Profil instastories

1: Hari itu

               

1: Hari itu

Tiba di hari kamis yang penuh guyuran hujan di jalan itu kau berusaha menghalangi niat ku bermain di bawah langit yang sedang membanjiri tempat kita berpijak, kau bilang, “Jangan, nanti kalau sakit gimana?” lalu aku tertawa sambil menyakin kan mu “Gak apa-apa, ini cuma air bukan racun.” Akhirnya kau pun tersenyum pertanda kau tak bisa menolak ku, sambil tersenyum kau berkata, “Aku bisa menolak semua orang tapi tidak berlaku untuk mu.”

                Hari itu saat orang-orang sedang sibuk-sibuk nya memakai pakaian hangat, menyeruput coklat panas, tiduran di ranjang sembari menatapi langit yang menurunkan air nya, kita malah berkeliaran di jalanan itu bak sepasang katak sedang bermain hujan. Jalanan yang basah hari itu membuat mu yang biasanya sembunyi dibalik kekosongan hidup mu menjadi ceria yang selama ini kau rindukan. Meski orang-orang menatap kita seperti berpikiran kau dan aku tidak waras tapi kita tetap menikmati nya.

Hari itu aku masih mengingat saat air hujan sedang deras-deras nya dengan kita yang asik berlarian di bawah hujan tanpa sadar rumput yang sedari tadi menjadi alas kaki mu dan aku berlarian berubah sangat licin dan tiba-tiba saja adegan terpeleset membuat ku terjatuh dan terluka di bagian lutut kaki. Aku tak bisa menahan senyum ku melihat wajah mu yang langsung panik dan kaget seperti itu saat cairan merah menghiasi lutut ku. Kau langsung bilang, “Sudah ku bilang tadi tidak usah main hujan-hujanan. Itu pasti sakit, kalau darah nya gak berhenti keluar gimana? Kalau luka nya membesar dan kau tidak bisa jalan gimana?”  Sakit yang tadinya kurasa berubah menjadi hambar setelah mendengar celotehan nya, air mata yang tadi nya sempat menempel di pipi ku kini berubah menjadi suara tawa keluar dari mulut ku. Aku pun menjawab, “Enggak sakit kok, ini masih bisa berdiri,” Kata ku sembari bangkit berdiri. Aku melihat mu menghela nafas dan tiba-tiba membungkuk dihadapan ku memamerkan punggung mu dan berkata, “Naik.” Aku tersenyum karna tau maksud mu lalu menuruti permintaan mu untuk menaiiki punggung mu. Aku masih tidak menyangka aku mendapatkan sosok seperti mu dalam hidup.

                Hujan mulai reda kita masih berjalan di trotoar kota memandangi orang-orang atau bahkan sebalik nya orang-orang yang sedang memandangi kita. Aku masih berada di atas punggung mu cukup lama, aku bertanya “Enggak capek?” tapi kau bilang “Aku sudah biasa menanggung beban hidup yang lebih berat daripada berat badan mu, jadi itu tidak jadi masalah.” Aku tersenyum lagi, entah sudah berapa kali laki-laki ini membuat ku tersenyum dalam sehari ini.

               

               

               

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.