Profil instastories

menulislah sebelum ditulis orang lain.

Ajari Aku Istiqomah

 

AJARI AKU ISTIQOMAH

Alika, apa kamu yakin dengan keputusan kamu setelah ini?”

“Yakin, Aleta! Mungkin dengan ini aku bisa buat orang-orang disekitarku berubah.”

Sebuah perbincangan di sela-sela jam istirahat sekolah. Alika dan Aleta sudah terbilang sebagai seorang public students favorit di sekolah. Setiap kali perlombaan apapun baik di bidang formal maupun non formal mereka selalu mengikutinya dan selalu mendapat kemenangan. Memang tidak pernah ia sangka, semenjak Alika kecil sudah terlihat aktif dibidang apapun. Sehingga, kedua orang tuanya mengarahkan ke tempat yang sesuai dengan kemampuan Alika. Mulai dari mengikuti bimbingan belajar matematika hingga bahasa Inggris, mulai dari mengikuti bimbingan belajar seni (musik, lukis, dan tari) hingga olahraga. Kedua orang tua Alika sangat berharap lebih pada Alika untuk bisa jadi anak kebanggaan orang tuanya. Dan itu sudah dibuktikan oleh Alika melalui berbagai prestasi Alika semenjak kecil yang duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah hingga Sekolah Menengah Pertama Negeri di lingkungan rumah Alika.

Sama halnya dengan Alika, Aleta pun juga teman sekaligus seperti saudara kandung Alika. Aleta yang sejak kecil sudah seperjuangan dengan Alika. Dimana ada tempat bimbingan belajar dan perlombaan apapun disitu ada Alika dan juga Aleta. Keduanya tidak bisa dipisahkan kemanapun berada selalu ada keduanya. Hingga banyak guru yang menganggap Alika dan Aleta adalah saudara kandung. Dari namanya sudah hampir sama hanya berbeda di ka dengan ta.

Tetapi, semenjak Alika berusia 15 tahun atau tepatnya ketika dia duduk di bangku kelas 3 Sekolah menengah pertama hubungan kedua orang tuanya sudah mulai merenggang. Keduanya mengambisikan yang berbeda jalur. Ayahnya berharap bisa masuk di pesantren tetapi Ibunya menginginkan dirinya mengambil beasiswa di sekolah internasional High School terkenal di Jakarta.

“Alika, kamu ambil di Jakarta saja. Biar masih ada yang ngawasi kamunya disana. Ada papa kamu.?” Pinta Mama Alika.

“Tapi, Ma! Aku ingin mandiri. Alika sudah punya pilihan sekolah sendiri. Pilihan Alika.”

“Apa kamu tidak menyesal tidak jadi mengambil beasiswa itu. Pikirkan Alika. Banyak orang yang berharap dan menginginkan sekolah di sana. Seandaianya kamu tidak dapat beasiswa, Mama tidak akan bisa menyekolahkan kamu disana. Apa kamu tidak kecewa melepas beasiswa itu. Tanggal 16 Maret besok kamu sudah tes di Jakarta. Untuk memilih jurusan yang kamu minati.” Ujar Mama Alika.

“Tapi Ma! Mama sudah bilang ke Papa kamu untuk jaga kamu selama kamu disana. Pilihan aku dengan Papa sama Ma..! Aku ingin masuk Pesantren di Malang. Papa juga berharap Alika bisa di pesantren. Ma !” ujar Alika dengan penuh kekesalan di wajahnya.

“Sudah Alika kali ini, papa kamu setuju dengan mama. Ya, kan Pa?” tanya mama.

Papa yang hanya duduk terdiam melihat percecokan anaknya dengan mamanya. Papa memanglah pendiam orangnya. Beliau tidak pernah menunjukkan ketidaksetujuannya ataupun ketidak sepakatannya dengan perihal kami. Namun, diamnya papa membuat diri Alika menjadi lebih tahu. “Jikalau ada orang marah janganlah ditimpali dengan kemarahan.” Kata-kata papa itulah yang dari dulu sampai sekarang selalu Alika ingat. Bagaimana tidak, ketika mama marah papa dengan sigap terdiam tanpa sepatah kata pun.  

“Sudah Alika, semua memang butuh di coba. Siapa tahu kan! Kamu sudah berusaha. Nanti giliran kamu berdoa minta petunjuk pada Allah apa yang menurut Allah ingsyallah itu yang benar. Bukan begitu, Ma?” pinta papa pada Alika.

“papa, kenapa sekarang jadi belain mama? Ya sudah ok, kalau itu mau mama sama papa. Alika akan coba turuti kemauan kalian.” Jawab Alika.

Percecokan siang itu akhirnya berakhir dengan mengalahnya Alika yang tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga akhirnya tiba di tanggal dimana ia harus melaksanakan tes kejuruan di sekolah International High School di Jakarta. Sekolah pilihan mamanya. Memang benar adanya, banyak anak yang ingin bisa masuk di sekolah ini. Namun, kendala dengan biayanya yang sangat mahal.

International High School Jakarta. Begitulah Alika menyebutnya. Bangunannya bagus, terlihat rapi dan hijau. Layaknya seperti sekolah yang ada di luar. Terlihat dari luar beberapa mobil terpakir rapi di tempat parkiran. Mulai dari mobil Alphard hingga X-Pander. Dan jarang juga orang yang berdatangan dengan menggunakan motor. Di setiap sudut ruangan yang tidak begitu Alika fahami, ada banyak tempat buku dengan pemandangan tamanya yang begitu mewah. Di sebelah kanan sekolah terdapat 3 kolam renang yang begitu besar. Dan masih banyak lagi pemandangan yang tidak begitu bisa di diskripsikan.

Apa yang dikatakan oleh Mama Alika memang terbukti benar. Banyak orang yang menginginkan sekolah disana namun, tidak bisa tersampaikan. Karena biaya yang kurang memadai. Andai memang benar Alika sekolah disini. Pasti jadi salah satu siswa paling beruntung. Beasiswa yang bisa membuat Alika bisa sekolah di sekolah internasional di Jakarta.  

“Ngapain bengong Alika, kamu berubah pikiran kah?”

Pertanyaan mama membuat Alika tersadarkan dari lamunannya. Alika hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan mama. Memang agak sedikit berubah pikiran Alika. Namun, Alika mampu mengakhiri penghayalanya beberapa menit lalu. Kalaupun memang Allah menakdirkan Alika sekolah disini, Alika sudah siap.

“Alika, benar kata mama. Kamu berubah pikiran?” tanya papa pada Alika.

“Sebenarnya Alika bukan berubah pikiran, Pa. Hanya saja perut Alika tidak bisa dikondisikan. Alika boleh ke kamar mandi dulu?” jawab Alika dengan membela dirinya agar tidak terlihat benar-benar berubah pikiran.

Alika pun bertanya pada salah seorang satpam yang sedang berdiri mengatur arah masuknya mobil di tempat parkir mobil. Dengan terkejutnya satpam tersebut menjawab dengan bahasa Inggris. So, hati Allika tersontak. Jadi, sekolah ini tidak hanya benar-benar dalam sistem pembelajaran yang berbahasa Inggris tetapi, juga mewajibkan seluruh warga sekolah untuk berbicara dengan bahasa asing itu. Alika pun menuju ke arah kamar mandi yang di tunjukkan oleh satpam tersebut.

“Assalamualaikum! Apa benar ini kamar mandi untuk perempuan?”

“wa alaikumsalam! Kamu anak baru yah? Iya ini kamar mandi untuk perempuan. Lain kali kalau bicara pakai full english yah!”

“Sorry I don’t know.” Jawab Alika pada segerombolan anak perempuan yang dianggap seperti kakak kelas.

Alika pun masuk ke kamar mandi. Tanpa tersadar ia mendengar keributan di luar kamar mandinya.

“Kamu bisa tidak di sini sekolah bukan sekolah kaleng-kaleng yang pakai bahasa Indonesia. Ini itu sekolah Internasional jadi kamu harus pakai full english.” Ucap suara perempuan yang Alika tidak mengenali bahasanya.

Alika berfikir suara itu paling suara gerombolan perempuan yang ia temui ketika masuk di kamar mandi.

“Memangnya kamu bisa pakai full english. Paling-paling kamu hanya bisa I, you, yes, no. Ah, sudahlah jangan halangi jalan saya. Saya mau masuk.” Ucap suara seorang perempuan yang Alika duga adalah pihak terdesak.

Alika pun berniat menolong perempuan yang terdesak saat keluar. Namun, ia tak berkuasa karena dirinya sendiri bukan banyak orang. Alika hanya mendengarkan dari balik pintu kamar mandinya. Ia pun meninggalkan kamar mandi itu. Namun, terdengarlah teriakan minta tolong. Alika tanpa berfikir panjang mencari sumber teriakan itu dan akhirnya ia pun berhasil menolong perempuan.

“Makasih, yah! Sudah mau menolong saya.”

“Sama-sama.”

“Kenalkan, saya Amira. Nama lo siapa?”

“Saya Alika. Saya baru disini.”

“Sudah, kamu jangan takut sama saya. Memang saya seperti ini orangnya. Suka makan permen karet, kalau bicara pun juga asal bicara. Tapi, santai aja saya ngak bakal jahat sama siapa saja yang tidak jahat dan jahil pada saya.”

Alika pun hanya tersenyum simpul. Ia tidak membalas sepata katapun dari Amira. Dirinya terkejut melihat tingkah laku Amira yang suka ngomong ceplas-ceplos. Amira pun terlihat friendly banget dan care pada teman.

“Alika, pasti kamu berfikir dan merasa terkejut melihat sosok saya yang seperti ini. Saya memang adanya seperti ini. Saya juga sama halnya dengan kamu, masih siswa baru yang 2 hari kedepan ini mengikuti tes disini. Saya liat kamu bukan perempuan sembarangan. Kamu pasti beasiswa, yah?” tanya Amira pada Alika.

“Kamu kog tahu, Amira! Ya saya masuk disini karena beasiswa. O, iya saya duluan. Saya sudah di tunggu sama orang tua saya di depan gerbang.” Jawab Alika. “Assalamualaikum.”

“Wa alaikumsalam.”

Alika pun meninggalkan Amira. Tanpa disadari oleh Alika, ternyata Amira melihat arah perginya Alika ke Ibunya. Alika pun menceritakan kejadiannya ketika di kamar mandi tadi.

“Jadi, Alika berubah pikiran kah?” tanya mama mendesak.

“Mama, Alika tidak tahu. Apa berubah pikiran atau tidak. Yang terpenting Alika jalani dulu 2 hari kedepan ini. Alika akan berdoa berserah diri Alika pada Allah. Dan Alika akan siap dengan keputusan apapun dari Allah.

 

  

 

 

 

   

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani