahila memang tipikal anak yang ceria dan mudah bergaul dengan semua orang. Ia juga tidak merasa minder dengan kekurangan yang dimilikinya, karena Syahila yakin Allah SWT itu sangat sayang kepadanya. Namun, terkadang Syahila merasa sedih saat ada beberapa hal yang memang ia tidak dapat ikut serta bermain dengan teman teman seusianya karena keterbatasan fisiknya itu. Namun, sejak saat itu Syahila mulai kembali ceria kembali jika dibandingkan saat ia belum melakukan operasi. Lambat laun, Syahila mulai mengerti dan menerima dengan ikhlas keadaannya berbeda dengan yang lainnya. Walaupun ia seringkali merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya.

Setahun kemudian, rambut Syahila sudah mulai panjang sebahu. Saat usianya tepat menginjak tujuh tahun, Syahila langsung di daftarkan ke sekolah dasar oleh orang tuanya. Syahila tidak lagi melanjutkan sekolah taman kanak – kanaknya karena  masa pemulihan pasca operasi. Syahila di daftarkan ke sekolah dasar yang sama dengan para sepupunya. Syahila merupakan anak yang ceria dan mudah bersosialisasi sehingga mudah mendapatkan seorang teman. Syahila tidak merasa malu akan keterbatasan fisiknya yang memang sampai saat ini tangan kanannya masih lumpuh dan jalannya masih sedikit pincang. Syahila tetap bergaul dengan teman – teman yang lainnya. Sampai pada akhirnya, ada beberapa anak laki – laki yang mengejek fisik Syahila. Teman – teman perempuan Syahila membelanya dengan cara memarahi anak – anak yang mengejek Syahila. Namun, yang dilakukan Syahila hanya diam dan tersenyum yang terukir di wajahnya. Ternyata hal itu yang membuat teman – teman perempuan Syahila merasa kesal kepadanya.

“Sya, kamu jangan diem saja. Lawan atau marah gitu. Kamu sudah di ejekin tuh sama slamet dan teman – temannya.” Protes teman – teman perempuan Syahila.

“Kenapa harus marah? Yang dikatakan mereka benar kok, aku memang pincang, aku memang anak cacat. Tapi aku karena kecelakaan, karena Allah sayang sama aku. Allah ingin aku lebih bisa bersabar, jika aku marah itu tandanya aku tidak sabar.” Jawa Syahila bijak dengan wajah tersenyum, walaupun sejujurnya Syahila merasakan hatinya yang seperti disayat – sayat pisau berkali – kali.

“Tapi Sya...” Ucapan temannya terpotong oleh Syahila.

“Sudah tidak apa – apa, aku yang di ejek kok kalian yang marah. Jika keburukan di balas dengan keburukan, tidak akan habisnya. Senyumin saja, nanti kalau mereka cape juga berhenti sendiri.” Kata Syahila lagi. Ia tidak ingin memperpanjang masalah yang ada, karena Syahila hanya ingin fokus belajar untuk membahagiakan orang tuanya.

Setelah mengatakan hal itu, Syahila berniat ingin ke kamar mandi. Tiba – tiba salah satu tali sepatunya terputus karena terinjak oleh teman lelakinya. Syahila yang bingung karena ia tidak dapat mengikatnya kembali. Ia berniat untuk meminta bantuan teman perempuannya untuk mengikatkan tali sepatunya, tiba – tiba wali kelasnya Bu Ida menghampiri dan langsung berjongkok tepat dihadapan Syahila hendak mengikatkan tali sepatunya yang terlepas. Syahila yang merasa tidak enak langsung mencegahnya.

“Maaf bu, biarkan saja. Nanti saya minta bantuan teman saya saja.” Ucap Syahila, menolak bantuan dari Bu Ida.

“Sudah kamu diam saja.” Ucap Bu Ida. Kemudian beliau berjongkok mengikatkan tali sepatunya.

Syahila bukannya hendak menerima bantuan dari orang lain, ia hanya merasa segan dengan dengan Bu Ida. Syahila menganggap Bu Ida sebagai orang tuanya yang berada di sekolah, bukan hanya Bu Ida, semua gurupun Syahila anggap demikian. Yang mana orang yang Syahila hormati dan segani berjongkok dihadapannya, sedangkan ia berdiri. Syahila merasa hal itu tidak sopan, akan tetapi Bu Ida tetap bersikeras untuk mengikatkan tali sepatunya yang terlepas.

“Makasih bu.” Ucap Syahila.

Bu Ida hanya tersenyum lalu berlalu pergi, tak lama bel berbunyi. Syahila dan teman – temannya langsung berkumpul di lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga. Pak Didi selaku guru olahraga tiba dan membimbing anak – anak melakukan pemanasan. Karena keterbatasan fisiknya, Syahila melakukan pemanasan semampunya. Dan saat pelaksanaan olahraga yang sulit ia ikuti, Syahila hanya dapat duduk dan melihat teman – temannya mempraktekan apa yang di contohkan oleh guru. Dalam pikirannya ia bertanya – tanya kepada diri sendiri.

“Ya Allah, aku sudah melakukan operasi, aku sudah rajin terapi. Tapi mengapa aku masih belum bisa hidup normal sepeerti yang lainnya? Apakah aku harus lebih bersabar lagi?” Bathin Syahila, ia terus melihat ke arah dimana teman – temannya sedang berolahraga.

Syahila berusaha untuk tersenyum dan menghibur  diri sendiri, ia berusaha meyakinkan hatinya bila suatu saat dirinya akan normal kembali seperti anak – anak yang lainnya. Yang harus dilakukannya adalah bersabar, karena buah kesabaran pasti akan manis hasilnya. Syahila berusaha selalu mengingat pesan ayahnya, bahwa sesungguhnya Allah SWT bersama orang – orang yang sabar. Selain itu ayahnya pernah berkata bahwa orang sakit jika ia bersabar terhadap penyakitnya maka Allah akan menghapus dosanya sedikit demi sedikit. Sejak itu Syahila tidak lagi memperdulikan omongan orang dan ia tidak lagi mengeluh mempertanyakan mengapa dirinya mengalami hal seperti itu. Yang dilakukan Syahila adalah fokus belajar, ia mempunyai anggapan bahwa jika selama ini selalu di pandang sebelah mata oleh orang lain karena keterbatasan fisiknya, maka ia harus menjadi anak yang berprestasi sehingga orang tidak lagi memandangnya dengan sebelah mata.

Syahilapun membuktikan kepada semuanya bahwa walaupun ia berbeda dengan yang lain, walaupun mempunyai keterbatasan fisik, tapi ia berprestasi. Itu dibuktikannya dengan selama enam tahun berturut – turut Syahila terus menerus mendapatkan peringkat satu bahkan selalu menjuarai berbagai lomba yang diikutinya. Ia juga dipercaya oleh temannya untuk menjadi ketua kelas selama empat tahun berturut – turut. Bahkan karena prestasinya itu Syahila selalu mendapatkan beasiswa berturut – turut setiap tahunnya. Bahkan, saat ujian nasional ia meraih nilai tertinggi satu kecamatan. Setelah lulus dari sekolah dasar, sebenarnya Syahila ingin memasuki SMPN 1 Cirebon, yang mana menurut Syahila itulah sekolah terbaik yang berada di kotanya saat itu. Sayangnya, ayahnya itu tidak yakin bahwa Syahila dapat lulus masuk ke SMP itu yang memang persaingannya sangatlah ketat. Terlebih lagi dengan kondisi Syahila yang memang sampai sekarangpun masih sering merasakan nyeri dikepalanya, dan letak sekolah yang cukup jauh dari kediaman Syahila. Tetapi Syahila tetap bersih keras untuk masuk ke SMP yang diinginkannya itu.

“Ayah, teteh yakin bisa lulus ke SMPN 1 Cirebon.” Ucap Syahila masih berusaha membujuk sang ayah.

“Teteh, untuk masuk kesana itu nilai ujian nasional minimal harus 27,00. Lebih baik teteh masuk ke SMP yang dekat rumah saja yaa. Itu juga sekolah favorit kok.” Kata ayahnya mencoba meyakinkan Syahila.

“Aku tidak mau sekolah di sekolah yang favorit ayah, aku mau sekolah di sekolah yang terbaik. Karena jika sekolah favorit banyak orang yang ingin masuk kesana, sedangkan jika sekolah terbaik, memang banyak orang yang ingin masuk kesana, namun lebih banyak lagi siswa yang menghindar darinya karena memang persyaratan untuk masuk kesana sangatlah sulit. Dan aku ingin menjadi bagian dari mereka orang – orang yang dapat merasakan manisnya buah dari perjuangan ayah.” Ucap Syahila dengan sungguh – sungguh kepada ayahnya dengan mata yang menunjukan penuh rasa keyakinan. Ayahnya menatap mata Syahila dalam, mencoba mencari kesungguhan yang dimiliki anaknya itu. Namun, ayahnya Syahila langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan ia langsung mengambil secangkir kopi yang telah disiapkan oleh Ibu Nur, istrinya. Syahila yang tidak mendapat jawaban dari ayahnya itu hanya terdiam lalu memasuki kamarnya dengan mata berkaca – kaca menahan segala rasa yang tercampur dalam dada.

Keesokan harinya, walaupun sekolah sedang bebas karena telah melaksanakan ujian nasional, tetapi Syahila tetap pergi ke sekolah selagi menunggu pengumuman daripada hanya berdiam di rumah. Syahila mengobrol dengan Dora sahabatnya yang merangkap menjadi rivalnya di sekolah. Dora memberitahukan Syahila bahwa ia akan melanjutkan pendidikannya di salah satu pondok pesantren yang berada di kota Kuningan Jawa Barat.

“Sya kamu jadi masuk SMP 1 Cirebon?” Tanya Dora kepada Syahila.

“Ayah gak yakin aku bisa lulus kesana, gara – gara untuk masuk kesana itu nilai UN minimal rata – ratanya harus 9.” Jawab Syahila lesu.

“Berarti nilai UN-nya minimal harus 27, 00 ya Sya?” Tanya Dora kemudian. Syahila mengangguk sebagai jawaban. Tiba – tiba Syahila mendadak mendapatkan ide yang cemerlang, iapun tersenyum dibuatnya.

“Dora, daftarin aku yaa, ke pesantren yang sama kaya kamu.” Pinta Syahila kepada Dora dengan senyum yang belum menghilang dari wajahnya.

“Kamu serius? Orang tua kamu gimana?” Tanya Dora terkejut dengan permintaan Syahila yang tiba – tiba.

“Masalah itu nanti saja aku yang bicara dengan orang tuaku, yang penting sekarang daftarin aku dulu yaa.” Jawab Syahila santai.

“Iya sudah, nanti aku bilang ke ibuku untuk mendaftarkan kamu juga.” Kata Dora.

“Makasih Dora.” Ucap Syahila seraya tersenyum.

Sepulang sekolah, ia melihat ayahnya yang sedang duduk di kursi depan dengan di temani secangkir kopi dengan tangan kanannya yang memegang sebatang rokok yang sedang dihisapnya. Sementara tangan kirinya memegang ponsel untuk membaca berita di internet. Syahila melangkahkan kakinya sambil tangan kirinya membuka pagar rumah.

“Assalamu’alaikum.” Ucap Syahila dan ia melangkahkan kakinya mendekat kearah ayahnya.

“Wa’alaikumussalam.”  Jawab ayah dan ibunya bersamaan, yang  mana ibunya baru keluar dari arah dapur dengan membawa sepiring pisang goreng. Bu Nur meletakan pisang goreng itu di meja yang berada di sebelah suaminya, dan setelah itu ia pun duduk di kursi sebelahnya. Syahila langsung menyalami kedua orang tuanya itu dengan penuh penghormatan. Kemudian ia duduk dilantai tak jauh dari kedua orang tuanya.

“Ayah masih tidak setuju jika aku ingin bersekolah di SMPN 1 Cirebon?” Tanya Syahila to the point.

“Bukan tidak setuju, hanya kurang setuju.” Jawab ayahnya yang mencoba mengajak Syahila bercanda karena kini pertama kalinya melihat wajah Syahila yang sangat serius.

“Si ayah tuhh gimana sihh? Kalau begitu mah intinya sama saja kalau ayah tidak setuju.” Kata Bu Nur dengan sedikit logat sundanya yang khas menanggapi ucapan suaminya.

“Ya sudah tidak apa – apa kalau begitu, tapi aku mau bernegosiasi dengan ayah.” Kata Syahila, ia mencoba menyusun kata – kata yang akan di bicarakan kepada ayahnya di dalam otaknya.

“Tentang apa itu?” Tanya sang ayah penasaran.

“Jika ayah tidak mengizinkanku masuk ke SMPN 1 Cirebon tidak apa – apa, tapi aku mau masuk pesantren saja. Aku sudah mendaftarkan diri ke salah satu pesantren yang ada di Kuningan, dan minggu depan aku tes masuk pesantren itu.” Kata Syahila hati – hati.

“Kamu serius? Di pesantren itu nantinya nyuci sendiri, masak sendiri Sya. Nanti kamu akan kesusahan sendiri Sya.” Ucap Ibu Nur yang melihat keadaan tangan kanan Syahila yang sampai sekarang belum pulih juga. Sedangkan ayahnya hanya terdiam tidak berkata apa – apa.

“Ayah...” Panggil Syahila.

Dan saat itu juga ayahnya langsung menasehati Syahila tentang bagaimana kehidupan di pesantren. Dari banyaknya kegiatan yang sangat padat, budaya mengantri dimana -  mana, dan semua itu dilakukan sendiri. Mencuci, menyetrika, memasak, semuanya dilakukan sendiri. Ayahnya juga memberitahu Syahila bahwa di pesantren harus disiplin, jika tidak disiplin pasti selalu ada hukumannya. Ayahnya memberitahu tentang kehidupan di pesantren yang diketahuinya. Waktupun berlalu, tak terasa 2 jam sudah ayahnya bercerita tentang kehidupan di pesantren.

“Kamu siap?” Tanya ayahnya kepada Syahila. Syahila memejamkan mata sejenak sambil menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Aku siap.” Jawab Syahila cepat, karena Syahila yakin kedua orang tuanya tidak akan mengizinkannya untuk masuk pesantren. Sehingga mau tidak mau orang tuanya akan menuruti keinginan Syahila. Namun, tak pernah ada dalam pikiran Syahila bahwa ayahnya akan menyetujuinya untuk masuk ke pesantren, niat Syahila membicarakan hal ini adalah agar ayahnya lebih memilih memasukannya ke SMP yang diinginkannya, bukan untuk benar – benar masuk pesantren.

Minggu depannya Syahila berangkat ke pesantren yang akan dimasukinya untuk melaksanakan tes tulis sekaligus wawancara. Ia diantar hanya oleh ibunya karena ayahnya harus pergi bekerja. Syahila dan ibunya berangkat bersama dengan Dora teman satu kelasnya, dan Julian anak dari teman ayahnya Dora. Dora diantarkan oleh kedua orang tuanya, sedangkan Julian sama seperti Syahila hanya diantar oleh ibunya karena ayahnya sedang ada keperluan yang tidak dapat ditinggalkan. Sesampainya disana, julian langsung memisahkan diri dari Syahila dan Dora karena memang dia adalah laki  laki jadi harus ke tempat tes khusus laki – laki. Syahila dan Dora langsung memasuki kelas tempat mereka akan melaksanakan tes tulis setelah mendapatkan kartu yang berisi identitas dan nomor ujian. Setelah menemukan kelas yang dituju, ternyata Syahila dan Dora duduk berdekatan, Dora duduk di kursi tepat dikursi yang ada di belakang Syahila. Selain mereka, dikelas itu juga banyak orang yang akan berjuang untuk dapat lulus masuk ke pesantren ini. Hal itu terpancar dari wajah – wajah mereka, mulut mereka seakan terus menerus memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar di mudahkan untuk mengerjakan ujian. Berbeda dengan Syahila yang memang tidak benar – benar menginginkan untuk masuk ke pesantren ini. Disaat banyaknya orang memanjatkan doa untuk masuk ke pesanren itu, ia malah sibuk memikirkan bagaimana cara menjawab wawancara nanti agar ia tidak lulus masuk ke pesantren ini. Maka saat lembaran soal dibagikan, Syahila mengerjakannya dengan asal – asalan agar ia tidak lulus masuk ke pesantren ini saat Syahila selesai mengerjakan soal, ia melihat orang – orang yang berada di sekelilingnya sedang mengerjakan soal dengan sangat serius. Dalam pikirannya terlintas bagaimana reaksi orang tuanya saat mengetahui hasil tes ini kelak. Akankah jika ia tidak lulus orang tuanya akan kecewa atau bagaimana Syahila tidak tahu.

Setelah selesai melaksanakan ujian, elagi menunggu giliran tes wawancara, Syahila dan Dora berkeliling untuk melihat asrama. Dari kelas tempat mereka ujian, ada dua jalan untuk pergi ke asrama. Melalui tangga atau jalan yang berada di bawah tangga. Mereka bingung apakah ingin melewati tangga atau melewati jalan yang berada di bawah tangga.

“Jadi mau lewat mana nihh?” Tanya Dora kepada Syahila.

“Lewat tangga saja dulu, pulangnya baru lewat bawah. Kan sama saja, menuju asrama Jugakan?” awab Syahila santai.

“Iya juga ya? Biar kita tahu semua jalannya.” Ucap Dora.

Akhirnya mereka melewati tangga yang menghubungkan sekolah dengan asrama, saat sedang berada di atas tangga, mereka berhenti sejenak menikmati indahnya gunung Ciremai yang berada di sebelah barat mereka. Setelah puas menikmati indahnya gunung Ciremai, mereka melangkahkan kakinya untuk menuju asrama. Saat tiba disana, terlihat asrama yang bersih dengan banyaknya tanaman dan pepohonan di sekitar kamar. Tak jauh dari sana, terlihat sebuah mushola tempat para santri menunaikan ibadah sholat. Namun, saat berada disana Syahila merasakan ada yang ganjal. Karena ia melihat sebuah sarung yang terlipat rapi dan peci diatasnya yang diletakkan diatas meja yang terlihat dari luar dari salah satu kamar. Saat Syahila hendak memberitahu Dora mengenai keganjalan ini, ternyata ada seorang santri putra yang hendak pergi ke mushola menghampiri mereka terlebih dahulu. Melihat dari penampilannya, Syahila menebak bahwa santri putra itu adalah kakak kelas mereka, terlihat dari penampilannya yang sudah terlihat dewasa.

“Assalamu’alaikum.” Ucapnya.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab Syahila dan Dora bersamaan.

“Kalian sedang apa disini dek?” Tanya santri itu kepada mereka.

“Sedang melihat asrama kak.” Jawab Dora. Santri itu tersenyum.

Kemudian santri itu memberitahukan mereka bahwa kawasan ini adalah kawasan asrama ikhwan (laki – laki), sedangkan asrama akhwat (perempuan) berada di belakan mushola ini. Santri itu juga menjelaskan bahwa tangga yang tadi mereka gunakan adalah jalan penghubung untuk pergi ke asrama ikhwan sedangkan jalan yang berada di bawah tangga itu adalah jalan penghubung untuk pergi ke kawasa asrama dan sekolah akhwat. Kemudian santri itu mempersilahkan mereka untuk segera meninggalkan area ikhwan.

“Kalau begitu maaf ya kak, kami tidak tahu mengenai hal itu. Dan terimakasih telah menjelaskannya kepada kami.” Ucap Syahila kepada Santri itu. Sedangkan santri itu hanya mengangguk dan tersenyum.

Syahila dan Dora segera pergi dari tempat itu dengan perasaan malu yang teramat sangat. Terlebih Syahila saat itu hanya mengenakan kaos panjang dengan celana jins dan kerudung bergo saja.

Saat mereka kembali ke kelas tempat mereka ujian tadi, tak lama kemudian nama mereka di panggil untuk segera melakukan wawancara. Syahila memasuki kelas yang mana sudah ada seorang ustadzah yang akan mewawancarainya.

“Assalamu’alaikum ustadzah.” Ucap Syahila, seraya tersenyum.

“Wa’alaikumussalam, silahkan duduk.” Jawab ustadzah itu, Syahila pun duduk tepat di hadapan ustadzah itu.

“Syahila Afsheen Myesha dari Cirebon, benar?” Tanya ustadzah itu kepada Syahila memulai wawancara..

“Iya benar ustadzah.” Jawab Syahila.

“Baik Syahila, apa motivasi anti untuk masuk ke pesantren ini?”

“Sejujurnya, ssaya masuk ke pesantren ini hanya untuk membuat orang tua saja mengizinkan saya untuk bersekolah ke sekolah impian saya selama ini. Saya mempunyai anggapan bahwa jika saya ingin masuk pesantren orang tua saya akan menyetujui saya bersekolah di sekolah impian saya.” Jawab Syahila jujur.

“Mengapa anti punya anggapan seperti itu? Bukankah kebanyakan orang tua akan mendukung jika anaknya itu meminta untuk di masukan ke pesantren?”

“Mungkin itu berlaku untuk orang tua pada umumnya, namun berbeda dengan orang tua saya.”

“Alasannya?” Tanya ustadzah itu penasaran.

“Karena saya berbeda dari kebanyakan anak pada umumnya, saya menderita gangguan syaraf yang disebabkan kecelakaan 10 tahun yang lalu. Yang mengakibatkan tangan kanan saya lumpuh dan jalan saya yang pincang.” Kata Syahila, ia menunjukan tangan kanannya kepada ustadzah yang tidak bisa ia gerakan dengan dibantu dengan tangan kirinya.

“Berarti itu kecelakaannya waktu kamu kecil yaa? Saat kejadian, umur kamu berapa?”

“Saat umur saya 2 tahun.” Jawab Sya cepat. Wawancara itu berlanjut sampai selesai. Kemudian Syahila dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan.

***

“Yang aku butuhkan hanyalah sebuah kepercayaan, karena kepercayaan adalah kekuatan yang paling kuat setelah doa.”

Setelah sholat ashar, Syahila dan ayahnya sedang melihat nama – nama yang lulus masuk ke pesantren tempat tes yang diikuti Syahila. Ayahnya terus men-scroll daftar nama – nama anak yang lulus di website pesantren itu, dan sampailah pada nama terakhir tetapi ayahnya belum menemukan nama Syahila dalam daftar itu.

“Sepertinya kamu tidak lulus dehh Sya.” Ucap Sang ayah, dalam nada bicaranya terdapat nada kekecewaan yang sangat jelas terdengar oleh Syahila.

Sempat ia menyesal karena telah merusak harapan sang ayah, walau awalnya memang ayahnya itu sedikit keberatan jika ia memasuki pesantren. Jika melihat reaksi ayahnya seperti ini, di satu sisi ingin rasanya Syahila ingin mengulang kembali saat dia melakukan tes, ingin rasanya ia mengerjakan soal dengan sungguh – sungguh agar ia tidak melihat kekecewaan di wajah ayahnya seperti sekarang. Namun, di sisi lain, ia juga ingin masuk ke sekolah yang memang sudah lama ia impikan. Syahila tidak dapat membayangkan bagaimana jika ayahnya mengetahui hal yang sebenarnya bahwa ia hanya main – main tentang masuk pesantren itu. Syahila sampai merasakan kepalanya yang semakin berat, seakan ia tidak mempunyai tenaga untuk mengangkat kepala di depan ayahnya karena rasa bersalah yang sangat dalam. Saat Syahila semakin menundukkan kepalanya, tiba – tiba wajah sang ayah berubah menjadi sumringah.

“Sya, ternyata kamu lulus Sya. Kamu berada di nomor 12, ternyata daftar nama yang lulus itu tidak di urutkan sesuai abjad, tapi diurut sesuai hasil nilai tes kemarin. Ayah bangga sama kamu Sya.” Ucap ayahnya bahagia.

“Masa sihh yah? Mungkin itu namanya saja yang sama, coba di cek lagi yah.” Pinta Syahila yang terkejut mendengar apa yang telah diucapkan sang ayah.

“Enggak kok, namanya Syahila Afsheen Myesha dari Cirebon. Itu benar kamu Sya.” Kata ayahnya lagi.

Sebenarnya, Syahila bahagia melihat wajah ayahnya yang sekarang. Rasa bahagia dan rasa bangga sekarang terpancar dari wajah tegasnya. Berbeda dari wajah sebelumnya yang penuh dengan rasa kecewa, Syahila lebih senang melihat wajah ayahnya yang seperti ini daripada wajah yang sebelumnya. Namun, yang Syahila bingungkan adalah bagaimana bisa dirinya lulus masuk ke pesantren sedangkan ia saat mengerjakan soal saja asal – asalan. Ketika wawancarapun, ia menjawab dengan jujur bahwa ia mengikuti tes ini agar ia diizinkan untuk sekolah yang sudah lama ia impikan. Namun, jika melihat wajah ayahnya seperti ini, Syahila bersyukur karena Allah telah mengizinkannya untuk menggoreskan rasa bahagia kepada orang tuanya walau hanya sesaat. Syahila memutuskan untuk membiarkan ayahnya yang sedang berbahagia meski hanya sesaat. Sebelum ia mengatakan hal yang sebenarnya.

Keesokan harinya, orang tua Syahila langsung ke pesantren tersebut untuk melakukan daftar ulang. Walau memang dengan biaya yang sedikit menguras kantong, tetapi orang tuanya Syahila langsung melakukan daftar ulang dan membeli keperluan apa saja yang dibutuhkan oleh Syahila di pesantren nanti. Sedangkan Syahila yang melihat itu semua dilema, karena disatu sisi ia ingin masuk sekolah impiannya. Disisi lain, ia tidak ingin menyia – nyiakan semua yang telah orangtuanya korbankan agar dapat memenuhi kebutuhannya di pesantren kelak. Maka, walaupun hati Syahila berteriak ia tidak ingin masuk pesantren, namun mulutnya seakan terkunci rapat tidak bisa mengeluarkan kata – kata penolakan.

Minggu depannya, hasil ujian nasional keluar. maka dari itu para wali murid di undang untuk menghadiri penerimaan surat kelulusan yang memang wajib  diambil oleh orangtua. Bu Nur dan Syahila bersiap untuk pergi ke sekolah tempat Syahila menuntut ilmu, dengan diantarkan oleh ayahnya Syahila yang kebetulan sedang ada di rumah karena telah sip malam. Syahila dan ibunya hanya diantar sampai depan gerbang sekolah, setelah itu ayahnya Syahila langsung pulang ke rumah karena semalaman belum tidur karena telah masuk sip malam. Tak lama berselang setelah ayahnya Syahila pergi, tiba – tiba ada yang menepuk pundak Bu Nur, ibunda Syahila dari arah belakang. Saat Bu Nur menoleh, ternyata itu adalah ibu dari Dora teman Syahila. Selagi para ibu sedang mengobrol, Syahila dan Dora memasuki kelas karena Bu Eni, selaku wali kelas mereka memberi aba – aba.  Jadi, ruangan para anak dan para orang tua itu dipisah, sehingga para anak tidak tahu apa saja yang di bicarakan oleh kepala sekolah kepada orang tua mereka.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh.” Ucap Bu Eni.

“Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh.” Jawab anak – anak serempak.

“Alhamdulillah nilai ujian nasional sudah keluar, dan hasilnya bagus semua.” Kata Bu Eni memberitahu.

“Langsung saja untuk nama yang Ibu panggil harap maju ke depan.” Kata Bu Eni.

Saat itu juga kelas menjadi hening seketika, semua anak merasa tegang. Mereka tentunya berharap bahwa dirinyalah yang akan menjadi salah satu dari siswa berprestasi itu. Begitupun dengan Syahila, ia berdoa kepada Tuhan agar ia dapat terus mempertahankan prestasinya selama ini.

“Yang mendapat nilai raport tertinggi adalah...” Ucap Bu Eni.

Bu Eni sengaja tidak menuntaskan apa yang ingin diucapkannya. Bu Eni melihat semua wajah anak didiknya satu persatu yang kini sedang tegang dan berharap – harap bahwa namanya yang akan disebut. Tiba – tiba saja Bu Eni melihat wajah Syahila, wajah yang biasanya terlihat polos itu kini terlihat serius sedang berdoa agar diberikan hasil terbaik. Bu Eni jadi teringat saat pertama kali Syahila pindah sekolah tempatnya mengajar, tepatnya saat Syahila masih duduk di kelas 5. Pada hari pertamanya pindah sekolah Syahila sudah diganggu oleh salah satu anak didiknya yang mempunyai sifat bossy, sebut saja Meka. Masih sangat teringat jelas dalam pikiran Bu Eni saat Syahila menangis di hari pertamanya pindah sekolah karena di ganggu oleh Meka. Saat Bu Eni bertanya pada Syahila mengapa ia menangis, Bu Eni menahan tawa mendengar jawabannya.

“Anak laki – laki itu colek – colek dagu saya bu.” Jawab Syahila, ia menunjuk Meka yang berdiri tak jauh dari dirinya. Pandangan Bu Eni kemudian beralih kearah Meka.

“Meka, kamu kenapa colek – colek dagu Syahila? Lihat tuh, Syahila jadi nangis gara – gara kamu.” Tanya Bu Eni.

“Karena aku suka sama Syahila bu.” Jawab Meka polos.

Mendengar jawaban Meka Bu Eni terperangah, ia menatap Meka dengan tatapan tak percaya. Disatu sisi beliau bersyukur anak didiknya masih sepolos itu sehingga ketika Meka ditanya oleh beliau Meka menjawabnya dengan jujur. Namun, disisi lain, Bu Eni melihatnya miris, anak didiknya sudah mempunyai pemikiran yang seperti itu. Padahal sejatinya, masih belum saatnya untuk mereka memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Karena mereka masih terlalu muda, dan seharusnya mereka itu fokus saja dalam belajar untuk masa depan. Mungkin ini adalah PR untuk para orang tua dan guru agar lebih memantau para buah hatinya untuk lebih fokus dalam belajar sehingga dapat mengurangi kasus seperti yang dialami oleh Syahila. Saat mata Syahila bertemu dengan mata Bu Eni, seketika itu juga Bu Eni tersadar dan langsung memanggil nama anak yang berprestasi agar maju ke depan kelas.

“Dora, silahkan maju ke depan.” Kata Bu Eni.

Riuh tepuk tangan memenuhi kelas, Dora segera maju kedepan dan berdiri tepat disamping Bu Eni. Bu Eni menjelaskan bahwa Doralah yang mendapatkan nilai raport terbaik. Syahila tersenyum sebagai tanda bahwa ia juga merasa bahagia atas prestasi yang telah diraih sahabatnya itu. Walaupun sejujurnya, Syahila harus merasakan hatinya tersayat. Namun ia mencoba untuk berlapang dada karena itu memang bukan rezekinya, jadi ia bertekad untuk lebih giat lagi dalam belajar.

“Ada satu orang lagi yang memang beberapa bulan terakhir ini ikut serta membantu mengharumkan nama sekolah ini dengan banyaknya lomba yang di menangkan olehnya. Dan saat ini dia kembali mengharumkan nama sekolah yang kita cintai. Syahila Afsheen Myesha  ia silahkan maju ke depan.” Ucap Bu Eni yang berhasil membuat Syahila terkejut, ia masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh Bu Eni. Namun, Bu Eni terus memerintahkannya untuk maju kedepan. Akhirnya ia maju ke depan dengan perasaan bingung, sementara itu tepuk tangan meriah dari teman – teman kelasnya sangat terdengar jelas ditelinganya.

“Alhamdulillah, Syahila telah berhasil mencapai nilai ujian tertinggi di sekolah ini, bahkan nilai ujiannya tertinggi sekecamatan. Maka dari itu ibu mempunyai sedikit hadiah untuk kalian berdua karena telah berprestasi untuk sekolah ini. Tolong jangan melihat dari harganya, karena memang harganya tidak seberapa.” Kata Bu Eni menjelaskan.

Bu Eni memberikan hadiah yang telah dibawanya kepada Syahila dan Dora. Setelah itu Syahila dan Dora kembali ketempat duduknya masing – masing. Syahila merasa sangat bersyukur karena walaupun nilai raportnya dikalahkan oleh Dora, namun ia berhasil meraih nilai ujian nasional tertinggi sekecamatan. Bertambahlah lagi hikmah kehidupan bagi Syahila, yang mana dengan mengikhlaskan sesuatu Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik untuk diri kita. Dengan mengikhlaskan sesuatu, kita tidak akan di rugikan apapun.

***

“Semakin banyak cobaan menerpa,ingatlah! Kasih sayang Allah lebih banyak kepada kita, para hamba-Nya.”

Hari itu Syahila dan ibunya pulang dengan wajah yang terlihat bahagia, dirumahnya ayah Syahila telah menanti akan surat kelulusan Syahila. Syahila melihat ayahnya sedang memberi makan burung peliharaannya, setelah sang ayah menyadari bahwa istri dan anaknya sudah kembali. Beliau langsung menanyakan hasil dari belajar Syahila kurang lebih satu setengah tahun di sekolah tempat Syahila belajar kini. Bu Nur menyerahkan surat kelulusan Syahila yang masih disegel itu kepada suaminya. Sang ayah langsung membuka dan membaca surat itu lalu ia menggaruk – garuk pelipisnya yang tidak gatal. Sesekali ayahnya juga melihat ke arah Syahila.

“Wah, Sya, kalau melihat nilaimu seperti ini kamu lulus banget masuk SMP 1 Cirebon.” Ucap ayahnya.

“Kan Sya sudah bilang ayah, Sya bisa masuk kesana. Ayahnya saja yang tidak mempercayai Sya.” Ucap Syahila pada ayahnya.

“Tapi tidak apa – apa, kamu masuk pesantren saja. Biar belajar agamanya lebih daripada di sekolah umum.” Kata Sang ayah. Syahila menundukan kepalanya, tatapan matanya meredup memancarkan kekecewaan, dan itu tertangkap oleh pandangan ayahnya.

“Tapi Sya mau masuk ke SMP 1 Cirebon ayah.” Ucap Syahila lirih.

Ayahnya yang melihat putri sulungnya sedih itu merasa tidak tega, ayahnya berencana untuk memasukan Syahila ke SMP yang selama ini diinginkannya itu. Karena Syahila sudah membuktikan bahwa dirinya dapat mencapai nilai rata – rata untuk masuk ke sekolah impiannya, bahkan lebih. Namun ayahnya berfikir akan biaya yang telah dikeluarkannya untuk mengurus daftar ulang yang memang tak sedikit ke pesantren tempat Syahila mendaftar, belum lagi barang – barang yang memang wajib dibawa ke pesantren. Bukan maksud ayahnya hitung – hitungan, namun ayahnya juga memikirkan bagaimana dengan kedua adiknya Syahila yang juga membutuhkan biaya sekolah. Karena Syahila terlahir dari keluarga yang sederhana, sehingga harus menggunakan uang dengan sangat bijak agar dapat mencukupi semua kebutuhan. Ayahnya Syahila hanyalah seorang karyawan swasta sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga, sehingga penghasilan keluarga kecil mereka hanyalah dari ayahnya. Saat Bu Nur mengetahui niat suaminya itu, Bu Nur langsung menasehati Syahila agar masuk ke pesantren saja. Karena agar Syahila mendapatkan ajaran agama yang lebih daripada orangtuanya, selain itu untuk mengurangi pengeluaran keluarga mereka karena sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mendaftarkan Syahila ke pesantren. Ingin rasanya Syahila menolak akan hal itu, tapi Syahila mengingat bagaimana perjuangan ayahnya yang kerja siang dan malam berusaha untuk menghidupi keluarganya. Maka Syahilapun mencoba menerima dengan lapang dada, karena hal ini merupakan dampak ulahnya sendiri yang meminta orang tuanya untuk mendaftarkan dirinya ke pesantren.

“Ini namanya senjata makan tuan.” Rutuknya dalam hati.

Niat Syahila meminta orang tuanya untuk mendaftarkannya ke pesantren adalah hanya untuk membuat ayahnya agar mengizinkan dirinya untuk memasuki sekolah impiannya. Saat mengikuti tespun, ia sangat yakin bahwa dirinya tidak akan di terima di pesantren tersebut. Tapi nyatanya, sekarang dirinya akan benar – benar masuk pesantren. Ia sekarang baru membayangkan bagaimana nanti saat dirinya telah di pesantren, akankah ia bisa menjalani kehidupan yang super padat di pesantren? Dengan kondisi tangan kanannya yang tidak berfingsi, sedangkan di pesantren itu semuanya dilakukan sendiri? Akankah ia bisa melewati itu semua? Syahila mulai meragukan dirinya sendiri saat sebentar lagi ia berangkat ke pesantren untuk menuntut ilmu. Untuk menenangkan pikirannya, saat waktu dzuhur tiba Syahila langsung mengambil air wudhu dan menunaikan sholat dzuhur. Setelah itu ia menyalakan televisi untuk menonton acara laptop si unyil. Diwaktu yang sama adik laki – lakinya meminta izin kepada ibunya untuk main.

“Mah, aa mau main yaa.” Ucap Fahmi kepada ibunya dari luar.

“Jangan a, panas. Nanti sore saja.” Jawab ibunya dari dalam rumah.

“Sebentar saja ya mah, nanti aa langsung pulang lagi kok.” Bujuk Fahmi kepada ibunya. Syahila melihat ibunya jalan keluar rumah untuk menghampiri adiknya.

“Terserah kamu sajalah a, gak usah pulang saja sekalian.” Kata Bu Nur, yang sudah mulai kesal karena anaknya tidak dapat dinasehati.

Fahmipun mengeluarkan sepedanya keluar pagar, dan ia langsung melesat entah kemana. Ayahnya Syahila sedang tidur karena beliau sudah kerja lembur semalaman, sedangkan Bu Nur sedang berada di dapur memasak untuk makan siang. Sementara Syahila masih setia di depan televisi sambil menunggui adek bungsunya yang sedang tidur. Syahila dan Fahmi memang mempunyai sifat yang sedikit berbeda, mungkin karena gender mereka juga berbeda. Fahmi yang lebih suka main bersama teman – temannya diluar, sedangkan Syahila lebih memilih untuk diam di rumah melakukan hal ia sukai. Saat berada dirumah, terkadang Syahila menulis kegiatan yang telah dilakukannya pada hari itu. Atau tidur siang sampai waktu ashar, kebetulan Syahila beberapa bulan ini kurang istirahat karena mengikuti berbagai bimbel persiapan ujian nasional. Semenjak ujian nasional selesai, seakan Syahila ingin mengistirahatkan otaknya sejenak dan mempersiapkannya untuk ke jenjang yang lebih tinggi. Tak lama setelah adiknya pergi bermain, tiba – tiba beberapa teman Fahmi datang ke rumah memanggil ibunya. Bu Nur yang sedang berada di dapur langsung menemui teman – teman Fahmi.

“Ada apa? loh, Fahminya mana?” Tanya Bu Nur kepada teman – temannya Fahmi.

“Itu mah Fahmi, Fahminya jatuh dari sepeda. Fahminya masih ada di deket jembatan.” Jawab salah satu temannya memberitahu.

“Fahminya disana sama siapa?” tanya Bu Nur lagi dengan nada panik.

“Sendiri. Kita kesini disuruh Fahmi bilang ke mamahnya.” Jawab teman Fahmi lagi.

“Owh ya sudah makasih.” Ucap Bu Nur. Setelah itu teman – teman Fahmi pergi.

Bu Nur tidak langsung menghampiri Fahmi ke tempat dimana anak keduanya jatuh, beliau berfikir Fahmi adalah anak laki – laki yang kuat, sehingga jika jatuh dari sepeda ia akan mampu pulang sendiri ke rumah. Namun saat ditunggu – tunggu Fahmi belum datang juga.  Maka selesai memasak Bu Nur berencana untuk menyusul fahmi, tapi saat beliau baru berada di depan pagar Fahmi sudah terlihat dari kejauhan menangis sambil memegang lengan kirinya. Bu Nur sudah siap memarahi Fahmi karena tidak mendengarkan perkataan orang tua.

“Tadikan mamah sudah bilang mainnya nanti sore saja, aa gak nurut sih, jadi jatuhkan?’ Bu Nur memarahi Fahmi dari jauh, sedangkan Fahmi terus menangis sambil memanggil ibunya. Tiba – tiba Bu Nur pingsan tepat dihadapan Fahmi, yang nangisnya makin keras. Hal itu mengundang perhatian tetangga sekitar, Syahila yang sedang menonton televisi keluar karena mendengar keributan untuk melihat keadaan sekitar. Saat Syahila sedang mencari tahu penyebab keributan tersebut, para tetangga masuk ke dalam rumahnya dengan membopong ibunya yang pingsan.

“Awas, hati – hati.” Kata beberapa orang yang membopong Bu Nur.

“Pelan – pelan.” Kata mereka lagi.

“Sya ayahnya mana? Itu tolong bawa adek kamu ke rumah sakit.” Ucap Bu Riris, salah satu tangga Syahila. Melihat ibunya pingsan Syahila langsung berlari ke  kamar orangtuanya untuk membangunkan ayahnya.

“Ayah, ayah.... bangun ayah. Mamah pingsan.” Kata Syahila membangunkan ayahnya, ia sudah mulai mau menangis, tapi ia tahan. Ayahnya sudah bangun, namun kesadarannya masih belum kembali sepenuhnya.

“Ayah mamah pingsan, Fahmi jatuh, tetangga pada ribut diluar ayah...” Setelah ayahnya sadar dengan sepenuhnya, ayahnya langsung keluar dan mencari istrinya yang pingsan.

“Pak Agus, itu bawa Fahmi ke rumah sakit saja, biar Bu Nur saya yang nunggu sama Syahila.” Ucap Bu Riris sambil menggendong Putri, adik bungsu Syahila yang terbangun karena mendengar keributan di luar. Pak Agus langsung berlari keluar dan menghampiri anak keduanya yang sedang di temani oleh bapak – bapak yang sedang memeriksa tangannya.

“Owh, ini Pak Agusnya sudah datang, Pak sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit pak. itu tulang lengannya patah.” Kata salah satu tetangga yang telah memeriksa keadaan Fahmi. Pak Agus langsung menggendong Fahmi yang masih menangis karena kesakitan.

Sementara itu Syahila bersama Bu Riris tetangga terdekatnya menunggu Bu Nur sadar dari pingsan. Syahila diminta oleh ibu Riris untuk membuatkan teh hangat untuk ibunya, maka Syahila langsung pergi ke dapur dan membuat teh hangat. Saat Syahila selesai membuat teh hangat untuk ibunya, Putri, adik bungsu Syahila yang masih berumur 8 itu menangis sehingga Bu Riris membawanya keluar untuk menenangkannya. Syahila hanya berdua dengan ibunya yang pingsan, ia mendekatkan minyak angin ke arah hidung ibunya dengan harapan ibunya cepat sadar dari pingsan. Tak lama kemudian, ibunya mulai sadar. Namun ibunya langsung menangis, Syahila melihat air mata ibunya mengalir deras jatuh kepipinya. Syahila melihat raut keputus asaan dari mata sang ibunda, Bu Nur yang saat itu merasa bahwa beliau sudah tidak kuat lagi untuk menghadapi cobaan yang terus menerpa.

“Ya Allah Sya, mamah tuh dosa apa? dosa besar apa yang pernah mamah lakukan? Allah terus memberi cobaan tanpa henti. Dulu kamu ketiban kelapa, hampir di suntik mati, mau dibawa dokter ke amerika, terapi, tapi sampai sekarang tangan kanan kamu masih lumpuh dan berjalan juga masih sedikit pincang. Padahal kamu terlahir normal, masa sekarang adek kamu tulang tangan kirinya juga patah? Mamah salah apa Sya? Mamah sudah tidak kuat lagi.” Bu Nur meluapkan semua hal yang selama ini mengganjal dihatinya kepada Syahila.

Tiba – tiba kenangan buruk masa lalu terlintas dalam pikiran Bu Nur, kenangan tentang Syahila kepalanya tertimpa kelapa, Syahila yang koma begitu lama dan hampir di suntik mati, Syahila yang akan di bawa oleh dokter spesialisnya ke Amerika untuk melakukan pengobatan sampai kembali normal dan tidak akan lagi pulang ke Indonesia. Syahila yang terus terusan mengonsumsi obat – obatan dan menjalankan segala macam terapi. Syahila yang diajari kembali bagaimana caranya berbicara dan berjalan. Kemungkinan saat Syahila dioperasi akan menjadi anak yang memiliki gangguan mental. Bayangan itu semua hadir kembali di pikirannya Bu Nur membuat air matanya turun semakin deras membasahi pipi. Mendengar semua keluhan ibunya Syahila hanya bisa menangis, ia juga merasa sangat bersalah kepada ayah dan ibunya. Karenanya, hidup kedua orangtuanya menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Disaat seperti ini Syahila teringat bahwa orang tuanya pernah bercerita mengenai dirinya akan di bawa oleh ke dokter Andre ke Amerika untuk menjalani pengobatan. Dalam pikirannya, jika memang saat itu orang tuanya menyetujui dokter Andre membawanya ke Amerika beban orang tuanya akan menjadi ringan.

Ketika waktu ashar telah tiba Syahila segera mengambil air wudhu dan menunaikan sholat ashar, di tengah hati yang sedang gundah gulana ia berdoa kepada Allah SWT untuk kesembuhan Fahmi, adiknya. Saat melihat ibunya menangis, ia merasa hatinya tersayat – sayat. Rasa bersalah menggelayuti hatinya, ia merasa bahwa dirinya hanya menjadi untuk keluarganya saja, karena tidak bisa melakukan apa – apa. bahkan menjaga adiknya sendiripun tidak bisa. Dan diwaktu yang sama, ia mendapat kabar dari ayahnya yang berada di rumah sakit tempat Syahila dirawat dahulu, bahwa tangan adiknya harus menjalani operasi karena tulang tangan kirinya patah dan kondisinya lumayan parah.

“Ya Allah, aku tahu Engkau Maha Mendengar, aku tahu Engkau Maha Mengetahui, aku tahu Engkau Maha Melihat, aku tahu Engkau Maha Besar, aku tahu Engkau Maha Segala – galanya. Maka, dengarkanlah doaku, lihatlah kesungguhan hatiku, aku memohon Kepada-Mu untuk mengabulkan doaku. Sembuhkanlah adikku, demi ibuku yang hampir putus asa itu. Aku tak kuasa melihat air mata berharganya yang terbuang sia – sia itu. Aku tak dapat membayangkan jika nasib adikku sama sepertiku, aku tak menginginkan hal itu. Maka aku memohon kepada-Mu untuk menyembuhkan adikku, aku ikhlas jika aku harus cacat seumur hidupku, yang terpenting adikku dapat hidup normal kembali. Biarlah aku yang menanggung semua rasa malu akan kekuranganku, biarlah aku yang merasakan pahitnya dipandang sebelah mata dan dihina. Biarlah aku saja yang merasakan kesulitan akan melakukan sesuatu karena kelumpuhan tangan kananku. Aku ikhlas merasakan semua ujian-Mu, namun jangan biarkan adikku merasakan itu. Aku tak kuasa jika harus melihat adiku kesulitan dalam menjalani kehidupan yang semakin keras dengan satu tangan. Aku tak ingin melihat mimpi adikku terhambat karena keterbatasan fisiknya sama sepertiku. Aku tak ingin melihat adiku dipandang sebelah mata dan dihina oleh banyak orang. Biarlah aku saja yang merasakan semua itu. Tunjukanlah kepadaku setitik kekuasaan-Mu untuk kesembuhan adikku. Walau aku tahu, Engkau telah memberikan Segala Kekuasaan dan Kebesaran-Mu kepadaku sehingga aku masih bisa bernafas sampai hari ini. Namun, jika aku tak memohon kepada-Mu, kepada siapa lagi aku mengadu? kepada siapa lagi aku dapat memohon pertolongan jika bukan kepada Engkau Wahai Tuhanku Dzat yang Maha Esa. Karena aku tahu hanya Engkau-lah tempat bergantung, hanya kepada Engkau-lah aku dapat memohon pertolongan, karena aku tahu Engkau akan mengabulkan doaku. Maha Suci Engkau Ya Allah, Tuhan Semesta Alam. Kabulkanlah doaku, demi ibuku dan adiku.” Syahila berdoa sambil terisak memohon kepada Tuhan yang Maha Segala – galanya.

Kesedihan keluarganya pun berlanjut saat Fahmi, adik Syahila hendak memasuki ruang operasi. Namun ia histeris karena kesakitan dan seakan tidak dapat menerima keadaan bahwa tangan kirinya tidak dapat ia gerakan. Hal itu membuat seluruh anggota keluarga yang hadir menatapnya miris. Terlebih lagi Bu Nur yang merasa khawatir dan panik akan anak lelaki satu – satunya itu. Karena masih saja menangis saat akan memasuki ruang operasi, dokter dan para perawatnyapun sampai kewalahan. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena dokter segera menyuntikan obat bius agar Fahmi segera tidur.

“Ya Allah yah, Fahmi gimana ya. Mamah takut yah, Fahmi bukan Sya. Saat Sya memasuki ruang operasi Sya tersenyum menenangkan hati kita semua yah, karena ia tidak akibat apa yang akan terjadi setelah operasi. Namun Sya optimis ia akan sembuh yah, karena ia kecelakaan waktu ia masih sangat kecil yah. Tapi Fahmi? Dia sudah terbiasa melakukan sesuatu dengan kedua tangannya, bagaimana jika kemungkinan terburuk terjadi? Kasihan Fahmi yah, ayah lihat sendirikan reaksi Fahmi histeris saat masuk ruang operasi?” Bu Nur mengeluarkan semua rasa kekhawatirannya kepada suaminya.

“Makanya mamah doa saja minta yang terbaik untuk Fahmi, Sya saja bisa bangun dari komanya setelah koma 2 bulan lamanya, operasinya berhasil dan alhamdulillah Sya tidak idiot seperti yang diprediksikan oleh dokter. Sebaliknya, Sya tumbuh menjadi anak yang berprestasi di sekolahnya, karena prestasinya itu juga ia mendapat uang beasiswa berturut – turut dari tempat kerja ayah mah. Fahmi juga akan kuat dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, karena Fahmi adalah anak kita, karena Fahmi adalah adiknya Sya. Syahila kakaknya kuat, adiknya akan lebih kuat. Kita harus selalu ingat bahwa Allah selalu memberi cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Pasrahkan saja ssemuanya kepada Allah SWT, karena setiap kejadian pasti ada hikmahnya, jangan pernah bosan untuk bersabar.” Kata Pak Agus  berusaha menenangkan hati istrinya.

***

Keadaan Fahmi sudah membaik, Fahmi sudah diperbolehkan pulang dari 2 minggu yang lalu. Fahmi pun sudah bisa menggerakan tangan kirinya perlahan yang masih dibalut perban. Saat Fahmi sedang fokus dengan kesembuhan tangan kirinya, Syahila disibukan dengan persiapannya ke pondok pesantren yang akan menjadi rumah kedua baginya. Ia sedang mengecek satu persatu barangnya yang akan dibawa ke pesantren , tentunya dengan bantuan sang ibunda. Aku melihat ibunya itu bagai tangan kananya sendiri, maksud tangan kanan disini bukanlah arti sebagaimana kebanyakan orang pahami. Namun, tangan kanan disini adalah arti tangan kanan yang sebenarnya. Karena sampai saat ini, tangan kanan Syahila mengalami kelumpuhan, sehingga semua aktifitas kehidupan dilakukannya hanya dengan tangan kirinya. Sulit memang, maka dari itu ibunya selalu ada untuk membantunya. Tangan ibunya bagai tangan kanan baginya. Tapi terkadang ada dimana saat ibunya tidak selalu bersamanya, seperti di sekolah atau saat Syahila main di rumah temannya. Syahila yang memang menulis dengan tangan kiri menjadi pusat perhatian saat ia pertama kali masuk sekolah. Syahila yang tidak bisa mengikuti beberapa pelajaran olahraga karena kondisi tangan dan kaki kanannya yang mengalami gangguan syaraf, bahkan sebenarnya Syahila itu tidak bisa mengenakan sandal jepit yang biasa orang gunakan. Maka dari itu orang tuanya selalu membelikannya sandal yang ada tali dibelakangnya. Agar sandal yang ia pakai tidak mudah terlepas. Setelah mengecek berulang kali barangnya, Syahila berangkat ke pesantren diantar oleh kedua orangtuanya.

Hari – hari pertama Syahila di pesantren pastilah mengalami kesulitan karena belum terbiasa. Terlebih lagi, karena keterbatasan fisik Syahila sehingga ia harus memutar otak untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan dua tangan menjadi dapat dilakukan dengan satu tangan. Seperti sekarang, ia sedang berusaha memakai jilbab peniti yang mana itu adalah jilbab wajib untuk pergi ke sekolah. Ini adalah kali pertama ia memakai jilbab berpeniti, biasanya ia langsung menggunakan jilbab langsungan agar lebih mudah. Namun karena aturan pondok mengharuskannya maka mau tidak mau Syahila harus memakainya. Hal itu membuat perhatian orang – orang yang berada di sekitarnya, antara ingin membantu serta penasaran apakah Syahila dapat melakukannya dengan satu tangan atau tidak. Teman sekamarnya ada yang menawarkannya bantuan, tapi di tolak oleh Syahila.

“Jika aku terus menerima bantuan dari orang lain kapan aku bisa mandiri? Semangat Sya, kamu pasti bisa!” Kata Syahila dalam hatinya.

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya jilbab putih itu sukses menutupi rambut Syahila dengan sempurna. Ia nampak anggun dan terlihat lebih rapi dari sebelumnya, Syahila menghembuskan nafas lega. Akhirnya ia berhasil memakai jilbab itu dengan benar, ia bersyukur kepada Allah SWT yang selalu membantunya saat ia mengalami kesulitan. Setelah memastikan bahwa jilbabnya sudah terpasang rapi menutupi seluruh rambut dan dadanya, ia menoleh ke belakang dan terkejut apa yang dilihatya. Karena banyak orang di kamar maupun depan pintu kamarnya hanya untuk melihat Syahila memakai jilbab.

“Astagfirullah, rame banget  yaa.” Kata Syahila. Teman – temannya malah bertepuk tangan, melihat itu Syahila semakin bingung.

“Kita penasaran bagaimana kamu memakai jilbab dengan tangan satu, ternyata kamu bisa yaa.” Ucap Nisa.

“Hebat ya, kita aja yang pake tangan dua kadang masih kesusahan. Kamu kayanya mudah banget yaa pakenya walau tangan satu.” Kata Lia teman satu kamar Syahila.

“Kalian ini ada – ada saja, orang pake jilbab kok jadi tontonan?” Tanya Syahila kepada semua temannya.

“Karena disini gak ada tv sihh.” Jawab Lia cepat, sontak hal itu membuat semua orang tertawa. Setelah itu Syahila dan teman – temannya pergi ke sekolah bersama.

Karena ini kali pertama Syahila duduk di bangku sekolah menengah pertama, para ustadz dan ustadzah yang mengajar sempat terkejut akan keterbatasan fisik Syahila. Mereka tak menyangka dengan semangat belajar Syahila yang tinggi, ia bahkan memutuskan untuk belajar di pesantren yang jauh dari orang tua dan untuk orang seperti Syahila mungkin akan banyak menemukan berbagai kesulitan. Namun, segala kekhawatiran itu telah Syahila lenyapnya dengan lulusnya Syahila dari pondok pesantren itu. Bahkan Syahila memutuskan untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah atasnya di pesantren yang sama.

***

Hari ini Syahila dan orang tuanya sedang menuju ke salah satu pondok pesantren yang berada di kota Kuningan Jawa Barat tempat Syahila menuntut ilmu dahulu. Memang seharusnya Syahila sudah berada di pesantren karena besok merupakan hari pertama masa orientasi santri di sekolahnya. Namun, bagi santri lama atau santri yang sejak SMP sudah berada dipesantren tersebut dibolehkan untuk tidak mengikuti masa orientasi. Dan hari ini Syahila dan orang tuanya datang ke pesantren bukan karena Syahila besok mau mengikuti masa orientasi, melainkan ia datang kesana untuk melihat pembagian kamar dan menaruh barang – barangnya saja. Ternyata Syahila mendapatkan kamar di lantai tiga nomor dua puluh dua. Ia dan ibunya langsung naik menuju kamar tersebut, sedangkan ayahnya menunggu di mobil karena memang tidak diperkenankan masuk ke dalam asrama. Setibanya dikamar, Syahila langsung membereskan barangnya dilemari. Dan ibunya membantu memasangkan sprei kasur yang telah dipilih olehnya. Setelah memberi nama semua barangnya, Syahila dan ibunya langsung kembali ke mobil dan langsung meluncur ke Semarang dikarenakan ada acara keluarga disana.

Sementara itu, sepeninggal Syahila datanglah orang yang juga mendapatkan kamar yang sama dengan Syahila. Jika Syahila itu masuk kelas satu SMA, anak ini ternyata masuk kelas satu SMP. Memang biasanya dalam pesantren itu satu kamar dicampur dengan kakak kelas, tujuannya agar kakak kelasnya dapat mengayomi adik kelasnya. Berhubung anak itu anak yang benar – benar baru masuk ke pondok pesantren, jadi ia memasuki kamarnya itu dengan ibunya dan sang kakak laki – lakinya. Memang seharusnya lelaki tidak diizinkan untuk memasuki asrama, namun jika keadaan terdesak diperbolehkan terlebih hari ini adalah hari kedatangan santri baru yang memang membawa banyak barang sehingga membutuhkan tenaga lelaki untuk membawanya. Apalagi jika yang dapat kamar dilantai tiga dan empat. Saat anak itu telah berada di depan kamar nomor dua puluh dua lantai tiga, sang ibu melihat daftar nama yang tertempel di depan pintu.

“Ohh ini de kamarnya, alhamdulillah ketemu juga. Aa ayoo bawa masuk barang ade ke dalam.” Perintah ibunya, setelah melihat nama Yasmin Tazahara ada dibarisan ketiga setelah nama Syahila Afsheen Myesha. Saat ibu dari anak yang bernama Yasmin ini membereskan barang – barang anaknya, sementara kakaknya Yasmin telah selesai memasang sprei di kasur yang akan ditempati adiknya. Sang kakak akhirnya duduk di kasur yang telah terpasang rapi di dekat jendela. Ia memperhatikan sekeliling, dan melihat barang – barang yang sudah tersusun rapi itu bernama Syahila Afsheen Myesha.

“Mah sepertinya sudah ada yang datang sebelum kita yaa, ini sudah rapi semua. Ada namanya juga, Syahila Afsheen Myesha.” Kata kakaknya Yasmin memberitahu.

“Ohh berarti yang kasurnya kamu duduki itu punya dia kakak kelasnya ade.” Jawab sang ibu santai. Kakaknya Yasmin mengangkat satu alisnya, lalu bertanya pada sang ibunda.

“Loh mah, tahu dari mana dia kakak kelasnya ade?”

“Itu lohh di daftar nama yang tertempel di pintu kamar, ada nama lengkap, kelas, dan juga asal. Kalau gak salah tadi mamah melihatnya dia itu baru masuk SMA dehh, kelas sepuluh C dari Cirebon. Sama kaya ade, bedanya  cuma kelasnya saja. Selebihnya sama, ade kelas tujuh C dari Cirebon juga.” Jelas ibunya.

Tiba – tiba ada dua anak perempuan yang ternyata salah satunya itu adalah kenalan kakaknya Yasmin.

“Assalamu’alaikum....”

“Wa’alaikumussalam” Jawab mereka bersama (Yasmin, kakaknya dan ibunya)

“Ehh Shofi, ini lohh mah yang aa ceritain kalau adek kelas aa ada yang sekolah disini. Anaknya guru aa waktu SMP, saudaranya si Arif temen aa.” Ujar sang kakak memberi tahu.

“Ohh, kamu temennya Jay waktu SD itu.” Respon ibunya setelah melihat Shofi dan temannya. Dan orang yang bernama Shofi itu langsung mencium punggung tangan Bu Farras diikuti oleh temannya.

“Shofi, nitip Yasmin yaa.” Kata Jay pada Shofi, sementara itu Shofi hanya tersenyum malu.

“Iya titip ade yaa, soalnya ade baru mondok nihh.” Ucap Bu Farras. Namun Yasmin saat itu hanya memainkan karet gelang yang ia temukan di atas lemari bernama Syahila itu. Dalam hatinya ia berkata.

“Apa sihh mamah sama aa tuh yaa, menitipkan aku segala? Emangnya aku barang apa?”. Namun Yasmin terus  memainkan karet gelang itu entah dia apakan, tanpa mengeluarkan isi hatinya demi kesopanan.

Seminggu kemudian, masa orientasi telah usai. Santri yang tidak mengikuti masa orientasipun mulai berdatangan ke pesantren, begitupun dengan Syahila. Diantar oleh kedua orang tuanya ia kembali setelah liburan tambahannya, dan lagi ia tidak membawa banyak barang karena minggu lalu ia telah merapikan semua barang di kamar barunya. Dan saat Syahila tiba di kamarnya, ternyata di dalamnya terdapat banyak orang walau sebenarnya kuota kamar hanyalah untuk empat orang.

“Assalamualaikum” Ucap Syahila dan ibunya.

“Wa’alaikumussalam.” Kata orang – orang di dalam serempak. Syahila langsung menyalami semua orang yang ada disana, termasuk para wali santri yang sedang membantu anaknya masing – masing. Merekapun saling berkenalan satu sama lain, dan ternyata kali ini Syahila dipercaya untuk membimbing santri baru kelas tujuh yang memang belum pernah ada pengalaman mondok dengan salah satu kakak kelasnya yang bernama Syifa. Dan adik kelas yang sekamar dengan Syahila adalah Yasmin Tazahara dan Zahra Nabila. Sedangkan penghuni kamar mereka satu lagi bernama Syifaul Husna yang kini kelas sebelas beda satu tahun dengan Syahila. Mereka akhirnya bercengkrama bersama, bahkan para ibu mereka saling menukar nomor kontak masing – masing. Mereka sedang berkumpul di kamar itu, namun santri bernama Syifa saat itu belum berada disana, dan ternyata Syifa baru datang kesana kurang lebih pukul sebelas malam.

Hari demi hari telah melewati bersama, merekapun sudah saling mengenal satu sama lain. Terlebih Syahila dan Yasmin, karena kedekatan mereka yang sangat dekat, sampai banyak yang mengira bahwa mereka itu adalah kakak adik kandung. Bahkan sampai ustadzah yang ada di asrama kadang suka terbalik jika memanggil nama Syahila dan Yasmin. Sekitar pukul setengah sepuluh malam para ustadzah berkeliling mengumpulkan para santrinya di rayon masing – masing untuk melaksanakan pembacaan hadist dan doa malam sebelum tidur. Anak kamarnya Syahila telah keluar dari kamar dan duduk di depan kamar masing - masing, sedangkan Syahila masih menyisir rambut yang hendak diikatnya.

“Astagfirullah Yasmin, yang lain sudah diluar semua lohh, kamu masih santai menyisir rambutmu. Cepat pakai jilbabnya.” Perintah ustadzah Dini kepada Syahila. Syahila terkejut mendengar ustadzahnya memanggilnya dengan sebutan Yasmin.

“Ummi, aku Sya, bukan Yasmin.” Sanggah Syahila.

“Yasmin disini ummi.” Kata Yasmin dari luar kamar dengan wajah cemberut.

“Ohh, kebalik ternyata. Makannya, kok bisa pas banget yaa kakak adek sekamar.” Ucap Ustadzah Dini.

“Ummi, kita bukan saudara kandung.” Kata Syahila dan Yasmin bersamaan.

“Loh, bukan? tapi kalian mirip. Ya sudah, Sya cepat keluar supaya cepat selesai.” Perintah Ustadzah Dini.

“Iya ummi.” Jawab Syahila lalu ia keluar dari kamar dan duduk disebelah Yasmin.

Karena sangat dekatnya mereka, Syahila dan Yasmin jika sudah mengobrol suka lupa waktu. Bahkan disaat mereka ujian, mereka kadang tidak ada yang belajar, jangankan belajar pegang buku saja tidak. Namun, hal itu hanya sementara. Karena Syahila yang memang lebih tua tiga tahun diatas Yasmin bahwa hal seperti itu adalah salah. Terlebih lagi, Syahila adalah salah satu panutan di kamarnya. Sudah bukan waktunya untuk dia hanya bermain – main semata, maka dari sana Syahila mulai merubah sikap lebih dewasa dan lebih mengayomi adik kelas yang berada di kamarnya. Walaupun begitu, pembawaan Syahila tetap santai kepada Yasmin, tapi  tetap saja dia lebih menjaga sikapnya agar Yasmin pun tidak berlaku semaunya pada Syahila. Bukan maksud Syahila ingin dihormati sebagai kakak kelas, tapi tujuannya adalah menanamkan rasa kesadaran bersikap kepada yang lebih tua itu harusnya seperti apa. Setidaknya hidup Syahila dan Yasmin di pesantren itu tenang – tenang saja sampai pada akhirnya Shofi, yang lebih tua setahun diatas Syahila itu memberikan seblak kepada Yasmin, sebagai tanda perkenalan. Yasmin yang merasa tidak enak kepada Shofi akhirnya membalasnya dengan memberikan kue pada Shofi. Itu pun karena Syahila yang mengingatkan, Yasmin pun mengikuti saran Syahila untuk kembali memberi sesuatu kepada Shofi, bagaimana pun juga ia dititipkan oleh kakak dan ibunya kepada Shofi terlebih dahulu. Sebenarnya itu adalah hal yang wajar, kita memang diharuskan berbagi, bahkan dalam masyarakat pun begitu saling timbal balik. Apalagi ini adalah di lingkungan pondok pesantren, sudah sepatutnya harus ada budaya berbagi. Namun, kasus ini berbeda, karena menimbulkan kesalahfahaman yang fatal.

Malam itu Syahila baru masuk ke kamar sehabis dari musholla menunaikan sholat Isya, namun saat ia memasuki kamarnya, hanya ada Yasmin yang sedang duduk menyandar  ke ranjangnya. Wajahnya murung, tatapannya sembab, kepalanya tertunduk ke bawah dan tangannya memegang secarik kertas. Syahila melihat hal itu sudah tentu bingung, karena selama ini Yasmin adalah tipikal orang yang ceria. Syahila mendekat ke arah Yasmin, ia melangkah dengan hati – hati khawatir akan memperburuk suasana hatinya.

“Min, kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita sama aku yaa.” Ucap Syahila dengan hati – hati. Tidak ada jawaban dari Yasmin, ia hanya terdiam dan meneteskan air mata yang semakin lama semakin deras. Syahila semakin bingung dengan tingkah Yasmin, tiba – tiba Yasmin menoleh kearahnya dan langsung memeluk erat sambil menangis. Syahila sangat terkejut saat itu, namun akhirnya ia membalas memeluk Yasmin menenangkannya. Syahila terus memeluk Yasmin dengan menepuk – nepuk punggungnya pelan. Saat dirasa Yasmin sudah sedikit tenang, barulah Syahila mencoba bertanya kepadanya.

“Sudah yaa, jangan menangis lagi, coba sekarang kamu cerita sama aku. Barangkali aku bisa bantu.” Kata Syahila menawarkan diri. Sedangkan Yasmin tampak menimbang – nimbang, namun pada akhirnya Yasmin menyerahkan secarik kertas yang sejak tadi dipegang olehnya kepada  Syahila.

“Aku dikasih surat ini sama anak kelas delapan, tapi katanya ini dari kak Nisa adiknya kak Shofi.” Ucap Yasmin memberitahu Syahila. Syahila langsung membaca surat itu sambil sesekali beristigfar memohon ampun pada Allah SWT

‘Eh, Yasmin! Gak usah caper sama kakak gue deh. Inget dia tuhh punya ade, yaitu gue! Ya walaupun gue tahu kak Shofi itu suka sama kakak lu, tapi gue kagak suka lu deket – deket sama kakak gue. Semenjak ada elu di sini, kak Shofi lebih perhatian sama elu dibanding gue. Awas yaa lu kalau gue liat lu caper sama kakak gue lagi, sampai kapanpun gue kagak bakalan setuju  kak Shofi sama kak Jay, kakak lu itu.’

“Kalau semua santri begini, lama – lama pesantren ini kosong karena santri barunya pada pindah sekolah karena gak betah” Ucap Syahila, ia melirik ke arah Yasmin yang masih menundukan kepalanya dengan tangan yang gemetar.

Syahila hanya bisa menghela nafas setelah membaca surat itu, ia tidak habis pikir salah satu adik kelasnya ada yang sangat kekanak – kanakan, cemburu dengan kakaknya kandungnya sendiri namun malah menegur orang lain. Yang Syahila inginkan adalah jika ada masalah itu lebih baik dirundingkan terlebih dahulu apalagi mereka adalah saudara kandung, bukan malah mengancam orang yang tidak bersalah seperti ini. Syahila juga sangat menyayangkan hal ini terjadi, terlebih terjadi di lingkungan pondok pesantren yang harusnya bersih dari bullying, karena disini benar – benar di ajarkan nilai – nilai islam yang dituntut untuk diterapkannya dalam kehidupan sehari – hari. Tentu saja kejadian yang telah menimpa Yasmin hari ini menurut Syahila adalah suatu kekeliruan yang harus segera diperbaiki.

“Ya sudah, kamu jangan sedih lagi yaa. Kan ada aku disini, tenang aja. Tapi kamu ingat yaa, kamu jangan ada rasa dendam sama kak Nisa. Dan aku minta kamu juga jangan menjauh dari kak Shofi tapi juga jangan terlalu dekat, biasa sajalah. Karena pertama, kita itu tidak boleh memotong tali silaturahim yaa. Kedua, karena kamu sudah tahu bahwa adiknya kak Shofi cemburuan lebih baik dekat sewajarnya saja yaa.” Ucap Syahila mengingatkan Yasmin.

“Makasih yaa kak Sya, sekarang aku sedikit lebih tenang. Tapi kak Sya jangan bilang mamah aku yaa.” Pinta Yasmin kepada Syahila, dan Syahilapun meyetujuinya.

Nah, semenjak kejadian itu jika Yasmin terjadi sesuatu atau hanya untuk sekedar curhat pasti selalu bicara dengan Syahila. Syahila mendengarkan dengan seksama, ia berusaha untuk menjadi pendengar yang baik untuk Yasmin. Selain itu, Syahila berusaha untuk terus memotivasi Yasmin dalam belajar, ia juga berusaha merawat Yasmin dengan baik saat dia sakit. Walaupun Syahila mempunyai keterbatasan fisik, tetapi ia sangat berusaha agar dapat mengayomi adik – adik kelasnya dengan baik. Dan syukurnya, Yasmin adalah anak yang tidak pernah memandang orang dari fisiknya. Jika menurutnya dia nyaman saat berada di dekatnya, Yasmin akan sangat baik padanya. Menurut Syahila, hikmah yang dapat dipetik ia di tempatkan satu kamar dengan Yasmin mungkin karena Allah SWT ingin dirinya menjadi teman Yasmin agar betah di pesantren serta melatih kedewasaan Syahila menghadapi sikap Yasmin yang sangat manja itu. Namun, masalah baru muncul dengan adanya gosip bahwa Syahila dekat dengan Yasmin karena dirinya ingin mendekati Jay kakaknya Yasmin, padahal yang sebenarnya adalah saat itu Syahila benar – benar tidak mengetahui bahwa Yasmin itu mempunyai seorang kakak laki – laki. Melihat dari sifat Yasmin yang manja, Syahila menyangka bahwa Syahila adalah anak tunggal sehingga pada awalnya ia santai saja jika Yasmin curhat kepadanya.

“Astagfirullah... padahal jujur saja yaa Bil, aku saja gak tahu Yasmin itu punya kakak lohh.” Kata Syahila kepada Nabila, saat Nabila menceritakan bahwa beredar gosip tentang Syahila dan Jay kakaknya Yasmin.

“Masa sihh Sya? Bukannya kamu itu deket yaa sama Yasmin dan ibunya?” Tanya Nabila teman sekelasku.

“Ya sekedar deket membicarakan pesantren saja, Yasmin juga tidak pernah cerita punya kakak. Aku kira Yasmin anak tunggal, soalnya dia manja banget anaknya.” Jawab Syahila seadanya.

“Iya sihh, aku juga mengira begitu. Abis dia manja banget sama kamu Sya, aku jadi inget waktu Yasmin sakit dia minta kamu tidur seranjang dengannya karena dia tidak bisa tidur. Padahal, saat itu kamu lagi belajar buat kuis matematika besoknya. Tapi kamu sabar banget sampe nungguin dia tidur, dan setelah Yasmin tidur kamu yang mengompres sampai panasnya turun.” Jelas Nabila.

“Namanya juga kita diamanahkan untuk menjaga adik kelas kita yang ada di kamar masing – masing Bil, lagipula aku juga merasakan jika sedang sakit di pondok dan tidak ada yang care dengan kita itu rasanya gak enak. Makanya aku berusaha untuk selalu ada dikala susah dan senangnya, bukan hanya Yasmin tapi Zahra juga. Setidaknya aku berusaha menjadi kakak kelas yang baik untuk adik kelas yang ada di kamarku.” Kata Syahila merespon ucapan Nabila.

“Iya juga sihh” Ucap Nabila membenarkan perkataan Syahila.

Malamnya, Syahila mencoba menanyakan kepada Yasmin perihal kebenaran bahwa ia mempunyai kakak, khususnya laki – laki. Syahila sengaja menanyakannya ketika malam hari karena kegiatan di pesantren sangat padat.

“Owhh.... kak Sya sudah tahu rupanya gosip itu yaa? Aku kira kakak belum tahu.” Jawabnya santai, sedangkan Syahila menatapnya dengan tatapan tak percaya.

“Jangan bilang kamu sudah tahu tentang gosip itu?” Tanya Syahila pada Yasmin.

“Gimana gak tahu coba? Hampir dua minggu ini kalau aku berpapasan dengan kak Sya pasti terdengar banyak yang bilang bahwa kak Sya itu adalah calon kakak ipar aku.” Jawab Yasmin santai

“Terus kamu gimana?” Tanya Syahila penasaran dengan sikap Yasmin, karena ia takut Yasmin akan salah paham kepadanya.

“Ya aku diam sajalah, lagian biasa saja. Toh, aku tahu  Kak Sya itu gak tahu kakak aku kan?” Tanya Yasmin dengan pedenya.

“Tahu saja kamu.” Jawab Syahila, ia tersenyum merasa lega karena Yasmin tidak termakan oleh gosip murahan itu.

“Iyalah... kak Sya itu gak pernah kemana – mana pokoknya kalau gak di kelas ya di kamar. Makanya suka kudet, sampai gosip sendiri aja telat tahunya hehehe.” Canda Yasmin.

“Yee dasar, ngeledek kamu yaa.” Ucap Syahila sambil tertawa diikuti oleh Yasmin. Syahila merasa lega karena Yasmin tipikal orang yang tidak mau ambil pusing dengan perkataan orang, sehingga Syahila tidak perlu merasa canggung dengan gosip yang beredar.

***

“Akankah kau tahu bagaimana rasanya membendung rindu? Rindu yang telah lama terbendung dalam hatimu. Namun kau hanya bisa mengadu, kepada Rabb-Mu yang Maha Besar itu.”

Hari yang sangat ditunggu – tunggu oleh setiap santri adalah liburan, dimana liburan adalah hari dimana mereka dapat berkumpul dengan keluarga tercinta. Mengobati kerinduan yang telah terbendung selama kurang lebih enam bulan. Kesempatan para santri untuk pergi refreshing sekedar untuk  mengistirahatkan otak, setelah banyaknya pelajaran yang harus dihafal dan ayat suci Al – Qur’an yang sudah di target setiap harinya. Sejak shubuh tadi parkiran mulai dipenuhi  oleh mobil para wali santri yang akan menjemput anaknya masing – masing. Setelah dibagikan surat perpulangan kepada setiap santri, maka tepat pukul delapan pagi hari ini semua santri resmi memulai liburan yang sangat ditunggu – tunggunya. Syahila sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya, namun liburan kali ini Syahila pulang sendiri dikarenakan kedua orang tuanya tidak bisa menjemputnya karena ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan. Saat Syahila berada di depan asrama, karena terlalu banyaknya orang yang berlalu lalang tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang yang langsung menggenggam tangannya erat.

“Afwan bu, saya tidak sengaja.” Kata Syahila sopan sambil tersenyum, dan ia sendiri sedikit terkejut saat melihat orang yang ada dihadapannya itu ternyata ibunya Yasmin.

“Iya, gak apa – apa kak. Kak Sya pulang dijemput?” Tanya ibu Farras kepada Syahila.

“Kebetulan orang tua saya tidak bisa jemput bu, karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.” Jawab Syahila.

“Jadi kak Sya pulang sendiri?” Tanya bu Farras lagi, dan Syahila mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.

“Ohh kalau begitu, kita bareng saja yaa kak Sya? Lagi pula kita searah, berat juga tuhh bawa tasnya.” Ajak Bu Farras kepada Syahila.

“Terima kasih banyak bu, tapi saya bisa pulang sendiri,” Tolak Syahila halus.

“Sudah tidak apa – apa, saya akan berbicara dengan mamah ( ibunya Syahila) yaa.” Kata bu Farras masih berusaha membujuk Syahila. Saat bu Farras sedang menelpon Bu Nur ibu dari Syahila, Yasmin baru keluar dari asrama dan menghampiri Syahila yang berdiri tidak jauh dari ibunya.

“Nah... ini dia anaknya, ya sudah ayoo de, Kak Sya, tadi kata mamah boleh kok.” Ajak Bu Farras. Yasmin dan Syahila mengikuti langkah Bu Farras dari belakang, namun Syahila hanya bisa menunduk karena entah mengapa ia merasa banyak mata yang melihat ke arahnya. Yasmin yang melihat Syahila berjalan tertunduk seakan mengerti situasi karena bukan hanya Syahila yang merasa diperhatikan namun juga dirinya merasa banyak mata memandang ke arahnya.

“Tenang saja kak Sya, aa gak ikut kok. Yang ikut jemput aku kesini nenek aku, tenang saja.” Kata Yasmin.

“Bukan itu masalahnya Min.” Ucap Syahila semakin menundukkan kepalanya.

Walaupun hari ini adalah hari pelepasan perpulangan, namun masih banyak pula santri yang belum pulang pada hari itu. Ada yang memang belum dijemput orang tuanya, atau memang konsulatnya membeli tiket pesawat atau kereta bukan pada hari itu. Dan memang ada beberapa santri yang sengaja ingin bermain terlebih dahulu di daerah sekitar pondok pesantren. Karena pesantren yang terletak di kaki gunung, tidak sedikit santri yang pada saat liburan tidak langsung pulang ke rumah karena mereka mendaki gunung terlebih dahulu, atau sekedar menaiki paralayang. Karena gosip mengenai Syahila dan Jay yang tak lain adalah kakak kandung dari Yasmin, maka beberapa santri yang melihat Syahila berjalan bersama Yasmin dan ibunya mengira bahwa Syahila memang benar – benar ingin mendekati Jay.

Syahila, Yasmin serta ibunya telah sampai di tempat mobilnya terparkir. Disana ada ayahnya Yasmin dan juga neneknya, dan Syahilapun langsung mengucapkan salam dan menyalami sang nenek. Sedangkan kepada ayahnya Yasmin ia hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil tersenyum, dan dibalas serupa oleh ayahnya Yasmin. Bu Farras memperkenalkan Syahila kepada suami dan ibu mertuanya. Bu Farras mengaku sering menceritakan tentang Syahila di rumahnya karena salut kepadanya. Seorang Syahila yang mengalami musibah yang sangat berat diusianya yang masih balita, menjalani hari – hari hanya dengan tangan satu yang berfungsi, terlebih Syahila hidup di pesantren. Syahila di sambut baik oleh ayah dan neneknya Yasmin, hal itu membuat Syahila merasa senang dan tidak canggung.  Setelah itu barulah mereka meninggalkan pondok pesantren tempat Syahila dan Yasmin menuntut ilmu.

***

“Janganlah pernah mencoba menjauh dari seseorang, siapapun itu. Karena bisa jadi Tuhan akan mendekatkan dirimu dengan dirinya. Entah hanya untuk menguji dirimu atau memang dia diciptakan sebagai pendamping hidupmu.”

Jika siswa siswi di sekolah umum apabila liburan hanya bermain – main saja, namun santri berbeda. Karena bagi kebanyakan santri, refreshing itu bukan hanya sekedar untuk main. Namun bagaimana cara mereka agar mendapat ilmu baru, pengalaman baru, dan yang pasti mendapat teman baru. Dan hal itu juga yang dilakukan oleh Syahila pada liburannya kali ini. Syahila sudah dua tahun ini termasuk anggota suatu komunitas X yang lumayan cukup aktif, namun dikarenakan Syahila masuk pesantren semenjak ia SMP menjadikannya ia hanya aktif dalam komunitas X pada saat liburan saja. Walaupun begitu Syahila tetap bersyukur, karena komunitas itu ia mempunyai kenalan baru yang tersebar di seluruh Indonesia serta dapat sharing pengetahuan untuk mendapatkan wawasan baru.

Namun akhir – akhir ini Syahila merasa tidak nyaman dalam komunitas itu karena ia merasa ada salah satu anggota dalam komunitas itu yang menurutnya sedikit meyebalkan. Syahila sendiri tidak mengetahui sebab utama mengapa ia sangat merasa terganggu dengan adanya orang itu, walau Syahila tahu bahwa tidak seharusnya ia berlaku seperti itu. Mungkin alasan Syahila seperti itu karena nama dari anggota yang sedikit mengganggu Syahila adalah Jay, Jay Prasetya. Karena nama itu sama persis dengan orang yang saat kini sedang di gosipkan dengannya, yang memang Syahila benar – benar tidak tahu orang yang merupakan kakak dari Yasmin adik kelasnya itu. Beberapa kali Syahila dan Jay bertemu bahkan sempat terlibat perdebatan, namun Syahila belum menyadari bahwa Jay yang satu komunitasnya itu adalah Jay Prasetya kakak dari Yasmin Tazahara, adik kelasnya. Tetapi pada saat pertemuan selanjutnya obrolan mereka sudah sedikit santai, tidak ada lagi perdebatan diantara mereka. Syahila mulai menemukan titik terang.

“Sya kamu itu mondok di pesantren X ya?” Tanya Jay.

“Kok kamu tahu? Tahu dari mana?” Tanya Sya terkejut akan pertanyaan Jay tersebut, Syahila menjadi mempunyai pikiran bahwa selama ini kecurigaan dia terhadap Jay itu benar.

“Ahh... itu, saya melihat profilmu bersama orang yang saya kenal. Namanya Yasmin Tazahara, adik kelasmu bukan? Kelas tujuh C, kamar nomor dua puluh dua lantai tiga, benar?” Tanya Jay berturut – turut, Yasmin mengangguk mengiyakan semuanya.

“Kamu tahu semuanya tentang dia, jangan – jangan kamu itu....” Belum sempat Syahila menyelesaikan perkataannnya, Jay sudah memotongnya terlebih dahulu.

“Ya, saya kakaknya, Jay Prasetya.” Jawab Jay cepat dan santai.

“Ohh... iya iya.” Respon Syahila sekenanya, karena sesungguhnya Syahila sangat terkejut dengan kenyataan bahwa Jay yang ia kenal adalah yang selama ini terus menghantuinya, karena rasa tidak nyaman ketika ia bertemu dengan Shofi, kakak kelasnya yang menyukai Jay. Walaupun Shofi nampak biasa saja, namun Syahila tahu bagaimana rasa dihatinya yang terpancar dari mata Shofi. Syahila juga tidak mau terus – terusan dijuluki perusak hubungan orang antara Jay dan Shofi. Yang memang sesungguhnya Syahila adalah korban atas kesalahpahaman yang sangat sepele.

“Oh iya Sya, saya harap kamu sabar yaa menghadapi sikap ade. Dia memang sedikit susah dibilangin, tapi aku dengar dari mamah bahwa ade lumayan nurut sama kamu ya Sya?” Ucap Jay.

“Ohh mungkin itu karena aku adalah salah satu seniornya yang ada di kamar, setiap junior pasti sedikit segankan dengan seniornya.” Jawab Syahila cukup hati – hati.

“Iya juga yaa.” Ucap Jay membenarkan perkataan Syahila.

“Tapi aku boleh tanya sesuatu?” Tanya Jay, Syahila mengangguk mempersilahkan.

“Ade itu anaknya gimana sihh kalau di pesantren? Soalnya beberapa hari ini saya perhatikan jika berada di rumah pasti kerjaannnya hanya bermalas – malasan.” Kata Jay kemudian. Syahila sempat berfikir sejenak untuk menjawab pertanyaan itu, karena tidak mungkin rasanya membongkar semua apa saja yang telah dilakukan oleh adiknya itu di pesantren.

“Ohh... Yasmin anaknya baik dan rajin kalau di pesantren, dia selalu bangun jam tiga pagi dan langsung mandi. Walaupun kadang sehabis mandi ia tidur lagi, menurutku itu wajar sihh untuk yang pertama kali masuk pesantren. Dan masalah dia di rumah nampak selalu bermalas – malasan karena mungkin ia merasa bahwa selagi ada di rumah bisa santai, karena di pesantren itu kegiatan full dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Tenang saja, biasanya itu paling lama terjadi di tahun pertama saja, mungkin karena masih baru jadi butuh penyesuaian. Tapi nanti tahun kedua ketiga bahkan sampai lulus SMA In Syaa Allah sudah tidak begitu.” Jelas Sya kepada Jay.

“Hhmm... btw, mamah itu selalu cerita tentang kamu di rumah, jadi saat aku tidak sengaja melihat profilmu bersamaYasmin, aku nampak familiar dengan wajahmu. Ternyata kita satu komunitas dan kita beberapa kali sempat terlibat perdebatan.” Ucap Jay.

Syahila hanya tersenyum sopan menanggapi perkataan Jay, walaupun ia kesal terhadap Jay karena masalah perdebatan – perdebatan kemarin, belum lagi ternyata dia adalah orang yang digosipkan dengannya entah asal usulnya bagaimana. Tapi Syahila merasa bahwa ia seharusnya bersikap biasa saja dengan Jay karena dia tidak mengetahui apa – apa tentang gosip yang sedang beredar di pesantren tempat belajarnya itu. Walaupun sebenarnya, Syahila sedikit kesal kepada Jay dan Shofi. Karena terseret ke dalam cinta monyet mereka.

“Kenapa juga sihh aku bisa terbawa dalam situasi cinta monyet seperti itu, antara Jay dan kak Shofi? Terlebih gosipnya aku sebagai orang ketiga, astagfirullah.... kenal saja tidak kok bisa jadi orang ketiga? Aneh memang. Kalau bukan karena janji aku kepada Yasmin bahwa aku akan selalu ada untuknya, mungkin aku tidak akan terlalu jauh terlibat dari hubungan mereka itu, walaupun aku tidak tahu hubungan seperti apa antara Jay dan kak Shofi yang sebenarnya. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar Nisa adik dari kak Shofi berhenti mengirimi Yasmin surat yang isinya itu ada unsur pengancaman.” Kata Syahila dalam batinnya.

Usainya masa liburan para santri mulai berdatangan kembali ke pondok pesantren untuk kembali mengikuti kegiatan belajar disana. Parkiran motor maupun mobil dipadati oleh para wali santri yang datang dari berbagai daerah seluruh Indonesia. Para wali santri  itu ada yang langsung pulang lagi pada hari itu dan tak sedikit wali santri yang menginap beberapa hari karena jauhnya tempat asal mereka. Disamping itu, banyak santri yang pulang sendiri atau mengikuti konsulat. Yang pasti pada hari ini seluruh santri baik putra maupun putri harus berada di wilayah pondok pesantren hari ini juga, selambat – lambatnya pukul 23:59 WIB. Jika tidak, santri yang melanggar akan dikenai sanksi.

Seperti biasa Syahila sudah berada di kamarnya, ia sedang merapikan barangnya dibantu oleh sang ibunda. Namun anggota kamarnya yang sudah datang terlebih dahulu darinya adalah Zahra Nabila, teman sekelas Yasmin. Sedangkan Syifa, yang satu angkatan dengan Shofi belum datang, begitupun Yasmin.

“Mungkin Yasmin dan kak Syifa datangnya malem.” Kata Syahila melihat arlojinya yang kini menunjukan pukul 17:15 WIB. Dan benar saja selekas Syahila menunaikan sholat isya Yasmin datang dengan ibunya.

“Assalamu’alaikum...” Ucap bu Farras seraya membuka pintu kamar.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab Syahila dan langsung menyalami Bu Farras dengan sopan serta langsung membantu membawa barang bawaan yang dibawa bu Farras.

“Wahh... kak Sya sendirian saja?” Tanya bu Farras.

“Bu... maaf duduk di kasur saya saja bu jangan dilantai” Pinta Syahila, saat melihat bu Farras hendak duduk dilantai.

“Owhh... enggak kok bu, Zahra sudah datang. Saya tidak sendiri, kan banyak teman – teman disini.” Kata Syahila menjawab pertanyaan dari bu Farras tadi. Bu Farras mengangguk mengiyakan dan tersenyum pada Syahila.

“De mamah pulang yaa, udah malem. Kasian papah sama aa nunggu di parkiran.” Ucap bu Farras kepada Yasmin. Awalnya Yasmin menunjukkan rasa keberatan, namun setelah dibujuk – bujuk Yasmin akhirnya mengizinkan ibunya pulang. Bu Farras menoleh kearah Syahila, ia tersenyum dan berpamitan. Sudah tentu Syahila langsung menyalami Bu Farras dan beliau mencium kedua pipi serta kening Syahila kemudian dipeluknya. Sebenarnya Syahila agak kaget mendapat perlakuan seperti itu, karena Syahila dan ibunya termasuk orang yang memang benar – benar memiliki gengsi yang tinggi. Bagi Syahila dan Bu Nur, tidak perlu menunjukkan rasa sayang secara jelas, yang terpenting tahu bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain.

“Kak Sya, titip ade yaa. Anggap saja ade sendiri, jangan sungkan – sungkan kalau memang ade salah tegur saja.” Kata bu Farras sambil tersenyum. Syahila hanya tersenyum dan mengangguk. Sepulangnya Bu Farras, Syahila dan Yasmin langsung mengobrol menceritakan liburan masing – masing serta saling berbagi oleh – oleh yang dibawa masing – masing. Karena keasikkan mengobrol, Syahila dan Yasmin tidak menyadari bahwa sekarang sudah larut malam, bahkan Zahra saja sudah tertidur pulas.

Hari demi hari telah berlalu, namun gosip mengenai Syahila dan Jay masih belum berlalu. Bahkan sekarang orang – orang semakin genjar saja menggoda Syahila ketika orang tua Yasmin datang ke pesantren untuk menjenguk. Sehingga Syahila yang biasanya mengobrol dengan Bu Farras, kini ia lebih sering menghindar karena ia tidak mau terlibat lebih jauh dengan gosip yang beredar. Syahila tidak ingin semua orang salah sangka terhadapnya, ia dekat dengan Yasmin bukan karena ingin mendekati Jay, namun memang karena ia nyaman dan cocok dengan Yasmin sebagai teman curhat. Tapi karena akhir – akhir ini Syahila sedikit menghindar saat orang tua Yasmin datang, Bu Farras menanyakan hal itu pada Yasmin. Beruntungnya, Yasmin adalah anak yang cukup mengerti situasi.

“Kak Sya sedang di kamar temannya mah.” Jawab Yasmin saat ditanya kemana Syahila.

“Owhh.. gitu, ya sudah ini ada nasi bakar. Kasih Kak Sya satu yaa, kata kamu kak Sya suka nasi bakar buatan mamah. Yang lainnya buatan kamu, jangan lupa bagi – bagi sama temen yaa.” Kata ibunya mengingatkan.

“Iya mah.” Jawab Yasmin cepat.

“Ya sudah, ayo ke parkiran. Kasihan papah sama aa udah menunggu dari tadi.

Sementara Yasmin dan Bu Farras pergi ke parkiran, Syahila berada di kamar temannya yang masih satu lorong dengannya.

“Kamu kenapa sih Sya kok akhir – akhir ini menghindar dari ibunya Yasmin, biasanya kamu langsung klop ngobrol sana sini.” Tanya Sasha salah satu sahabat dari Syahila.

“Tau sendirilah, aku udah cape Sa. Aku memang gak nanggepin sihh, aku kira juga bakal hilang dengan sendirinya, tapi ya sampai kapan gitu.” Keluh Syahila, ia memijit pelan keningnya.

“Oalah... masalah gosip itu ya Sya? Tapi akusendiri juga heran sihh, baru kali ini gue lihat gosip yang menarik banget.”

“Maksudnya menarik?” Tanya Syahila heran.

“Yaa menarik aja gitu, dimana – mana yaa kalau yang di gosipin itu orang yang memang sama – sama suka atau minimal salah satunya sukalahh, sedangkan kalian saling tahu saja tidakkan awalnya?” Nabila memberi penjelasan.

“Ya gak tahulah, aku juga bingung. Padahal kita udah tahu yaa bahwa gosip itu dilarang islam, tapi kenapa yaa di lingkungan pesantren aja masih banyak yang bergosip.” Kata Syahila.

“Maklumlah, perempuankan banyak mulutnya. Sabarin aja Sya.” Ucap Sasha.

“Tapi sebenarnya Jay tahu gak sihh masalah ini? Emang gak panas apa yaa itu telinganya?” Tanya Nasywa, yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.

Setahu aku sihh enggak tahu, dan gak usah tahu dehh nanti malah panjang ceritanya. Lagian aku juga gak mau nanti disangka suka sama Jay.” Jawab Syahila.

“Tapi kalau aku lihat Yasmin kayanya setuju – setuju aja tuhh kamu sama kakaknya.” Kata Nabila.

“Akunya yang gak setuju.” Jawab Syahila mulai malas dengan topik pembicaraan.

“Gak setuju kok dimading kamu ada tulisan AJP161298? Itu inisial nama lengkap Jay dan tanggal lahirnyakan? Hayoo ngaku!” Nabila mendesak Syahila.

“Iya benar, tapi itu bukan aku yang nulis. Yasmin yang nulis itu di mading aku.” Jawab Syahila cepat.

“Kalau itu, emang benar Yasmin yang nulis. Aku lihat sendiri kok Yasmin yang menulis itu, dikasih love segala lagi.” Kata Sasha membela Syahila.

“Tapi itu bisa buat orang lain salah sangka lohh?” Tanya Nasywa, Syahila mengangguk membenarkan.

“Kalau kata aku ya Sya, dari Yasminnya sendiri juga yang membuat gosip itu bertahan sampai sekarang.” Ucap Nabila. Syahila hanya terdiam mendengar perkataan Nabila, karena Yasmin pernah bicara kepadanya bahwa ia lebih baik mendengar gosip Jay dengan Syahila dari pada dengan Shofi. Alasannya karena Nisa, adiknya Shofi selalu mengirimkan surat kepadanya hampir semua isinya mengancam Yasmin.

“Kamu juga sihh Sya terlalu baik sama Yasmin, mending agak jaga jarak sama dia dehh.” Ucap Sasha. Syahila hanya diam menatap lantai dengan tatapan kosong.

“Masalahnya aku sudah janji sama dia buat selalu ada untuknya, terutama dari ancaman – ancamannya Nisa, adik Kak Shofi. Dia juga masih baru disini kasihan, biarlah semua orang mengira aku dekat dengan Yasmin karena ingin mendekati kakaknya, atau mendekati ibunya karena modus belaka. Yang penting Yasmin bisa betah di pesantren, biarlah orang berburuk sangka padaku, yang pasti Allah SWT tahu niatku sebenarnya. Karena kita tak pernah tahu apa  yang akan terjadi kedepannya.” Syahila membatin, lalu ia tersenyum seorang diri.

“Kamu waras Sya? Senyum – senyum sendiri gitu.” Ucap Nabila sambil memegang dahi Syahila. Syahila memutar bola matanya dan menepis tangan Nabila yang menempel di dahinya. Tiba – tiba ada suara orang mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Nasywa membukakan pintu. Muncullah sosok Yasmin yang dari tadi menjadi topik pembicaraan.

“Ehh... Yasmin, ayo masuk.” Ajak Nasywa ramah.

“Owh, gak usah Kak Nasywa.” Tolak Yasmin halus.

“Kak Sya, ke kamar dulu yukk. Ada titipan dari mamah buat Kak Sya.” Ajak Yasmin kepada Syahila.

“Udah sana! Udah dijemput tuhh.” Kata Sasha.

“Iya pulang sono pulang ke kamar.” Ucap Nabila. Syahila bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada sahabat – sahabatnya.

Syahila dan Yasmin akhirnya tiba di kamar mereka, Yasmin langsung memberikan satu gulungan nasi bakar yang dibungkus dengan daun pisang kepada Syahila.

“Itu nasi bakar dari mamah, tadi mamah menanyakan kakak lohh.” Kata Yasmin. Sedangkan Syahila hanya tersenyum dan memakan nasi bakar dari Yasmin.

“Min, kamu enggak ngasih Kak Shofi?” Tanya Syahila.

“Untuk apa? mamah cuma menyuruhku untuk memberikan ini kepada Kak Sya, tidak ke Kak Shofi. Aku juga males kak berurusan sama adiknya yang kaya gitu, cape.” Jawab Yasmin.

“Ya kamu jangan gitulah, kan Kak Shofinya baik sama kamu. Kamu juga harus membalasnya dengan kebaikan donk. Kalau masalah adeknya gak usah di tanggepin, nanti juga cape sendiri dia.” Ucap Syahila.

“Sekarang gini ya Kak, pertama, aku itu gak terlalu suka sama orang yang kalau deket sama aku cuma buat deketin kakak aku aja. Kedua, aku itu males berurusan sama orang yang baperan kaya Kak Nisa.” Kata Yasmin.

“Kamu jangan su’udzan dulu sama Kak Shofi, gak baik itu.” Syahila mengingatkan.

“Kamu juga gak tahu isi hati seseorangkan? Bisa saja aku punya perasaan sama kakakmu lohh,  dan bisa saja aku deket sama kamu karena mau deketin kakak kamu gimana? Terus kamu masih mau deket sama aku?” Tanya Syahila.

“Kalaupun sekarang Kak Sya punya perasaan sama aa ya aku sihh biasa saja, karena aku tahu dari awal kita deket itu Kak Sya tahunya aku gak punya kakak. Jadi Kak Sya itu sudah dekat sama aku sebelum tahu kakakku, toh kak Sya tahu aa juga karena mamah sering ceritakan? Aa juga tahu Kak Sya karena mamah sering cerita di rumah tentang Kak Sya.” Kata Yasmin menjelaskan.

“Kita juga satu komunitas.”. Bathin Syahila.

***

“Apa yang kamu harapkan belum tentu kamu akan dapatkan. Seringkali, apa yang tidak diharapkan, itulah yang terbaik untukmu. Sayangnya kamu tidak menyadari.”

Hari ini adalah hari ahad (minggu), hari ahad juga biasa disebut dengan hari perizinan oleh santri yang berada di pesantren ini. Karena setiap hari ahad santri diperbolehkan keluar pondok untuk membeli kebutuhannya disekitar pesantren. Namun dalam sebulan, para santri hanya diperbolehkan keluar maksimal dua kali. Karena pesantren itu ada santri putra dan putri, sehingga disana adanya kebijakan bahwa setiap minggu ganjil adalah hari perizinannya santri putra, dan minggu genap adalah perizinan santri putri. Sedangkan jika ada bulan yang memiliki lima minggu, pada minggu kelimanya tersebut, santri putra maupun putri tida ada yang diperbolehkan untuk keluar pondok demi keadilan. Namun, ada beberapa persyaratan yang memang harus ditepati sebelum keluar pondok pada hari ahad. Yaitu pertama, para santri harus lulus dalam ujian bahasa yang dilaksanakan pada hari sabtunya pada minggu perizinan. Kedua, harus mencapai target harian dan mingguan hafalan Al-Qur’an. Dan yang terakhir, seluruh lingkungan asrama serta sekolah harus bersih sebelum para santri keluar pondok. Makanya setiap minggunya selalu diadakan kerja bakti, karena pada hari ahad juga kegiatan belajar mengajar diliburkan.

“Sya, kamu mau keluar gak hari ini?” Tanya Nabila pada Syahila saat selesai melakukan krja bakti.

“Kanyanya enggak Bil, aku mau istirahat saja di kamar. Emang kamu mau keluar?” Tanya Syahila balik.

“Enggak juga sihh, niatnya mau titip hehehe...”. Jawab Nabila.

“Coba kamu tanya Sasha sama Nasywa, barangkali mereka mau keluar. aku juga bisa titip nanti hehehe”. Ucap Syahila.

“Dih, sama aja yaa ternyata. Mau titip juga hahaha.” Kata Nabila.

“Eh, tapi kamu tumben gak keluar sama Yasmin? Biasanya keluar berdua.” Tanya Nabila.

“Owh... hari ini orang tua Yasmin datang kesini, mungkin Yasmin bakal keluar sama orang tuanya.” Jawab Syahila.

“Kalau gitu aku duluan ya Bil.” Kata Syahila lagi.

Lalu Syahila pergi ke kamarnya lebih dulu meninggalkan Nabila yang masih dibawah sedang mencari Sasha dan Nasywa. Sebelum pergi ke kamarnya, Syahila pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan tangan dan kakinya seusai melaksanakan kerja bakti. Saat Syahila membuka pintu kamarnya ia nampak terkejut karena ada Yasmin dan ibunya sedang makan.

“Assalamu’alaikum.” Syahila langsung membungkuk dan menyalami Bu Farras.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab ibu dan anak itu.

“Aduhh... Kak Sya maaf yaa, tangan saya kotor.” Kata bu Farras menjabat tangan Syahila dengan hati – hati, khawatir akan mengotori tangannya Syahila.

“Owh... gak apa – apa bu, maaf mengganggu.” Jawab Syahila sopan lalu tersenyum tulus.

“Mengganggu apa sihh, sini makan juga. Saya bawa botok tahu, Kak Sya cobain dehh.” Ucap Bu Farras.

“Terima kasih bu gak usah repot – repot, saya tadi sudah makan.” Tolak Syahila halus.

“Malah kalau Kak Sya menolak saya jadi repot lohh, cobain dulu yaa. Kalau sudah dicoba dan gak suka jangan dimakan. Yang penting coba dulu yaa.” Pinta Bu Farras. Akhirnya Syahila memakan botok tahu itu.

“Bagaimana rasanya? Enak?” Tanya Bu Farras kepada Syahila.

“Iya enak bu.” Jawab Syahila jujur.

“Nah.. kalau enak harus nambah lagi yaa, Yasmin kasih nasinya juga,” Kata Bu Farras, sambil membukakan botok tahu yang dibungkus oleh daun pisang tersebut. Syahila melirik Yasmin yang masih saja asyik dengan makanannya, Syahila menatapnya seakan mengatakan ‘bagaimana ini?’ kepada Yasmin. Seakan mengerti Yasmin hanya mengisyaratkan kepada Syahila untuk memakannya saja. Akhirnya Syahilapun memakannya, pada saat itulah ada yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam pintu kamar Syahila dan Yasmin, tak lama kemudian Nabila dan Sasha masuk kedalam.

“Sya, kita mau keluar, katanya kamu mau menitip sesuatu?” tanya Nabila, yang kemudian Sasha sengaja menyikut Nabila. Setelah menyadari sesuatu, Sasha dan  Nabila langsung meminta maaf kepada Bu Farras.

“Tante, maaf  kami tidak sengaja. Kami kira tidak ada tante .” Ucap Sasha sopan.

“Tidak apa – apa, ayo ikut makan.” Ajak Bu Farras ramah.

“Terima kasih tante, tapi kami mau keluar dulu takut pulangnya kesorean.” Tolak Nabila.

“Jadi titip gak nihh?” Tanya Nabila kepada Syahila.

“Biasa yaa, pake uangmu dulu nanti aku ganti.” Jawab Syahila, kemudian ia melirik ke arah Yasmin. Seakan mengerti tatapan Syahila, Yasmin menganggukkan kepala.

“Bil, aku titip dua yaa jadinya.” Kata Syahila lagi.

“Tante, kami keluar dulu yaa.” Pamit Sasha.

“Iya, hati – hati ya.” Jawab Bu Farras.

“Min, Sya, keluar dulu ya.” Kata Nabila. Yasmin dan Syahila mengangguk.

“Assalamualaikum.” Ucap Sasha dan Nabila bersamaan.

“Wa’alaikumussalam.”

Tak lama kemudian, Bu Farras pun pulang kembali ke Cirebon. Syahila dan Yasmin hanya mengantar sampai depan pintu asrama, kemudian mereka kembali naik ke atas menuju kamar mereka. Sekembalinya Syahila dan Yasmin ke kamar, Syahila melihat Yasmin yang sedang gelisah. Syahila berfikir bahwa Yasmin khawatir dengan ibunya yang memang datang ke pesantren dengan mengemudi sepeda motor seorang diri.

“Kamu kenapa Min, gelisah gitu?” Tanya Syahila. Yasmin menoleh kearah Syahila dan menatapnya lama. Kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Yasmin memberikan benda yang diambilnya kepada Syahila, kemudian Syahila membacanya sampai selesai.

“Udah, gak usah ditanggepin. Nanti juga cape sendiri dia.” Ucap Syahila sambil melipat kertas yang tadi dibacanya itu. Itu merupakan surat dari Nisa adik dari Shofi yang memang kurang terlalu suka dengan Yasmin.

“Kak Sya jangan bilang mamah atau aa yaa.” Pinta Yasmin kepada Syahila.

“Iya, aku gak bakal bilang sama mamah kamu kok, tapi bentar kamu bilang apa tadi?” Tanya Syahila, meminta Yasmin mengulang perkataannya barusan.

“Jangan bilang mamah atau aa. Kenapa? Ada yang salah?” Tanya Yasmin balik.

“Enggak sihh, aneh aja dengernya. Kesannya seperti aku deket aja sama kakak kamu itu, kenal aja enggak.” Jawab Syahila tegas.

“Masa? Gak percaya ahh.” Ucap Yasmin, ia melipat kedua tangannya di depan dada.

“Serah.” Kata Syahila cepat.

“Dihh? Ngambek? Biasanya yang ngambek itu ngerasa lohh.” Kata Yasmin terus menggoda Syahila.

“Min, please! Jangan begini yaa. Kalau orang liat kamu begini nanti mengira bahwa aku beneran punya hubungan dengan kakak kamu Min.” Ucap Syahila.

“Aku cuma mau belajar dengan tenang disini, aku gak mau ada gosip – gosip yang aneh tentang aku lagi Min. Tolong, mengertilah.” Syahila memohon untuk Yasmin berhenti menggodanya.

“Iya, aku tahu. Aku juga merasakan rasanya ditatap oleh mata yang mengintimidasi itu, aku paham banget soal itu. Kak Sya ngerasa gak sihh kita ini mempunyai urusan dengan kakak beradik itu, bedanya mereka saudara kandung sedangkan kita memang hanya sebatas teman dekat.” Kata Yasmin dengan serius.

“Maksud kamu dengan Kak Shofi dan Nisa?” Tanya Syahila kepada Yasmin untuk memastikan.

“Ya iya, siapa lagi? Coba Kak Sya pikir dehh kakak punya problem sama Kak Shofi memperebutkan aa sedangkan aku punya problem dengan Kak Nisa gara – gara aa juga. Kata Yasmin menjelaskan. Syahila terkejut mendengar perkataan Yasmin barusan.

“Enak saja! Aku tidak memperebutkan kakak kamu yaa, itu cuma kesalahpahaman saja. Yang benar adalah Kak Shofi yang memang suka dengan kakakmu Jay, aku hanya dijadikan kambing hitam saja karena aku deket sama kamu. Kurang kerjaan banget kali, memperebutkan. Seperti sudah tidak ada cowok di dunia ini saja.” Sanggah Syahila tidak terima dengan perkataan Yasmin.

“Iya, iya sorry. Aku juga problemnya hanya kesalahfahaman saja antara aku dan Kak Nisa. Dia kira mentang – mentang Kak Shofi suka sama aa, terus aku mau comblangin aa dengan Kak Shofi gitu? Ih, sorry aja yaa.” Kata Yasmin, dan langsung menatap ke arah Syahila yang sedari tadi sudah menatapnya seakan tersadar sesuatu.

“Berarti Kak Jay itu masalahnya.” Kata Syahila dan Yasmin bersamaan, kemudian mereka tertawa bersama. Dan disaat itulah Shofi masuk ke kamar mereka.

“Assalamu’alaikum, Yasmin.” Ucap Shofi.

“Wa’alaikumussalam.” Jawab Yasmin dan Syahila bersamaan.

Melihat keberadaan Syahila, Shofi mengisyaratkan Yasmin untuk ke depan kamarnya sebentar. Bukannya langsung ke depan kamarnya, Yasmin malah menoleh ke arah Syahila meminta persetujuan. Melihat Syahila tersenyum kepadanya, Yasmin pun segera keluar untuk menemui Shofi.

“Ada apa Kak?” Tanya Yasmin to the point kepada Shofi.

“Enggak apa – apa, ini ada sedikit makanan buat kamu. Dimakan yaa!” Jawab Shofi sambil tersenyum.

“Ohh iya, tadi aku lihat ibu kamu ke sini ya Min?” Tanya Shofi kemudian.

“Iya, kenapa?”Tanya Yasmin balik.

“Kakak kamu juga kesini?” Tanya Shofi. Yasmin memutar bola matanya, ia sudah mengira Shofi akan menanyakan hal ini.

“Aa gak dateng kesini kak, kan kelas dua belas sudah sibuk. Jadi jarang ada waktu, kenapa memangnya?”Jawab Yasmin.

“Ohh gak ada apa – apa, dikirain kesini juga.” Ucap Shofi sedikit gugup.

“Ya bilang aja kalau ada perlu, nanti gampang aku bilang ke Kak Sya buat bilangin ke aa.” Kata Yasmin cepat. Shofi mengerutkan dahinya.

“Kenapa harus lewat Sya?” Tanya Shofi.

“Emang mau aku bilangin ke mamah?” Yasmin balik nanya.

“Maksudnya kenapa harus ke Sya, emang Sya deket sama Jay?” Shofi terus menanyakan perihal Syahila dan Jay.

“Kalau deket banget sihh enggak tahu, cuma yang aku tahu mereka pernah chatingan. Kalau enggak, Kak Shofi sendiri aja yang menghubungi aa yaa. Btw, makasih ya seblaknya.” Kata Yasmin dan langsung permisi masuk ke kamar. Yasmin yang melihat Syahila sedang membaca buku mengajaknya agar duduk didekatnya.

“Kak Sya, ayo kesini, ada seblak nihh kesukaan kakak.” Ajak Yasmin kepada Syahila yang sedang asyik membaca.

“Itu seblak buat kamu dari Kak Shofi, makan saja.” Jawab Syahila.

“Seblak inikan udah dikasih ke aku, jadi aku berhak untuk berbagi kepada siapa aja dong. Udah, ayo makan aja, rezeki lohh.” Kata Yasmin, yang masih membujuk Syahila. Akhirnya mereka memakan seblak dari Shofi bersama sambil bercerita apa saja yang bisa diceritakan oleh mereka.

Sore harinya, saat Syahila baru selesai mandi Yasmin langsung mengajaknya ke kantin. Karena seusai melaksanakan sholat dzuhur, Yasmin langsung tidur siang memanfaatkan waktu libur sekolah. Karena biasanya kegiatan sekolah maupun asrama itu sangat padat jika dihari – hari biasa.

“Kak Sya, jajan yukk! Aku laper.” Ajak Yasmin kepada Syahila.

“Itu lohh titipan kita udah dateng roti rudalnya.” Kata Syahila memberitahu..

“Lohh udah dateng? Kapan? Kok aku gak tahu?” Tanya Yasmin.

“Ya gimana mau tahu, tadi kamu masih tidur.”

“Owhh... Kak Sya mau yang cokelat atau yang cokelat keju?” Tanya Yasmin mendapati dua roti dengan rasa yang berbeda.

“Yang mana saja, silahkan kamu pilih saja mau  rasa apa?” Ucap Syahila.

“Kalau enggak, kita makannya satu – satu aja dulu kak gimana?” Tanya Yasmin lagi.

“Boleh, jadi yang satunya kita bisa simpen buat nanti.” Kata Syahila menyetujui.

“Ohh... iya, uangnya gimana Kak?”

“Udah dibayar kok, udah makan aja.” Perintah Syahila, karena Yasmin bertanya terus-menerus.

“Ohh... berarti aku bayar sama Kak Sya ya? Potong saja dari uangku yang dititipkan ke kakak yaa.”

“Udah gak usah.” Bantah Syahila tegas. Akhirnya Yasmin terdiam dan melanjutkan makan roti rudalnya.

Memang Yasmin semenjak masuk pesantren uang jajan dia dititipkan semuanya pada Syahila, dengan alasan takut hilang. Di lingkungan pesantren memang masih rentan dengan pencurian, entah itu uang, barang ataupun makanan. Sehingga Yasmin memutuskan untuk menitipkan uang jajannya kepada Syahila agar aman dan agar dirinya tidak boros sehingga pengeluaran terkendali. Hal itu tentu saja telah mendapat persetujuan dari Bu Farras ibu dari Yasmin. Bahkan, jika memang kebetulan Bu Farras dan Syahila bertemu, saat ingin memberikan uang jajan kepada Yasmin, Bu Farras langsung menitipkannya kepada Syahila.

***

“Tuhan punya cara yang unik untuk mendamaikan hamba-Nya yang sedang berselisih. Sekeras apapun kamu memungkiri, jika Tuhan telah menetapkannya maka akan terjadi juga.”

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini sudah memasuki tahun ajaran baru, dan otomatis kamarpun dirubah. Syahila berpindah ke kamar lantai satu nomor delapan belas. Sedangkan Yasmin pindah ke kamar lantai dua nomor dua puluh tiga. Saat perpindahan kamar para santri saling membantu dalam memindahkan barang menuju kamar barunya. Begitupun dengan Syahila dan Yasmin, mereka saling membantu membawakan barang masing – masing ke kamar baru mereka.

“Yahh... Syahila dan Yasmin sudah tidak sekamar lagi yaa. Sekarang kalian terpisah.” Kata wali asrama mereka yang dulu saat masih satu kamar, yang tidak sengaja berpapasan di depan asrama. Dengan keadaan Syahila dan Yasmin yang sedang membawa box berisikan buku – buku pelajaran semester kemarin.

“Iya nihh Mi, kita kepisah juga.” Kata Yasmin menanggapi. Namun tangannya masih berusaha untuk mengangkat box yang sedang dibawanya bersama Syahila.

“Padahal waktu awal masuk ummi sampe gak bisa bedain yaa, mana Yasmin dan mana Sya. Karena kalian terlalu mirip, ummi kira kalian itu kakak adik kandung.” Ucap ustadzah Dini.

“Iya ummi, sebelumnya afwan yaa ummi, kita mau angkut barang – barang dulu ya ummi. Berat ini soalnya.” Ucap Syahila jujur. Terlebih Syahila hanya mengangkatnya dengan satu tangan.

“Oh, iya iya silahkan.” Kata ustadzah Dini, lalu pergi ke kamarnya. Sedangkan Yasmin dan Syahila melanjutkan perpindahan kamarnya. Setelah semuanya beres, Syahila langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya Yasmin untuk mengajaknya makan siang bersama.

“Assalamu’alaikum.” Ucap Syahila seraya membuka pintu kamar Yasmin yang baru.

“Wa’alaikumussalam, masuk aja Kak.” Sahut Yasmin dari dalam.

“Eh, gak ada orang? Kemana semua?” Tanya Syahila.

“Ada yang makan di mat’am (tempat makan) dan ada juga yang ke kantin jajan.” Jawab Yasmin.

“Kamu gak makan?” Tanya Syahila lagi.

“Males.” Jawab Yasmin cepat.

“Kak minta uang dong, aku mau jajan.” Lanjut Yasmin.

“Males.” Jawab Syahila cepat. Hal itu membuat Yasmin menatapnya tak percaya, melihat ekspresi Yasmin yang seperti itu, Syahila langsung mengajaknya duduk dilantai dan mengajaknya makan sama – sama.

“Kamu boleh jajan, tapi harus makan dulu yaa. Kamu dari pagi belum makan, nanti kalau kamu gak makan lagi mag-mu kambuh, kamu jugakan yang sakit.” Ucap Syahila sambil membuka makanan yang dibawakan ibunya tadi saat ibunya datang sebentar.

“Iya, bawel banget.” Kata Yasmin sambil cemberut, Syahila yang melihat itu hanya tersenyum.

“Udah, ayo makan saja, ini mamahku masak ongseng cumi. Enak dehh, tuhh nasinya.” Ajak Syahila kepada Yasmin.

“Kak Sya, kakak satu kamar sama Kak Nisa yaa?” Tanya Yasmin saat mereka sedang makan.

“Iya, kenapa?”Tanya Syahila lagi.

“Untung Kak Sya kakak kelasnya yaa, coba kalau aku? Gak bakal betah di kamar kali aku jadinya.” Kata Yasmin.

“Rencana Allah SWT itu lebih baik kok, mungkin akan ada hikmah dengan aku satu kamar dengannya.” Jawab Syahila bijak.

“Iya, iya dehh. Mungkin buat nakut – nakutin Kak Nisa biar gak ngirimin aku surat ancaman lagi kali yaa? Kan Kak Sya itu juteknya minta ampun.” Kata Yasmin bercanda.

“Emang aku jutek sama kamu?” Tanya Syahila dan ia memperagakan orang yang pura – pura imut dengan memajukan sedikit bibirnya dan mengedip – ngedipkan matanya beberapa kali.

“jijik!” Ucap Yasmin yang melihat Syahila seperti itu sambil menahan tawanya.

“jijik kok ketawa?” Ucap Syahila.

“enggak, siapa bilang aku ketawa?” Yasmin berusaha mengelak.

“Yaudah.” Kata Syahila pura – pura marah.

“Tuh, kan? Baper?” Ucap Yasmin.

“Maaf dehh ya kak, maafin aku yaa?” Kata Yasmin lagi, dan sekarang dia yang berlagak imut di depan Syahila.

“Dihh... jijik!” Kata Syahila cepat. Akhirnya Yasmin terdiam dan memilih menghabiskan makanannya, karena ia tahu berdebat dengan Syahila adalah hal yang sia – sia. Karena bagaimanapun caranya, tetap saja dirinya akan kalah debat dengan Syahila. Kecuali jika Yasmin sedang membahas Jay, Syahila cenderung menghindar.

Selesai makan bersama di kamar Yasmin, Syahila kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena besok kegiatan sudah dimulai seperti semula. Saat ia tiba di kamarnya, Syahila mendapati Nisa yang sedang tidur – tiduran di ranjangnya. Nisa yang melihat Syahila masuk ke kamar raut mukanya langsung berubah, Syahila mengangkat alisnya sebelah melihat ekspresi wajah Nisa. Dan sebenarnya, Syahila tahu sebabnya mengapa Nisa seperti itu saat melihat dirinya. Dalam hatinya Nisa sedang resah dan takut jika Yasmin itu cerita kepada Syahila mengenai surat – surat yang telah ia kirimkan kepada Yasmin. Untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka, Syahila sengaja mencairkan suasana.

“Santai aja kali Nis liatinnya, biasa aja. Aku gak bakal makan kamu juga kok.” Ucap Syahila.

“Owhh, iya kak.” Jawab Nisa dengan terbata – bata, kemudian Syahila sedang mempersiapkan peralatan yang akan dibawanya ke sekolah esok hari. Ia sesekali membuka buku paket yang baru di dapatkannya itu.

“hhmm... Kak Sya, aku boleh tanya sesuatu  gak?” Tanya Nisa ragu.

“Ada apa? tanyain  aja, gak usah sungkan.” Jawab Syahila yang masih membaca – baca bukunya.

“hhmm... itu... Kak Sya beneran deket sama kakaknya Yasmin?” Tanya Nisa dengan sangat hati – hati. Seketika Syahila berhenti membaca karena mendengar pertanyaan Nisa tadi. Syahila masih terdiam, menatap kosong kearah bukunya yang tadi ia baca, dan hal itu membuat Nisa merasa tidak enak.

“Kalau deket kenapa? Kalau enggak juga kenapa? Memang apa untungnya buat kamu?” Tanya Syahila balik kepada Nisa. Wajah Nisa pun semakin tegang karena pertanyaan Syahila.

“Ya enggak apa – apa, hanya ingin tahu saja. Karena kayaknya kabar yang beredar dari setahun yang lalu itu awet yaa sampai sekarang. Sampai – sampai satu pesantren tahu loh kak.” Jawab Nisa.

“Dan yang aku lihat juga Kak Sya cocok kok sama kakaknya Yasmin, kakaknya Yasmin ganteng lohh kak.” Kata Nisa lagi berusaha menggoda Syahila.

“Owhh...  iya, kakaknya Yasmin memang gantengkan?” Ucap Syahila dengan mata yang berbinar – binar, Nisa yang melihat itu senyum sumringah.

“Terus kenapa kamu menyuruh aku dekat dengan kakaknya Yasmin yang kata kamu ganteng itu, sedangkan sudah menjadi rahasia umum bahwa kakakmu Kak Shofi menyukai kakaknya  Yasmin, Jay Prasetya. Mengapa kamu tidak mendukung kakakmu saja yang jelas – jelas sudah menyukai Jay? Apakah kamu tidak tahu jika Kak Shofi tahu kamu lebih mendukungku dari pada dia untuk dekat dengan Jay akan menyakiti hatinya?” Syahila menjelaskan kepada Nisa sedikit mengebu – ngebu, walau ia tetap dapat mengontrol nada suaranya agar tetap normal.

“Ya aku lebih setuju aja Kak Sya dengan kakaknya Yasmin, karena menurutku kalian cocok kok. Kalian sama – sama berkulit putih, dan Kak Sya juga sudah dekat dengan adek dan orang tuanya kan? Dan lagi, Ustadzah Dini sampai sekarang masih belum bisa membedakan antara Yasmin dan Kak Sya karena kalian mirip.” Ucap Nisa mencoba mencari alasan.

“Nisa, dengarkan baik – baik yaa. Warna kulit itu bukan sebagai media seseorang akan menyukai orang lain. Kalau masalah dekat dengan adek atau keluarganya mungkin orang – orang saja yang melihat itu secara berlebihan, padahal diantara kita itu biasa saja, tidak terlalu dekat. Aku menganggap Yasmin sebagai teman, sahabat dan adek kelas tentunya. Oleh karena itu, aku juga menganggap Jay hanya sebagai teman. Jika masalah dengan orang tuanya, kamu sendiri juga belajar tentang bagaimana seharusnya berprilaku dengan orang yang lebih tua bukan? Dan masalah kemiripan, itukan hanya persepsi orang lain, kita tidak bisa melakukan apa – apa.” Syahila menjelaskan kepada Nisa dengan sabar agar ia mengerti.

"Ya intinya aku lebih setuju kalau kakaknya Yasmin itu dekat dengan Kak Sya dibanding kakakku.” Kata Nisa masih keras kepala. Syahila menarik nafasnya dalam dalam, lalu ia membuangnya secara perlahan. Ia mencoba lebih bersabar menghadapi Nisa yang memang agak sulit untuk diberikan pengertian.

“Nisa, aku hanya mengingatkan satu hal padamu. Tujuan kita datang ke pesantren inikan untuk belajar, bukan untuk main – main, apalagi mencari pacar. Karena pacaran sebelum menikah itu dilarang dalam islam, kamu juga tahukan? Lalu, jangan terlalu mencampuri kehidupan orang lain yaa, karena jika kehidupanmu sendiri di campuri orang lain juga kamu tidak akan suka bukan? Maka, berhentilah mengurus urusan orang lain, dan belajarlah yang rajin. Untuk masalah aku dan Jay kedepannya hanya Allah yang tahu.” Kata Syahila menasehati Nisa dengan hati – hati.

‘Oh iya satu lagi, aku bukan tipe orang perusak hubungan orang yaa. Jadi kakakmu tidak perlu khawatir akan kedekatan aku dengan Yasmin. Karena aku hanya dekat dengan Yasmin, bukan kakaknya. So please! Jangan bawa – bawa aku lagi dalam masalah ini. Dan untuk kamu Nisa, berhentilah menyebarkan gosip yang tidak benar.” Kata – kata Syahila menjadi penutup pembicaraan panjang hari itu antara Syahila dan Nisa.

“Kalau saja aku tidak memikirkan Yasmin, aku sudah membongkar semua rahasianya dan sudah berbicara lebih kasar padamu Nisa.” Bathin Syahila, ia memutar kedua bolannya. Namun Syahila tidak melakukan hal itu karena memikirkan dampak yang akan diterima Yasmin nanti kedepannya. Karena dalam surat – surat yang dikirimkan oleh Nisa kepada Yasmin tertulis jelas bahwa Yasmin dilarang memberitahu Syahila mengenai hal itu. Yang Syahila takutkan, jika dirinya mengatakan bahwa dirinya tahu semua tentang surat – surat itu akan membuat Yasmin semakin  tertekan, dan Syahila tidak ingin itu terjadi.

***

“Saat kamu fokus mengejar mimpimu, sampai kamu tak menyadari ada yang memperhatikanmu dari jauh. Ia tak berani mendekat kearahmu, karena melihat tingginya benteng yang dibangun olehmu. Itulah ujian untukmu, dapatkah kamu mempertahankan benteng itu?”

Hari ini Syahila ada jam olahraga, maka ia dan teman – temannya sudah berada di lapangan sedang melakukan pemanasan sambil menunggu guru olahraganya  datang. Syahila dan teman – temannya telah melakukan lari keliling lapangan basket sebanyak tiga kali dan melakukan peregangan. Setelah melakukan itu semua, masing – masing siswi diberikan kesempatan untuk melakukan gerakan kebugaran jasmani, dan Syahila hanya melakukan gerakan  yang dapat ia lakukan seperti squadjump dan sit up, setelah itu ia diperbolehkan duduk dipinggir lapangan melihat yang lain latihan. Selain Syahila, beberapa siswi pun telah melakukan latihan sehingga bergabung dengan Syahila duduk di pinggir lapangan untuk melemaskan otot – otot mereka. Namun, tiba – tiba Syahila melihat mobil yang sangat dikenalnya memasuki area parkir yang terletak tak jauh dari lapangan.  Syahila melihat Bu Farras keluar dari mobil dan langsung tersenyum kepada dirinya, Syahila melihat bahwa Bu Farras berjalan ke arahnya, namun Syahila langsung izin kepada pelatih olahraganya untuk mememui Bu Farras sebentar. Setelah mendapat izin dari pelatihnya, Syahila langsung berlari menghampiri Bu Farras.

“Assalamu’alaikum.” Ucap Syahila sambil mencium punggung tangan Bu Farras.

“Wa’alaikumussalam, baru saja mamah mau nyamperin kamu Sya.” Jawab Bu Farras, ia langusung memeluk dan mencium kedua pipi Syahila dengan penuh rasa kasih sayang. Semua orang yang melihatnya pasti mengira bahwa Bu Farras adalah ibu dari Syahila. Sedangkan Syahila yang merasa tidak nyaman langsung melepas pelukan Bu Farras secara baik – baik.

“Maaf bu, Sya bau keringet. Kasihan ibunya yang kebauan nantinya.” Ucap Syahila.

“Enggak kok kak, ohh iya, panggil mamah aja yaa, kayak sama siapa aja dehh kak Sya ini.” Pinta Bu Farras kepada Syahila. Dahi Syahila berkerut, namun tak lama kemudian kembali seperti semula.

“Aahh... iyaa, ma...mah.” jawab Syahila sedikit kaku karena belum terbiasa.

“Mau cari Yasmin yaa bu? Eh maksudnya mamah.” Tanya Syahila.

“Iya nihh Kak, tapi sebelum itu mau ketemu Ustadzah dulu ada urusan.” Jawab Bu Farras.

“Sebelumnya saya minta maaf ya mah, Sya gak bisa mengantar mamah. Sya lagi ada kelas.” Kata Syahila hati – hati.

“Owhh.... gak papa kak, Kak Sya lanjut lagi aja yaa. Mamah mau ke kantor pengasuhan sebentar.” Ucap Bu Farras sambil tersenyum, dan Bu Farras mengelus kepala Syahila pelan yang ditutupi oleh kerudung itu.

Saat Syahila sedang mengobrol dengan Bu Farras di samping mobilnya, Syahila tidak menyadari bahwa ada yang sedang memperhatikannya dari dalam mobil.

“Pah, itu yang lagi ngobrol sama mamah siapa pah?” Tanya Jay kepada ayahnya yang sedang memainkan ponselnya. Ayahnya melirik sebentar ke arah Syahila dan Bu Farras berdiri tak jaug dari mobilnya.

“Owhh.. itu Syahila yang sering di ceritain mamah di rumah.” Jawab ayahnya cepat.

“Ohh... itu yang namanya Syahila, yang kata mamah ade nurut banget sama dia? Hebat yaa bisa sabar sama kelakuan Yasmin. Aku aja kakaknya kewalahan, kira – kira ade diapain yaa sampe nurut banget sama dia?” Tanya Jay kepada ayahnya,

“Ya tanyalah sama Syahilanya, emangnya kenapa sihh kamu? Tumben tanya – tanya.” Ayahnya balik bertanya kepada Jay.

“Aku kok melihat Sya seperti dia itu masih anak – anak banget yaa pah?” Kata Jay.

“Emang kamu udah gede? Kamu ini yaa mentang – mentang udah lulus sekolah menganggap orang yang masih sekolah kayak anak – anak.” Kata ayahnya menanggapi perkataan Jay.

“Bukan begitu maksudnya pah.” Ucap Jay.

Sementara itu teman – teman Syahila yang melihat Syahila dengan Bu Farras sedang mengobrol itu bertanya – tanya. Karena baru kemarin orang tuanya Syahila baru dateng ke sini, sekarang sudah datang kesini lagi.

“Itu Syahila dijenguk lagi yaa, orang tuanya kayaknya sayang banget ya sama dia. Dijenguk melulu perasaan.” Ucap Lala.

“Iya, kemarin memang orang tuanya yang dateng kesini. Tapi sekarang bukan orang tuanya.” Kata Vina menanggapi ucapannya Lala.

“Terus itu sekarang siapa? Tantenya?” Tanya Lala polos.

“Biasa camernya Syahila itu sihh.” Jawab Vina cepat.

“Hah? Camer? Apaan tuh?” Tanya Lala lagi.

“Calon mertua.” Jawab Vina cepat.

“Bukannya itu orang tuanya Yasmin kelas delapan itu yaa?” Tanya Cici setelah memperhatikan Bu Farras.

“Ohh... Yasmin yang katanya punya kakak ganteng itu ya?” Tanya Lala.

“Iya, siapa lagi?” Jawab Vina kesal karena Lala baru menyadarinya.

“Kakaknya Yasmin ada gak sihh di mobil? Emang ganteng banget yaa? aku belum lihat.” Kata Cici.

“Kamu belum lihat kakaknya Yasmin? Ganteng banget sihh enggak kalau menurutku, tapi dari pada santri putra disini, kakaknya Yasmin termasuk ganteng.” Kata Aas.

“Emang kamu udah pernah lihat?” Tanya Vina kepada Aas.

“Udah, ya walaupun enggak secara langsung sihh. cuma dari foto aja, waktu aku satu kamar dengan Kak Shofi, nahh Kak Shofi yang ngasih liat foto kakaknya Yasmin sama aku.” Jawab Ass memberikan penjelasan. Dan saat itu Syahila sudah kembali duduk bersama teman – temannya.

“Ciee... dijenguk camer yaa?” Tanya Vina sengaja menggoda Syahila. Alis Syahila terangkat sebelah.

“Maksudnya?” Tanya Syahila tidak mengerti.

“Camer lohh... calon mertua.” Jawab Cici menahan tawa.

“Astagfirullah... kalian ngomong apa sihh? Jangan ngomong aneh – aneh dehh.” Kata Syahila mencoba menjelaskan.

“Udah dehh, gak usah ngelak. Itu tuhh camer kamu mau pulang kayaknya, manggil kamu dehh tuhh” Kata Ass memberitahu Syahila, Ass menunjuk arah dimana Bu Farras. Syahilapun menoleh ke arah yang di tunjuk Syahila, kemudian langsung menghampirinya.

“Mamah udah mau pulang yaa?” Tanya Syahila, ia menyalami Bu Farras.

“Iya, titip ade ya Kak.” Jawab Bu Farras sambil mencium kepala Syahila lalu tersenyum. Syahila pun tak lupa menyapa Pak Yohan, suami dari Bu Farras.

“Assalamu’alaikum om.” Ucap Syahila, karena pintu mobil terbuka menampilkan Pak Yohan yang duduk di kursi pemudi. Syahila menangkupkan kedua tangannya di depan dada karena tidak diperbolehkan bersalaman dengan lawan jenis.

“Wa’alaikumussalam Kak.” Jawab Pak Yohan tersenyum, sambil melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Syahila.

“Ya udah, mamah pulang dulu ya Kak. Assalamu’alaikum.” Ucap Bu Farras dan menaiki mobilnya.

“Wa’alaikumussalam. Hati – hati ya mah, om.” Jawab Syahila dan melambaikan tangannya.

***

“Jika mempunyai rasa sayang kepada seseorang harus memiliki alasan, maka alasanku hanya karena aku sayang dia.”

“Assalamu’alaikum Kak Sya.” Ucap Fathiyya, teman sekelas Yasmin.

“Wa’alaikumussalam, kenapa Fat?” Tanya Syahila.

“Itu Kak Sya, Yasmin sakit. Minta dipanggilin Kak Sya ke kamarnya.”

“Astagfirullah, sakit apa dia?”Tanya Sya panik sambil berjalan menaiki tangga ke lantai dua.

“Demam kak, badannya panas banget.” Jawab Fathiyya, Syahila mempercepat langkahnya diikuti oleh Fathiyya.

Setibanya di kamar Yasmin, Syahila langsung duduk disebelah Yasmin yang sedang berbaring. Iapun menempelkan telapak tangannya ke dahi Yasmin. Saat Syahila merasakan panas di tubuh Yasmin, ia langsung meminta tolong kepada teman sekelas Yasmin untuk memetikkan daun bunga cocor bebek yang ada disekitar asrama. Dikarenakan Yasmin belum makan siang, Syahila membuatkannya bubur instan dan menyuruh Yasmin untuk memakannya. Karena Syahila takut salah jika memberikan sembarang obat, dan Yasmin menolak untuk dibawa ke klinik pesantren, maka Syahila hanya memberikan Yasmin madu sebanyak dua sendok makan. Dan menyuruh Yasmin beristirahat sambil menunggu teman sekamar Yasmin yang sedang memetik daun bunga cocor bebek datang. Setelah Syahila mendapatkan daun bunga cocor bebeknya, ia langsung mencuci dan menumbuknya menjadi agak halus. Lalu ditempelkannya tumbukan daun bunga cocor bebek itu ke dahi Yasmin. Merasa ketenangannya terusik, Yasminpun memegang dahi yang ditempelkan tumbukan daun bunga cocor bebek itu.

“Diem dulu, jangan dipegang.” Kata Syahila mengingatkan Yasmin agar diam.

“Ini apa Kak?” Tanya Yasmin.

“Ini daun bunga cocor bebek, bisa membantu menurunkan panas. Udah kamu istirahat aja, biar aku yang memakaikannya.” Jawab Syahila, ia terus menempelkan tumbukan – tumbukan bunga cocor bebek di dahi Yasmin dengan telaten. Setelah selesai, Syahila kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi ke mushola menunaikan sholat maghrib.

Selekas menunaikan sholat maghrib, Syahila buru – buru mengambil makan untuk Yasmin yang sedang sakit.

“Sya, kamu gak makan bareng sama kita?” Tanya Nasywa saat melihat Syahila mengambil makan sendiri.

“Kayaknya aku gak makan dehh, kalian duluan aja.” Jawab Syahila kepada teman – temannya yang sedang mengantri untuk makan.

“Lah, itu buat siapa?” Tanya Nabila sambil menunjuk piring yang sedang di bawa Syahila.

“Owhh... ini buat Yasmin, dia lagi sakit.” Jawab Syahila.

“Tapi kamu juga harus makan lohh Sya.” Kata Sasha mengingatkan.

“Iya iya nanti gampang, udah dulu yaa duluan.” Ucap Syahila, ia langsung meninggalkan teman – temannya di ruang makan. Sebelum ke kamar Yasmin, ia pergi ke ke kamarnya dulu untuk mengambil botol minum miliknya.

“Nisa, kamu gak makan?” Tanya Syahila saat melihat Nisa berada di kamar saat jam makan.

“Nggak Kak.” Jawab Nisa singkat.

“Makan Nis, nanti kamu sakit lohh. Yasmin juga sakit tuh di kamarnya gara – gara telat makan. Kegiatan disini itu banyak, tubuh kita juga butuh tenaga.” Kata Syahila mengingatkan.

“Ditinggal dulu yaa Nis.” Ucap Syahila lagi, lalu pergi.

Walaupun sebenarnya Syahila itu sedikit kesal kepada Nisa karena telah mengirimkan surat – surat ancaman kepada Yasmin. Tapi ia juga menyadari bahwa ia di amanahi untuk menjaga adik – adik kelasnya, terutama yang satu kamar. Saat Syahila tiba di kamar Yasmin,  ia duduk di tepi ranjang dan memeriksa suhu tubuh Yasmin dengan menempelkan telapak tangannya ke dahi Yasmin yang masih ada tumbukan daun bunga cocor bebeknya. Ia membangunkan Yasmin dengan lembut dan mengantarkannya ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu Yasmin menunaikan ibadah sholat Maghrib di kamarnya, Syahila menunggunya dengan sabar, setelah itu ia membantu melipatkan mukena yang telah dipakai oleh Yasmin untuk sholat.

“Nihh... kamu makan dulu yaa, panas kamu udah turun kok. Mungkin besok badan kamu lebih enak, jadi kamu bisa masuk sekolah.”

“Kak Sya udah makan?” Tanya Yasmin.

“Alhamdulillah.” Jawab Syahila, ia menyerahkan piring kepada Yasmin yang sekarang sudah duduk disebelahnya.

“Apa?” Tanya Yasmin lagi, ia menatap mata Syahila dengan tatapan menyelidik.

“Sudah.” Jawab Syahila pelan. Yasmin menghembuskan nafasnya perlahan.

“Aku gak mau makan.” Kata Yasmin mengejutkan Syahila.

“Nanti kamu gak sehat – sehat Min, aku cuma minta kamu makan saja kok.” Kata Syahila berusaha membujuk Yasmin.

“Karena kak Sya bohong, aku tahu kakak belum makan.” Ucap Yasmin, ia mengerucutkan bibirnya lucu. Terkadang Syahila sangat menyesali bahwa Yasmin adalah seorang pengamat yang baik.

“Ya udah iya, sekarang makan yaa.” Ajak Syahila.

“Suapin.” Pinta Yasmin, ia membuka mulutnya lebar – lebar. Syahila memutar bola matanya malas, namun ia tetap menyuapi Yasmin sampai makanannya habis.

Salah satu hikmah berada di pesantren adalah kita akan mengetahui siapa yang memang benar – benar selalu ada untuk kita, dikala sedih atau pun senang. Rasa yang tak akan pernah dirasakan oleh orang – orang yang bersekolah di sekolah pada umumnya. Yang mana di pesantren 24 jam full bertemu teman – teman, sehingga dapat sangat memahami sifat masing – masing. Sebagaimana yang sedang Syahila lakukan saat ini terhadap Yasmin, dan sebaliknya. Sewaktu Syahila sakit pun Yasmin merawatnya sampai Syahila sehat, sampai – sampai Yasmin merelakan selimutnya untuk dipakai Syahila karena Syahila masih menggigil padahal sudah memakai jaket dan dan selimutnya. Yasmin juga sampai rela rela tidur dibawah di kamarnya Syahila untuk  menunggu Syahila yang sedang sakit. Namun, saat Syahila terbangun di tengah malam, ia melihat Yasmin yang tertidur dilantai yang hanya dialasi kasur tipis tampak meringkuk kedinginan tanpa selimut. Syahila merasa sangat menyesal, karena ia merasa semua ini adalah karenanya. Mengingat Yasmin memiliki kebiasaan unik saat tertidur, Syahila tersenyum sendiri memikirkan rencananya agar Yasmin dapat pindah ke atas kasurnya. Syahila turun dari ranjangnya dan duduk di sebelah Yasmin yang sedang tertidur.

“Min, kamu kedinginan yaa?” Tanya Syahila kepada Yasmin yang sedang tertidur.

“Iya, dingin banget disini.” Jawab Yasmin yang masih tertidur pulas.

“Kenapa kamu gak pakai selimut?” Tanya Syahila lagi.

“Selimut aku dipake sama Kak Sya, soalnya dia lagi sakit.” Jawab Yasmin meski ia dalam keadaan tertidur.

“Kenapa kamu gak ambil aja, itukan selimut kamu.”

“Kak Sya udah baik banget sama aku, walaupun orangnya bawel sihh. Setidaknya dia tulus deket sama aku.” Mendengar itu alis sebelah kiri Syahila terangkat sebelah.

“Maksudnya?”

“Dari aku SD, temen – temennya kakakku banyak yang deketin aku karena suka sama aa. Kalau Kak Sya itu beda, dia deket sama aku bukan karena kakakku.”

“Tahu dari mana kamu? Bisa saja jauh sebelum kamu kenal Kak Sya, dia udah kenal dengan kakakmu, dan deketin kamu karena kakakmu?” Syahila terus mengajak Yasmin ngobrol, padahal Yasmin  sedang tertidur. Syahila melihat Yasmin terkekeh perlahan.

“Kak Sya aja tahu aa itu dari mamah, mamah aku sering cerita sama Kak Sya perihal aa. Dan akhir – akhir ini juga aku tahu kok kalau Kak Sya kadang suka chattingan sama aa.”

“Terus kamu gak masalah?” Tanya Syahila penuh selidik.

“Ya mungkin itu jawaban dari doaku saat pertama kali aku kenal Kak Sya.”

“Emang kamu doa apa?” Tanya Syahila makin penasaran.

“Aku berdoa semoga aku bisa punya kakak ipar seperti Kak Sya.” Seketika Syahila terdiam, ia memandang Yasmin lekat – lekat.

“Alasannya?”

“Supaya aku bisa jailin Kak Sya terus.” Jawab Yasmin, lalu ia tersenyum dalam tidurnya. Sedangkan Syahila memutar kedua kelopak matanya.

“Dasar yaa, dalam keadaan sadar atau enggak, anak ini sama aja nyebelinnya.” Rutuk Syahila dalam hati.

“Oh gitu, ya udah kamu naik ke kasur aku yaa, biar gak kedinginan.” Ucap Syahila, ia membantu Yasmin pindah ke atas kasurnya karena Yasmin masih tertidur.

Setelah itu Syahila menyelimuti Yasmin yang kini sudah berada di atas kasurnya. Syahila melihat arlojinya yang kini menunjukan pukul 2 malam. Karena Syahila sudah tidak bisa tidur lagi, ia memutuskan untuk menunaikan sholat sunnah tahajud dan menghafal Al-Qur’an untuk disetorkannya pada sehabis sholat shubuh nanti. Karena Syahila sakit, sehingga kemarin ia tak sempat menghafal Al-Qur’an untuk target hari ini.

***

“Aku tak mau mengelak ataupun mengiyakan, karena aku takut pada kenyataan. Kenyataan yang tidak sesuai harapan. Maka kubiarkan mengalir dengan sendirinya, kupasrahkan kepada Sang Maha Kuasa. Akan seperti apa nanti kedepannya, kuterima dengan lapang dada. Karena Dia tahu yang terbaik bagi para hamba-Nya.”

Sehabis ashar, itulah waktu para santri untuk beristirahat. Istirahat dari kegiatan belajar di sekolah maupun di asrama. Namun di waktu yang sama, tak sedikit santri yang memanfaatkan waktunya dengan mencuci atau menyetrika pakaiannya. Banyak juga dari mereka yang memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan tugas atau menghafal ayat suci Al-Qur’an. Karena disini telah ditentukan target setiap harinya, sehingga mengharuskan para santri untuk terus menghafal dan menyetorkan kepada para ustadzahnya. Sore itu, Syahila sedang mengerjakan tugas matematika yang tadi diberikan oleh gurunya. Salah satu temannya yang bernama adzkia duduk disampingnya. Adzkia datang kepada Syahila untuk sekedar berbagi cerita kehidupannya yang sedang terkena virus merah jambu. Syahila mendengarkannya dengan baik dan sesekali memberi respon yang sewajarnya. Normal saja, mereka mulai terkena virus merah jambu yang penting masih dalam tahap wajar. Karena kita juga tidak dapat mencegah kodrat para remaja yang mulai memiliki ketertarikan antar lawan jenis. Karena sebenarnya itu adalah fitrah dari Sang Maha Kuasa, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan bijak agar sesuai pada tempatnya.

“Tapi Sya kalau di pikir – pikir ya, kalau kamu beneran nikah sama Jay aku gak bisa bayangin anak kamu gimana jadinya.” Ucap Adzkia tiba – tiba mengubah topik pembicaraan.

“Ya udah jangan di pikirin, lagian kita gak mungkin nikah. Kita itu cuma teman.” Sanggah Syahila dengan tenang.

“Ya lucu aja membayangkannya, kamu kulitnya putih, Jay juga putih. Anak kalian bakal seputih apa yaa? Seputih cat atau transfaran kaya setan.” Ucap Adzkia.

“Maaf ya sebelumnya Kia, sepertinya candaan kamu sudah mulai beerlebihan.” Ucap Syahila mengingatkan.

“Oh, berarti secara tidak langsung kamu mengatakan kelak kamu akan membina rumah tangga bersama Jay?” Tanya Adzkia, ia sengaja menggunakan bahasa baku untuk menggoda Syahila.

“Wallahu’alam.” Jawab Syahila. ia kembali fokus kepada tugas matematikanya.

Kata orang cinta itu buta, mungkin ada benarnya. Karena cinta, orang menjadi serakah. Karena cinta, banyak yang memutus tali persaudaraan. Karena cinta, orang akan kehilangan akal, harta, bahkan nyawa. Namun, apa benar itu cinta? Atau hanya nafsu belaka? Tanpa cinta, mungkin hidup kita takkan damai. Tanpa cinta, mungkin kita saling berperang. Dan tanpa cinta pula mungkin kita takkan pernah ada. Namun, apakah kau tahu Sang pemberi cinta yang paling tulus sealam jagat raya ini? Yang telah menciptakan langit dan bumi, yang telah memberikan untuk kita agar dapat menikmati indahnya dunia. Yang telah memberikan rezeki kepada kita sehingga dapat hidup sampai sekarang. Siapa? Dialah Allah SWT. Allah yang telah memberikan segenap Cinta-Nya kepada kita semua, ia adil kepada setiap hamba-Nya. Namun sayang, hamba-Nya banyak yang tidak menyadari itu.

“Tapi kalau aku feeling Sya jadi sama Jay.” Kata Sari, yang tiba – tiba memunculkan kepalanya dari ranjang atas.

“Astagfirullah, Sari. Bikin kaget aja, kalau ada di atas tuh bilang – bilang.” Rutuk Adzkia.

“Aku harap jangan sampai, nanti yang ada Yasmin bakal isengin aku terus.” Ucap Syahila datar. Ia masih terfokus dengan tugaas matematikanya yang membingungkan.

“Kita lihat saja nanti.” Ucap Adzkia.

Keesokan harinya, saat jam istirahat tiba – tiba Putri memasuki kelas dengan terburu – buru. Ia langsung menarik Syahila keluar kelas, mau tidak mau Syahila mengikutinya.

“Ada apa Put? Pelan – pelan aja.” Ucap Syahila yang kesulitan mengikuti langkah kaki Putri. Setibanya di balkon sekolah Putri menunjuk ke arah parkiran yang terlihat dari sana. Syahila melihat Yasmin berada disana duduk bersama kedua orangnya dan kakaknya, Syahila melirik Putri dengan tatapan malas.

“Terus kenapa? Apa urusannya sama aku?” Tanya Syahila.

“Samperinlah!” Kata Vina yang tiba – tiba muncul dari belakang.

“Iya, sana samperin.” Ucap Aas.

Syahila terkejut karena semakin lama teman kelasnya semakin banyak yang datang ke balkon.

Dari arah yang berlawanan Cici dan Lala berjalan dari arah kantor guru dan melewati Yasmin dan keluarganya. Melihat itu, Cici dan Lala tersenyum memikirkan apa yang akan dilakukannya.

Saat Syahila hendak kembali ke dalam kelasnya, ia mendengar suara yang memanggilnya.

“Sya...” Teriak Cici memanggil Syahila.

“Sya... Syahila.” Lala pun ikut memanggil Syahila.

Yasmin yang mendengar itu memutar kedua bola matanya malas, ia sangat mengerti situasi apa yang sedang terjadi. Karena ia menyadari bahwa Lala dan Cici sempat curi – curi pandang kearah kakaknya.

“Oh iya, Kak Sya mana ya dek?” Tanya Bu Farras.

“Ya enggak tahu.” Jawab Yasmin seadanya.

Sedangkan Syahila, mendengar namanya dipanggil hanya menupuk jidatnya dan langsung kembali ke kelasnya.

 “Eh, eh, mau kemana? Itu kamu dipanggil Cici sama Lala, samperin sana.” Kata Putri berusaha menahan Syahila agar tetap tinggal. Tapi Syahila tetap bersikukuh untuk pergi dari balkon itu dan kembali ke kelasnya.

Bel sekolah sudah lama berbunyi, namun kelas Syahila belum juga lengkap. Padahal sebentar lagi guru akan datang.  Nabila datang menghampiri Syahila, memintanya untuk menemaninya ke kamar mandi. Sampai sekarang Syahila masih tak habis pikir, sebab kebanyakan perempuan jika hendak pergi ke kamar mandi harus diantar? Padahal ia sendiri perempuan, namun Syahila tidak dapat menjawab pertanyaannya sendiri. Saat Syahila hendak mengantar Nabila ke kamar mandi, otomatis mereka akan melewati balkon sebelum akhirnya menuruni tangga. Ternyata teman – temannya masih banyak di balkon kelasnya itu, mereka sedang melihat Jay yang sedang bermain basket di lapangan santriwati. Wajar saja hal itu membuat semua santriwati yang berada disana.

“Sya, itu Jay kan?” Tanya Nabila sambil menunjuk  ke arah lapangan baasket.

“Gak tahu, udah yuk, katanya mau ke kamar mandi.” Ajak Syahila. ia mendahului Nabila menuruni tangga.

***

“Entah karena sudah lelah sehingga terbiasa ataukah memang hatiku yang sudah menerima apa yang sering mereka katakan?”

Seperti biasa, kebiasaan Syahila pada sore hari adalah merapikan buku – buku yang akan dibawanya ke sekolah esok nanti. Saat merapikan buku pelajarannya, Syahila sambil membuka – buka bukunya takut – takut ada tugas yang harus dikumpulkan besoknya. Setelah memastikan bahwa tidak ada tugas dan buku – bukunya telah tersusun rapi dalam tas,  Syahila mengambil baju dari lemarinya karena ia hendak mandi.

“Astagfirullah, Min. Kamu ngagetin aja deh.” Ucap Syahila saat mendapati Yasmin sudah berada tepat dibelakangnya sambil tersenyum.

“Kak Sya mau kemana?” Tanya Yasmin.

“Jajan.” Jawab Syahila asal

“Wah... aku juga mau donk kalau begitu, titip yaa.” Kata Yasmin kegirangan.

“Ya kamu lihatlah Min aku mau kemana? Aku mau mandi.” Ucap Syahila kesal.

“Loh, tadi katanya mau jajan, tapi sekarang bilangnya mau mandi? Kakak jangan plin plan donk.” Canda Yasmin.

“Serah!” Ucap Syahila kesal. Ia hendak keluar dari kamarnya namun Yasmin menghalangi jalannya.

“Kak Sya, aku mau minta uang.” Kata Yasmin kemudian.

“Tadi pagikan udah dikasih 10 ribu, emangnya udah habis?” Tanya Syahila.

“Iya, tapi kali ini uangnya bukan buat jajan.”

“Terus buat apa?” Tanya Syahila penasaran, ia akhirnya duduk kembali tidak jadi pergi ke kamar mandi.

“Tapi kakak jangan marah yaa.” Kata Yasmin mengingatkan, Syahila mengangguk.

“Temen aku kan ada yang bawa musik box, terus aku minjem. Eh, kesita sama Ustadzah. Aku disuruh ganti deh 100 ribu.” Kata Yasmin hati – hati, ia takut Syahila akan memarahinya.

“Ya udah tinggal ganti aja.” Ucap Syahila, ia bangkit dan berjalan kearah lemarinya. Setelah itu, memberikan uang seratus ribuan satu lembar kepada Yasmin.

“Berarti uang kamu sisanya 150 ribu lagi yaa.” Kata Syahila memberitahu. Yasmin mengangguk, namun ia belum pergi juga dari kamar Syahila.

“Ada lagi? Aku mau mandi Min, udah sore.” Tanyanya.

“Hhmm.... aku juga disuruh pergi ke kantor pengasuhan sama orang tua kak.” Ucap Yasmin sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Syahila.

“Tinggal telepon mamah kamu suruh dateng kesini, selesai.” Kata Syahila cepat, sedangkan Yasmin menatapnya tak percaya.

“Kok kakak gitu sih ngomongnya? Bantuin aku kek, kakak kan tahu sendiri aku itu gak mau orang tuaku tahu kalau aku di pesantren itu nakal.” Kata Yasmin sedikit kecewa karena respon Syahila yang demikian.

“Terus kamu maunya apa? berani berbuat berani bertanggung jawab donk.” Ucap Syahila.

“Kak Sya aja yaa yang ke kantor pengasuhan, please...” Pinta Yasmin.

“Gak mau ahh, kemarin saja waktu kamu ketahuan kabur dari pondok aku yang jadi wali kamu. Jadinya orang – orang pada su’udzan Min sama aku.” Tolak Syahila.

“Ya udah sihh, jangan pikirin omongan orang lain.”

“Kamu gak ngerasain apa yang aku rasain Min.” Kata Syahila dengan nada sedikit meninggi.

Yasmin langsung terdiam, ia baru menyadari bahwa selama ini sadar atau tidak sadar ia selalu bergantung kepada Syahila. Mulai dari menjadikannya tameng dari teror Nisa melalui surat sampai tameng agar tidak ada gosip tentang Jay dan Shofi, melainkan Jay dan Syahila. Ia menyadari bahwa selama ini Syahila selalu ada untuknya, dikala senang maupun sedih. Namun, ia sendiri tidak selalu menemani saat Syahila sedang terpuruk karena terlalu asyik dengan dunia sendiri. Yasmin terdiam cukup lama, ia merenungkan keegoisannya terhadap Syahila. Ia selalu membebani Syahila dengan segala macam perbuatan yang tidak bisa ia pertanggungjawabkan. Melihat Yasmin yang hanya terdiam, Syahila pergi ke kamar mandi meninggalkan Yasmin di kamarnya.

Seusai mandi, Syahila pergi ke kamar Sasha sekedar untuk bercengkrama melepas lelah karena padatnya kegiatan. Saat tiba disana ternyata sudah ada teman – temannya. Mereka pun membahas hal – hal yang tadi terjadi di kelas masing – masing karena kebetulan diantara mereka ada yang tidak satu kelas. Walaupun begitu, pertemanan mereka kukuh tak tergoyahkan. Semuanya tertawa bahagia hanya dengan hal kecil yang diceritakan oleh salah satu dari mereka. Namun, suasana menjadi sunyi saat pertanyaan yang diajukan Sasha kepada Syahila.

“Oh, iya. Sya, tadi aku ke kamar kamu tapi kamu katanya lagi mandi. Di kamar kamu tadi cuma ada Yasmin, tapi kok mukanya murung gitu yaa?” Tanya Sasha.

“Gak ada apa – apa kok, sudahlah jangan bahas itu.” Jawab Syahila berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Sya, kamu apain anak orang sampe mau nangis gitu?” Tanya Nabila.

“Enggak diapa – apain juga kok, lagi kangen orang tuanya aja kali.” Jawab Syahila asal.

“Kamu jangan galak – galak donk Sya, sama calon adek ipar sendiri juga.” Ucap Sari.

“Kalau ngomong dijaga yaa, nanti kalau malaikat lewat gimana?” Kata Syahila mulai kesal.

“Ya tinggal di aminin aja repot amat.” Ucap Nabila asal.

“Tapi kok anehnya, aku yakin kalau Sya itu bakal jadi deh sama Jay sampe nikah” Kata Sari dengan nada serius.

“Aamiin.....” Ucap Sasha, Nasywa, dan Nabila.

“Serah! Terserah kalian mau ngomong apa juga aku gak perduli.” Ucap Syahila yang sudah malas dengan candaan teman – temannya.

***

“Aku tak dapat memungkiri bahwa aku sangat peduli kepadanya, namun aku juga ingin membuatnya lebih dewasa. Maka aku menunjukan jalan yang berbeda dari sebelumnya.”

Syahila masih kepikiran masalah Yasmin yang lagi – lagi di panggil ke kantor pengasuhan. Tapi ia juga sudah merasa lelah karena berkali – kali menghadap kepada kepala pengasuhan atas nama keluarga Yasmin. Sejujurnya, Syahila merasa malu karena dia bukan siapa – siapanya Yasmin, ia hanya sebatas kakak kelas yang dekat dengannya namun sudah berlagak seperti keluarganya. Padahal, ia masih mmpunyai kakak yang mungkin bisa di minta bantuan. Syahila yakin, jika Yasmin meminta bantuan Jay secara baik – baik pasti ia akan membantunya, terlebih ia adalah adik kandungnya. Walaupun Syahila tahu Yasmin dan Jay itu sama – sama bergengsi tinggi, namun sebenarnya mereka saling menyayangi walau rasa sayang itu tersembunyi. Yang dibutuhkan mereka hanyalah waktu untuk saling menyadadiri. Setelah menimbang – nimbang, Syahila memutuskan untuk memberitahukan Jay perihal Yasmin tersebut. Maka saat orangtuanya datang menjenguk Syahila menghubungi Jay melalui chat di whattshap.

“Kok bisa sihh de? Lagian itu anak ngapain mainan musik box, sudah tahu dilarang, masih saja melanggar. Ya udah, nanti kalau saya ada waktu saya kesana. Nanti saya kabarin kamu saja ya de kalau saya kesana.” Balas Jay saat itu juga, Syahila terkejut membaca balasan dari Jay. Ia langsung mengetik balasan kepada Jay dengan cepat.

“Sebelumnya afwan kak, sepertinya kakak tidak dapat menghubungi saya nanti. Karena handphone saya mau dibawa pulang oleh orang tua saya. Ini kebetulan saja orang tua saya datang menjenguk.” Syahila menekan tanda send pada layar di handphone-nya. Tak lama kemudian handphone Syahila berkedip menandakan pesan baru telah masuk.

“Kalau begitu saya minta tolong adek saja ya yang pergi ke kantor pengasuhan mewakili saya. Sebelum itu nanti saya menghubungi terlebih dahulu ke ustadzahnya, bahwa orang tua dan saya tidak dapat datang kesana karena ada beberapa hal yang tidak dapat ditinggalkan, jadi di wakili sama kamu. Begitu saja ya dek, saya minta tolong dan maaf Yasmin sudah sering merepotkan kamu.” Syahila menghembuskan nafasnya kasar setelah mendengar balasan dari Jay.

“Ini sihh aku lagi yang maju.” Keluh Syahila dalam hati.

Tiba – tiba bayangan dirinya yang selalu maju untuk menyelesaikan masalah – masalah Yasmin dari hal terkecil maupun masalah yang sangat serius berputar bagai dokumenter yang diputar ulang. Mulai dari gelang Jay yang Yasmin bawa ke pesantren disita bagian keamanan, Yasmin ketahuan kabur dari pesantren, ketahuan membawa handphone di asrama dan kali ini membuat musik box temannya disita. Itu semua Syahila yang membantu mengatasi semuanya, selain itu sebenarnya masih banyak ulah Yasmin yang ujung – ujungnya Syahila yang akan maju membereskannya. Karena Yasmin tidak ingin orang rumah tahu bahwa dia sering bermasalah di pesantren. Menurut sebagian orang mungkin itu adalah hal – hal yang sepele, namun berbeda di pesantren. Membawa alat elektronik adalah termasuk pelanggaran berat. Sebenarnya untuk kali ini Syahila bersedia saja jika ia lagi yang menghadap kepala pengasuhan, namun ia berpikiran bahwa mau tidak mau orang tuanya harus tahu bagaimana Yasmin di pesantren. Selain itu, Syahila juga sudah bosan mendengar perkataan orang yang sering mengatakan bahwa dirinya adalah wali Yasmin di pesantren. Awalnya Syahila memang tidak mengugubris hal – hal yang seperti itu, namun lama – lama ia juga merasa jenuh.

“Oh iya kak, In Syaa Allah nanti saya yang menghadap ustadzah.” Balas Syahila kepada Jay pada akhirnya.

“Terima kasih.” Pesan baru masuk dan kini Syahila hanya membacanya saja.

Pada akhirnya Syahila juga yang menghadap kepala pengasuhan sebagai wali Yasmin. Saat Syahila ditanya oleh ustadzahnya mengapa setiap Yasmin membuat masalah selalu dia yang maju Syahila hanya dapat tersenyum. Kemudian Syahila menjelaskan bahwa orang tua Yasmin telah mempercayakan Yasmin kepadanya, sehingga jika ada terjadi sesuatu dengan Yasmin ia yang membantunya jika memang orang tua Yasmin tidak dapat hadir ke pesantren. Ustadzah tersebut hanya mengangguk – anggukkan kepalanya, namun Syahila ragu bahwa ustadzahnya percaya akan penjelasannya. Tapi setelah itu ustadzahnya menjelaskan pelanggaran – pelanggaran Yasmin yang telah dilanggarnya, termasuk pelanggaran yang baru – baru ini Yasmin lakukan. Ustadzahnya juga menjelaskan hukuman apa yang harus di tanggung oleh Yasmin akibat perbuatannya itu. Syahila mendengarkannya dengan seksama, sesekali ia mengangguk – anggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah urusan dengan ustadzah selesai, Syahila kembali ke kamarnya. Tak lama setelah itu terdengar suara ketukan pintu dari luar.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam, masuk saja.” Jawab Syahila.

“Afwan kak Sya, Yasmin sudah 2 minggu belum bayar kas kelas. Kata Yasmin langsung minta saja sama kakak, soalnya uang dia dititipin sama kakak.” Kata temannya Yasmin memberi penjelasan kepada Syahila.

“Iya, berapa?” Tanya Syahila.

“Totalnya 20 ribu kak.” Jawabnya.

Temannya Yasmin itu kemudian pergi setelah Syahila memberinya uang 20 ribu kepadanya. Syahila menghela nafas, karena ternyata telah dibohongi oleh Yasmin, padahal setiap minggu Yasmin meminta uang lebih yang katanya untuk membayar kas kelas, namun nyatanya ia tidak membayarkannya. Dan pada saat Syahila menanyakan perihal itu kepada Yasmin, dia hanya tersenyum memasang muka memelas agar tidak dimarahi. Padahal sebenarnya, jika Yasmin bilang kepada Syahila bahwa sebenarnya uang itu dipakainya untuk jajan juga tidak masalah, karena itu adalah haknya. Yang Syahila inginkan hanyalah Yasmin dapat jujur kepadanya, agar jika dirinya ditanya perihal Yasmin oleh orangtuanya Syahila dapat menjawabnya dengan baik.

“Kalau aku bilang jujur sama Kak Sya, nanti kakak gak ngasih aku uang lebih. Terus aku gak mau mamah tahu kalau aku boros di pondok.” Kata Yasmin membela dirinya saat di tegur Syahila.

“Sekarang aku tanya sama kamu, pernah kamu denger mamah kamu membahas kenakalan – kenakalan kamu di pondok? Enggak kan? Aku juga kalau orang tuamu atau kakakmu tanya Yasmin di pesantren gimana aku selalu jawab yang baik – baik kok. Aku cuma minta satu Min, jujur sudah itu saja.” Kata Syahila. Dan kata – kata itu membuat Yasmin terdiam seribu bahasa.

Keesokan harinya, sepulang sekolah temannya Yasmin datang lagi ke kamar Syahila. Ia memberitahu bahwa Yasmin menginjak paku dan pakunya itu sudah mulai berkarat. Mendengar itu Syahila langsung mengambil antiseptik, kapas, obat merah, serta kasa. Ia bersyukur karena ibunya selalu  Sedangkan temannya Yasmin Syahila memintanya untuk mengambilkan air hangat. Syahila segera berlari ke kamarnya Yasmin yang tak jauh dari kamarnya. Setibanya disana, Syahila melihat Yasmin yang hendak menempelkan plester pada telapak kakinya yang terkena paku.

“Iya, tempelin langsung aja Min plesternya.” Kata Syahila menyindir.

Yasmin yang menyadari bahwa ada Syahila di kamarnya cepat – cepat menyembunyikan plester yang hendak ia gunakan dan langsung menutupi kakinya dengan selimut. Ia melihat Syahila yang berdiri di dekat pintu kamarnya dengan tangan yang terlipat di depan dada. Yasmin melihat tangan kiri Syahila yang penuh seperti kotak obat karena memang tangan kanan Syahila lumpuh, tidak dapat digerakan. Yasmin mengerutkan keningnya, merasa heran dengan kedatangan Syahila yang tiba – tiba ke kamarnya dengan membawa isi kotak obat di tangan kirinya.

“Loh, Siapa yang sakit kak?” Tanya Yasmin pura – pura tidak tahu.

“gak usah pura – pura gak tahu dehh.” Jawab Syahila malas.

Dan temannya Yasmin yang di minta Syahila untuk mengambil air hangat sudah datang. Ia memberi air hangat itu kepada Syahila, Yasmin yang baru menyadari apa yang sedang terjadi langsung memberi tatapan mengintimidasi kepada temannya itu. Sedangkan temannya hanya tersenyum dan keluar meninggalkan Syahila dan Yasmin. Syahila membuka selimut yang menutupi kaki Yasmin, namun Yasmin menahannya.

“Selimutnya jangan di tarik kak, aku dingin.” Pinta Yasmin.

“Aku sudah tahu kamu terkena paku, gak usah pura – pura lagi. Mau di obatin gak?” Tanya Syahila, kemudian Yasmin membiarkannya untuk membuka selimut yang menutupi kaki Yasmin.

“Astagfirullah, Min! Kaki kamu udah bengkak begini Min, lukanya udah dibersihin belum?” Tanya Syahila lagi.

“Udah.” Jawab Yasmin singkat.

“Udah kok bentukannya masih kaya gini?” Tanya Syahila sambil memperhatikan luka di kaki Yasmin.

“Udah kok tadi waktu cuci kaki.” Jawab Yasmin.

“Berarti belum di sterilin.” Ucap Syahila.

“Udah dicuci kak pake air.” Kata Yasmin bersikeras.

“Iya, iya, serah!” Ucap Yasmin malas.

Syahila langsung membersihkan luka Yasmin menggunakan air hangat, ia mengusapnya sangat pelan karena khawatir Yasmin akan kesakitan dan menolak untuk diobati. Setelah membersihkannya dengan air hangat, Syahila memberinya antiseptik menggunakan kapas pada luka Yasmin. Dan ia juga memberinya obat merah, serta meraih kasa yang dibawanya yang ia berikan obat merah lalu menempelkan kasa itu pada luka Yasmin. Terakhir, ia menempelkan plester dengan meminta bantuan Yasmin karena ia tidak dapat memasangkannya karena tangan kanannya tidak berfungsi. Maka Syahila meminta Yasmin untuk memegangi kasa yang menutupi lukanya agar tetap pada tempatnya, kemudian barulah ia memasangkan plester di telapak kaki Yasmin. Walaupun Syahila memiliki keterbatasan fisik, namun ia terlihat sangat telaten saat mengobati Yasmin. Saat melihat plester yang sudah terpasang sempurna, Syahila tersenyum puas.

“Aku memang gak terlalu mengerti masalah seperti ini, tapi setidaknya hal ini dapat mencegah infeksi sampai kamu diperiksa ke dokter.” Kata Syahila sambil membereskan barang – barang yang tadi dipakainya untuk mengobati Yasmin.

“Makasih.” Ucap Yasmin tulus.Syahila hanya tersenyum kemudian mengangguk.

“Makannya, lain kali hati – hati yaa.” Ucap Syahila sambil tersenyum lalu pergi dari kamar Yasmin.

Malam harinya, saat Syahila sedang mengerjakan tugas yang akan dikumpulkannya besok. Tiba – tiba ia mendengar suara bagian informasi mengumumkan bahwa Syahila di tunggu orang tuanya sekarang  di lobi. Syahila terkejut mendengar namanya dipanggil, karena orang tuanya minggu depan barubisa datang kesini menjenguknya. Makanya, Syahila membiarkan saja pengumuman tersebut karena ia mengira bagian informasinya itu salah menyebutkan nama. Namun, lagi – lagi namanya di panggil sampai pada akhirnya Nabila datang ke kamarnya.

“Sya, kamu denger gak sih pengumuman kamu dijenguk tuh.” Kata Nabila memberi tahu.

“Emang beneran dijenguk yaa?” Tanya Syahila polos.

“Lah itu apa? nama kamu berkali – kali di panggil juga.” Tanya Nabila balik.

“Ya aku kira itu salah nyebutin nama atau iseng aja, kaliankan suka gitu.” Jawab Syahila. Tiba – tiba Sasha, Nasywa, dan Sari datang dengan terburu – buru.masih sangat terlihat jelas nafas mereka yang terengah – engah.

“Kalian kenapa?” Tanya Syahila.

“Pake nanya kenapa lagi, itu kamu ditungguin nohh sama mamah mertua kamu.” jawab Sari asal.

“Mamah mertua? Siapa?” Tanya Syahila Yasmin.

“Itu Sya, kamu dari tadi ditungguin sama ibunya Yasmin di lobi.” Nasywa memberitahu.

“Hah? Beneran? Mau ngapain malem – malem begini?” lagi – lagi Syahila bertanya.

“Mending kamu cepetan ke lobi, kasihan Sya ibunya Yasmin.” Ucap Sasha.

“Iya, dari tadi nanya terus.” Kata Nabila. Syahila langsung berlari ke arah lobi untuk menemui Bu Farras.

“Assalamu’alaikum mah, afwan ya mah tadi Sya kira itu bagian informasinya salah nyebutin nama.” Kata Syahila sambil menyalami Bu Farras, ia tahu saat itu banyak yang memperhatikan dirinya dan Bu Farras namun ia biarkan.

“Wa’alaikumussalam, iya gak apa – apa kak. Mamah loh yang harusnya minta maaf ganggu malem – malem.” Ucap Bu Farras.

“Ya Allah, enggak ganggu kok mah. Oh iya, ada apa ya mah? Mau ke ade? Emang ade gak ada di kamarnya? Tanya Syahila kepada Bu Farras.

“Enggak kok, ade ada di kamarnya. Mamah mau minta tolong sama Kak Sya boleh?” Tanya Bu Farras balik.

“Selama Sya bisa bantu, In Syaa Allah Sya akan bantu.” Jawab Syahila cepat.

“Kak Sya bisa anterin mamah ke bagian kedisiplinan? Mamah mau izin bawa ade pulang.” Kata Bu Farras.

“Oh iya mah, bisa kok.” Jawab Syahila dan langsung menunjukan jalannya. Saat berada tepat disamping mushola, Bu Farras tiba – tiba berhenti. Syahila bingung mengapa Bu Farras tiba – tiba berhenti, namun ternyata ia sedang berbicara dengan seseorang yang sedang duduk disamping mushola itu.

“Aa tunggu bentar yaa disini, ini mamah baru ketemu sama Sya. Sekarang mamah sama Sya mau ke bagian kedisiplinannya dulu.” Ucap Bu Farras memberitahu Jay. Jay hanya mengangguk, sedangkan Syahila hanya menunduk menatap tanah tidak berani bertatapan dengan Jay entah mengapa. Setelah itu barulah Syahila dan Bu Farras menghadap bagian kedisiplinan.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam, silahkan masuk bu.” Ucap Ustadzah Ella mempersilahkan Bu Farras dan Syahila masuk.

“Ini ibunya Syahila yaa? Pantesan Syahila cantik, ibunya juga cantik.” Kata Ustadzah Ella tersenyum. Syahila dan Bu Farras saling berpandangan.

“Afwan Ustadzah, ini bukan ibu ana. Ini ibunya Yasmin Tazahara.” Kata Syahila memberitahu.

“Oh, maaf Bu, saya kira ibunya Syahila. Mirip soalnya.” Kata Ustadzah Ella.

“Tidak apa – apa Ustadzah, memang banyak yang bilang Syahila itu lebih mirip sama saya dari pada Yasmin.” Kata Bu Farras tersenyum. Kemudian Bu Farras memyampaikan maksud dan tujuan ia datang kesana. Syahila hanya terdiam menyimak mendengarkan pembicaraan Bu Farras dengan Ustadzah Ella. Setelah semua urusan selesai, Yasmin akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Saat Yasmin sedang bersiap untuk pulang dengan orang tuanya, Bu Farras tiba – tiba memeluk Syahila dengan sangat erat.

“Makasih ya Kak Sya, kakak sudah jagain Yasmin.” Ucap Bu Farras. Sedangkan Syahila hanya bisa tersenyum sopan. Lalu Syahila mengantar Yasmin dan Bu Farras sampai ke samping musholla. Di samping mushola, Jay masih setia menunggu ibu dan adiknya. Ia melihat Syahila dan tersenyum, kemudian Syahila membalas senyumnya demi kesopanan.

“Mamah pulang dulu ya Kak, jaga kesehatan. Yasminnya pulang dulu.” Ucap Bu Farras.

“Iya, hati – hati ya Mah.” Kata Syahila.

“Kamu cepet sembuh Min, jangan keenakan di rumah. Nanti ketinggalan pelajaran, bentar lagi ujian.” Kata Syahila kepada Yasmin.

“Iya, bawel.” Kata Yasmin menanggapi. Bu Farras tersenyum melihat kelakuan Yasmin dan Syahila. Ia bersyukur karena orang itu adalah Syahila, orang yang selalu membantu Yasmin. Setidaknya Bu Farras dapat sedikit tenang membiarkan Yasmin di pesantren karena ada Syahila.

***

“Mungkinkah dia tahu apa yang telah terjadi antara aku dan dirinya? Jika seperti itu mengapa ia seakan bertingkah  tidak tahu apa – apa. Namun aku bersyukur, teruslah seperti itu agar aku tidak merasa canggung saat kita bertemu.”

Syahila sangat senang karena mulai malam ini ia akan tidur di kamarnya kembali, kamar yang sudah lama ia rindukan. Karena mulai tadi pagi, liburan panjangnya sudah dimulai. Malam itu Syahila sedang berada di kamarnya hendak tidur karena jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Tiba – tiba ponselnya berkedip bertanda ada pesan baru masuk, ia langsung meraih ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Tiba – tiba saja Syahila mengangkat alis sebelah kirinya saat membaca pesan yang dikirimkan Bu Farras kepadanya.

“Kak Sya, malam ini mamah dan keluarga mau ke Bandung, mau nganter aa buat tes polisi. Doain ya kak, semoga aa lulus tesnya.”

Syahila langsung membalas pesan dari Bu Farras seadanya.

“Iya, semoga dipermudah dan diberikan kelancaran dalam segala urusannya. Aamiin.”

Setelah mengirim balasan kepada Bu Farras, Syahila mematikan lampu kamarnya dan beranjak tidur. Namun, matanya belum terpejam, padahal ia telah membaca doa sebelum tidur. Entah mengapa ia tiba – tiba teringat kejadian tadi pagi saat hendak mengambil surat perpulangan. Ia bertemu dengan Bu Farras yang hendak menjemput Yasmin.

“Kak Sya sekarang gendutan yaa.” Kata Bu Farras saat Syahila menyalami dirinya.

“Dari dulu juga Kak Sya gendut mah, kok mamah baru sadar sekarang.” Kata Yasmin menanggapi ucapan ibunya. Sedangkan Syahila hanya tersenyum, lalu melirik Yasmin yang sedang menertawakan dirinya.

“Tahu gak kak, kakak aku gak suka cewek gendut lohh.” Bisik Yasmin di telinga Syahila.

Mata Syahila membulat sempurna, karena setelah Yasmin berbisik kepadanya Bu Farras menoleh dan menatap ke arahnya sambil tersenyum. Yang Syahila takutkan adalah Bu Farras mendengar bisikan Yasmin tadi dan salah faham kepadanya.

“Lagian siapa juga yang mau sama kakakmu Min.” Rutuk Syahila dalam hati.

“Tenang saja, mau Kak Sya gendutan atau kurusan aa pasti suka.” Kata Bu Farras tiba – tiba yang berhasil membuat Syahila dan Yasmin terkejut.

“Alamat salah paham lagi ini sihh namanya.” Bathin Syahila.

Syahila dan Yasmin saling berpandangan satu sama lain, bertanya maksud dari ucapan Bu Farras itu apa. Syahila menundukan kepalanya, bingung hendak bereaksi seperti apa. sedangkan Bu Farras hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya untuk ke kantor pengasuhan mengambil surat jalan Yasmin dan Syahila karena orang tua Syahila lagi – lagi tidak bisa menjemputnya. Dan lagi – lagi Syahila diantarkan pulang oleh orang tuanya Yasmin. Selain kejadian itu, pernah suatu hari saat Yasmin di jenguk oleh Bu Farras, teman Yasmin yang bernama Ririn pernah bertanya kepada Bu Farras perihal Jay, kakaknya Yasmin.

“Tante, dulu itu aku mengira Kak Sya adalah kakak kandungnya Yasmin. Ternyata bukan yaa? Soalnya banyak yang bilang Yasmin mirip sama Kak Sya, tapi kalau melihat tante sekarang, menurutku Kak Sya lebih mirip sama tante yaa daripada Yasmin?” Tanya Ririn dengan polosnya kepada Bu Farras. Dan itu membuat Syahila dan Bu Farras tertawa, sedangkan Yasmin hanya diam dan memajukan bibirnya.

“Kalau Yasmin memang lebih mirip sama mbahnya, eh, jangan salah lohh, Kak Sya itu kakaknya Yasmin lohh. Buktinya, tante kalau ngasih uang buat Yasmin ke Kak Sya. Kak Sya juga anak tante yang lahir beda rahim.” Jawab Bu Farras lalu tertawa.

“Terus aku juga baru tahu kalau Yasmin itu punya kakak laki – laki ya tante?” Tanya Ririn dengan wajah tersipu.

“Iya, kenapa? Ganteng ya? Tanya Bu Farras balik, mencoba menggoda Ririn namun Bu Farras melirik ke arah Syahila yang sedang minum.

“Uhuk...uhuk...” Tiba – tiba Syahila tersedak, Bu Farras langsung menepuk – nepuk punggungnya pelan.

“Minumnya pelan – pelan donk Kak Sya, jangan grogi gitu. Tenang saja, aa aman kok.” Kata Bu Farras tersenyum penuh arti. Syahila langsung menoleh dan menatap Bu Farras dengan tatapan bertanya.

“Maksudnya?” Tanya Syahila dalam hati.

Syahila bergidik ngeri bila memang Bu Farras benar – benar menyangka bahwa dirinya ada sesuatu dengan Jay. Ia langsung menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya bahkan sampai menutupi wajahnya. Walaupun benar Syahila hanya sebatas teman dengan Jay, namun jika Bu Farras terus – terusan menggodanya seperti itu yang ada ia merasa canggung sendiri jika bertemu.

***

            Singkat cerita, hari ini merupakan hari kelulusan Syahila dan Yasmin. Namun sayang, Yasmin tidak dapat mengikuti hari kelulusannya karena pada hari yang sama Yasmin dan orangtuanya mengantar Jay ke Bandung untuk mengikuti tes kepolisian tahap berikutnya. Sejujurnya, Syahila merasa sedih karena dihari yang istimewanya Yasmin tidak turut hadir padahal mereka akan segera berpisah. Namun, Syahila mencoba mengerti kondisi yang mana sebenarnya Yasmin sendiripun ingin mengikuti hari wisudanya tersebut. Syahila yang memakai gaun berwarna dastypink yang sekumpulan mutiara yang melingkari bagian pergelangan tangannya dipadukan dengan warna kerudung yang serupa tampak anggun dan elegan. Syahila berjalan memasuki gedung dengan mengikuti arah karpet merah yang tergelar sampai ke dalam gedung utama. Syahila kemudian duduk di tempat yang sudah disediakan oleh panitia penyelenggara yang tertulis namanya. Rangkaian acara demi acara Syahila ikuti dengan khidmat, sampailah namanya disebut untuk naik ke panggung untuk menerima tanda kelulusan. Ketika ia hendak menuruni panggung, Syahila hatinya sempat digelayuti rasa takut jatuh dari panggung karena gaunnya yang lumayan sampai menutupi kakinya. Namun, Syahila meyakinkan hatinya dan mulai turun secara perlahan, sampai pada akhirnya ia berhasil. Lalu ia bersalaman dengan para ustadzahnya.

            “Ya Allah Sya, selamat yaa. Kamu telah berjuang selama 6 tahun ini, ummi bangga sama kamu Sya. Tetap semangat yaa, kejar cita – citamu. Jangan pernah ragu ataupun malu, kamu bisa lebih berprestasi daripada disini.” Ucap Ustadzahnya sambil bercucuran air mata. mengingat Syahila yang memang berbeda dari yang lainnya. Walaupun ia memiliki keterbatasan fisik yang mana banyak orang yang meragukan Syahila akan dapat bertahan di pesantren, ternyata sekarang ia resmi menjadi alumnus salah satu pesantren yang ada di kota tersebut. Ustadzahnya  memeluk Syahila sangat erat seakan ia tidak ingin melepaskannya, walaupun Syahila sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Namun apa daya, akhirnya air matanya turun juga. Ia meminta maaf pada seluruh ustadzahnya jika selama ia disini selalu menyusahkan dan membuat kenakalan – kenakalan kecil. Setelah itu barulah ia menikmati kelulusan bersama teman – teman seperjuangannya.

            Seusai acara, Syahila langsung pulang ke rumah dijemput oleh sang ibunda. Ia tersenyum puas dan bersyukur karena telah menyelesaikan pendidikannya selama 6 tahun di pesantren. Ia pun mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk ke perguruan tinggi. Setelah melakukan sholat istikharah setiap malam, Syahila akhirnya memantapkan hatinya untuk mengikuti ujian masuk di sebuah universitas pesantren yang ada di Indonesia. Alasan Syahila ingin masuk kesana adalah untuk belajar filsafat disana karena Syahila berpandangan bahwa jika dirinya masih dalam lingkungan pesantren, sudah pasti aqidahnya akan terus terjaga karena memang di pesantren itu sangat di jaga segala aspeknya. Mulai dari rohani sudah pasti, olah pikir, akhlaq dan lainnya. Selain itu juga, Syahila memang masih belum puas dengan ilmu agama yang telah di dapatkannya di pesantren. Masih banyak pertanyaan – pertanyaan yang belum terjawabkan. Maka dari itu, Syahila memilih untuk mengambil program studi filsafat untuk menjawab setiap pertanyaan yang belum terjawab.

            Untuk masuk ke universitas pesantren tersebut, Syahila harus melakukan ujian tulis dan ujian lisan. Dimana dalam ujian lisan anak akan dites mengaji serta sholat, dalam ujian lisan juga Syahila dites kemampuan bahasa arab dan bahasa inggrisnya. Karena memang disana bahasa resminya adalah bahasa arab dan bahasa inggris. Saat ujian lisan, ada kejadian lucu yang Syahila alami. Saat namanya dipanggil, Syahila gugup bukan main saat memasuki ruangan tes lisan. Di dalam sana, telah duduk dengan tegapnya menunggu calon mahasiswi berikutnya. Tiba – tiba saja Syahila merinding disebabkan aura ketegasan dan wibawa yang terpancar dari wajah beliau. Ustadz tersebut mengajukan beberapa pertanyaan kepada Syahila yang langsung dijawab olehnya tanpa kesulitan. Sampai pada akhirnya, Syahila diminta untuk mempraktekan sholat maghrib.

            “Usholli sunnata....” Syahila mulai membaca niat sholat, namun ustadz tersebut memberhentikannya secara tiba – tiba.

            “Sholat maghrib kok sunnata?” Tanya Ustadz tersebut. Syahila langsung menyadari kesalahannya.

            “Afwan ustadz, ana gugup jadi kurang konsentrasi.” Ucap Syahila, iapun langsung mengulanginya sampai selesai. Setelah selesai ujian lisan, Syahila keluar dari ruangan dengan kepala tertunduk. Ia tertunduk bukan berarti ia tidak percaya diri akan akhirnya, namun ia sangat malu karena kejadian tadi.

            “Aduhh..... tadi malu banget tadi, aku gugup banget sihh tadi. Semoga itu tidak mempengaruhi nilai aku.” Batin Syahila.

***

“Pelangi selalu datang setelah hujan, namun tidak semua orang dapat melihatnya.”

            Hari ini merupakan hari yang sangat istimewa  bagi Syahila, yang mana akhirnya ia berhasil mendapatkan gelar S1-nya. Syahila berhasil membuktikan kepada semua orang bahwa orang yang mempunyai keterbatasan pun bisa mendapatkan gelar sarjana. Orangtua Syahila yang saat itu menyaksikan wisudanya merasa bangga campur haru. Mereka tak menyangka Syahila yang sempat koma dan nyaris di suntik mati itu kini berdiri di depan mereka dengan wajah yang tersenyum berseri – seri. Saat Syahila melihat orangtuanya ia langsung menghampirinya.

            “Ayah, mamah.” Ucap Syahila, ia menyalami kedua orangtuanya. Setelah itu, Fahmi menyalaminya dan Syahila tersenyum melihatnya. Untungnya, Fahmi mondok di pesantren yang sama dengan Syahila. Sehingga saat Syahila wisuda ia dapat turut hadir dihari yang sangat berharga bagi Syahila. Namun, pandangan Syahila kearah lain, seakan mencari seseorang. Padahal orang tua dan adiknya telah berada dihadapannya, ibunya yang menyadari hal itu tersenyum penuh arti.

            “Cari siapa sihh Sya? Tenang, gak bakal hilang kok.” Ucap Bu Nur sambil tersenyum.

            “Putri mana Mah?” Tanya Syahila.

            “Cari Putri atau cari kakak?”  Kata Fahmi menggoda Syahila. Syahila langsung melirik Fahmi dengan tatapan tajam.

            “Heran aku tuh, masih galak aja.” Ucap Fahmi.

Senyum Syahila mengembang saat melihat orang yang bejalan kearahnya. Sosok laki – laki tinggi memakai kemeja berwarna biru dongker dan celana hitam panjang dilengkapi dengan jas hitam menambah kesan gagah namun rapi itu berjalan dengan tegapnya bersama Putri adik bungsu Syahila. Laki – laki itu membawa bucket bunga berupa mawar merah, bunga kesukaan Syahila. Senyum Syahila pun semakin mengembang saat laki – laki itu sudah berada di hadapannya.

“Selamat ya, akhirnya kamu lulus juga.” Ucap lelaki itu lalu mencium kepala Syahila yang ditutupi kerudung. Syahila segera mencium tangan lelaki itu sebagai rasa hormat dan baktinya kepada suami tercinta. Lelaki itu memberikan mawar yang dibawanya kepada Syahila, senyum Syahila semakin mengembang diwajahnya.

“Kita foto yuk.” Pinta Putri yang sudah tidak tahan ingin berfoto keluarga. Setelah selesai foto keluarga, Syahila meminta Fahmi untuk memfotonya bersama sang suami tercinta. Saat Syahila melihat foto itu, Syahila meneteskan air mata menangis bahagia. Ia bersyukur atas apa yang telah Allah SWT berikan kepadanya. Ia juga tak menyangka, ketika dirinya wisuda telah ada yang mendampinginya. Syahila menatap suaminya lekat – lekat, memastikan bahwa ini benar – benar nyata, bukan mimpi.

“Ya Allah... aku bersyukur karena Engkau telah melimpahkan rasa bahagia ini kepadaku. Aku bersyukur atas segala Ridho-Mu mengiringi jalan hidupku, dan aku sangat bersyukur karena Engkau hadirkan dia dalam hidupku. Satria, suamiku.” Ucap Syahila dalam hati.

“Assalamu’alaikum makmumku.” Bisik Satria tepat ditelinga Syahila.

“Wa’alaikumussalam imamku.” Jawab Syahila tersadar dari lamunannya.

“Lagi mikirin apa sih sayang sampe gak sadar aku datang?” Tanya Satria.

“Bukan apa – apa, mau makan? Nanti aku siapkan.” Tanya Syahila.

“Nanti saja selepas isya yaa.” Jawab Satria.

“Di kantor ada kabar apa?” Tanya Syahila lagi.

“Seperti biasanya, tidak ada yang spesial. Karena bagiku yang spesial adalah kalian.” Jawab Satria sambil menggoda Syahila.

“Udah tua masih gombal saja, gak malu sama umur?” Tanya Syahila.

“Loh? Kok gombal? Memang bener kok, kalian itu yang paling spesial dihidupku yang pernah Allah kasih padaku.”

“Ya ya ya.” Ucap Syahila pura – pura setuju.

“Hhmm.... kak aku belum kasih kado yaa waktu kemarin kakak ulang tahun?”

“Kamu sampai kapan mau manggil aku kakak? Sayang, kita sudah 5 tahun lamanya membina rumah tangga. Dan kamu masih memanggilku kakak?” Tanya Satria dengan menatapnya tak percaya.

“Terus aku harus panggil apa? sudah untung aku gak panggil nama. Kitakan seumuran.” Jawab Syahila asal.

“Owh... gitu. Mulai berani yaa sekarang.” Ucap Satria sambil menggelitiki perut istrinya.

“Kak maaf dehh, udah berhenti. Disini ada anak – anak kak, malu.” Kata Syahila memperingatkan. Tapi Satria masih saja menggelitiki istrinya tersebut.

“Kakak mau tahu kado dari aku gak? Tapi berhenti dulu please!” Pinta Syahila.

“Aku gak minta kado dari kamu sayang, yang penting kamu selalu ada disisiku itu sudah cukup bagiku.” Kata Satria, ia sudah tidak menggelitiki istrinya lagi.

“Yakin?” Tanya Syahila memastikan. Satria mengangguk mantap.

“Sekalipun kadonya adalah seorang anak?” Tanya Syahila lagi.

“Iy... eh, wait! Kamu bilang apa? anak?” Satria balik bertanya, Syahila hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu hamil lagi sayang?” Tanya Satria takut – takut. Syahila tersenyum dan mengangguk, lalu ia memberikan sebuah amplop yang berisi hasil USG yang telah dilakukannya.

“Subhanallah, Alhamdulillah, Masya Allah. Terima kasih Ya Allah, ini merupakan kado terindah yang pernah aku dapatkan. Makasih ya sayang.” Kata Satria memeluk dan mencium kepala istrinya. Lalu Satria melihat kearah kedua putrinya yang sedang bermain.

“Keisha, Kenisha, kalian sedang apa nak?” Tanya Satria menghampiri kedua putrinya. Satria bergabung dengan kedua putrinya yang sedang bermain rumah – rumahan tersebut. Sedangkan Syahila hanya menatapnya, melihat raut wajah Satria yang sedang berbinar – binar yang sedang bermain bersama kedua putrinya.

“Aku bersyukur ternyata itu adalah kamu yang menjadi imamku dan ayah dari anak – anakku. Terima kasih karena telah memilihku umtuk menjadi pendamping hidupmu. Terima kasih karena dirimu bersedia menjadi pelengkap hidupku. Awalnya aku tak percaya bahwa itu kamu, namun seiring berjalannya waktu, aku menyadarinya. Sampai aku tak sadar telah bergantung padamu. Ya, selalu kamu, imamku.”

~Syahila~

***

“Perempuan itu hanya menunggu, menunggu pangeran mengetuk pintu. Menyampaikan maksud tertentu, meminta menjadi calon imammu.”

“Sya, maafin Satria yaa, Satria gak bermaksud buat Sya sedih.” Ucap Satria tulus setelah mencium pipinya tanpa izin.

Syahila hanya melihatnya sekilas, lalu ia kembali menangis kepada ibunya. Satria merasa permintaan maafnya itu tidak diterima langsung menundukan kepalanya, pandangannya menatap lantai. Di satu sisi ia takut terkena marah oleh Bu Nur karena telah membuat Syahila menangis. Namun disisi lain, Satria memang tidak sengaja untuk membuat Syahila menangis. Melihat itu Bu Nur tersenyum dan berusaha memahami situasi yang sebenarnya sedang terjadi.

“Satria gak mau lihat Sya nangis, tapi gimana ini? Sya gak maafin Satria, padahal Satria cuma senang karena Sya berhasil masuk 5 besar. Satria bangga sama Sya, jadi Satria cium Syahila.” Kata Satria dalam hati.

“Sya anak baik, kalau ada yang minta maaf sikapnya harus baik sayang, gak boleh dicuekin gitu. Allah aja maha pemaaf, masa kita  umatnya enggak? Memangnya Sya mau kalau Sya berdoa sama Allah minta ampun atas dosa – dosa yang Sya perbuat terus sama Allah di cuekin? Sya mau Allah cuekin Sya?” Kata Bu Nur memberikan pengertian kepada Syahila.

Syahila hanya menggelengkan kepalanya, ia melirik kearah Satria yang sedang menundukan kepalanya. Merasa diperhatikan Satria mengangkat kepalanya dan mengulurkan kembali tangannya kepada Syahila dan tersenyum tulus kepadanya. Syahila melirik ibunya yang mengangguk memberikan isyarat, setelah itu Syahila menjabat tangan Satria tanda bahwa ia sudah memaafkannya. Mata Satria seketika berbinar, ia merasa senang Syahila telah memaafkannya.

“Alhamdulillah Ya Allah, makasih ya Sya udah mau maafin Satria. Satria tahu kok Sya itu orang baik.” Ucap Satria sambil tersenyum. Syahila hanya tersenyum sedikit dipaksakan karena ia masih kesal dengan tindakan Satria.

“Tante, boleh gak kalau nanti Satria udah gede, Satria mau nikah sama Sya?” Tanya Satria kepada Bu Nur. Sudah pasti Bu Nur dan wali kelasnya langsung berpandangan dan menatap Satria dengan tatapan tak percaya, sedangkan Syahila kebingungan karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Bagaimana bisa anak berumur 6 tahun sudah berbicara seperti itu? Namun, akhirnya Bu Nur tersenyum lembut kepada Satria.

“Kalau seperti itu, Satria harus belajar yang rajin biar pinter yaa.” Ucap Bu Nur kepada Satria.

“Satria janji akan rajin belajar tante.” Jawab Satria dengan wajah yang bersungguh – sungguh.

“Untuk sekarang, Satria belajar dulu yaa. Jangan pikirin itu dulu, belajar yang pinter, raih cita – cita buat orangtua bangga. Pertahankan prestasimu yaa” Kata wali kelasnya menasehati.

            Bu Nur masih saja tersenyum melihat kepolosan Satria dan Syahila, karena kepolosan mereka, mereka jujur dengan perasaan yang mereka rasakan sehingga tidak ada kesalahpahaman. Bu Nur masih memaklumi Satria karena ia belum benar – benar mengerti, namun dengan terjadinya kejadian ini, Bu Nur dapat lebih waspada untuk menjaga anak perempuannya. Ia tidak ingin hal serupa terhadap putrinya lagi. Namun tetap saja, Bu Nur pasti tersenyum sendiri jika mengingat kejadian itu.

            Dan saat Syahila tiba – tiba tidak masuk sekolah lagi, Satria menjadi lebih pendiam di kelasnya. Padahal sebelumnya, Satria adalah anak yang sangat ceria.  Bu Ely, wali kelasnya pun menyadari akan perubahan sikap Satria. Ia mengerti perasaan Satria, kehilangan sosok teman yang sangat dekat dengan dirinya merupakan hal yang menyedihkan. Sebagai wali kelas, Bu Ely mencoba menghibur Satria yang terlihat murung akhir – akhir ini.

            “Satria kenapa gak main sama yang lain?” Tanya Bu Ely saat melihat Satria hanya duduk didekat jendela menatap keluar.

            “Satria kangen Syahila bu, kenapa Sya tidak sekolah lagi?” Tanya Satria dengan wajah murung.

            “Satriakan sudah tahu Syahila itu menjalani operasi kepalanya biar Sya cepet sembuh. Emang Satria gak mau lihat Sya sembuh?” Bu Ely mencoba memberi pengertian kepada Satria.

            “Satria tahu itu bu, tapi ini sudah seminggu. Kenapa Syahila tidak masuk sekolah lagi?” Tanya Satria lagi.

            “Sya juga perlu istirahat, setelah operasi Sya harus banyak istirahat biar cepet pulih. Apalagi Sya operasi bagian kepala, jadi butuh istirahat yang lebih lama. Nanti jika Sya udah baikan Sya akan sekolah lagi. Makanya Satria doain Sya biar cepet sembuh yaa.” Ucap Bu Ely menenangkan hati Satria. Namun, pada kenyataannya sampai waktu wisuda TK pun Syahila belum juga kembali.

Sampai pada akhirnya, Satria mengikuti seminar pra nikah yang diadakan di kotanya. Ia berpapasan dengan dua orang perempuan ditangga, dan Satria merasa familiar dengan salah satu perempuan tersebut. Sadar sedang diperhatikan, salah satu perempuan itu tiba – tiba menatap kearahnya. Karena terkejut, Satria langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Perempuan itu berbisik kepada temannya lalu mempercepat langkahnya menuruni tangga, meninggalkan temannya dibelakang.

“Sya, tunggu aku! Pelan – pelan saja Sya, nanti kamu jatuh.” Ucap perempuan yang satunya lagi. Saat Satria berpapasan dengannya, ia tersenyum sopan dan segera menyusul temannya yang sudah mulai menjauh.

“Syahila Afsheen Myesha, tunggu aku!” teriak perempuan berkerudung hitam itu memanggil perempuan berkerudung merah muda.

Langkah kaki Satria terhenti seketika, ia langsung berbalik arah menuruni tangga dengan tergesa. Ia mencari dua perempuan tersebut namun terlambat, kedua perempuan itu telah hilang entah kemana. Satria telah berlari mengelilingi tempat tersebut, namun tidak menemukannya. Satria sangat menyesal karena ia tidak dapat mengenali perempuan yang sudah lama ia cari. Satria mengacak rambutnya kasar, ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, ia tak mau kehilangan Syahila untuk kedua kalinya. Saat ia sudah putus asa, tiba – tiba Satria teringat akan seminar yang diikutinya, maka ia langsung berlari kembali ke tempat seminarnya. Namun bukannya ia langsung masuk auditorium, Satria malah mendatangi panitia bagian penerimaan tamu acara tersebut.

“Maaf boleh saya melihat daftar nama tamu yang hadir pada acara ini?’ Tanya Satria kepada panitia tersebut.

“Jika boleh tahu untuk apa ya kak?” tanya panitia bagian penerimaan tamu itu.

“Saya sedang mencari seseorang, tadi sempat berpapasan dengannya. Namun, tiba – tiba saya kehilangan jejaknya.” Kata Satria menjelaskan. Perempuan itu hanya menatap Satria curiga, dan Satriapun menyadarinya.

“Saya tahu mungkin tidakan saya ini mencurigakan, namun percayalah! Saya tidak akan berbuat macam – macam. Orang yang saya cari adalah teman lama saya, kita sudah 12 tahun tidak bertemu.” Kata Satria menjelaskan berusaha meyakinkan panitia bagian penerimaan tamu tersebut.

“Atau tolong cek apakah ada peserta yang bernama Syahila Afsheen Myesha.” Pinta Satria pada akhirnya. Dan perempuan tersebut mencarikan nama Syahila dalam daftar peserta yang hadir.

“Ya ada.” Ucap perempuan itu.

Wajah Satria langsung berbinar, senyum mengembang diwajahnya. Terlihat jelas ia sangat bahagia. Bagaimana tidak bahagia, ia akhirnya menemukan perempuan yang sudah dicintainya selama 12 tahun. Walaupun dahulu, Satria belum terlalu yakin dengan perasaannya karena saat itu Satria masih sangat muda. Dan ia pikir itu hanyalah cinta monyet belaka, namun entah mengapa ia tetap menunggunya kembali bahkan mencarinya. Bagi Satria Syahila adalah motivasi terbesarnya sampai sekarang, Saat Satria sedang terpuruk, ia selalu mengingat Syahila yang selalu ceria. Satria berfikir bahwa Syahila saja yang mempunyai keterbatasan fisik serta kehidupan yang sulit saja masih dapat tertawa mengapa ia cepat putus asa. Maka jika Satria mengingat senyum Syahila kecil, ia kembali bersemangat. Terlebih lagi, ia mengingat akan janjinya yang pernah diucapkannya dahulu.

“Nah, pendaftaran acara inikan via Whattshap. Pasti panitia mempunyai kontak semua peserta acara ini, boleh saya minta kontak orang yang bernama Syahila Afsheen Myesha?” Tanya Satria lagi.

“Mohon maaf untuk hal itu kami tidak mempunyai wewenang memberikan kontak peserta kepada sembarang orang.” Jawab perempuan itu.

“Tolonglah, setelah ini saya akan pergi.” Ucap Satria memohon.

“Maaf, tapi kami tidak bisa.” Ucap perempuan itu lagi. Tiba – tiba ada seorang lelaki yang menghampiri perempuan yang sedang berjaga dibagian penerimaan tamu. Ternyata lelaki itu juga salah satu panitia acara tersebut, terlihat dari nametag yang tergantung dilehernya. Dengan membawa kamera ditangan kanannya, ia menghampiri temannya yang sedang berbicara dengan Satria.

“Ada apa ini ribut – ribut?” Tanyanya. Temannya yang berjaga dibagian penerimaan tamu menjelaskan secara singkatnya. Kemudian lelaki tersebut melihat kearah Satria yang masih sangat berharap untuk mendapatkan kontak Syahila.

“Siapa nama yang dia cari?” Tanya lelaki tersebut.

“Syahila Afsheen Myesha.” Jawab temannya memberitahu. Lelaki itu langsung melirik kearah Satria dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Agung, tolong gantikan saya sebentar untuk mengambil gambar. Saya ada urusan sebentar.” Kata lelaki itu kepada temannya yang kebetulan lewat, ia menyerahkan kamera yang sedang dibawanya kepada orang yang dipanggil Agung tersebut.

“Ikut aku.” Ucap lelaki itu. Satria pun menurutinya, dan saat mereka jauh dari keramaian. Lelaki tersebut mulai berbicara.

“Kamu mengenal Syahila?” tanya lelaki itu.

“Sya teman saya saat di taman kanak – kanak.” Jawab Satria jujur.

“Kamu sendiri mengenal Sya?” Tanya Satria kemudian.

“Owh, itu. Sya satu pesantren dengan Yasmin adik saya, dia kakak kelas adik saya. Yasmin sangat dekat dengan Sya, sehingga saya dapat mengenal Sya.” Jawab Jay memberi penjelasan.

“Berarti kamu tahu kontak Sya?” Tanya Satria, Jay mengangguk.

“Tapi saya hanya bisa memberi tahumu media sosialnya saja, jika nomor whattshap sepertinya kamu harus meminta langsung kepadanya. Karena bagaimana pun juga itu adalah hal yang privasi.” Kata Jay berharap Satria mengerti.

“It’s okay, kalau itu gak masalah. Yang penting saya dapat kontaknya Syahila sebelum saya berangkat ke London untuk program S2.” Kata Satria. Alis Jay terangkat sebelah.

“Bukannya kamu tadi bilang kamu teman Sya saat di taman kanak – kanak? Jika seperti itu, harusnya kamu seangkatan dengan Sya. Mengapa kamu bilang akan melanjutkan S2 sedangkan Sya sendiri baru lulus dari pesantren dan baru mau mengambil program S1-nya di universitas pesantren juga.” Kata Jay merasa heran.

“Panjang deh ceritanya, intinya aku seumuran sama Sya.” Kata Satria.

“Kamu bilang Sya pesantren ya? Dan mau masuk universitas pesantren, berarti Sya kuliah sambil pesantren lagi?” Tanya Satria.

“Iya, sejak SMP Sya sudah masuk pesantren dan ia melanjutkan SMA di pesantren yang sama. Dan sekarang ia mau melanjutkan kuliah di universitas pesantren yang ada di Jawa Timur.” Jawab Jay.

“Sepertinya kamu tahu banyak tentang Sya?” Tanya Satria lagi,

“Awalnya saya tahu karena ibu sering cerita dirumah tentang Sya, tapi sampai akhirnya kita berteman dan Sya terkadang curhat sama saya terlebih masalah universitas yang akan dimasukinya dan program studi yang akan ia ambil.” Jawab Jay. Mendengar itu entah mengapa dada Satria menjadi sesak, ia merasa malu karena ia mengaku mencintai Syahila namun ternyata ia tidak mengetahui tentang dirinya.

“Masih pantaskah aku mencintainya? Tidak, maksudku masih pantaskah aku mengharapkan dia sebagai tulang rusukku yang hilang? Karena untuk mencintainya itu merupakan hakku sepenuhnya, haknya adalah hanya akankah ia menerima cintaku atau tidak. namun, ia tidak berhak melarangku untuk terus mencintainya. Masihkah ada harapan untukku untuk mendapatkan cintanya? Sedangkan aku tahu kini disisinya telah ada lelaki yang sepertinya dia percaya dan selalu ada untuknya? Ya Allah, egoiskah diriku jika meminta ia yang akan menjadi makmumku? Aku hanya pasrah kepada-Mu, karena aku tahu Engkau selalu mendengar setiap doaku.” Bathin Satria.

Namun, pada saat Satria telah selesai melanjutkan studi S2-nya di London. Ia memberanikan diri untuk melamar Syahila dengan dibantu Jay yang sempat ia pikir Jay adalah saingannya untuk mendapatkan Syahila. namun pada kenyataannya, Jay malah yang memberi alamat rumah Syahila kepadanya karena dulu Jay pernah datang ke rumah Syahila. Disaat Satria datang untuk kali pertama ke rumah orangtuanya Syahila, ia datang sendiri setelah mengumpulkan keberaniannya. Beruntung, saat itu Syahila masih ada di kampusnya karena memang belum saatnya liburan.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam, maaf cari siapa yaa?” Tanya Bu Nur karena merasa asing dengan wajah Satria.

“Om-nya ada tante? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan.” Jawab Satria sopan.

“Oh ada, silahkan masuk. Saya akan panggilkan bapak dulu.” Ucap Bu Nur mempersilahkan. Saat Pak Agus sudah berada dihadapannya, dan Bu Nur datang membawakan minum lalu duduk disamping suaminya Satria mulai berbicara.

“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah menyediakan waktunya untuk berbicara dengan saya.” Kata Satria memulai pem                    bicaraan.

“Tante, masih ingat sama saya? Saya yang dulu pernah meminta izin untuk menjadi suami Syahila saat masih duduk di taman kanak – kanak?” Tanya Satria kepada Bu Nur. Sedangkan Bu Nur tampak sedang mengingat – ngingat karena memang kejadian itu sudah 15 tahun yang berlalu.

“Saya yang dulu mencium pipi Syahila sampai dia nangis.” Kata Satria kemudian.

“Owh, itu kamu. iya saya ingat sekarang.” Jawab Bu Nur sampai mengangguk – anggukan kepalanya.

“Nah, kedatangan saya kemari berniat untuk mempersunting putri om dan tante untuk dijadikan pendamping hidup saya.”

“Bukannya kamu belum selesai kuliah? Syahila saja masih semester 6. Memangnya kamu sudah bekerja?” Tanya Pak Agus. Satria hanya tersenyum.

“Alhamdulillah, saya mempunyai usaha properti di Jakarta. Dan baru bulan kemarin saya tiba di Indonesia setelah menyelesaikan studi S2 saya di London.” Jawab Satria dengan tenang. Pak Agus dan Bu Nur berpandangan.

“Bukannya kamu satu angkatan dengan Syahila? Dulu kamu sekelas sama Sya.” Kata Bu Nur merasa heran.

Akhirnya Satria menjelaskan bahwa dirinya saat SMP dan SMA menjalani akselerasi, sehingga dirinya hanya menyelesaikannya masing – masing selama 2 tahun. Selain itu, Satria juga berhasil menyelesaikan S1-nya dalam kurun waktu 3 tahun. Sampai ia mendapatkan beasiswa S2 di London.

“Kamu tahu sendirikan Syahila memiliki keterbatasan fisik? Apakah kamu akan menerima Syahila dengan segala kekurangannya?” Tanya Pak Agus.

“Pastilah saya sudah mengetahui hal itu dan saya tidak mempermasalahkannya. Jika tidak, saya tidak mungkin mencari keberadaan Syahila sampai 15 tahun lamanya, yang akhirnya saya memberanikan diri untuk menjemputnya langsung kepada om dan tante.” Jawab Satria tegas.

Pak Agus dan Bu Nur hanya mengangguk lalu meminta Satria untuk datang kembali bersama orangtuanya untuk menentukan tanggal pernikahan. Setelah itu, pernikahan Satria dan Syahila digelar dengan meriah. Semua wajah yang hadi disana tampak bahagia, seakan ikut merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh Satria dan Syahila.

“Teruslah mencintainya, namun jangan pernah memberitahu apalagi mengusiknya. Biarkan ia melakukan hal yang ia inginkan. Sampai kau memang sudah siap untuk menjemputnya langsung dari ayahnya, untuk kau jadikan makmummu kelak. Jangan takut nanti diambil orang, karena ia adalah tulang rusuk kita yang hilang. Percayalah, jika sudah saatnya, Allah akan mengembalikan tulang rusuk kepada pemiliknya. Walaupun entah kapan waktunya, yang diperlukan hanyalah kesabaran.”

~Satria~

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani