Profil instastories

Aku bukan bayanganmu

Jika ucapan bisa dihentikan tulisan juga bisa dihapus dan taat adalah kewajiban namun salah jika kita hanya ingin dimengerti dan disayangi. Salahkan sebuah merpati ingin mengepakkan sayapnya terbang tinggi. Bahaya memeng selalu ada tapi haruskah terkurung selamanya. 

 

Aku tak mengerti bagaimana caranya aku menyampaikannya. Sebenarnya disini aku yang salah atau mereka aku tak ingin selamanya jadi bayang-bayang ayahku. Jika ayahku melakukan kesalahan apakah aku juga akan melakukan kesalahan yang sama ? siapa yang ingin mengulangi kesalahan yang sama tuk kedua kalinya. Tak ada tentunya. Aku menyayangi mereka, aku juga ingin mereka bahagia. Mana ada anak yang tak ingin membahagiakan orang tuanya. Namun aku tak bisa selamanya terjebak dalam keadaan seperti ini. Aku sudah dewasa, aku juga ingin tumbuh dan berkembang. Membatasi pergaulan itu wajar tapi melarangku kumpul dengan teman-temanku buknkh berlebihan, lagi pula ibukku juga tahu siapa mereka. Bagaimana aku bisa dekat dengan ibukku jika selalu ada jarak diantara kita. Aku selalu ingin dekat dengannya tapi mengapa emosinya selalu memisahkan kita. Ketakutannya selalu menjadi dinding diantara kita. Wajar bukan jika seseorang menyukai suatu hal, salahkan jika ingin menekuninya, apakah jika ku menekuni hal yang ku suka aku juga akan melakukan kesalahan yang sma seperti ayahku. Aku sudah tinggal dengan ibukku selama bertahun-tahun apakah kurang untuk mengerti dan bisa memahmiku. untuk apa sekolah tinggi, kecukupan,  kalau hati kita tak pernah bahagia. Ku pernah bertanya-tanya apakah ku bukan anknya, ibu yang mengndung kita yang melahirkan menaruhkan nyawanya, merawat kita mengorbankan apapun untuk anaknya. Bukankah ikatan antara anak dan ibu sangat kuat, lalu mengapa ia tak bisa memahamiku. Tak adakah perasaan sedikit saja untuknya mengerti tentang aku. Apa yang ku suka, apa yang membuatku sedih, apakah aku bahagia diperlakukan seperti itu. Aku terkadang berpikir mungkin aku yang salah aku yang egois. Terkadang aku mengeluh pada Nya kenapa aku diuji seperti ini,  jika ku katakana aku takut dikira durhaka. Aku tak pernah ingin jadi anak durhaka, tapi tak bisa membohongi hatiku hatiku sakit. Kenapa aku tak diambil saja daripada aku membuat banyak dosa, dan durhaka pada orang tuaku bukankah lebih baik aku dipanggilnya, agar aku hisa menemui nenekku disana, ia pasti akan mengerti tentangku agarku bisa mendengar nasehat-nasehatnya lagi.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani