Profil instastories

ADI DAN RA

Sebenarnya perempuan itu
sudah bangun semenjak azan subuh berkumandang tapi tidak ada pergerakan darinya untuk beranjak, malas untuk mandi terlalu pagi akhirnya Ia hanya memainkan hand phonenya sambil tiduran mengecek beberapa akun media sosialnya.
Tidak ada pesan ataupun panggilan masuk membuatnya terkadang bingung apa yang membuat benda pipih ini tidak pernah lepas dari jangkawan tangan teman-temannya.

Tepat pukul enam pagi barulah Rara mandi bersiap-siap untuk sekolah.

"Rara...."Suara melengking nyaring itu bergema di persimpangan Gang

"Ra, tungguin dong" Sifa sahabatnya saat SD itu berlarian menyusul

"Ra, tungguin Gue cape tau. Gue lari dari rumah sampe sini" Dengan napas yang tersegal

"Kenapa juga Lo lari-lari?"

"Gue lupa kalau masa Orentasi udah kelar. Tadi pagi Gue malah pake atribut sialan itu lagi" seolah mengutuk dirinya sendiri

"Lo masih pengen jadi bonekanya Kakak-kakak kece kan? Udah ngaku aja?" Sambil menyenggol-nyenggol bahu Sifa menggoda

"Apaansih, Gue mah setia ama Zaki"

"Alah, kemaren aja Lo gencar banget ngedeketin Ketua osis"

Drtttt.... Drrttt...

Getar hand phone Sifa menghentikan langkah perempuan itu.

"Lo kenapa berhenti gak mau sekolah?" Tanya Ra menengok Sifa yang tertinggal beberapa langkah darinya.

"Gue suruh nungguin Zaki dulu,"

Ra mendengus kesal mencium gelagat akan jadi kambing congean lagi membuatnya jengah.

"Gue duluan, ntar Lo minta anter Zaki Ke sekolah. Gue males liatin orang pacaran"

"Cari pacar makannya Bu,"

Ra buru-buru melengos berjalan secepat yang Ia bisa sudah hapal betul bagaimana percakapan itu bila diteruskan ini bukan pembasan pertama mengenai pacaran.

Ra bukan tidak ingin punya pacar hanya saja standar orang yang Dira suka itu terlalu berat. Ganteng, pinter, soleh, suka organisasi, bisa main gitar pokoknya berptestasi good boy banget.

Perempuan itu berjan sembari melamun, meratapi nasib yang kurang memihak padanya.
Seandainya tiga bulan lalu Dia berhasil mengikuti Tes masuk SMAN 1 mungkin Ia tidak akan terjebak di sekolah terpencil seperti ini. Sekolah yang setengahnya berisi anak-anak nakal, sungguh menyebalkan.

Langkahnya seketika terhenti. Baru sadar banyak para siswa berlarian berbalik arah dari sekolah padahal jarak sekolah 500 meter lagi didepan. Rasa penasaran membuatnya terus berlalu mecari benyebab siswa-siswa berhamburan.

Dengan susah payah Ra menelan salivanya. Kini didepannya segerombol siswa berseragam berbeda sedang berlari mengarah kearahnya. Mereka membawa senjata yang dapat di tangkap matanya ada pemukul bas ball, Celurit, Gir motor dan tebaran batu seolah berjatuhan dari langit. Otaknnya tak cukup sadar dengan apa yang terjadi bahwa dirinya dalam kondisi bahaya, Tertegum mematung tidak tau harus melakukan apa.

Tiba-tiba saat air matanya siap meleleh tangannya di tarik oleh seseorang. "Lari...." Hanya satu kata itu yang mampu Ia mengerti.

Seseorang itu terus memandu berlari secepat mungkin dengan terus menggenggam lengannya.

"Belok kesini"
Mereka memasuki sebuah gang kecil ada gubuk warung tak terpakai disana.

"Lo masuk, ngumpet Disana. Gue jaga disini!"

Ra tidak menjawab sudah dari tadi ia menangis sesegukan mengikuti apa saja yang di katakan lelaki ini pasrah.

Lelaki itu menempelkan jari telunjuk dimulutnya memberi isyarat agar diam.

Suara ricuh di luar gubuk mereda orang-orang yang mengejar Mereka telah pergi.

"Mereka udah pergi tapi pasti masih berkeliaran di sekitar sini jadi jangan keluar dulu"

"Gue takut!" Suaranya serak masih terisak.

"Udah jangan nangis pasti selamet," Katanya yakin sambil membenarkan anak rambut Ra yang berantakan menelusupkannya kebalik telinga.

"Eeh Lo anak baru ya?" lelaki itu tersadar takpernah melihat wajahnya di sekolah

"X Ap"

"Lo pada kenapasih pada tawuran bisa membahayakan nyawa. Gak nyelesain masalah nambah masalah iya!"

"Kalau Mereka gak mulai duluan Kita juga gak mau ribut-ribut kaya gini, orang kaya Lo mah gak bakal ngerti deh"
Wajah-wajah polos seperti ini memang hanya punya pikiran lurus saja laki-laki itu tau benar seperti cara berpikir adik perempuannya, itu juga yang membuatnya langsung menarik perempuan dihadapannya ini, Ia teringat adik perempuannya yang hanya terpaut satu tahun darinya.

"Gue yang gak ngerti cara berpikir orang-orang kaya Lo, sok jagoan" Rara paling benci sesuatu yang menyimpang, Dia benci anak-anak nakal seperti lelaki dihadapannya ini.

"Lo harusnya bilang makasih ama Gue, bukan malah marah-marah"

"Makasih?, semua ini tuh gara-gara Lo bawa-bawa gue segala"

"Lo bisa mati kalau tadi Gue gak narik lo"

"Siapa yang tau Gue bakal di keroyok Mereka. Mereka itu nyari orang kaya Lo bukan Gue"

Detik itu Adi berdecak kesal menyesal tak membiarkan saja perempuan ini. Senyap tidak ada pembicaran sama sekali, Mereka sibuk dengan hand phonenya masing-masing untung mengalihkan perhatian satu sama lain.

Sesekali Ra melirik laki-laki dihadapannya itu ada beberapa lebam dan luka Di wajah dan lengannya. Perasaan iba mucul mencuat tanpa bisa Ia kendalikan.

"Lo kenapa gelisah amat kaya cacing kepanasan?"

Ra mengambil napas panjang lalu membuangnya sambil Menggeram prustasi, Mengambil sesuatu dari tas ranselnya.

"Lo gak kesurupankan?" Adi bertanya ragu-ragu. Was-was dengan kelakukan perempuan di hadapannya yang sedikit aneh.

Ra tidak mempedulikan pertanyaan Adi iya sibuk merogoh sesuatu Di dalam tas. Ia mengeluarkan beberapa benda yaitu sebotol air mineral, tisu basah, tisu kering dan tas kecil semacam tempat pensil.

"Sinih di obatin"

Mata Adi membelalak takjub saat Ra mengeluarkan isi tas kecilnya peralatan P3K yang cukup lengkap dari mulai minyak kayu putih, bitadin, alkohol, kain kasa, kapas, balsem, hansaplas, obat-obat dan ada juga beberapa benda yang Adi tidak tau namanya.

"Lo udah kaya rumah sakit berjalan" ucap Adi seraya menggeser tempatnya duduk agar lebih dekat dengan Ra

Pertama Ra membersihkan luka itu dengan tisu basah, lalu memberikannya sedikit alkohol khusus untuk luka di pipi yang cukup parah setelah itu di beri bitadin dan di tutup dengan perban. Sungguh Ia tidak peduli saat laki-laki itu berteriak marah karna menahan sakit.

"Lo tega banget. Sakit tau!" Ringis Adi

"Jangan lebay, emang harusnya kaya gitu kalau gak gitu nanti bisa inpeksi kalau gak ditangani dengan bener"

Walau dengan ragu-ragu kali ini Adi berkata dengan tulus.
"Makasih ...." Matanya mencari name tage yang biasanya berada diseragam kanan tapi tidak menemukannya membuatnya menyernyitkan dahinya

"Ra, panggil saja Ra!" Ucap Ra paham akan ke bingungan Adi

"Makasih Ra" Adi mengulang ucapan terimakasihnya.

Kali ini giliran Ra yang mengangkat alisnya bingung menuntut penjelasan. Karna tak menemukan name tage di seragam lelaiki itu jangankan nama logo sekolah dan logo osis saja tidak ada

"Gue Adi!"

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani