Profil instastories

AKIBAT DURHAKA

 

"Bapak sudah bilang dari awal jangan berhubungan dengan lelaki itu ini akibatnya kamu melawan Bapak."

Air mata ku luluh sesak di ulu hati, inikah akibatnya melawan orangtua.

Kak Dika lelaki yang bejad yang membuatku begini. Bodohnya aku termakan omongannya.

Disekolah Kak Dika, dia terkenal playboy, parasnya yang tampan membuat perempuan mudah ia dapatkan apalagi dia orang berada. Orang tuanya salah satu donatur di kampus ini.

"Jangan terlalu dekat dengannya, kau tahu dia itu playboy hampir seluruh cewek di kampus ini sudah ia sakiti," kata Nita ketika kami di kantin.

"Gak Nit, Kak Dika Sudah berubah, sekarang dia mencintaiku, hanya aku!"

"Polos sekali kamu Ra, aku peringatkan sekali lagi tolong jauhi dia."

Nita sahabatku, awal kami masuk kuliah dia sempat mengatakan menyukai Kak Dika.
Apa mungkin ini sebabnya dia selalu melarang ku berhubungan dengan Kak Dika?

***

[Ra, nanti malam kita makan di tempat biasa, nanti aku jemput] Sebuah pesan masuk dari Kak Dika.

[Gimana ya Kak, takut Bapak gak izinin.
Apalagi minggu depan kita ujian nasional, aku harus belajar dari sekarang]

Sebenarnya ingin pergi tapi takut Bapak nggak izinin kaya minggu lalu.

Tak ada pesan lagi ini, pasti Kak Dika marah.
kirim pesan lagi bahwa aku setuju. Biar nanti kupikirkan alasan apa yang harus kuberikan pada Bapak.

"Pak, Rara ada tugas kelompok sama Nita boleh pergi ya Pak?"

"Masa ngerjain tugas malam gini, jangan bohong sama Bapak!'

"Tidak Pak kalau gak percaya tanya sama Nita."

Terlihat bapak mengeluarkan ponselnya mengetik sesuatu mungkin mengirim pesan ke  Nita. Senyumku mengembang ketika Bapak mengatakan boleh.

***

"Ayo naik," ajaknya.

Aku terpana dengan penampilan Kak Dika malam ini, memakai kemeja kotak-kotak dengan celana jeans warna cream, wajahnya terlihat lebih fress, mungkin dengan model potongan rambut baru.

"Kok bengong aja? ayo sayang nanti kemalaman."

"Eh, ia."

Kami pun berangkat canda tawa menghiasi perjalanan kali ini.

"Kak, aku bohong ke Bapak."

"Bohong apa?"

"Ya, untuk ini aku bilang aku ada tugas sama Nita."

"Terus Bapak kamu percaya gitu aja?"

"Engga lah, emang sekarang aku ada tugas sama Nita tapi udah selesai tinggal di print aja." Kak Dika hanya tertawa dengan penjelasanku.

Sebentar, ini bukan jalan ke restoran seharusnya tadi belok kiri tapi ini lurus.

"Kak, kita mau kemana restoran udah kelewat?"

"Kita gak ke restoran."

" Terus?" kataku heran.

Tak ada jawaban, jalanan lumayan sepi hanya beberapa kendaraan berlalu lalang. Hatiku merasa ada yang tidak beres.

Kami sampai disebuah rumah bercat putih kulihat samping kanan kiri tak ada rumah, jalan raya lumayan jauh. Hanya ada gubuk di sebelah sana.

"Ayo masuk," ajaknya.

Aku diam tak bergeming. "Gak usah takut kan bareng aku."

Kami pun masuk ke dalam rumah itu.

"Duduk dulu ya Ra, aku buatin minum."

Aku hanya mengangguk, rumahnya luas pemilihan furnicernya pun sesuai tapi sayang tak ada tetangga yang bisa diajak bicara.

Setelah beberapa menit kak Dika datang dengan nampan berisi jus jeruk kesukaanku.

"Minum dulu," ucapnya.

Ku ambil gelas yang ia sodorkan.  Jus jeruk tandas ku minum, tapi setelah itu kepalaku serasa berat. Rumah terasa berputar setelah itu gelap.

***
Sinar sang sang Surya menerobos menembus celah pentilasi. Ku buka mata, kepalaku masih terasa berat, aku terlonjat kaget dengan posisiku sekarang. Aku berada di kamar!

Kamar siapa ini? kulihat disampingku terlihat kak Dika masih tertidur pulas. Apa yang terjadi! Aku baru sadar tak ada sehelai benang pun di tubuhku.

Tidak!

***

Beberapa hari ini aku sering pusing isi perut rasanya minta keluar. Setelah kejadian itu kak Dika tak terlihat entah kemana dia sudah kucoba menghubunginya tapi nomornya tidak aktif kucoba bertanya kepada teman-teman nya meraka pun sama.

Seharusnya Minggu lalu jadwalku datang bulan
Tak biasanya seperti ini. Jangan-jangan.

"Tidak!"

"Kamu kenapa Ra?"

"Eh gak Nit aku pulang dulu."

Setelah kejadian malam itu Bapak semakin melarang ku untuk pergi malam walaupun itu dengan Nita.

Aku tak memberi tahu Bapak, apa yang telah terjadi malam itu. Aku tak sanggup untuk mengungkapkannya.

Demi menghilangkan rasa penasaranku, aku pergi ke apotik untuk membeli alat ... ah sudahlah.

Setelah membeli test pack aku segera pulang untuk mengecek apa yang terjadi dengan badanku ini.

Duniaku serasa hancur setelah melihat dua garis itu, pupus sudah cita-citaku apa yang harus aku perbuat, Kak Dika pergi entah kemana, sekarang aku harus bagaimana? Aku tak mungkin memberi tahu Bapak soal kehamilan ku ini.

Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga. Mungkin sebulan atau dua bulan tidak akan ketahuan tapi bagaimana seterusnya.

Apa aku harus jujur. Ku kuatkan hati untuk jujur.

Marah sudah pasti, namun harus bagaimana lagi. Aku hanya bisa meminta maaf, tangisku pecah ketika Bapak ingin aku menggugurkan kandungan ini.

"Pak Rara dijebak, tolong maafkan Rara Pak.
Hanya kata maaf yang terlontar di bibirku, haruskan aku menggugurkannya sedangkan banyak diluaran sana yang menginginkan anak.

Sekarang aku yang harus menanggungnya sendiri. Kesalahan yang kami perbuat kini menjadi aib bagi keluargaku.

Dia orang yang ku perjuangan kini hilang bagai ditelan bumi, kutinggalkan rumah orang tua hanya untuk bersamanya tapi apa balasannya hanya kesedihan!

Hari-hari kujalani tanpa dirinya, Aku bersyukur mempunyai Bapak. Setelah kepergian Ibu tak pernah sekalipun berpikir untuk mencari pergantian. Walaupun usianya masih terbilang muda. Aku pernah meminta, tapi Bapak bilang.

"Hidup cuman sekali jatuh cinta hanya sekali dan menikah pun hanya sekali."

Aku sungguh durhaka melawan kepada orang tua. Sudah berulang kali Bapak memperingati tapi aku tak pernah sekali menanggapi. Kini
Janin di rahimku buktinya.

End

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani