Profil instastories

Akhir dari Sebuah Penantian

Betapa nikmatnya merebahkan diri di atas kasur yang empuk, menghilangkan sedikit penat setelah seharian bekerja. 

Tlinggg .... 

Tiba-tiba saja ada suara dari ponsel yang berada di atas nakas, kutegakkan tubuh ini dengan segera meraih benda pipih itu kemudian menyalakannya. Melihat ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. 

Siapa? Batinku menatap lekat layar ponsel yang sudah menyala itu. 

Isi pesan:

[Hay, Arsya. Aku kembali, sampai jumpa besok.]

Tanpa ada niat untuk membalas, ponsel kuletakkan kembali ke atas nakas seperti semula kemudian kembali merebahkan tubuh. Orang aneh, aku bergidik ngeri. Tunggu, aku kembali menegakkan tubuh ini. Dia tahu nomor dan namaku dari mana, ya? Aku seolah tersadar, kuraih kembali ponsel tadi kemudian membaca isi pesan dari orang aneh itu. 

Timbul ada niat untuk membalas, akhirnya kuputuskan untuk menanyakannya. 

[kamu siapa dan dari mana tahu nomor juga namaku?] 

Balasan kukirim. 

Tanpa menunggu lama, akhirnya dia membalasnya. Namun, balasan yang dia kirim membuatku kesal. Bagaimana tidak? Hanya dikasih emoticon jempol dan juga senyum. Ah, ini benar-benar gila gusarku. 

Aku benar-benar dibuat penasaran serta frustasi oleh orang misterius itu. Ah, sudahlah biarkan saja.  Tidak perlu mengurusi orang gila bisa-bisa diri sendiri ikut gila plus tidak waras seruku bermonolog dengan diri sendiri. 

___________

Malam telah berganti pagi dan gelap telah berganti terang. Terdengar merdu kicauan burung di pagi hari, dinginnya embun membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur. 

Hidup sendiri jauh dari keluarga sangatlah tidak mengenakkan, tetapi itulah yang harus kutempuh. Merantau di kota orang bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, tapi harus kuterjang demi kebaikan hidupku sendiri. 

Kuraih ponsel yang berada di atas nakas, menyalakan layarnya melihat jam sudah menunjukkan pukul 05.55 WIB. Aku bukan tipe orang yang malas-malasan bukan juga tipe yang rajin, aku ada di tengah-tengah kedua kata itu. 

Segera aku bangkit kemudian berjalan ke arah jendela. Membuka satu persatu pintu yang hanya terbuat dari kayu itu, merasakan sejuknya embun dan menghirup segarnya udara pagi ini membuatku semakin bersemangat untuk memulai aktivitas. 

"Semangat Arsya, semangat!"

Aku menyemangati diriku sendiri, ya ... maklumlah tidak ada yang memberi semangat selain diri sendiri. 

Namun, seketika itu juga aku kembali mengingat sosok seorang lelaki yang belakangan ini selalu kurindukan kehadirannya. Bayangannya selalu menghantui, senyumnya selalu menyeringai di benakku. 

Arsyath Dominggo Prahardja namanya, lelaki yang selalu menemaniku sejak SMP tapi kami terpisah sejak dinyatakan resmi lulus dari SMA. Dia melanjutkan pendidikannya di Bandung, sedangkan aku harus mencari pekerjaan karena ekonomi keluarga yang tidak mendukung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Kurang lebih empat tahun kami tidak pernah berkominakasi, semuanya menghilang tanpa jejak ataupun tanda-tanda akan bertemu. 

Ketika dia berpamitan dulu, jujur ada rasa tidak rela dia meninggalkanku untuk waktu yang cukup lama dan bahkan sedikit kemungkinan dia akan kembali. Namun, aku juga tidak bisa melarangnya. Aku bukan siapa-siapa, baginya kami hanya sebatas sahabat dan tidak lebih dari itu. 

Siapa yang tidak akan menyimpan rasa, jikalau selalu bersama selama kurang lebih enam tahun lamanya? Ditambah lagi perlakuan hangat dan perhatiannya selalu kudapati dari sosok Arsyath. Lelaki ramah, humoris, dan tidak pernah kasar kepada perempuan. 

___________

Setelah selesai bersiap-siap aku langsung berangkat ke tempat kerja, yaitu ke toko bunga. Ya, aku bekerja di toko bunga yang jaraknya tidak jauh dari tempat kost-ku. Dengan menggunakan motor, aku tidak membutuhkan banyak waktu untuk sampai di depan toko. 

____________

"Pagi, Bu," ucapku sembari menyalami tangan wanita paruh baya itu dengan menebarkan senyum kepadanya. 

Bu Wati namanya, dia adalah pemilik toko bunga ini. Dia baik dan juga ramah aku merasa seperti mempunyai keluarga baru ketika bertemu dengannya. 

"Pagi juga, Sya," sahutnya membalas senyumku. 

"Arfhi, mana, Bu. Belum datang, ya?" tanyaku sambil celingak-celinguk mencari keberadaan anak itu. 

Aku tidak sendiri bekerja di sini, tetapi aku bersama Arfhi teman SMA-ku dulu.

"Belum, kamu tahu sendiri dia bagaimana orangnya," jawab Bu Wati yang masih sibuk menata bunga yang ada di depan kami. 

Seperti biasa dia selalu telat datang. Maklum saja jarak rumahnya yang cukup jauh dari toko, ditambah lagi dia tinggal bersama keluarga pamannya tentu harus melakukan aktivitas di rumahnya terlebih dahulu. 

"Kebiasaan itu anak," seruku sambil menggeleng. "Ya udah, Arsya ke dalam dulu, ya, Bu," sambungku lalu beranjak dari samping Bu Wati. 

"Iya ... kamu sudah makan belum? Itu ibu sudah bawain makanan ada di atas meja," serunya dengan suara yang sedikit dikeraskan. 

"Iya, Bu. Terima kasih," sahutku sembari meletakkan tas di atas meja. 

Ibu Wati sudah memahamiku, kalau pagi tidak serapan dari rumah. Tahu sendiri bagaimana nasib anak kost. 

___________

Seperti biasa, toko tidak terlalu ramai tidak juga sepi aku memutuskan untuk merapikan tatanan bunga-bunga yang berantakan. 

"Kuhanya diam .... Menggenggam menahan s'gala kerinduan .... Memanggil namamu, di setiap malam .... Ingin engkau datang dan hadir, dimimpiku .... Arsyath ...." Senandung sumbang aku lantunkan mengusir suasana sepi terutama sepi di hati. 

Aku terkejut, tiba-tiba ada tangan yang menutup mataku dari belakang. Kebetulan posisiku sekarang membelakangi jalan raya. 

"Si-siapa?" tanyaku heran, "Fhi, jangan bercanda deh, gak lucu tahu." Aku menebak itu ulahnya Arfhi. Namun, tidak mungkin telapak tangan Arfhi sekekar ini. Ini bukan Arfhi, lantas siapa? 

Perlahan dia menurunkan tangannya, segera aku membalikkan tubuh menghadap ke orang itu. 

Tidak, tidak mungkin. Ini mimpi? Mataku membulat sempurna setelah melihat sosok orang yang berada di hadapanku. Senyumnya menyeringai, mata cokelatnya begitu teduh dipandang. Dia kembali, cintaku kembali. 

"Arsyath ...." Tanpa aba-aba aku langsung memeluknya erat dia pun membalas pelukanku. Air mata ini turun begitu deras bersamaan dengan desiran aneh di dalam hati. Kenapa ini? 

"Ehemm ... jangan pacaran di sini, Mbak, masih ada anak kecil," seru seseorang yang tidak lain dan tidak bukan dari Arfhi. 

Ah, sial! Menganggu saja ini anak. Segera kulepaskan pelukan ini. Menatap Arsyath dan Arfhi malu, sembari mengusap bercak air mata yang ada di pipi. 

"Permisi, Mbak, Mas. Saya mau masuk dulu menemui ibu bos, takut dipecat karena telat datang," ucap Arfhi sambil cengengesan kemudian berlalu meninggalkan kami berdua. 

"Kamu kok ada di sini?" tanyaku mengakhiri kecanggungan setelah kepergian Arfhi barusan. 

"Dari Arfhi," jawabnya dengan senyum yang masih setia terukir di bibir itu. 

Aku terheran, tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan barusan. 

"Udah jangan bengong lihat orang tampan," ucapnya dengan penuh percaya diri. 

Iya, aku akui dia tampan. Selain tampan, baik, ramah, perhatian, dia juga lelaki yang tingkat percaya dirinya melebihi batas kata wajar yang bisa membuat darah naik dengan seketika. 

"Kapan kembali dari Bandung?"

"Kemarin sore," sahutnya, "aku ke rumahmu, tapi katanya kamu merantau di kota ini dan tadi pagi aku langsung berangkat ke sini," lanjutnya dengan masih menatapku. 

"Weishh ... kenapa bela-belain ke sini, kangen, ya?" tanyaku menggodanya. 

"Dih ... siapa juga," sahutnya sambil mengeluarkan lidah. 

"Ah, masa sih?" 

Tidak ada jawaban darinya, aku melihat tangannya mengambil seikat bunga mawar merah yang berada di dekat kami. 

"Nih, buat kamu. Anggap saja ini tanda persahabatan kita dan juga rasa rinduku," ucapnya sambil menyodorkan bunga itu ke hadaanku. Tanpa menunggu lama aku pun langsung menerimanya. 

Namun, entah kenapa aku merasa ada yang mengganjal di hati ketika dia mengucapkan kata 'sabahat'. Ternyata sampai sekarang dia menganggapku hanya sebatas sahabat. Miris sekali. 

Seandainya saja kamu tahu aku menganggapmu lebih dari seorang sahabat. Aku ingin hubungan kita lebih dari kata itu, tapi ... kenapa kamu tidak pernah mau tahu akan rasa ini? Kenapa kamu tidak pernah mau melihatku dengan rasa lain yang lebih dari sekadar sahabat, Syath? 

"Terima kasih," ucapku dengan memaksakan untuk tersenyum. 

"Owh iya, yang tadi malam kirim pesan ke kamu itu aku. Aku dapat nomormu dari Arfhi juga. Kebetulan aku masih menyimpan nomornya setelah aku ganti ponsel waktu itu," ujarnya, "aku ada sesuatu buat kamu, Nih." Dia menyodorkan selembar kertas dengan desain yang begitu indah. 

Aku menerimanya."Apa ini?" tanyaku sembari menatapnya kembali. 

"Baca saja, nanti kamu bakal tahu kok." serunya sambil tersenyum manis. 

Betapa terkejutnya aku setelah melihat dan membaca surat itu yang tidak lain adalah undangan pertunangan. 

"Minggu depan aku akan tunangan sama Lani namanya, kamu harus datang, ya," ucap Arsyath menatapku lekat dengan tangan kirinya memegangi bahu sebelah kananku. 

Kabar macam apa ini? Tidak, aku tidak boleh menangis di depannya. Ya Tuhan inikah akhir dari penantianku selama ini? Setiap malam selalu berdoa memintanya untuk kembali, kini dia kembali tetapi bukan untukku lagi. Aku menutup hati untuk tidak menerima orang baru demi dia, kenapa begini Ya Tuhan? Kenapa?! 

Aku bertengkar dengan diriku sendiri, betapa bodohnya aku berharap kepada seseorang yang sama sekali tidak pernah mau melihatku. 

"Sya ...," panggilnya dengan masih menatapku. 

"Hah? Iya, selamat, ya. Kamu sudah menemukan jodohmu," ucapku dengan senyum yang sangat terpaksa menahan air mata agar tidak turun. Dia membalas dengan senyum yang begitu tulus. 

"Ya udah, aku pamit. Aku tunggu kedatanganmu, semangat kerjanya," ucapnya menyemangati kemudian berlalu pergi meninggalkanku. 

Hatiku sakit, aku tidak sanggup menerima kenyataan ini. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Ini bukan yang aku mau Tuhan, bukan ini. 

Aku tersungkur dengan air mata yang begitu deras turun membasahi pipi ini, tidak peduli dengan pandangan aneh dari orang. Kutatap lekat undangan yang ada di tangan dengan rasa tidak percaya, kemudian mengalihkan pandangan pada setangkai bunga yang dia kasih barusan membuat tangisku kian menjadi-jadi. 

Terima kasih, Syath, untuk kejutannya hari ini. Aku berterima kasih juga kepada Tuhan, karena telah mengabulkan doaku untukmu kembali. Aku yakin rencana-Nya indah untuk kita, semoga kamu bahagia bersama pilihan hatimu. Aku menyayangimu Arsyath Dominggo Prahardja, lelaki yang selalu kunantikan kedatangannya. Namun, kini kembalimu bukan untuk menjadikan kita satu melainkan menggores luka atas penantianku, Arsya Lorensia Zhebua.

 

_Tamat_

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.