3 Bulan Suami Tak Berkabar, Aku Baby Blues Sampai Ingin Melempar Bayiku

Trending 3 months ago 15
ARTICLE AD BOX

Jakarta -

#HaiBunda Perkenalkan, saya bunda satu anak yang tinggal di Jawa Timur. Aku menjalani LDM (Long Distance Marriage) dengan suami semenjak kelahiran anak pertama.

Dia memutuskan tinggal di Yogyakarta, saya ditinggal bersama orang tuaku. Harapannya sederhana, dia mau bekerja dan saya ada yang menemani. Suami memintaku melepaskan pekerjaan yang memang sudah saya geluti sebelum menikah dengannya.

Dia berharap, saya konsentrasi sama anak. Terkait finansial, dia lah yang akan bertanggung jawab sepenuhnya. Jujur, sebenarnya berat banget melepaskan pekerjaan yang saya tekuni sejak lama. Tapi, sebagai bukti kepatuhan padanya, saya jalani apa yang dia minta.


Sebulan berlalu, tanpa komunikasi terjalin. Aku pun mencoba chat dan menelepon. Lagi-lagi, tak ada tanggapan yang saya terima. Bagiku, suami ialah pondasi tertinggi dalam menjaga kewarasan seorang istri.

Aku percaya penuh dan selalu berpikir positif dengan keadaan yang ada. "Barangkali dia sibuk, ada tugas yang harus diselesaikan hingga belum sempat membalas chat atau pun menelepon," batinku, sembari lanjut memupuk kepercayaan padanya.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu, baru dia berkabar kalau dia mau pulang. Dia mau memandang anaknya. Aku pun sangat antusias menyambutnya. Terlebih pas 3 bulan akan ada tasyakuran anak kami, sesuai budaya yang tetap beraksi di daerahku.

Tentu, asa yang tersemat ialah dia membawa uang yang cukup untuk membiayai acara tersebut. Apalagi sejak kepergiannya tiba 3 bulan, dia belum pernah mengirimkan uang sepeser pun. Acara semakin dekat, tapi dia tak ada info akan kirim uang.

Ku tanyakan padanya dan hanya dijawab butuh berapa. Ternyata, ia hanya sekedar tanya. Acara digelar tanpa sepeser pun uang dari seorang ayah. Aku pun menjual apapun yang bisa saya jual. Dari situ lah saya tersadar, bangkit dari rasa sakit, dan coba memikirkan langkah terbaik untuk menghidupi anak.

Aku percaya penuh pada suami, tapi realita tak seperti yang ku harapkan. Diriku hanya bisa merenung dan ada penyesalan dengan pernikahan yang saya jalani. Terasa berat, saya tiba baby blues. Rasanya, mau ku lempar saja anak yang ku lahirkan ini ke dalam sumur.

Karena saya merasa, hidupku benar-benar berubah sejak ada Si Kecil. Rutinitas dan segala aktivitas yang biasa saya jalani harus terampas. Kini, saya menjalani hari-hari hanya dengan mengandalkan tabungan pribadiku.

Barang-barang berharga satu persatu harus rela dijual. Di tengah kepanikan yang melanda, saya mencari lowongan pekerjaan sebagai penulis artikel. Gaji jadi nomor sekian, prioritasku adalah punya kesibukan agar pikiran-pikiran aneh dalam diri ini sirna.

Sebulan jadi freelancer dengan honor seratus ribu rupiah rupanya sangat kurang untuk kebutuhan sehari-hari. Saat tetap mengharap transferan suami, hati ini akan semakin sakit. Pada akhirnya, saya yang berjuang menetralkan emosi dengan semakin mendekat dengan Sang Pencipta.

-Bunda H, Trenggalek-

Mau berbagi cerita juga, Bun? Yuk cerita ke kami kirimkan lewat email [email protected] Cerita terbaik akan mendapat hadiah menarik dari HaiBunda

[Gambas:Video Haibunda]

(muf/muf)