Profil instastories

Aku Disini

Aku Disini

Sebelum kalian membaca cerita ini, aku sangat menganjurkan kalian membaca cerita sebelumnya yang aku tulis, judulnya “Pergilah”. Kenapa harus baca cerita sebelumnya? Karena cerita yang satu ini berkaitan dengan cerita tersebut, oke selamat membaca ....Ini link cerita sebelumnya yah,  

https://instastori.com/pergilah-534 (dicopy atau cari aja di instastori kategori cerpen remaja, kalau ngga bisa di klik).

 

"Bel, kamu ngga papa?"

Aku masih bingung, kepalaku berat dan,

"Kamu kok bisa sampai ketiduran di kelas sih Bel? Lihat, kamu bahkan sampai nangis. Mimpi apa?" Mas Bagus mengusap air mata yang masih tersisa dipipiku. Begitu lega karena itu hanya mimpi, tapi rasanya sangat nyata bahkan rasa sedih itu masih menyesakkan dadaku.

"Minum dulu" kini dia menyodorkan air mineral, kuteguk pelan. 

"Gimana? Udah mendingan?" dia nampak khawatir, sedari tadi aku hanya diam, aku mengangguk pelan.

"Tadi aku udah nunggu di perpus, handphone mu mati ya? Aku tanya ke Salsa, kata dia kamu tidur di kelas dan ngga mau bangun. Jadi aku kesini, eh kamu malah lagi sesenggukan nangis" jelasnya.

"Mas" aku ragu menanyakannya.

"Iya, Bel"

"Kamu ngga akan pergi, kan?" wajahnya tampak kaget,  dan tertawa setelah itu.

"Hahahaha jadi kamu tadi habis mimpiin mas gingsulmu ini yah?" godanya.

Sungguh menyebalkan melihatnya menang jika aku jawab iya. 

"Apaan sih, udah lah aku mau pulang" beranjak dan membereskan buku, cover bukuku basah, berarti benar aku baru saja menangis.

"Aku antar yah" tawarnya.

***

Aku masih tak menyangka bisa mimpi seperti itu. Selera sarapanku juga hilang, diperburuk lagu sejak mengantarku dia tak menghubungiku sama sekali. Handphoneku berdering,

From Mas Gingsul : hari ini free ngga?

Bela : Free, kenapa ya, Mas?

From Mas Gingsul : Mama mau bikin rainbow cake, katanya kamu mau belajar waktu itu. Aku jemput.

Bela : siapppp

Senangnya, bakal ketemu sama Mamanya Mas Bagus lagi, terakhir tiga bulan lalu. Sebagai anak rantauan, aku jadi bisa melepas rindu ke Ibu dengan bertemu Mamanya Mas Bagus. Namanya Mama Ami. Akupun memanggilnya mama, beliau yang meminta.

"Bela" aku disambut dengan pelukan hangat saat memasuki rumah khas dengan arsitektur Jawa itu. Terbuat dari dinding kayu berwarna coklat mengkilap dengan ukiran menghiasi dindingnya. Dua wayang kulit berjajar salingsaling berh di dinding ruang tamu, kata Mama Ami itu wayang Rama dan Sinta. Aku pernah mendengar kisah cinta mereka.

"Mama kangen banget sama Bela"

"Bela juga Mam" beliau merangkulku menuju dapurnya.

"Ehm!" Mama dan aku menoleh bersamaan mendengar suara Mas Bagus yang  terdengar sangat dibuat-buat itu. Kami pun tersenyum bersamaan.

"Bagus beli makan ikan saja sana" perintah Mama Ami sambil melanjutkan langkahnya ke dapur. 

"Yahhh Mama, kok tadi ngga sekalian sih" dia nampak kesal. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang manyun-manyun.

Mama dan aku menyiapkan bahan-bahan dan peralatan untuk membuat kue. Mama Ami mengajariku dengan senyum yang selalu merekah di bibirnya, aku yakin sekali senyuman Mas Gingsul ku itu karena dia anak Mama Ami.

"Akhirnya selesai juga yah Bel, tinggal nunggu sekarang"

"Iya Mam, aku beresin dulu yah"

"Oke, Mama mau ke kamar mandi dulu"  aku mengangguk.

"Udah selesai beres-beresnya, Bel?" Mama Ami muncul dari balik pintu dapur.

"Udah Mam"

Aku menghampirinya yang kini duduk di kursi tempat makan. 

"Bel, tadi malam Bagus cerita sama Mama" 

"Cerita apa Mam?" Apakah tentang aku? ah PD sekali aku ini.

"Tentang kamu, Bel" aku kaget, apa yang diceritakan sama Mas Bagus yah?

"Dia cerita katanya kemarin sore dia lihat kamu tidur sambil nangis. Dia sedih lihatnya, tapi dia ngga tau apa yang ada didalam mimpi kamu. Kamu katanya ngga cerita. Dia kepikiran dan akhirnya minta Mama buat ngehibur kamu dengan buat Kue bareng. Ada apa Bel, kamu bisa cerita sama Mama"

Rasa sedih itu muncul lagi, aku sampai tak sadar menitihkan air mata lagi. Mama Ami mendekatiku dan memelukku. Aku menceritakan mimpiku pada Mama Ami.

"Sudah Bel, itu kan cuma mimpi yah. Jangan di pikirin lagi. Bagus ngga akan pergi kok." Kini Mama Ami mengusap air mataku. 

"Rasanya sangat nyata Mam" 

"Sudah sayang. Misal nenek minta Bagus ke Ambon pun ngga bakalan Mama ijinin, mending nenek yang pindah saja kesini" hibur Mama Ami.

"Assalamualaikum" suara Mas Bagus.

Aku segera mengusap air mataku, dan pergi ke kamar mandi.

"Wa'alaikumussalam, anak lanang udah balik" 

"Bela mana Mam?"

"Ke kamar mandi" sambil mengeluarkan kue yang sudah matang dari oven.

***

Matahari sudah mulai condong ke barat, akupun berpamitan untuk pulang.

"Bela" panggil Mas Bagus saat aku turun dari motornya.

"Iya"

"Yang kamu mimpiin kemarin" dia menatapku, tak melanjutkan perkataannya. Aku hanya menebak, mungkin Mama Ami sudah cerita ke Mas Bagus.

"Aku akan berusaha itu ngga akan jadi kenyataan, aku akan membujuk nenek pindah kesini seperti yang dikatakan Mama ke kamu" perkataannya sangat tegas dan berusaha meyakinkanku. 

"Maksudmu, Mas?"

"Mimpi kamu tentang nenekku bener Bel"

Aku menutup mulutku tak menyangka semuanya benar, kini mataku mulai panas karena air mata yang kutahan.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani