Profil instastories

Aku Berubah

Aku Berubah

"Lihat saja nanti jangan 'kau minta lagi bantuanku, di suruh tak mau kerjaanmu asik main hp saja, bla bla bla" tak berhenti makhluk itu mengoceh, dan setelah melihat ocehannya tak di dengar makhluk itu berlalu dari pandanganku. Terdengar jelas bahwa sebuah barang telah di bantingnya dengan keras, untung kali ini dia tak memukuliku seperti dahulu yang sering di lakukannya, makhluk itu adalah kakak angkatku. Aku hidup sebagai anak tanpa orangtua, orangtuaku telah pergi entah kemana. Kini aku di angkat adik olehnya, di dalam keluarga hanya ada 3 orang aku, kakak angkatku, dan saudaraku yang katanya sedang bekerja di luar kota untuk mencari penghasilan. Kakak angkatku bernasib tragis karena orangtuanya telah wafat karena kecelakaan. Kini kak ria bekerja sebagai sekretaris di sebuah bank, dan aku laksana pembantu di rumahnya.

Apa salahku untuk semua ini, katanya dia menyayangiku namun apa buktinya. Hidupku bagaikan tinggal di penjara, tanpa pernah di kasih keluar olehnya walau hanya sekedar bermain bersama teman-temanku. Bangun pagi aku langsung membereskan pekerjaan rumah, memasak, mencuci baju, dan pekerjaan lainnya. Sementara kak ria bangun pagi, mandi, sarapan dan langsung pergi kerja pulang sore. Ingin ku sesekali memanjakan mata, namun tak pernah ku raih. Aku sabar hidup seperti itu sejak umurku 12 tahun, dan jika aku tak mematuhi ada perintahnya buku sekolahku jadi taruhan untuk di bakarnya atau di buang, memukuliku dengan kayu, memarahiku habis-habisan. Aku yang sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu, tak juga bisa menyembunyikan air mata yang mengalir walau sejenak.

Mainanku hanyalah imajinasiku, aku berhasil meraih prestasi karena tekanan dari kak ria. Terkadang aku memberontak bahkan pernah kabur dari rumah namun ketahuan dengannya, ada yang aneh dalam diriku tak pernah sekalipun aku berbicara menjelaskan bahwa aku tak ingin hidup seperti ini kepadanya. Aku bahkan pernah ingin gantung diri, namun karena pelajaran agama yang ku tekuni kuat dan aku yakin ada Allah yang menolongku maka tak pernah sekalipun aku melakukannya hal itu hanya ada di dalam pikiran.

Sebenarnya hidupku enak, tinggal di rumah bak istana makanan lengkap dan semua yang ku mau di turutinya 'yang selalu ku pinta darinya hanyalah buku novel', Sekolah di fasilitasi dan lainnya. Namun siapa yang butuh itu semua, kala hati tak juga menemukan kasih sayang. Kini umurku telah 18 tahun, aku di kuliahkan olehnya di kampus yang terletak di kampung kami juga. Dan perlakuannya tetap sama hanya saja dia tak memukuliku lagi, namun sebagai tambahannya bebanku kini bertambah karena kak ria telah bersuami. Aku tinggal bersama mereka, dan kehidupanku juga selalu seperti itu. Aku merasa berdosa tinggal di rumah kak ria karena aku tak punya waktu untuk memakai kaus kaki, manset tangan, anaan jilbab dan itu agak susah jika aku harus cuci piring, menyapu dan lainnya apalagi kini aku harus selalu menutup kepala di rumah karena ada sosok lelaki yang bukan muhrim yaitu suami kak ria, aku berharap agar aku punya uang dan bisa tinggal di kost untuk lebih menutup diri dari dosa.

Akhirnya saudaraku kembali dan menetap di rumah sewa. Langsung saja ku paksa kak ria untuk memperbolehkan aku pulang dan dengan segala bla bla bla darinya akhirnya aku di izinkan pulang. Akhirnya aku bisa melepas semuanya walau hanya sesaat. Kak ria adalah sosok sejati, tak ada hari tanpa mengganggu hidupku. Beliau setiap hari datang ke rumahku dan memberi perintah untukku, ya karena rumah sewa saudaraku dekat dengan rumahnya. Pertama-tama aku mau di suruh, melihatnya yang selalu santai entah dapat keberanian dari mana aku lalu tak lagi menuruti perintahnya. Sampai 3 hari berlalu dan kak ria mengadukanku kepada saudaraku, saudaraku menasehatiku namun apa yang terjadi padaku? Aku memberontak. Aku kerjakan kewajibanku di rumah kak ria seperti berberes rumah, masak, mencuci baju, mencuci piring, jemur kain dan menggosok baju namun untuk perintah lainnya seperti tiba-tiba dia ingin aku memasak mie di luar jadwalku maka aku tak menurutinya, banyak sekali perintah darinya dan yang bikin hatiku tambah sakit sifat menggosipnya tak pernah berubah selalu membicarakan kejelekanku kepada tetangga walaupun tetangga itu adalah teman dekatnya.

Sampai akhirnya karena muak dengan sikapku, kak ria tak pernah mau berbicara lagi kepadaku. Ya kini aku puas, setidaknya kali ini aku bisa merasakan main hp dan melanjutkan hobi menulisku, hobiku yang sangat di benci kak ria katanya hobiku itu mubazir lebih baik aku belajar tentang kuliah itu lebih bagus, bagaimana cara aku memahami perkuliahan sementara aku tak suka dengan jurusannya. Aku muak dengan semua ini, kini aku memang sedikit merasa bebas darinya namun beberapa bulan lagi saudaraku akan pergi kembali untuk bekerja dan alhasil aku akan kembali ke rumah kak ria, karena saudaraku menitipkanku padanya. Aku bingung, aku takut kekerasan, aku takut kehilangan, aku tak tahu harus berbuat apa, apakah jalan memenggal nyawa adalah jalannya astagfirullah maafkan hamba ya Allah. Kini tak ada lagi air mata yang menetes, aku merasa bebas dan bisa beristirahat dengan tenang namun adakalanya aku merasa sangat ketakutan akan apa yang akan di lakukan kak ria kemudian. Ya Allah tolong hamba, kini ku sendiri meratapi nasib seorang diri. Seseorang tolong daku, apakah engkau tega melihat orang sepertiku mati dengan perlakuannya. Aku hadir sekarang sebagai orang tak punya perasaan, imajinasiku mengalir terus, aku harus kuat dengan semua ini namun aku butuh teman untuk menggengam tanganku dan menghapus air mataku. Maafkan aku, tolong daku. Azizah

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani