Profil instastories

sugiyatno senang dengan dunia puisi

adat istiadat Rasulan di Gunungkidul

adat istiadat Rasulan di Gunungkidul

 

Rasulan  atau Bersih Dusun

 

           Suatu tradisi atau ritual tahunan yang sudah lama diselenggarakan oleh masyarakat Kabupaten Gungkidul, salah satunya desa Keruk Banjarharjo Kecamatan Tanjungsari. Rasulan bagi masyarakat keruk dan sekitarnya ini merupakan suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh para petani setelah masa panan tiba. Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas segala nikmat dan karunia yang diberikan kepada semua warga serta untuk menghormati Dewi Sri atau Dwi padi dan dhanyang (roh halus) penunggu tempat tempat keramat.

            Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, disetiap dusun mempunyai suatu tempat khusus yang diyakini sebagai tempat persemayaman dhanyang. Tempat tempat tersebut biasanya berupa pohon resan (seperti pohon beringin, ipik, randu alas dan sebagainya). Atau watu dukun (watu akik). Untuk itulah, warga dusun membuat tumpengan dan sesajen untuk dipersembahkan kepada kepada dhanyang sebagai penolak bala sehingga mereka tidak mengganggu warga.

            Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang masyarakat keruk bahkan hampir disemua propinsi Gunung Kidul dan sudah berlangsung sejak lama. Tradisi yang diselenggarakan setahun sekali ini biasanya berlangsung beberapa hari dengan diawali kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan di sekitar dusun seperti memperbaiki jalan, membuat atau mengecat pagar pekarangan, membersihkan makam dan tempat persemayaman dhanyang. Karena itu, tradisi Rasulan ini biasa juga disebut dengan istilah merti deso atau bersih dusun.

            Dewasa ini, tradisi Rasulan menjadi semakin marak dengan berbagai rangkaian kegiatan olah raga dan pertunjukan seni budaya. Kegiatan di siang hari biasanya diisi dengan pertandingan sepak bola dan voli. Khusus untuk pertandingan voli, terkadang dilaksanakan pada sore hari. Dalam kegiatan olah raga ini, pihak penyelenggara Rasulan mengundang warga dari dusun lain untuk mengadakan pertandingan persahabatan. Sementara itu kegiatan di malam hari biasanya diisi pertunjukan seni budaya seperti kethoprak, wayang kulit, campur sari, atau tayuban. Pada hari puncak acara, biasanya juga diadakan pertunjukan seni seperti reog, jathilan, dan kirab mengelilingi dusun.

            Hingga kini, masyarakat Gunungkidul setiap tahun melaksanakan tradisi Rasulan ini dalam rangka menjaga dan melestarikan nilai nilai positif yang terkandung didalamnya. Rasulan meniko saged narik kalangan wasatawan luar daerah lan mancanegara.hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang datang dan menyaksikan atraksi kesenian lokal yang ditampilkan dalam rasulan ini.

 

Keistimewaan rasulan

 

            Banyak nilai positif yang diperoleh dari pelaksanaan tradisi rasulan ini. Khususnya bagi masyarakat setempat, tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal yang harus dilestarikan.selain sebagai sarana untuk memupuk semangat kekeluargaan,tradisi ini juga menjadi wadah untuk melestarikan kesenian gunung kidul. Sementara bagi masyarakat asing ini menjadi tontonan menarik. Rasulan ini menjadi salah satu sarana untuk mengetahui dan mengenal kesenian dan kebudayaan masayakat keruk dan pada umumnya masyarakat gunungkidul.

             Pada siang hari saat hari rasulan masyarakat bisanya mengadakan kirab mengelilingi dusun dengan membawa gunungan dan diiringi dengan jathilan, dramben, atau segerombol pemuda yang mengenakan kostum yang menarik seperti prajurit kraton, petani, guru, satpam, polisi bahkan dokter semuanya lengkap dengan peralatannya. Dan pada malamnya dilanjutkan dengan hiburan wayang atau ketoprak.

 

Lokasi

 

            Rasulan ini hampir dilaksanakan didusun-dusun  yang ada di kabupaten Gunungkidul, DIY, Indonesia. Waktu pelaksanaanya berbeda beda, tergantung masyarakat setempat dan kesepatan masyarakat setempat.

 

 

Sugiyatno

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.