Profil instastories

Ada dan Tiada

Hari ini aku dimarahi ayah, karena aku mengatakan, bahwa perilaku ibu tiriku seperti orang aneh ketika ayah sedang tidak ada di rumah. Aku sedikit merasa kesal, karena ayah tidak mempercayaiku, dan seperti biasanya, saat seperti ini tujuanku adalah loteng, semenjak ibu dan adikku mati secara tiba-tiba. Hanya di tempat ini suara kejujuranku, keluh kesah, kekesalan, bahkan kesenanganku seperti didengar lebih tepatnya memang didengar. Apa kalian tahu siapa yang mendengarkan celotehanku? Dinding. Ya, mungkin kalian tidak akan percaya jika aku mengatakan ada makhluk lain di balik atau ... di dalam dinding itu, karena begitupun aku, sama sekali tidak percaya, meskipun aku memang selalu mendengar respon dari dinding-dinding loteng di sini. Aku anggap suara itu hanya halusinasi, karena aku terlalu banyak asupan cerita horor begitupun creepypasta, tapi apa boleh buat, itu sudah menjadi canduku semenjak kehilangan. Namun, kali ini, kekesalanku tidak ada yang merespon. Lihatlah! Sudah kukatakan ini benar-benar halusinasi.

“Rian ....!” ayah memanggilku, sepertinya dia belum puas memarahiku, dan sebaiknya aku segera menghampiri ayah sebelum ibu tiriku menjelek-jelekkanku di depan ayah.

“Iya, Yah. Ada apa?” aku segera menemuinya dan bertanya dengan nada sedikit malas. Aku masih kesal.

“Begini, besok ayah akan pergi ke luar kota, ayah ada urusan bisnis. Tidak akan lama, cuman 3 hari.” Ujarnya, sekarang dia akan meninggalkan aku bersama ibu tiriku selama 3 hari. Oh, sungguh kabar yang buruk, aku tidak akan tahan melihat tingkah laku anehnya.

“Iya.” Memang sebaiknya aku iya-kan saja, daripada harus terkena lagi omelan dari ayah.

“Ya sudah, sekarang kamu tidur, sudah larut malam. Dan yah, Sayang, kamu jaga rumah, dan tolong jaga Rian.”

“Iya, Mas.”

“Sekarang Rian ke kamar dulu, Yah, Bu. Selamat malam.” Pamitku pada mereka yang langsung pergi menuju ke kamar yang bertemakan dark. Kali ini aku merebahkan tubuhku di kasur empuk yang hanya cukup untuk satu orang saja, kemudian aku memulai ritualku sebelum tidur, yaitu membaca cerita horor. Kemarin aku hanya sempat membaca setengahnya, dan sekarang aku ingin menamatkannya, ceritanya sangat menarik, mengenai pembunuhan berantai yang korbannya menjadi arwah penasaran. Karena memang aku sangat lelah hari ini, jadi sangat begitu cepat mengantuk, sehingga aku hanya bisa membaca sekitar seperempatnya saja. Pagi pun tiba, dan yah ... aku harus tahan mengahadapi apa yang akan terjadi nanti setelah ayah pergi ke luar kota. Sekarang, kita bertiga sedang sarapan bersama di meja makan, dan di sana aku sedikit mencuri-curi pandangan kepada ibu tiriku. Tidak kusangka, keanehannya juga terjadi di depan ayah, tapi kenapa ayah tidak menyadarinya? Ibu tiriku, dia memakan roti berselai stroberi, mungkin itu tidak terlihat aneh. Namun, saat dia memakannya, diam-diam dia masukkan daging mentah yang warnanya sangat merah ke rotinya. Menjijikkan sekali, aku merasa heran, dari mana dia mendapatkan daging mentah itu? Padahal aku tahu sendiri, di meja makan tidak ada menu ‘aneh’, bahkan di dapur hanya ada ikan salmon saja, tidak ada jenis daging yang lainnya, apalagi sejenis daging menjijikan itu. Daging itu datang secara tiba-tiba. Sungguh menggelikan. Aku hendak memberi tahu ayah, tapi aku tahu, dia tidak akan menerima dengan apa yang aku katakan, ah sudahlah. Sarapan yang diisi hening pun selesai, sekarang tiba saatnya waktuku dimulai, hanya berdua saja dengan ibu tiriku. Aku harap tidak akan terjadi masalah. Setelah ayahku pergi, aku langsung pergi ke kamarku dan menghiraukan ucapan ibu tiriku yang sempat menanyakan kabarku.Sekarang, kegiatanku adalah berdiam diri di kamar dan membaca creepy pasta, sebenernya aku sangat ingin mengetahui apa saja yang dilakukan oleh ibu tiriku, tapi ... biarkan saja, lebih baik aku dengan kegiatanku dan dia dengan kegiatannya. Baru saja 2 jam berlalu, sudah terdengar bising peralatan dapur, entah apa yang dia lakukan, mengganggu saja. Lama-kelamaan, suara itu semakin tidak karuan, sepertinya aku harus memeriksanya, mau tidak mau aku segera keluar kamar dan menuju dapur. Saat menuju dapur, aku malah tertarik dengan pintu kamar ayah dan istrinya yang sedikit terbuka, aku sedikit penasaran, karena semenjak ibu tiriku datang aku dilarang ayah masuk ke sana. Kemudian aku mengintip dan melihat ibu tiriku sedang tertidur pulas. Jika dia sedang tidur, jadi siapa yang membuat suara bising tadi di dapur? Tikus? Sudah sejak lama aku tinggal di sini, dan aku sama sekali tidak pernah melihat tikus, bahkan di loteng ataspun sepertinya tidak. Brukk, gembreng .... Suara itu terdengar kembali, dan lihat, ibu masih tertidur pulas di sini. Ibu tiriku membuat pergerakan, sehingga aku segera menutup pintu dan ... melanjutkan jalanku ke dapur, meski sekarang aku sedikit takut, tapi rasa penasaranku lebih besar, jadi kuputuskan untuk mencari tahu siapa yang membuat bising itu. Aku tiba di dapur, dan ternyata tidak ada siapa-siapa, bahkan barang yang jatuh pun tidak ada, semuanya terlihat rapih. Kecuali ... ada kejanggalan dengan kulkas di hadapanku ini, kenapa ada bercak darah di gagang pintunya? Aku mencoba mencari tahu, dengan membuka pintu kulkas, sebelumnya aku harus cari kain terlebih dahulu, supaya tanganku ‘tak terkontaminasi dengan darah itu. Perlahan demi perlahan aku mencoba membukanya, tiba-tiba ....

“Rian, sedang apa kamu di sini? Kamu butuh sesuatu?” ibu tiriku datang, huh ... aku segera menutup kulkas yang baru terbuka sedikit.

“Emm ... tidak, bu-bukan apa-apa.” Jawabku tergagap.

“Lalu, kenapa wajahmu tegang seperti itu?” tanyanya lagi.

“Begini, ada darah di gagang pintu kulkas, jadi aku mencoba mencari tahu apa yang ada di dalamnya.” Ujarku, di sini aku sedikit merasa ada aura aneh, seakan seisi dapur penuh dengan hawa dingin.

“Ohh ... itu, tadi Bi Emin baru motong ayam, mungkin masih ada darahnya, terus dia lupa cuci tangan saat menaruh daging ayam di kulkas.” Jelasnya. Apa? Bi Emin? Sungguh, dia benar-benar aneh dan mencurigakan.

“Oh, ya sudah, kalau begitu aku kembali lagi ke kamar.” Memang sepertinya aku harus segera pergi dari tempat ini, perasaanku tidak enak.

“Jangan lupa, kalau perlu apa-apa bilang sama ibu.”

“Iya.” Balasku singkat, dan mengambil langkah terburu-buru menuju kamar. Seharian aku berdiam diri di kamar, sampai aku tidak menyadari sekarang sudah malam dan aku lapar. Kuputuskan pergi ke dapur, dan membawa beberapa makanan yang dapat mengenyangkan perutku, meskipun masih teringat tentang kejadian tadi. Tapi untungnya, tidak ada masalah dan noda darah di kulkas juga sudah bersih, yang sekarang terpikir hanya satu. Bi Emin. Lebih baik aku menyegerakan diri untuk memakan makanan ini, dan tidak lupa mengunci pintu kamar, karena dia suka mengangguku malam-malam ketika melihat pintuku belum dikunci. Tidak lama kemudian, listrik padam, semuanya gelap dan aku sedikit terkejut. Untung saja hp-ku masih ada sisa baterai sekitar 30%, jadi masih bisa digunakan sebagai penaranganku. Hanya saja ... sekarang perasaanku tidak enak lagi. Rasanya suhu di ruanganku juga mulai sejuk. Brukk.... Terdengar suara benda jatuh di luar, sehingga seperti biasanya, aku penasaran dan mencoba mencari tahu. Apa itu ibu tiriku? Kita lihat saja nanti. Benar-benar gelap, hingga aku menggunakan penerangan dari hp.

“Bu ... Ibu, apa itu Ibu?” aku sedang memastikan apakah orang yang berdiri di depan dapur itu adalah ibu tiriku. Namun, dia tidak menjawab, hanya berdiam diri. Aku mendekatinya, dan rasanya bulu kundukku berdiri, hawa yang aneh. Baru saja aku akan menepuk pundaknya, tiba-tiba listrik kembali menyala dan ‘ibu’ menghilang. Apa ini halusinasi? Kurasa tidak, tadi memang benar ada seseorang yang berdiri di sini. Aku segera kembali menuju kamar, tapi ... terdengar suara yang memanggil-manggil namaku.

Rian ... Rian ... Rian ...

Suaranya sangat halus, sehingga membuatku merinding. Aku mencoba untuk menghiraukan, tapi ... ada suara lain yang membuatku sangat terkejut.

RIAN ... I KNOW YOU CAN HEAR ME.

Suara kali ini sangat menyeramkan, dan kata-kata itu adalah yang sering diucapkan oleh Bi Emin. Pembantu di rumah ini, yang sekitar 3 bulan lalu ditemukan tewas dengan mengenaskan di depan dapur. Tapi sayang saat itu aku sedang di rumah nenek, jadi aku tidak tahu kejadiannya. Suara itu semakin mendekat, aku takut dan mencoba berlari menjauhi suara itu. Brukk .... Aku terjatuh, karena seperti ada yang memegang kakiku hingga aku tidak sengaja melempar ponselku. Kemudian aku mencoba berdiri, dan yah ... listrik kembali padam. Tapi ... ada cahaya di sana, bergerak-bergerak, benar-benar aneh. Aku menghampiri cahaya itu, dia semakin menjauh dan menuntunku ke suatu tempat. Loteng. Cahaya itu hilang, dan kini aku ada di loteng, di sini angin berhembus dengan kencang, bahkan entah kenapa lampu di sini sekejap mati sekejap hidup, suasana di sini semakin tidak karuan. Kuputuskan keluar dari sini, namun pintu tiba-tiba tertutup sendirinya, ditambah sekarang muncul suara-suara aneh, yang memekakkan telinga.

Rian ... I know you can hear me. Rian ... dia gila. Rian ... bunuh dia. Rian ...balas dendam, Rian ... ibumu menderita RIAAAAANNN .... Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......

Diakhiri dengan jeritan, aku tidak mengerti, apa ini? Tiba-tiba muncul asap, bahkan dinding-dinding di sini mengeluarkan darah, semua barang berjatuhan, bahkan berterbangan dan hampir mengenaiku. Kali ini aku benar-benar takut, ini bukan halusinasi, ini benar adanya, apa yang harus aku lakukan? Kemudian aku berteriak dalam tanya.

“APAA? APAA INI?” Dengan sekejap semuanya berhenti, dan muncullah bayangan hitam di mana-mana memenuhi seluruh ruangan, lalu lenyap masuk ke dalam dinding. Diakhiri dengan suara yang sayup-sayup terdengar penuh derita.

“Dengarkan kami!” dinding itu berbicara. Aku benar-benar terheran.

“Jangan takut, dengarkan kami! Ibu tirimu, dia gila. Dia pembunuh, kau tahu kenapa ibumu dan adikmu meninggal? Itu semua karena ibu tirimu. Dia benar-benar gila, sampai-sampai jasad kamipun dimakan dan menyembunyikan tulangnya di peti itu. Kami tahu kau merasa keheranan, kenapa dia aneh? Karena dia terlalu terobsesi dengan hal berbau pshycopath dan kami yang malah jadi korban. Dia adalah pasien rumah sakit jiwa, Rian. Kami ingin kau beri dia pembalasan, bahkan ibu, adik dan pembantumu juga ingin kau membalaskan kematian mereka. Bunuh dia, Rian!” Jelas suara di dinding itu.

“Tidak, tidak mungkin. Aku bukan orang seperti dia.” Mana mungkin aku harus membunuh dia, walau itu sepertinya seru, tapi aku tidak akan tega.

“Jika tidak, kau yang akan jadi korban, karena ayahmu juga sudah mati kecelakaan, dan itu perbuatan ibu tirimu.” Ujar mereka, aku sungguh tidak percaya.

“Tidaaakk ....” resahku. Kini hening, tidak ada lagi suara dari balik dinding, tiba-tiba ... pintu loteng dibuka oleh seseorang. Ibu Tiriku. Dia masuk kemudian menutupnya kembali, dia menatapku dengan senyum jahatnya, dan tidak ... dia membawa sebilah pisau.

“Kali ini kau selanjutnya, karena kau sudah tahu mengenai diriku. Dasar hantu sialan! Mereka tidak bisa menjaga rahasia. Apa tidak lelah mereka menggangguku.” Ujarnya, aku merasa takut dan mencoba mencari alat untuk melawannya, namun tanpa aba-aba dia segera mendekatiku dan ....

“Aaaaaaa ....” pisau itu menerobos kulit perutku, hingga banyak darah mengalir di sana, ibu tiriku senyum kemenangan, dia benar-benar gila. Dan kemudian dia mencabut kembali pisau itu, lalu menancapkan kembali tepat ke dadaku dan mengenai jantungku. Kini aku sama seperti ‘mereka’ yang berada di balik dinding itu. Aku ada, bisa di samping kalian, di atas, di belakang, di mana-mana, tapi tiada.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Vina Soviana - Apr 23, 2020, 1:16 PM - Add Reply

T

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani