Ada di Garuda di Dadaku, Bagaimana Kans Pencipta Apuse Dapat Royalti?

Trending 1 week ago 11
ARTICLE AD BOX

Instastori

Rabu, 21 Sep 2022 19:35 WIB

Bagikan :  

Garuda di Dadaku dipakai untuk film dan yel-yel, pihak keluarga tetap berhak berikhtiar mendaftarkan nama Korinus Mandosir sebagai pencipta sah lagu Apuse. Garuda di Dadaku dipakai untuk film dan yel-yel, pihak keluarga tetap berhak berikhtiar mendaftarkan nama Korinus Mandosir sebagai pencipta sah lagu Apuse. (Foto: Arsip Istimewa)

Jakarta, Instastori Indonesia --

Nama mendiang Korinus Mandosir Sarumi baru diketahui sebagai pencipta orisinil lagu Apuse baru-baru ini usai meninggal pada Rabu (14/9) lalu. Kiprahnya selama ini tak banyak dikenal publik.

Pasalnya, nama pencipta lagu asal Papua itu tak terdaftar secara sah sebagai pencipta lagu Apuse dalam catatan Lembaga Manajemen Kolektif mana pun di Indonesia.

Selama ini pencipta lagu Apuse tercatat sebagai N/N alias nomen nescio yang bermakna "tidak diketahui". Kondisi itu berarti tak ada pihak yang mengklaim sebagai pemilik Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang sah.

Karena itu, penggunaan nada lagu Apuse yang ikonis marak digunakan untuk banyak kepentingan publik. Salah satu yang paling terkenal ialah penggunaan nada untuk lagu Garuda di Dadaku yang dipopulerkan oleh band Netral (kini NTRL).

Nada lagu itu juga dikenal sebagai lagu soundtrack untuk film berjudul sama. Selain itu, nada lagu Apuse juga menginspirasi sejumlah suporter tim, khususnya sepak bola, untuk membikin yel-yel terhadap klub dukungannya masing-masing.

Hal-hal itu yang mendasari NTRL untuk menggunakan nada lagu Apuse sebagai aransemen dasar lagu Garuda di Dadaku.

Ketika dihubungi CNNIndonesia.com, pihak NTRL mengakui bahwa lagu Garuda di Dadaku merupakan hasil gubahan Direktur Persija Jakarta Ferry Paulus.

"Sejarahnya, lagu ini diciptakan untuk keperluan OST Garuda di Dadaku yang bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk Persija," ungkap perwakilan manajemen NTRL.

"Pencipta Apuse sendiri N/N, berdasarkan data di WAMI dan lembaga-lembaga hukum hak cipta lainnya. Jadi itu digubah oleh Mas Ferry Persija, dan kami mengikuti versi beliau. Jadi itu didasarkan dari yel-yel Persija," lanjutnya.

Pernyataan NTRL telah dikonfirmasi oleh pihak WAMI selaku salah satu Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang menjembatani royalti dari hak cipta lagu di Indonesia.

"Tidak terdata, di WAMI sudah dicari. Berarti sang komposer tak mendaftarkan diri atau lagunya, bagus di publishing ataupun di LMK," terang perwakilan WAMI ketika dihubungi secara terpisah oleh CNNIndonesia.com beberapa saat lalu.

Menanggapi hal itu, Henry Soelistyo Budi selaku Ketua Program Studi Doktor Hukum UPH dan Pakar Hak Cipta menyatakan bahwa pihak keluarga Korinus Mandosir berhak melanjutkan upaya pendaftaran nama mendiang sebagai pencipta sah untuk lagu terkait.

Langkah awal yang dapat diupayakan oleh pihak keluarga Korinus ialah dengan mendaftarkan lagu tersebut ke dalam catatan milik LMK. Sehingga, royalti atas penggunaan dasar lagu Apuse tersebut juga berhak diklaim oleh pakar warisnya.

Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 56 Pasal 15 Ayat 3 soal Hak Cipta. Peraturan itu memberikan ruang bagi pencipta lagu untuk mengklaim royalti atas karya yang sudah dipergunakan untuk tujuan komersial.

Untuk itu, menurut Henry, pihak keluarga pencipta lagu Apuse berhak untuk memperoleh hak atas nada yang telah digunakan NTRL dalam lagu Garuda di Dadaku.