Profil instastories

Abah

Angin memainkan anak rambut lelaki itu, langit cerah tanpa awan dengan udara pagi yang sejuk. Burung-burung terdengar saling sahut-sahutan membuat alunan melodi yang indah. Sudah lama ia tidak merasakan yang seperti ini. Setiap hari hanya kemacetan, suara klakson seperti orang gila dengan mobil-mobil mewah tanpa memikirkan dari mana asalnya.

Lelaki itu menghirup udara lalu melepaskannya secara perlahan, paru-parunya seperti dibersihkan kembali oleh udara sekarang. Tidak ada bau kendaraan ataupun bau sampah yang selalu menumpuk dipinggir jalan atau bau mulut yang selalu memakan uang bukan haknya.

Di depan lelaki itu satu gundukan tanah dengan keramik kecil mengelilinginya. Tertulis nama dan tahun diatasnya. Ditambah satu pohon Kamboja dengan bunga-bunga yang gugur tercecer di tanah. Itu adalah kuburan yang membuat lelaki itu menjadi sekarang, sukses dan kaya.

Lelaki itu tersenyum. 

 " Ternyata benar, apa yang Abah katakan sekarang aku rasakan." Kata lelaki itu sambil mencabuti rumput-rumput kecil dan daun Kamboja yang gugur.

" Aku harus belajar tinggi, itu yang selalu aku ingat ketika kita masih bertemu. Harus bersabar di setiap cobaan, itu selalu aku lakukan dan ternyata buahnya sangat manis sekali." Air mata lelaki itu perlahan keluar dari kelopak matanya, tidak bisa membendung sejak pertama menginjakkan kaki dekatnya.

" Kau selalu berkata, ' Sekarang tidak kau rasakan, tapi nanti pasti kau merasakannya, Abah ngomong begini karena udah ngerasain ' itu sekarang aku merasakannya. Menjadi orang tua dan suami yang harus mencintai, melindungi, dan bekerja keras untuk mereka. Tidak sia-sia apa yang Abah katakan padaku dulu." Air mata lelaki itu semakin deras keluar. Perempuan disampingnya mencoba menenangkannya dengan memegang tangan suaminya.

Semua memori di otaknya seakan terbuka, menampilkan semua kenangan ketika ia dengan lelaki yang perkasa itu, lelaki yang telah mengajarkan banyak hal dan merawatnya dengan cinta. Cinta kedua setelah Ibunya.

Senyumannya, tawanya, sentuhannya, pelukannya, semuanya ia rindukan sekarang. Rindu yang tidak akan terpenuhi. Hanya lewat doa dan bertemu dengan gundukan tanah inilah yang bisa mengobati rindunya sekarang. 

 " Mas Ibu sudah memanggil." Kata perempuan disampingnya sambil mengelus punggung suaminya. 

" Rasanya baru semalam kita bersama, tapi kalender di rumah sudah berganti tiga kali kau tidak bersama ku lagi." Potongan cerita itu terus berputar didalam otaknya. Semakin seru dan menarik untuk di bayangkan. Tapi ia harus mencoba untuk membiarkan semuanya berlalu dengan waktu, membiarkan orang yang di rindukannya tenang disana. 

" Ibu sudah memanggil aku untuk sarapan. Nanti aku akan datang lagi untuk bercerita banyak tentang apa yang engkau katakan dahulu." Lelaki itu beranjak dari duduknya, membersihkan tanah yang menempel di celananya. 

Seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun berlari kecil menghampiri lelaki itu. Anak itu lucu sekali dengan pipinya yang tembem dan badannya yang sedikit berisi. Memeluknya. Lelaki itu terus menciumi anak itu sambil berkata.

 " Didalam sana ada orang yang menjadikan Ayah mu menjadi sekarang ini." Kata lelaki itu sambil menunjuk ke kuburan dengan satu pohon Kamboja diatasnya. 

" Kakek." Kata anak perempuan itu dengan suaranya yang masih terbata-bata. Dia sudah tau siapa yang berada disana, karena lelaki itu selalu menceritakan darah siapa yang ada didalam tubuhnya. Setiap kali pulang kampung, tidak tau berapa cerita yang masuk kedalam otaknya.

" Sudah, itu Ibu sudah masakin jengkol goreng sama ikan asin." Kata perempuan paruh baya dengan senyuman dari wajahnya yang keriput.

" Ayo mas aku sudah lapar, tidak sabar untuk menghabiskan masakan Ibu." Kata sang istri.

Mereka berjalan memasuki rumah, diatas meja makan sudah tersedia banyak makan enak dan masih hangat. Satu persatu kursi terisi oleh mereka yang perutnya sudah memanggil untuk diisi, dengan sebuah ucapan kecil dan disambung doa, mereka langsung menikmati makanan itu dengan lahapnya. 

Lelaki itu melirik satu persatu orang didepannya, tersenyum. Suasana seperti ini seperti yang ia rasakan dahulu. Tiga orang dimeja makan bundar, dengan canda tawa mengisi ruangan makan sambil menunggu masakan matang yang sedang dimasak oleh Ibu. Ketua di rumah itu berkata ketika satu persatu makanan diantar oleh Ibu.

" Orang hebat itu yang selalu peka sama lingkungannya, dia selalu membantu orang walau orang itu tidak suka dengan kita." Satu tegukan langsung meluncur kedalam tenggorokannya.

Kedua anak lelaki itu saling tatap lalu bergegas menghampiri Ibunya, kembali dengan piring-piring berisikan makanan diatasnya. Mereka kembali duduk menunggu komandan rumah membaca doa makan. 

Setelah membaca doa, mereka pun melahap makanan dengan santai dengan diselingi obrolan. Setelah makanan yang di mulut tidak ada.

" Mas kok malah bengong? " Perempuan cantik itu membuyarkan lamunan lelaki yang sedang menembus waktu dia masih SMP.

" Sudah jangan mikirin apa-apa, kita sedang makan jadi nikmatin makanannya." Kata Ibunya yang langsung otak lelaki itu membuka file video omongan yang seperti barusan. 

Waktu itu hujan turun perlahan lalu deras menghantam genting. Ember-ember sudah tersusun rapi menampung air hujan dibawahnya. Anak lelaki itu sedang duduk dengan sepiring nasi dan ikan asin didepannya. Dihalaman depan, Abah sedang menatap hujan dengan kopi yang masih mengepulkan asap. Sesekali orang-orang yang lewat menyapanya atau sebaliknya. 

" Itu dari tadi yang makan belum selsai? " Suara lembut ibunya terdengar dari arah pintu. Yang sedang di halaman melirik kedalam lalu menghampiri anaknya itu. 

" Hey, mungkin hujan dari tadi belum selsai turun, tapi ingat matahari selalu bersiap tidak sabar untuk muncul." Katanya sambil tersenyum membelai rambut cepak anak itu. 

Anak itu menatap mata Abah, tidak paham apa maksudnya. Otaknya belum sampai untuk memahami perkataan seperti itu dan di sekolahnya ia tidak belajar bahasa yang diucapkan oleh orang yang sedang menyeruput kopi.

" Maksudnya? " Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut anak itu.

" Walaupun kamu sedang ada masalah tapi percayalah pintu keluar pasti akan datang, sekarang kamu sedang makan. Jadi harus menikmati makanan itu dengan lahap tanpa memikirkan apa yang membuat kamu jadi males makan." Ibunya hanya memperhatikan mereka dari pintu kamarnya. 

" Lihat, untungnya ikan itu setia sama kamu, kalau tidak ia sudah pergi dari tadi karena kamu cuekin dia." Anak itu tertawa tipis walau ia tau kalau itu tidak lucu. 

Perutnya kembali mengeluarkan suara meminta untuk segera di penuhi haknya. Anak itu mulai menyentuh nasi itu lalu memasukkannya ke mulut. Orang disampingnya kembali tersenyum ketika melihat anaknya lahap menikmati makanan. Ia kembali keluar karena ada petani yang membawa hasil panennya untuk di timbang. 

" Tuh kan malah bengong lagi." Kata Ibu yang membuat laki-laki itu tersenyum. 

" Oh ya, maaf." Katanya sambil melahap nasi dan jengkol goreng. 

" Masakan Ibu memang tiada duanya, mengalahkan restoran bintang lima." Sambung lelaki itu. 

" Ya sudah habiskan dong kalau enak." Kata istrinya dari sebrang meja. 

Hari itu tanggal satu Desember, lima hari lagi tepat tiga tahun orang yang membesarkannya meninggalkan dia untuk selamanya. 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani