Profil instastories

Aku, Kamu dan Senja

Seperti biasa, saat ini aku tengah melangkah menuju bibir pantai. Membiarkan kakiku tersapu ombak di sore itu, rasanya sangat segar.

Aku tersenyum melihat senja yang mulai menampakkan dirinya. Aku pun mulai menaiki batu karang yang berada di tepi pantai. Aku sangat menyukai suasana seperti ini, duduk di tepi pantai sembari melihat indahnya senja.

"Senja memang indah," gumamku pelan sembari tersenyum. Aku pun mulai memejamkan mata menikmati angin laut yang begitu menyejukkan.

Cekrek .... 

Aku merasa ada yang memfotoku. Aku pun membuka mata dan tepat di sampingku, berdiri lelaki dengan camera melingkar di lehernya.

"Kamu ngapain foto aku?" tanyaku bingung.

Lelaki itu mendekat lalu mengulurkan tangannya.

"Iseng aja, kenalin nama gue Arya." Ia memperkenalkan dirinya.

Aku membalas uluran tangannya, "Aku Ara."

"Lo sendirian di sini?" tanyanya, ia sekarang dengan berani duduk di sampingku. 

"Kok diem aja sih." Ia terus bertanya. Aku bukannya tidak mau menjawab. Tetapi, aku sedang menikmati pemandangan di depanku ini. Di sana matahari mulai menengelamkan tubuhnya.  Langit berubah warna menjadi merah keorenan. Burung-burung mulai berterbangan, serta bunyi ombak yang menabrak batu karang. Sangat indah.

"Lo suka senja, ya?" tanya lelaki di sampingku ini. Aku hanya mengangguk.

"Gue juga suka, tetapi kenapa senja hanya datang sesaat, ya," gumam Arya. Aku pun menatapnya dan saat itu juga ia juga menatapku. Pandangan kami saling bertemu. Aku pun membuang muka, tak berniat memandangnya terlalu lama.

"Aku pulang dulu ya, Ar," pamitku. Kemudian, aku meninggalkan ia sendirian. Arya terus memanggil namaku, tetapi aku tidak berniat menengok kearahnya.

                             ***

Beberapa kali aku pergi ke pantai, aku selalu bertemu Arya. Sampai saat ini aku sering melihat indahnya senja dengan Arya. Ya, aku tidak sendirian lagi. Sesekali ia juga sering memotretku dengan kamera yang selalu ia bawa. Menurutku, Arya orang yang baik, periang dan tentunya humoris.

Aku juga sempat bertukar nomor ponsel. Pernah sekali, ia mengantarku sampai rumah. Kebetulan, aku memang sering ke pantai dengan di antar tukang ojek. 

Sore ini, aku datang lebih awal karena hari Minggu. Aku ingin bertemu Arya, bertukar cerita seperti biasa. Namun, sudah satu jam aku di tepi pantai, Arya sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Aku mencoba berfikir positif, mungkin aku yang terlalu awal datang.

Sepertinya cuaca sore ini sedang tidak bersahabat. Awan hitam mengumpal di atas sana, rinai hujan mulai berjatuhan. Seharusnya, senja sekarang sudah menampakkan keindahannya. Namun, yang aku lihat di sana hanya awan gelap yang sangat menakutkan. Rintikan hujan mulai deras dan membasahi tubuhku, aku bingung. Kemana senja yang selalu ada untukku dan kemana lelaki yang sudah menghiasi harinya akhir-akhir ini. Bajuku sudah mulai basah. Tetapi, aku sama sekali tidak beranjak dari tempatku duduk. Aku masih berharap, senja menampakkan senyumnya, keindahannya. Dan lagi-lagi aku juga mengharapkan kehadiran Arya, berharap ia datang dan memeluk tubuhku. 

Hari sudah mulai petang, dan hujan masih setia menguyur tubuhku. Aku turun dari batu karang yang aku duduki. Aku melangkah menjauh dari bibir pantai. Baru beberapa aku melangkah, di depan sana berdiri lelaki yang aku tunggu-tunggu. Ia sama sepertiku, seluruh pakaiannya basah. Ia hanya memandangku tanpa melakukan apapun. Tubuhku bergetar, butiran bening yang mati-matian aku tahan akhirnya luruh menjadi sebuah isakan. Aku menangis di tengah derasnya hujan.

Arya mulai berjalan mendekatiku. Tubuhku semakin bergetar, tiba-tiba ia memelukku dengan erat.

"Maaf," ucapnya. Aku sama sekali tidak bersuara. 

"Gue harus pergi, Ra." Saat itu juga, tubuhku serasa disambar petir. Ia mulai melepaskan pelukannya lalu menatapku. Aku tidak tahu maksud dari perkataannya. 

"Maksud kamu apa, Ar?" tanyaku masih dengan air mata yang terus keluar dari mataku.

"Gue harus pergi, maafin gue." Arya menghapus air mataku. Ia masih menatapku lekat.

"Gue dijodohin, Ra," sambungnya. 

Aku mendengarnya hanya bisa tersenyum getir. Tidak menyangka, takdir telah membuatku sakit hati seperti ini.

Aku pun menepis tangan Arya. "Pergi, Ar!"

"Ra, dengerin gue dulu." Ia mencoba menenangkanku. Tetapi, aku sama sekali tidak ingin mendengar apa pun dari mulutnya. Sudah cukup,  aku sadar. Selama ini memang hanya aku yang terlalu berharap. 

"Aku pengin sendiri," jawabku pelan. Tetapi, Arya sama sekali belum beranjak pergi. Ia masih menatapku lekat, tergambar jelas di sana ada kesedihan. Namun, aku tidak ingin menjadi pelakor yang dengan berani merusak hubungan orang lain. Lagi pula, Arya dijodohkan sudah menjadi keputusan keluarganya. Aku tidak boleh ikut campur.

"Sekali lagi maafin gue, Ra. Semoga lo bisa dapetin yang lebih baik dari gue." Ia mengatakan itu tulus. Aku hanya bisa diam. Air mataku sudah mengalir deras bercampur dengan air hujan yang menguyur tubuhnya. 

"Gue pamit." Itulah kata terakhir yang Arya katakan sebelum ia pergi meninggalkanku sendirian.

Lagi-lagi aku tersenyum getir, mencoba memahami situasi yang aku rasakan sekarang. Aku membalikan badan, melihat di sana. Berharap senja menampakkan diri untuk menghiburku. Namun, sepertinya senja ikut meninggalkanku seperti yang lelaki itu lakukan.

Yang aku lihat sekarang hanya awan hitam, menandakan kegelapan akan segera datang. Hujan masih setia turun, seakan ikut menangis, ikut bersedih dengan apa yang aku alami sekarang.

Haru mulai petang, aku masih di sini. Aku menatap kosong ke depan. Mulai saat ini aku membenci senja dan segala kenangannya.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani