Profil instastories

"AKU" (part 1)

   Burung bernyanyi layaknya seorang biduan membawa suasana semakin indah disertai tiupan angin sepoi-sepoi menerpa wajah ini. Aku semakin terbawa suasana, ku tutup kembali mata ku dan menghirup udara pagi yang segar. "Kring.....kring...." aku lupa hati ini adalah hari Senin. Aku seharusnya sudah berbaris rapi mengikuti upacara bendera tetapi yang ku lakukan saat ini adalah berbaring seenaknya di kasur tanpa memikirkan apapun. 

   Oh yah aku lupa memperkenalkan diri ku. Nama ku Tata Putri Kristanti biasa di panggil Tata. Aku adalah anak tunggal dari keluarga Pak Anwar dan Bu Maria. Saat ini aku menempuh pendidikan di SMA Bakti, salah satu SMA favorit di kota tempat tinggal ku. Meskipun aku masuk sekolah favorit tetapi aku bukan anak yang tergolong pintar dan berprestasi. Tapi malah sebaliknya, pagar sekolah yang tinggi itu sering ku panjati agar bisa masuk karena telat, bolos pada jam pelajaran itu hobiku ditambah tidur di kelas sepanjang hari, memecahkan kaca ruang guru dan membuli teman-teman ku. Yah itulah aku. Aku yang sekarang.

   "Kring....kring...." karena sudah muak mendengar bunyi alarm yang sejak tadi, aku memaksakan diri untuk bangun kemudian menuju ke kamar mandi hanya untuk mandi asal mandi dan menyikat gigi. Ya itulah kebiasaan ku setiap hari. Seketika di kamar mandi aku menatap cermin di hadapan ku memandangi sosok aku yang seakan tak pernah berhenti melakukan kekacauan dan masalah. Aku menghelas napas panjang memikirkan apa yang terjadi kedepannya.

   Aku kembali ke kamar memakai baju sekolah yang menurut mama ku sangat kusut dan rusuh layaknya tidak pernah di cuci setahun. Ditambah dengan rambut yang acak-acakan dan muka yang sangat lesu. Aku berjalan dengan santai menuju sekolah. Aku memang udah telat sehingga tidak mungkin lewat gerbang depan. Akhirnya jalan pintaslah yang ku pilih yaitu pagar samping sekolah. Aku memanjat pagar tersebut dan melompat ke area sekolah.

   Di sekolah tampak sunyi karena semua siswa dan guru melakukan aktivitas belajar-mengajar. Aku pun mengendap-ngendap agar tidak ketahuan tetapi aku salah ternyata ada Pak Dhani sang guru tata tertib yang super duper killernya. Dia berkacak pinggang sambil memelototi ku. Aku sudah terbiasa dengan pelototannya yang kata anak-anak sekolah ku bisa membuat mati kutu dan berkeringat dingin. Tapi buatku ini biasa karena aku tidak takut pada siapapun. Aku berjalan santai seolah tidak mengendahkan kehadirannya.

   "Hei mau kemana kamu!" Dengan santai aku menjawab " Ya mau ke kelaslah pak, mau kemana lagi." "Kamu udah telat jawabnya santai lagi. Kamu itu mau jadi apa? Sekolah gak niat, tugas gak pernah dikerjain, dalam kelas tidur mulu, dan satu lagi yang paling parah kamu tuh cewek kenapa kamu suka membuli teman-temanmu?"celetuknya padaku. "Bapak maunya apa sih? Hidup-hidup saya kenapa bapak yang sibuk ngurusin. Orang tua saya aja gak peduli dan tidak pernah perhatian sama saya."balasku kepadanya. "Ayo sekarang ikut keruangan saya!" bentaknya padaku. Mau tak mau aku harus mengikuti kehendaknya. Pak Dhani berjalan didepan ku sambil sesekali berdehem perlahan. Aku berjalan terus mengikuti langkahnya hingga sampailah di ruang guru yang masih sunyi dan sepi karena para guru sedang mengisi jam pelajaran. Hanya ada beberapa guru saja yang ketika Pak Dhani dan aku masuk ke ruang guru menoleh sebentar ke arah kami dan menggeleng-gelengkan kepala. Aku memang sudah tidak asing lagi diperlakukan seperti itu.

   "Tata sudah berapa kali saya ingatin kamu agar tidak melanggar aturan sekolah ini!" dari raut wajah dan cara bicara Pak Dhani sepertinya sudah tidak tahan lagi melihat perlakukan ku setiap hari. "Tata jawab bapak nanya ke kamu bukan ke tembok!" bentaknya karena aku hanya terdiam berdiri tepat didepan mejanya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara. "Saya itu pak tadi malm tidur telat karena jagain kucing saya yang mau melahirkan. Kan kasian kucing saya pak gak ada yang jagain." bicaraku sambil menahan tawa. "Tata! Kamu pikir saya sedang bercanda. Saya serius jika sekali lagi kamu melanggar aturan sekolah kamu akan saya skorsing." nada bicaranya menandakan bahwa Pak Dhani sangat serius menanggapi kelakuan ku saat ini. "Sebagai hukuman karena kamu telat dan memanjati pagar samping sekolah. Kamu harus membersihkan perpus dan menata kembali semua buku sesuai tempatnya. Kamu mengerti?" ucapnya memberi ku hukuman. "Iya faham pa." jawab ku dengan santainya sambil melangkahkan kaki keluar ruang guru. Meninggalkan Pak Dhani yang masih melihat dari kejauhan.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani