Profil instastories

Aku Korban Salah Pukul

 

Peristiwa di Tahun 1996

“Hati-hati, Dek!” pesan mas kondektur. Khawatir sekali ia sampai berkali-kali meminta kami membatalkan saja rencana pendakian malam ini.

“Ya, Mas,” kami menjawab serempak. Melompat turun dari bis yang kami naiki dari terminal tadi.

Aku, Widi dan Tami mendadak berangkat mendaki malam ini. Rasa rinduku terhadap rasa lelah yang sangat dan hawa dingin yang membekukan, membuatku mengajak mereka. Bersyukur mereka mau. Hanya membawa uang belasan ribu rupiah dan ransel kecil berisi  satu buah kaos aku berangkat. Ntah apa yang dibawa Widi dan Tami di ranselnya yang juga tampak kempes itu.

 

Menjelang magrib. Sudah tidak ada angkot parkir menunggu penumpang di bahu jalan. Aku masuk ke warung, menanyakan apakah masih ada angkot yang akan masuk ke dusun di kaki gunung.

“Sudah nggak ada, Mbak. Kalian kesorean. Tadi jam lima masih ada,” terang ibu pemilik warung. Ia pun bersiap-siap akan tutup.

Aku keluar. Khawatir menyergap. Diantara kami bertiga, akulah yang paling sering mendaki ke gunung ini. Mereka mengandalkanku. Dari sebelah utara pasar, kulihat ada angkot berjalan mendekat ke arah kami. Semoga saja mau masuk ke dalam. Doaku dalam hati. Dan benar, angkot itu berbelok pelan. Kuhentikan.

“Pak, kami mau ke ujung aspal, bisa antar, Pak?”

“Kejauhan, Mbak. Saya cuma sampai balai desa,” 

“Ke atas sedikit lagi ya, Pak !” Aku menyatukan kedua telapak tanganku, berharap belas kasihnya.

“Yaudah, lima puluh ribu, ya?” tawar Pak Supir duluan sebelum mengiyakan. Karena ongkos normal tidak kesorean seperti ini sepuluh ribu per orang.

Aku menoleh ke Widi dan Tami. Meminta pendapat. Uang lima puluh ribu itu besar bagi kami, yang baru kelas dua SMA. Uang yang ada di kantong kami hanya pas-pasan untuk bertahan sampai pulang besok siang.

“Nggak apa-apalah, keburu gelap,” Widi masuk angkot. Duduk di samping supir. Baru lima menit berjalan, di sebuah tikungan, angkot berhenti mendadak. Aku terkejut. Melihat ke arah depan. Tiba-tiba seorang lelaki mengacung-acungkan celurit kepada Pak Supir, sambil tangannya menggebrak-gebrak badan mobil. Terjadi pertengkaran mulut antara mereka. Aku tak paham, karena mereka memakai bahasa daerah.

“Udah dong, Pak ! anterin kami dulu, Pak,” Aku melihat gelagat jika Pak Supir berniat menurunkan kami. 

Pak Supir menginjak gas, melaju meninggalkan lelaki yang masih mengomel dengan celurit di tangannya itu.

“Astaghfirullah….,” Sungguh kejadian yang menakutkan.

 

Apakah ini sebuah pertanda, bahwa niat kami mendaki ini sebaiknya dihentikan. Akan terjadi hal yang tidak baik apabila kami meneruskan perjalanan. Tapi bukan Dera namanya, jika hanya karena kejadian tadi sampai ciut nyalinya. Apalagi ke gunung ini, sudah belasan atau mungkin puluhan kali aku ke sini. Bahkan setahun yang lalu, satu pekan aku berdiam diri di atas sana hanya berdua dengan Dini teman mendakiku lainnya. 

 

Tiba di ujung aspal, disambut jalan setapak menanjak pintu gerbang gunung ini kami turun. Perjalanan yang lebih dari setengah jam membuat kami tiba lebih malam. Di sebelah kanan, rumah berpagar bambu sudah tertutup pintunya. Aku ragu, tak enak rasanya bertamu selepas magrib seperti ini. Tapi, ya sudahlah, apa tak lebih buruk lagi kami yang tiga remaja ini malah berada di jalan.

“Assalamu’alaikum,” kuketuk juga akhirnya pintu rumah ini. 

“Waalaikumsalam, sopo,” suara yang tak asing menyahut dari dalam. Mas Juned.

“Dera, Mas. Kemalaman, Mas,”

Mas Juned membuka pintu untuk kami. Aku sudah kenal baik dengan Mas Juned. Anak dari Pak Suroto pemilik rumah yang biasa menjadi basecamp jika para pendaki akan bersiap-siap mendaki gunung ini.

“Sudah solat belum, solat dulu sana,” Pak Suroto yang baru saja keluar dari kamar mengingatkan kami untuk solat.

 

Selesai solat, kami memesan nasi telur pada Bu Suroto. Walau Bu Suroto tidak membuka warung makan, ia tetap melayani pesanan jika ada pendaki yang meminta. Mas Juned nampak sedang bersiap-siap hendak pergi, memakai batik rapih tidak seperti biasa.

“Mas, aku dan teman-teman ini kemaleman. Mas Juned bisa nggak anter kami ke atas,” aku khawatir  Mas Juned tiba-tiba pergi. Aku berharap dengan segera mengatakannya, ia membatalkan rencana perginya.

“Lah, nggak bisa, Mbak. Ada janji rewang, Mbak. Itu di rumah bawah,”

“Sebentar aja, Mas. Cuma sampai tempat Mas Hamid aja,” pintaku sekali lagi.

“Ora nyandak, Mbak! Acarane bar isa. Mesakke sih. Tapi aku tiwas janji, Mbak,”

Aku tidak bisa memaksanya lagi. Mas Juned tidak akan menolak jika tidak terpaksa. Aku sebenarnya berani naik ke atas hanya dengan kedua temanku ini. Widi dan Tami juga bukan orang-orang yang penakut. Tetapi malam begitu gelap, hanya sabit kecil yang menyinari. Kami tidak membawa senter untuk menerangi jalan. Ditambah kejadian tadi, ada sedikit perasaan tidak enak di hati.

“Gimana, Wid, Tam, Jadi?” mencoba mencari tahu apakah Widi dan Tami tidak berubah fikiran.

“Jadi, udah sampai sini juga,” sahut Widi.

“Tami?” ulangku kepada Tami

“Gua sih terserah lu orang,”

 

Akhirnya dengan modal nekad, kami berangkat. Memasuki pintu jalan setapak yang hanya bisa dijalani orang per orang. Widi paling depan, Tami, lalu aku di belakang. Lilin yang kami nyalakan sesekali mati. Kami nyalakan lagi. Jalan di area perkebunan yang rimbun nyaris tanpa cahaya membuat kami gelagapan. 

 

Masuk area perkebunan singkong yang lokasinya sudah ratusan meter dari kaki gunung. Gemerisik daun saling bergesekan. Remang-remang.

“Der!” Tiba-tiba Tami berhenti. Berbisik menoleh kepadaku. Telunjuknya mengarah ke sebuah bayangan putih beberapa meter di sebelah kiri kami.

“Biar aja. Tetap jalan,” Kucoba menenangkan teman-temanku. Mungkin makhluk tadi semacam kuntil anak. Wajar, tempat ini memang tempatnya.

Baru beberapa langkah kami maju, makhluk itu sudah di depan kami. Berdiri persis di depan Widi. Tidak jelas, tapi seperti sosok laki-laki yang mengalungkan kaos putih di lehernya. Mungkin petani yang baru pulang dari kebun.

“Monggo, Mas!” Kupersilahkan sambil mendorong temanku untuk memberinya jalan.

 

Tetapi, ntah apa sebabnya, tiba-tiba lelaki itu menendang perutku. Sakit sekali. Aku sedikit terhuyung ke belakang, lalu kedua tangannya mencengkeram bahu seperti ingin mendorongku dengan keras. Aku berfikir bisa melawannya. Sabuk coklat yang kusandang sejak SMP membuat aku percaya diri. Kucengkeram juga bahunya sambil membuat kuda-kuda pertahanan, dan sekuat tenaga kudorong. Ia tersungkur ke belakang. Lalu bangun dan mencengkeram bahuku lagi, lebih keras. Mendorongku sampai ke bawah batang pohon besar. Menarik jilbabku lalu bertubi-tubi menendang dadaku. Aku sadar, lelaki ini bukan lawanku. Tenaganya luar biasa. Aku berniat meminta tolong pada seseorang, ingin menyebut sebuah nama yang rumahnya ada di atas sana. Tapi percuma, pasti ia tidak mendengarnya. Terlalu jauh.

 

Kudorong ia selagi bisa. Cengkeramannya terlepas. Aku berlari sekuat tenaga. Menerobos perkebunan singkong. Terus berlari tanpa arah. Berhenti. Nafas tersengal-sengal sambil menahan sakit di dada. Ntah datang dari mana, Tami dan Widi sudah ada di samping kanan kiriku. Kemana mereka tadi. Aku tak bertanya. Tak berani bersuara, takut luar biasa. Setiap suara daun bergesekan dan menimbulkan suara, aku berfikir dia sedang melangkah mendekati kami. Kumenahan nafas berkali-kali. Menahan batuk berkali-kali. Gatal dan sakit sekali. Aku meminjam Slayer Widi untuk kupakai menutup kepala, pengganti jilbabku. Sungguh, aku masih tak percaya dengan apa yang aku dan teman-temanku alami. Kejadiannya juga begitu cepat.

 

Hampir lima jam kami diam. Dingin dan lapar, tapi rasa takut menghalangi kami untuk bergerak, terus naik atau pulang. Terdengar suara orang bercakap-cakap. Mereka pasti lelaki dan temannya yang akan mencari dan memukuli kami lagi. Suara makin dekat dan jelas.Oh, sepertinya mereka pendaki yang juga kemalaman seperti kami.

“Ada orang,” bisik Tami, pelan sekali, suaranya masih gemetar.

“Mas …, tolong kami, Mas!” Aku langsung berteriak ketika perasaanku makin kuat mengatakan mereka pasti orang baik dan mau menolong kami.

“Tolong kami, Mas!” Susul Widi dan Tami.

“Siapa?” Tanya salah seorang dari mereka juga dengan keras

“Sudah tinggal aja, serem, hantu itu, lari aja, yuk,” sahut suara lainnya.

“Kami abis dipukul orang, Mas. Mau naik juga,” perasaanku yang begitu ketakutan sedari tadi berangsur tenang. Kuambil nafas panjang. Kulepaskan batuk yang tertahan sedari tadi. Mereka mendekat. Menyenteri kami. Kami bangun, membersihkan celana panjang yang dipenuhi tanah. Mereka memberi kami minum dan menanyakan apa yang terjadi. Mereka kaget, istighfar berkali-kali. Baru sekali ini terjadi kejahatan seperti yang baru saja menimpa kami. 

 

“Mbak-mbaknya lanjut ke atas aja, kita ke rumah Pak Yoyok,” ajak Kak Beno, salah seorang yang sudah memperkenalkan namanya.

Aku juga sudah biasa mampir beristirahat ke rumah Pak Yoyok, sekedar meminta minum kepada istrinya. Kami menyetujuinya. Tapi aku meminta mereka menemaniku mencari sandal yang terlepas ketika berkelahi tadi. Siapa tahu kami juga bisa mendapat petunjuk, mungkin saja ada barang milik lelaki itu yang tercecer. Sendalku tidak ada. Tapi ada sepasang sandal agak besar di bawah pohon. Kak Beno menyuruhku memakainya.

 

“Mas cari jilbabku dulu ya, Mas,” Aku berharap jilbab putih yang satu-satunya kubawa itu bisa ditemukan.

Agar penampilanku tidak aneh seperti ini, memakai slayer yang dililitkan ke kepala. Kak Beno dan Mas Gombloh menyenter-nyenter ke sekitar. Jilbabku tak ditemukan. Ya sudah.

 

Pak Yoyok mendengarkan dengan seksama cerita kami. Dia pun tak kalah kagetnya. Sumpah serapah terulang dari bibirnya.

“Mana sendalnya, coba saya lihat,”

Diamatinya sandal itu, seperti mengingat-ngingat. Dia mengangguk-angguk seperti menemukan sesuatu.

“Besok pagi kalau Mbak Dera ketemu dengan orangnya, jangan kaget ya, Mbak! edan, gemblung,” Sepertinya Pak Yoyok sangat yakin dengan sangkaannya. Hanya lewat sandal. Mendengar apa yang dikatakan Pak Yoyok barusam, perasaanku menjadi tidak enak. Teringat seseorang. Apakah dia. Tapi kenapa. Perasaan sedih mengaliri hatiku. Jika benar dia, sungguh aku memaafkannya, sebelum dia meminta.

 

Malam itu juga, Pak Yoyok, Kak Beno dan Mas Gombloh turun dan meminta kami menyusul paginya. Sambil menahan rasa nyeri di dada yang teramat, aku turun bersama Widi dan Tami. Benarkah dia, tapi kenapa. Malam yang gelap itu pasti membuatnya tidak mengenaliku, lalu berniat jahat padaku, tetapi kenapa padaku yang berada di paling belakang, bukankah ada dua perempuan lain. Kenapa aku harus dipukuli dulu. Kenapa, kenapa. Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalaku. 

 

Kuucapkan salam. Masih berdiri di pintu, aku melihatnya duduk sambil menunduk, menutup kepala dengan kedua tangannya. Seperti menangis. Oh, Apakah benar dugaanku, ada dia di sana, Mas Hamid teman baikku, yang rumahnya selalu dia persilahkan untuk tempatku beristirahat jika aku kelelahan mendaki. Yang kamarnya selalu ia rapihkan jika aku ingin menumpang salat. Bahkan, setahun yang lalu, tiga malam aku menumpang tidur di amben rumahnya, karena rangka tenda kami rusak berulang kali dibongkar pasang.

 

 “Mas Hamid, apa kabar, Mas?” tulus kuucapkan sapaan itu untuk teman baikku ini. “Hampir setahun ya, Mas, saya gak naik ke sini,” dia mendongak, benar dia menangis, mengangguk ragu. Lalu Pak Yoyok membuka percakapan, membahas apa yang terjadi, dan memberi tahu kami bahwa lelaki yang menyerang kami adalah Mas Hamid. Aku, walau sudah menduga, bahkan sudah memaafkannya, tetap saja terkejut. Ya Allah, semalam ketika aku ingin berteriak minta tolong, nama yang kuingat adalah namanya, tapi aku urung memanggilnya. Seandainya ….

 

Mas Hamid, dendam kepada seorang perempuan yang pernah memakai kamarnya untuk berbuat mesum lebih dari setahun yang lalu. Perempuan itu suka mengikatkan slayer seperti memakai jilbab. Cerita ini pun pernah Mas Hamid ceritakan kepadaku setahun yang lalu. Ternyata hari ini aku tidak hanya menjadi saksi dari cerita itu tapi juga korban salah pukul Mas Hamid.

 

 

Pesisir Barat, 31 Maret 2020

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jun 27, 2020, 3:05 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jun 25, 2020, 3:02 PM - Lilis Puji Astuti
Jun 25, 2020, 2:09 PM - Erbin Simanjuntak
Jun 24, 2020, 1:54 PM - Lilis Puji Astuti