Profil instastories

Abdiku Untuk Desaku

  Sudah sebelas tahun aku mengabdikan diri menjadi dokter. Jujur selama itu aku rindu emak dan bapak di kampung halaman. Terakhir aku kesana saat sepupuku nikahan, Itupun hanya sebentar. Lagipula aku juga rindu kehidupan di desa. Aku sudah cukup jengah hidup di tengah hiruk pikuk keramaian ibu kota. Aku benar - benar butuh sebuah ketenangan. Tetapi, kalau aku mengambil cuti, aku kasihan kepada pasien - pasienku. Aku memang bukan dokter yang sangat terkenal di kota ini. Akan tetapi, aku cukup terkenal di rumah sakit ini karena kesabaranku dalam menagani pasien.

  Sayangnya, semakin ku tunda - tunda rasa rindu kampung halaman. Perasaan ini pun semakin menjadi - jadi. Akhirnya, setelah kupikirkan matang - matang, sudah ku putuskan aku akan mengambil cuti untuk pulang ke kampung halaman. Setelah berkonsultasi dengan pemilik rumah sakit ini, akhirnya aku mendapat cuti. Memang awalnya cukup sulit, karena pada bulan ini pasienku cukup banyak. Tetapi setelah aku memberikan beberapa alasan dan sedikit bujuk rayuan, akhirnya aku mendapatkan izin cuti tersebut. 

  Setelah mengurus beberapa surat dan keperluan cutiku. Akhirnya aku dibebas tugaskan dari pekerjaan ku sebagai dokter. Pada awal cutiku aku mulai mengurus keperluanku untuk pulang kampung. Pertama, aku mulai memilih beberapa baju yang akan ku bawa nanti. Kedua, aku menentukan kendaraan yang akan ku gunakan kesana. Setelah lama berfikir, akhirnya aku memilih menyewa sopir beserta jasa sopirnya sekalian. Aku pun pergi ke tempat penyewaan mobil yang sering aku gunakan jasanya. Setelah lama bernego dan menentukan kapan aku akan menggunakan mobil tersebut dengan pemilik tempat tersebut yang sudah sangat kenal dengan ku, aku pun pamit untuk undur diri. Sesampainya di rumah, aku segera merebahkan diri di atas kasur kesyangan ku untuk mengistirahatkan sejenak pikiranku. Besok adalah hari yang melelahkan dan akan menguras tenagaku.

***

  Aku menatap takjub deretan sawah yang ada di kiri kanan setiap jalan yang ku lewati. Setelah menghabiskan setengah hari perjalanan, pemandangan ini cukup mampu mencuci mataku dari rasa penat perjalanan menuju kampung halamanku. Ku buka sedikit jendela mobil ini, hembusan angin pedesaan pun menyapaku berbaur dengan aroma tanah yang membawaku pada nostalgia masa - masa dulu. Aku jadi teringat masa SD dulu. Setiap pulang sekolah aku dan teman - temanku selalu pergi ke sawah untuk mencari keong yang selalu menjadi hama di tanaman padi milik petani. Tak peduli seragam yang kami pakai kotor karena lumpur, kami dengan  semangat mulai mengumpulkan satu per satu keong tersebut. Setelah itu, kami mencuci keong - keong tersebut dan membakarnya seperti sate. Sayangnya setelah pulang dari acara memasak keong, kami pasti akan mendapat omelan dari orang tua masing - masing karena seragam kami yang kotor oleh lumpur. Tanpa sadar kedua sudut bibirku terangkat saat mengingat kenakalan ku dulu yang selalu membuat emak dan bapak naik pitam.

  Tiba - tiba sebuah suara meyadarkanku dari lamunan ku. Saat kulihat asal suara tersebut, ternyata sopir yang mengantarku kesini yang memanggilku.

"Kita sudah sampai, Mbak", katanya sambil memberikan sebuah senyuman. 

  Aku pun mengangguk dan turun dari mobil untuk mengambil koperku yang ada di belakang garasi mobil. Sang sopir, kalau tidak namanya Pak Karman itu juga turut ikut turun dari mobil dan membantuku mengeluarkan koper ku yang ada di dalam garasi. Meski usia Pak Karman sudah cukup tua, tetapi tenaganya ku acungi jempol karena ia berhasil mengangkat kopernya yang bobotnya cukup berat. Setelah selesai mengeluarkan koper dari garasi aku memberikan beberapa lembar uang kepada Pak Karman.

"Nggak sekalian saya bantu bawa ke rumah Mbak?", tanyanya. Sambil menerima uang yang aku berikan kepadanya.

"Nggak perlu Pak, bapak pulang saja. Nanti kalau saya sudah mau pulang saya akan menghubungi bapak", jawabku sambil memberikan sebuah senyuman.

"Iya Mbak"

"Kalah begitu saya permisi dulu ya,  Pak. Sekali lagi saya ucapakan terima kasih karena mau mengantarkan saya"

"Iya mbak, sama - sama. Hati - hati di jalan", balasnya. Lalu, ia memasuki mobil dan menjalan mobil itu hingga meninggalkan ku pergi. 

  Setelah itu, aku mulai berjalan menuju jalan sempit yang ada di depanku untuk menuju rumah lama ku. Perjalananku cukup terganggu karena jalanan yang cukup becek sehabis hujan. Sehingga membuatku harus mengangkat koper yang beratnya gak ketulungan ini jika ada genangan air. Sedikit lagi, di dekat tikungan sana rumah ku dulu. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan menguras tenaga ini, akhirnya aku sampai juga di depan teras rumah emak dan bapak. 

  Kulihat rumah ini tidak banyak berubah sejak terakhir kunjunganku dulu. Yang berubah hanyalah warna cat tembok yang mulai pudar karena termakan usia. Mungkin bapak tidak punya banyak waktu karena waktunya ia gunakan untuk pergi ke sawah. Aku mengambil nafas dalam - dalam dan menghembuskanya secara perlahan. Akupun mulai mengetuk pintu rumah tersebut.

"Assalamualaikum...", tak ada jawaban. Kucoba lagi dengan suara yang agak keras.

"Assalamualaiku...", masih tak ada balasan. Jika sekali lagi kucoba tetap tak ada balasan maka aku akan pergi ke rumah Bik Ning saja, Bik Ning itu bibiku yang tinggal di dekat rumahku.

"Assalamualaikum...", sudahlah tetap tidak ada jawaban. Mungkin emak dan bapak sedang keluar. Kalau begitu aku akan pergi ke rumahnya Bik Ning saja. Aku pun mulai membalikkan badan. Akan tetapi, sebuah sahutan dari dalam menghentikan niatku untuk meninggalkan rumah ini.

"Waalaikumasalam...", sebuah sahutan dari dalam dan disusul dengan suara kenop pintu, membuatku berbalik arah menuju asal suara tersebut.

"Silahkan masuk, maaf lama. Orangnya sedan...", kalimat emak menggantung di udara begitu saja saat melihatku berdiri di depannya.

"Pak..bapak. Anak kita pulang Pak!", teriaknya sambil berlari dan memeluk tubuhku. Tubuhnya bergetar dalam pelukku dan aku bisa merasakan ada yang basah di pundak kiriku.

"Mak, jangan bergurau mana mungkin anak kita sudah pulang. Ini kan hari libur", suara bapak dari dalam. 

  Aku mendengar suara derap kaki yang semakin lama semaki jelas menuju kesini. Mata bapak melotot seperti mau keluar ketika melihat aku berdiri di ambang pintu sambil dipeluk emak yang sedang menangis sepertinya.

"Kapan kamu pulang, nak?", tanya bapak sambil menuju ke arahku. Ia juga ikut memelukku dengan mata yang mulai berkaca - kaca.

"Baru sampai Pak", balasku. Tanpa sadar air mataku meleh. Semua rasa rindu ini sudah terbayar ketika aku mendapatkan sebuah pelukan dari emak dan bapak.

    Sudah berapa lama aku tidak mendapat kehangatan seperti ini. Dulu saat aku tinggal di Jakarta, aku sangat jarang berkomunikasi dengan emak dan bapak. Kalaupun ada waktu untuk pulang ataupun menelepon rumah, tupun hanya sebentar. Berbeda dengan sekarang, meski hanya sebuah pelukan tapi semua rasa penyesalan dan rindu yang ada di dalam diriku seakan menguap begitu saja. Sangat berbeda ketika kami hanya bertatap muka lewat telepon. Sejauh manapun seorang anak melangkahkan kaki, hanya rumah orang tuanyalah tempat ia mendapatkan kasih sayang dan kehangatan.

"Sudah - sudah pelukanya, kasihan anak kita nompang berat badan kamu yang hampir satu kwintal", suara bapak membubarkan aksi peluk - pelukan kami. Lalu, emak melepas peluk - pelukan kami dengan wajah yang cemberut.

"Kalau aku berat kenapa kamu nikahin?!. Lela saja gak keberatan aku peluk", tanya emak sambil bekacak pinggang dan mata melotot.

"Dulu kamu kan cantik dan seksi. Lha sekarang kamu seperti bom atom. Tahu dulu kalau kamu udah tua sebesar ini ya nggak mungkin tak nikahi to mak", sahut bapak sambil tertawa terbahak - bahak dan berlari ke dalam rumah.

"Dasar kamu ya pak!", teriak emak. Kemudian, emak berbalik menghadap ke arahku. Aku terkekeh melihat tingkah mereka yang seperti tak mengenal usia.

"Yuk, kita masuk nak. Nanti kopernya biar bapak kamu yang bawain", ajak emak sambil menuntunku menuju ke dalam rumah.

"Pak bawain kopernya Lela ke dalam", teriak emak saat kami sampai di dalam kamar. "Kamu istirahat dulu ya La. Emak mau lanjutin masak  nanti kita makan sama - sama. Kamu pasti udah lelah?"

"Iya mak"

"Yaudah kalau gitu emak kebelakang buat lanjutin masak", kata emak lalu keluar dari kamarku dan menutup pintu.

  Aku memandangi isi kamarku yang jaga tidak banyak berubah. Kamar ini sangat bersih. Mungkin emak selalu membersihkan rumah ini meskipun aku jarang ke rumah ini. Tapi kalau diingat - ingat emak itu memang manusia yang paling cinta kebersihan. Aku jadi ingat dulu saat pulang dari mencari keong, aku selalu diam - diam saat masuk rumah taku ketahuan emak. Tapi sayangnya aku pasti tertangkap bash olehnya dan berakhir mendapat omelan yang banyak. Itupun aku masih harus mencuci seragam sekolahku, meskipun sudah sangat larut malam.

  Aku menghela napas dan mulai merebahkan diriku di kasur lamaku. Mataku terasa berat dan aku pun tertidur menuju alam mimpi.

***

  Aku merasakan sebuah tepukan di pipi kiriku. Aku terbangun dan berkedip - kedip mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke rentina mataku. Aku melihat emak berdiri di sebelah kasurku.

"La, bangun dan mandi. Kita mau makan malam", kata emak sambil menaruh sebuah handuk di meja yang ada di samping kasurku. Aku mengangguk dan berdiri sambil mengambil handuk yang emak taruh di meja dekat kasurku. Sambil berjalan sempoyongan, aku pergi menuju ke kamar mandi untuk mandi.

  Setelah selesai mandi, badanku terasa sangat segar dan tak lengket seperti tadi. Setelah berganti baju dan sedikit berdandan aku pergi menuju ke ruang makan yang merangkap dengan dapur. Di sana aku melihat ada bapak yang sedang asik menyeruput kopi sambil mendengarkan ocehan emak yang tidak jelas.

"Malam Pak, Mak", sapaku pada mereka. Kemudian, aku duduk di kursi yang ada di depan Bapak yang hanya dibatasi oleh meja. Makanan yang emak masak sudah tersaji di atas meja. Sepertinya air liurku mau menetes saat aku melihat masakan emak yang cukup menggugah selera ini.

"La, ada yang mau bapak tanyakan sama kamu", kata bapak menghentikan aksiku untuk mengambil nasi.

"Iya, pak. Ada apa?", tanyaku. Emak datang dan duduk disebelah bapak. Ia mulai menyimak pembicaraan kami.

"Kamu kesini dalam rangka apa. Maksud bapak kan, ini belum waktunya liburan".

"Aku sedang mengambil cuti pak. Beberapa hari yang lalu aku terus kepikiran sama kampung halaman. Akhirnya kuputuskan untuk pulang, untuk menuntaskan rasa rindu ini", jawabku santai.

"Oh...", jawab bapak sambil mangut - mangut. "Bapak kira ada apa. Tumben aja kamu dikasih libur. Kamu kan pernah bilang seperti apa kerjaan dokter. Selain itu, kamu juga nggak kasih kabar ke emak dan bapak yang ada di rumah. Yaudah kalau gitu kita mulai makan malam", aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataan bapak tadi.

  Kami pun memulai acara makan malam. Hanya suara dentingan antara piring dan sedok. Hal ini merupakan tradisi keluarga kami bahwa kami tidak boleh makan sambil berbicara karena itu dianggap tidak sopan. Seusai makan aku membantu emak merapikan piring di meja makan. Dan membawanya ke tempat cuci piring.

"Kamu besok acaranya apa, La?", tanya emak tiba - tiba sambil tetap mencuci piring.

"Entalhlah mak. Mungkin Lela akan jalan - jalan di sekitar sini", jawabku sambil mengelap piring yang sudah emak cuci dan menaruhnya di rak piring.

"Lela ingin lihat - lihat desa. Udah lama Lela tidak jalan - jalan di desa ini. Lela ingin kembali bernostalgia. Kalau beruntung mungkin Lela bisa bertemu sama kawan lama, Mak", lanjutku.

"Yaudah setelah ini kamu istirahat lagi. Supaya besok badan kamu fit saat dipakai jalan - jalan"

"Oke Mak", setelah itu kami pergi ke ruang televisi sambil bercerita tentanv berbagai hal yang tak pernah ku ketahui semenjak aku pergi bekerja ke ibu kota.

***

 

  Udara pagi hari di pedesaan sungguh menyejukkan berbeda sekali dengan udara di ibu kota yang selalu pengap baik pagi hari maupun malam hari. Mungkin karena di sini jarang ada yang menggunakan kendaraan bermotor maupun bensin. Ku lihat beberapa petani mulai berangkat menuju ke sawah masing - masing. Ada yang berangkat sambil mengendarai sepeda dan ada pula yang berangkat sambil berjalan kaki. Aku menjawab setiap sapaan yang diberikan kepadaku saat aku melewati jalan setapak menuju sawah. Orang - orang di sini sangat berbeda dengan orang - orang di Jakarta. Penduduk di sini sangat ramah sedangkan di Jakarta orang - orangnya sangat sombong dan lebih bersifat individualis. Aku menghela napas. Di depanku terdapat hamparan sawah yang terbentang cukup luas. Warnanya hijau dan cukup menawan. Banyak tanaman palawija dan sayuran - sayuran segar yang ditanam oleh para petani. Ada juga pohon - pohon hijau segar yang tubuh subur di tempat ini. Pemandangan ini sungguh berbeda dengan ibu kota yang hanya ditanami gedung - gedung.

  Aku pun melanjutkan perjalananku. Setiap jalan yang aku lewati, mataku tak henti - hentinya menatapi pemandangan yang ada di sebelah kiri kanan ku. Ini memang bukan pengalaman pertamaku ke desa ini. Tetapi, aku tidak akan pernah bosan melihat pemandangan desa yang masih asri ini.

  Perhatianku terhenti ke arah sebuah bangunan bercat putih yang ada di sebelah kiriku. Di sana ada sebuah tulisan ' Rumah Praktek Dokter Tia Ningsih ', tetapi tempat itu cukup kotor. Banyak tanaman liar yang tumbuh di halaman bangunan tersebut dan tembok bangunan tersebut sudah sangat berlumut. Mengapa tempat seperti dibiarkan terbengkalai begitu saja? Padahal bangunan ini masih layak untuk dipergunakan.

  Hah... sudahlah, lagipula ini juga bukan urusanku. Aku pun mulai melanjutkan acara jalan - jalanku yang tertunda.

"Laili...!!!", sebuah suara menghentikan aktivitasku. Di sana di dekat pertigaan berdiri seorang wanita yang sedang menggandeng dua anak kecil. 

"Kamu beneran Laili kan?", tanyanya berjalan mendekat ke arahku. 

'Siapa dia?', batinku. 'Bagaimana ia tahu nama asliku?'

"Kamu lupa sama aku ya Lai, aku Wati. Kita temenan sejak TK", katanya.

"Wati...", kataku sambil mengingat - ingat nama tersebut. "Ohh... Wati Ariani", kataku saat aku sudah ingat dia.

"Iya"

"Kamu sekarang kok beda", kataku sambil menjabat tanganya.

"Iya nih. Semenjak aku menikah aku jadi nggak ada kerjaan selain ngurusin anak", jelasnya.

"Kamu kapan pulang?"

"Baru kemarin"

"Oh ya. Hmm... kita duduk di sana yuk. Kamu gak ada kerja kan?", tanyanya sambil menunjuk warung kecil yang ada di pojok jalan. Aku mengangguk dan berjalan bersamanya menuju ke warung tersebut.

  Setelah memesan minuman dan makanan ringan akupun duduk di kursi yang terbuat dari anyaman bambu yang disediakan pemilik warung tersebut.

"Wat, itu anak kamu?", tanyaku sambil memperhatikan dua anak yang kuperkirakan usianya masih balita tersebut.

"Ah, iya. Ini anak aku sama Mas Romi. Yang cowok ini namanya Roni dan yang perempuan namanya Tina. Roni, Tina bilang halo sama Tante Laili", katanya sambil menunjuk satu per satu anaknya.

"Halo Tante", kata mereka kompak. Mereka benar - benar imut.

"Kamu masih ngajar di SD 2 Ambangun ya Wat", tanyaku.

"Enggak Li"

"Kenapa?" 

"Setelah nikah sama Mas Romi, ia ngelarang aku untuk kerja. Awalnya aku cukup frustasi mendengar keputusan sepihak Mas Romi. Ia bilang istri itu tugasnya mengurus suami dan anak. Tapi setelah melihat kondisiku yang tambah parah karena ulahnya. Akhirnya, Mas Romi mengizinkanku untuk mengajar tetapi syaratnya aku tidak boleh menjadi pengajar di sekolahan", jelasnya.

"Lalu sekarang kamu jadi apa kalau tidak mengajar di sekolahan?"

"Aku buka les di rumah. Lumayan lah hasilnya. Meskipun aku nggak terlalu mementingkan uangnya. Kamu tahu kan aku itu orangnya pecinta pendidikan. Jadi kalaupun ada murid yang tidak mampu aku tetap membantunya dengan kemampuan yang kupunya", jelasnya aku tersenyum mendengarnya. Hening setelah itu. Cukup canggung ku rasa karena sekian lama aku nggak bertatap muka dengannya.

"Ehm... Wat, aku mau tanya. Bangunan apa yang ada di dekat jalan yang aku lewati tadi.

"Oh... itu, bangunan itu bekas tempat prakter Dokter Tia"

"Kemana pemiliknya?"

"Dokter Tia pergi dari desa ini satu tahun yang lalu", katanya sambil menatap minumanya.

"Dulu, sebelum Dokter Tia bekerja di sini, Dadanglah yang menempati tempat praktek tesebut. Ia membangun tempat itu untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga sekitar sini. Tetapi, saat Dadang mendapat beasiswa di salah satu universitas di Amerika untuk melanjutkan study nya. Ia memberikan tempat itu kepada Dokter Tia", ia menghela napas sebentar.

"Dokter Tia itu orangnya ramah. Setelah dua tahun menggatikan Dadang ia mengudurkan diri menjadi dokter karena ia tidak berhasil menyelamatkan nyawa seorang bayi saat membantu persalinan. Ia merasa sangat terpukul dan merasa bersalah. Keluarga pasien sebenarnya sudah mengiklhaskan kepergian bayi tersebut. Akan tetapi, Dokter Tia merasa kematian bayi tersebut adalah murni kesalahanya dan semenjak itu ia memilih mengundurkan diri dari dunia kedokteran dan pergi dari desa ini. Semenjak itu pula, jika warga desa membutuhkan pengobatan, mereka harus pergi ke desa sebelah ataupun pergi ke kota. Sebenarnya kepala desa sudah mencoba mencari dokter pengganti kepada pihak daerah. Tetapi mereka selalu menolak permintaan itu karena desa ini dianggap terlalu terpencil", jelasnya.

"Li, apa kamu tidak punya motivasi untuk bekerja disini untuk sementara. Tunggulah sampai Dadang balik ke desa ini. Kamu tahu ada banyak warga sini yang meninggal dunia karena telat dibawa ke rumah sakit. Kami butuh dokter seperti kamu Li", katanya sambil menggenggam tanganku.

"Itu cukup sulit Wat"

"Aku bangga padamu Li, karena kamu berhasil menjadi dokter. Tetapi, aku cukup sakit hati saat tahu kamu memilih bekerja ke luar desa dari pada bekerja di desa ini. Seharusnya kamu ingat Li, sebelum kamu menjadi dokter di tempat lain, desa inilah yang akan menerima kamu apa adanya. Kalau kamu masih mau membantu desa ini, aku akan bilang kepada bapakku yang sekarang menjadi kepala desa untuk membantumu", kata Wati sambil meninggalkanku setelah membayar makanan dan minumannya. Aku menatap tubuh Wati yang mulai menjauh.

***

  Perkataan Wati tiga hari yang lalu masih terngiang di kepalaku. Jujur aku cukup tersinggung dengan perkataanya. Tetapi, apa yang ia katakan juga ada benarnya. Dan soal Dadang, aku cukup kaget ketiaka Wati membicarakan soalnya. Ia merupakan anak konglomerat di desa ini. Bapaknya memiliki ratusan hektar tanah. Tetapi ia adalah orang yang tak pernah pamrih dalam membantu orang lain.

  Dulu, aku dan Dadang memiliki cita - cita untuk menjadi dokter. Tetapi saat aku lihat nilai ku yang pas - pasan akupun mengundurkan diri untuk menjadi dokter. Tetapi berkat motivasi dari Dadang juga, aku memberanikan diri untuk mendaftarkan diri ke universitas kedokteran. Dan syukur alhamdulillah aku diterima di universitas tersebut.

  Kalau dipikir - pikir, sejak dulu aku dan Dadang memiliki cara pandang yang berbeda. Aku selalu berfikir setelah lulus dan menjadi dokter aku ingin segera mendapat pekerjaan dan mendapat uang untuk membantu emak dan bapak. Sedangkan Dadang ingin memajukan desa ini dengan bakat yang ia miliki. Sama halnya Wati yang ingin memajukan desa ini dengan memberikan pendidikan kepada anak kampung sini.

  "Hah...", aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Aku memandang guyuran hujan yang ada di halaman rumahku. Sepertinya hujan ini tahu betapa gundah gulananya diriku saat ini.

"Kenapa to La?", tanya bapak yang duduk di sampingku.

"Pak, seumpama Lela berhenti kerja di rumah sakit besar, tempat Lela kerja dan memilih buka praktek di desa ini apa pendapat bapak?"

"Kalau bapak sih orangnya bebas La. Nuruti kemauan anak La. Tapi kalau bapak sih setuju kalau kamu kerja di sini La. Kamu sudah lama kerja di kota dan tak punya waktu untuk bertatap muka sama keluarga. Lagipula kamu sudah mulai tua La. Usia kamu sekarang ini seharusnya sudah punya anak. Emak sama Bapak mu ini juga ingin menimang cucu. Kalau kamu tetap fokus bekerja di kota, kapan kamu akan mulai berfikir membangun keluarga", penjelasan bapak cukup menohok ku. Memang benar seharusnya aku sudah berkeluarga sekarang. Usia ku sudah terlalu tua. Yang ada di dalam otakku dulu hanyalah kerja, kerja, dan, kerja tanpa memikirkan keluarga dan masa depanku kelak. Aku pikir aku sudah terlalu lama mengabdikan diri menjadi dokter di kota. Sekarang aku harus membangkitkan desa ini darj keterpurukan dan mulai mengabdikan diri di desa ini. 

  Saat aku jalan - jalan kemarin, masih banyak kujumpai anak - anak yang mengalami gizi buruk. Selain itu, angka kematian di desa ini juga cukup tinggi. Dan lagi pun angka kematian di desa ini didominasi oleh masyarakat di usia muda. Itulah yang aku ketahui saat aku berkunjung di kantor desa Ambangun ini. Untuk meminimalisir kematian itu ku pikir mereka membutuhkan hanyalah seorang dokter yang akan menunjukkan kepada mereka bagaimana program hidup sehat. Dengan adanya hal itu, keputusanku menjadi semakin kuat. Aku akan mengabdikan seluruh jiwa dan ragaku untuk membangun desa ini.

"Pak apa bapak punya nomor teleponya Wati", tanyaku tiba - tiba kepada bapakku. 

"Wati teman masa kecil kamu", aku pun mengangguk.

"Ada tuh di buku yang ada di dekat telepon rumah", katanya. Akupun berlalu dan membolak - balik buku itu untuk menghubungi Wati.

  Setelah telepon itu tersambung, aku menyatakan persetujuanku untuk menjadi dokter di desa ini. Wati sangat senang mendengarnya. Ia pun akan membantuku dengan bilang ke bapaknya bahwa aku akan menjadi dokter di desa ini. Ia bilang aku tak perlu memikirkan soal alat dan obat - obatanya. Bapaknya yang kepala desa yang akan menanggung semuanya ia hanya memerlukan kesiapanku.

  Besoknya aku harus kembali ke kota untuk mengurus surat kepindahanku ke desa ini. Sebelumnya aku memang sudah meminta izin kepada emak dan bapak ku dan mereka cukup terharu mendengar keputusanku. Mereka bilang bukan materi yang membuat seorang dokter bahagia, tetapi sebuah keberhasilan dalam menyelamatkan nyawa pasienyalah yang membuat ia bahagia.

  Setelah bolak balik dari kota ke desa akhirnya aku mendapat surat persetujuanku di desa ini. Aku juga mendapat surat izin praktek di tempat ini. Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di bangunan ini. Bangunan ini sudah berubah pesat. Sesuai janji Wati, bangunan ini sudah direnovasi dan di dalamnya sudah berisi lengkap oleh alat - alat kedokteran dan obat - obatan.

  Para warga berdiri di depan bangunan ini dan menyambutku untuk memotong pita yang ada di depan pintu masuk bangunan tersebut. Aku pun memotong pita tersebut dan semua orang bersorak sorai. Aku melihat wajah bahagia mereka satu persatu. Ada yang sampai menangis karena sangking terharunya setelah sekian lama mereka bisa mendapatkan dokter. Terutama Wati yang sudah banjir air mata. Ia berdiri di dekatku sambil tersenyum bahagia. Dan sekarang mereka tak perlu lagi pergi jauh - jauh untuk memperoleh layanan kesehatan. Aku sedikit mendongak  di sana, di dekat pintu masuk terdapat tulisan ' Tempat Prakter Dokter Laili Wanjaya '. Aku tersenyum bangga atas semua usahaku selama ini.

***

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani